Suamiku Dingin (Bab 13)

 

Novel gratis romantis

"Apa makanan kesukaanmu?" tanya Keyla ketika dia dan Stevan sedang makan siang bersama di dapur. Menjelang hari pernikahannya, Bibi mewanti-wanti agar Keyla tak keluar rumah. Pamali. Sebelum menikah, lebih baik di rumah untuk mempersiapkan hari pernikahan. 



"Tidak ada," jawab Stevan singkat, padat dan jelas. Kini Keyla sudah tahu bahwa calon suaminya itu pendiam.



"Cobalah ini. Aku menambahkan sedikit lada cinta dan juga sesendok kasih sayang," balas Keyla lagi sambil menaruh beberapa sendok nasi goreng di piring Stevan. Pria itu pun langsung memakannya dengan lahap bersamaan dengan buncis rebus yang dicampur dengan saus tahini.



"Kamu menyukainya?" Keyla bertanya dengan penuh semangat dan mata yang berbinar. Dia ingin sekali Stevan memuji masakannya meski jika itu bukan seleranya.



Stevan meletakkan sendok ke atas piring yang berisikan rebusan dada ayam dan buncis kemudian mengelus rambut Keyla dengan lembut"Hmmmm. Makanlah. Anna akan datang hari ini."



Keyla mengerutkan dahi dan miringkan kepalanya. "Anna? Siapa dia?"



"Perempuan."



'Grrrrrrhhh!!! Aku tahu Anna itu perempuan. Masalahnya dia itu siapa?!'


Keyla menghabiskan nasi goreng dipiringnya dengan cepat. Karena gemas, tiba-tiba nafsu makannya meningkat dan ingin menghabiskan apapun yang ada di hadapannya. Lagipula, apa sih susahnya bilang siapa Anna itu? Kan Keyla jadi semakin penasaran.



"Mas, ada tamu ...," teriak bibi dari pintu depan diikuti seorang wanita yang berjalan di belakangnya. Stevan pun meletakkan sendok dan garpu meninggalkan piringnya yang masih tersisa beberapa sendok lagi makanan dan memilih untuk menyambut tamunya.



Keyla tidak mengikutinya dan memilih melihat dari jauh sembari mengamati siapa sih tamu yang datang.


'Wanita itu? Bukankah dia yang pernah ke sini?'


Stevan terlihat antusias ketika perempuan bernama Anna itu datang. Dan pria itu menyambutnya dengan pelukan dan ciuman di pipi kiri dan kanan seolah mereka sudah dekat sekaligus akrab.



Dasar play boy! Cibir Keyla jengkel setengah mati.


Keyla menyudahi acara makan siangnya dan memasukkan sisanya ke dalam ke dalam kotak makanan dan menyimpannya ke dalam kulkas. Sebagai seorang food vlogger, Keyla tak ingin membuang-buang makanan karena di luar sana, banyak orang-orang yang kekurangan makanan bahkan mati karena kelaparan.


Selesai mengemas sisa makanan, Keyla sengaja mencuci piring dan menimbulkan suara piring bertabrakan agar Stevan dan Anna yang sedang tertawa bisa mendengarnya. 


Piring sudah bersih, gelas sudah kinclong, meja sudah dilap. Saatnya pergi karena tiba-tiba aku merasa gerah berada di rumah. Lagi-lagi, Stevan abai pada Keyla ketika perempuan yang bernama Anna itu datang. Sebegitu pentingkah dirinya hingga melupakan tunangannya begitu mudah?



"Key, kemarilah," pinta Stevan ketika Keyla hendak menaiki tangga menuju kamar. Kaki Keyla terasa berat melangkah turun. Ia enggan sekali melihat perempuan dengan dandanan menor itu. Menyebalkan! Bikin keki saja.



"Kenalkan. Anna temanku," ucap Stevan santai dan wajah yang merekah. Sedangkan perempuan yang berdandan menor itu mengulurkan tangannya pada Keyla dengan percaya diri yang dinilainya berlebihan.



Ia memakai pakaian yang sangat ketat seperti lontong yang dibungkus daun pisang dan belahan dadanya terlihat menyembul. Inikah selera calon suaminya? Perempuan yang mengumbar tubuhnya?


'Huuftt dasar! Ia melarangku memakai pakaian mini didepan laki-laki selain dirinya, tapi dia menyukai perempuan yang berpakaian seperti ini? I can't believe it! Dasaaaarrr Stevan Antonius play boy cap badak!!!'



"Keyla." Gadis itu mengulurkan tangan dengan terpaksa dan tentu saja ia tidak mau tersenyum ramah. Enak saja. Sudah mengganggu makan siang orang lain, geni-genitan pula dengan pasangan orang lain. 


Rasakan ini! Batin Keyla sambil menggenggam tangan Anna dengan erat hingga wanita yang sebaya dengan Stevan itu meringis.



"Ah ... senang bertemu denganmu, Key. Biasanya aku hanya melihatmu di layar komputer."



"Oh, benarkah? Aku tidak menyangka perempuan modis sepertimu menyukai dunia memasak."



"Sebenarnya aku tidak suka memasak. Membuat jemari-jemari lentikku ini kotor dan rusak. Aku hanya penasaran seperti apa wanita yang disukai Stevan. Benarkan, Steve?" bantahnya sambil memperlihatkan jemarinya yang dicat warna hijau tua dan diberi manik-manik.



'Cih. Perempuan itu benar-benar seperti nenek sihir. Dan anehnya, Stevan mengiyakan sambil tertawa kecil. Apakah dia sedang bahagia sekarang? Bertemu dengan wanita itu?'



"Apakah ada yang lain? Jika tidak aku ingin ke atas. Mengobrollah dengan santai berdua saja bersama temanmu," kata Keyla datar sambil berbalik dan melangkah dengan gemas.


"Stevan, apakah tunanganmu tahu kau mengidap Augesia?" tanya Anna pada Stevan dengan suara genit, manja, dan membuat Keyla yang mendengarnya pun ingin muntah. Ya Tuhan,tidak bisakah wanita tua itu berbicara dengan normal dan tidak dibuat-buat?



Tiba-tiba langkah Keyla terhenti mendengar ucapan wanita itu. A? A apa? Augesia? Apakah itu semacam penyakit? Kelainan? Atau sakit jiwa? Ah, entahlah. Keyla tidak peduli. Saat ini dia sedang jengkel. Terserah Stevan mau sakit apa. Mau kudis, kek. Kurap, kek. Panuan, kek. Dia tidak peduli!


Setelah sampai di kamar, Keyla mengambil tas dan ponselnya dengan cepat. Dia memesan driver untuk mengantarkankannya pulang ke Jakarta. Dan untuk antisipasi dia tidak ingin menelepon Mama atau Papa karena mereka pasti melarangnya untuk pulang.



Aku tahu pernikahan kami tiga hari lagi. Tapi aku sudah tidak tahan karena ternyata banyak hal yang tidak aku ketahui. Dan yang lebih menyebalkan lagi, sepertinya si penyihir itu tahu banyak tentang Stevan dibanding denganku. Dan yang membuatku semakin benci, mereka terlihat lebih dari sekadar teman. Oh, tidak. Ya Tuhan ... apakah aku sedang cemburu buta? Batin Keyla ketika ia telah duduk di dalam mobil yang disewanya. Sepanjang perjalanan, dia tak bisa duduk tenang karena setiap hembusan napasnya, yang ada hanyalah kutukan untuk Stevan dan juga perempuan bernama Anna itu.


*Bersambung



Post a comment

0 Comments