Suamiku Dingin (Bab 14)

 

Novel gratis

        "Jadi, kamu kabur dari rumah suamimu? Ckckck ... perempuan jaman sekarang, kalau lagi ribut sama suaminya langsung deh pergi dari rumah. Gak dibicarakan dulu," celoteh Mama dengan nada ringan dan suara cemprengnya. Untung saja Keyla sudah menyiapkan telinga untuk mendengarkan omelan Mama.



       "Belum resmi jadi suami, Ma. Masih tunangan. Itu aja terpaksa!" jawab Keyla jengkel. Bibirnya monyong sampai lima senti.



        "Ih, memang ada yang maksa kamu tunangan sama Stevan? Kamu bisa saja nolak, lari, atau pura-pura teriak seperti orang gila. Tapi nyatanya kamu mau-mau aja. Iya kan, Pa?" balas Mama tak mau kalah sambil menoleh ke arah suaminya yang duduk di sebelahnya.



       Papa menganggukkan kepala meskipun bukan berarti setuju. Mereka bertiga sedang makan malam dan ya ... seperti biasa Keyla harus menyiapkan telinga dan batinnya agar kuat menghadapi ocehan Mama. Saking terlalu sering Mama mengoceh, sampai-sampai Keyla sering bertanya pada dirinya sendiri, apakah mama-mama di luar sana sama seperti Mamanya? Yang super duper cerewet dan sama sekali tak memahami dirinya?



        "Key kan gak mau jadi anak durhaka, Ma." 



        "Kalau kamu durhaka tinggal Mama coret dari kartu keluarga. Habis itu Mama kutuk kamu jadi batu!" jawab Mam tak mau kalah. Habisnya,Keyla kalau dikasih tahu,membantah terus. Mama kan jadi sebel.


        "Emangnya Malin Kundang? Sekalian saja kutuk jadi batu permata biar Mama cepat jadi orang kaya!"


         "Sudah ... sudah ... biarin Keyla makan dulu, Ma. Ini kan rumahnya juga. Dia bisa pulang kapan saja Keyla mau." Papa menyela untuk menengahi pembicaraan istri dan anaknya. Kalau dibiarkan saja, bisa-bisa rumah mereka yang sederhana ini jadi arena perang dunia ketiga. Di rumah ini, memang cuma Papa yang waras. Sedangkan istrinya, ya ... begitu. Anaknya apalagi. Tak mau kalah soap adu mulut!



        "Makanlah, Key. Habis itu tidur," lanjut Papa dan Keyla pun mengangguk. Lagipula, Keyla memang lelah dan ingin sekali tidur dengan nyaman di kamarnya sendiri.



        "Stevan tahu kamu ke sini, Key?" Mama bertanya sambil menyendok saus kacang untuk gado-gado di piringnya sambil menatap putrinya yang makan tanpa beban.



         "Gak tahu lah, Ma. Kalau tahu, bukan kabur namanya. Tenang saja. Aku sudah bilang Bibi, kok."



        "Mama jadi ingat waktu dulu masih SMP janjian sama Sabrina kalau kami punya anak akan kita jodohkan. Akhirnya janji itu terealisasikan dengan mulus tanpa hambatan!" Mama bicara sambil tertawa.



          Heran deh. Bisa-bisanya membuat janji yang kekanakan seperti itu. Batin Keyla sengit dengan mata yang menyipit.



          "Untungnya lagi, Steve suka sama Keyla saat waktu masih di kandungan. Papa ingat, gak? Dulu waktu dia kecil dan nginep di sini karena pengen lihat Keyla lahir?"



         "Ingat ... ingat. Saat Sabrina akan pergi ke UK dan Stevan menangis karena tidak mau diajak, kan?"



         "Betul, Pah. Ya ampun ... Stevan tiap ada kesempatan pasti ngelus-ngelus perut Mama sambil bilang my princes. Uhhh, so sweet!"



          Grrrrrhhh!! Mama kumat deh lagi lebaynya!



          "Key ke kamar dulu, Mah. Pah," kata Keyla datar setelah menghabiskan makan malam dan mencuci piringnya. Dia tak tahan lagi mendengar nama Stevan Stevan dan Stevan! Karena ketika dia ingat nama itu, wajah Anna pun langsung muncul di pikirannya. Entah kenapa perasaannya tak enak mengenai wanita itu. Hati Keyla terusik dan dia sama sekali tak nyaman jika calon suaminya terlalu dekat dengan perempuan itu.



         "Ngobrol dulu sini dong, Key," cegah Mama. "Mama kangen."


       Papa yang baru meletakkan sendok pun mendengus. Dasar Mama. Tadi saja diomelin. Sekarang bilang kangen. Wanita memang sering memusingkan karena hati dan mulutnya tidak sinkron.


        "Besok lagi ya, Ma. Keyla capek!" balas Keyla tanpa menoleh ketika ia menaiki tangga menuju kamarnya. Mama dan Papa yang melihat tingkah putrinya pun hanya bisa saling berpandangan mata lalu tersenyum. Karena hal-hal semacam itu, mengingatkan mereka saat masih muda dulu.



           Keyla mendesah panjang begitu membuka pintu kamar lalu menjatuhkan tubuhnya di tempat tidur. Ia meregangkan otot-ototnya yang kaku agar lebih rileks. Dipandanginya langit-langit kamar selama beberapa menit dan  tanpa terasa ia mengantuk kemudian perlahan-lahan mata Keyla terpejam dengan sendirinya.


***

        Keyla mengerjapkan matanya dan sekilas gadis melihat sosok laki-laki tidur di samping di tubuhnya. Dari wajah dan aromanya, persis seperti Stevan Antonius. Tapi, itu tak mungkin. Keyla kini sedang ada di Jakarta. Di rumah orangtuanya sendiri. Bukan si kastil mewah tunangannya.


        Pasti ini hanya mimpi! Pikir Keyla lalu memejamkan mata kembali. Terlalu dini untuk bangun dan beraktifitas karena tubuhnya terasa sangat lelah. Dia ingin kembali tidur dan ingin bangun saat matahari sudah tenggelam. Dia sedang tak bernafsu membuka matanya. Apalagi, memikirkan calon suaminya yang bikin gondok!



      "Bangunlah, Key." Keyla mendengar suara yang tidak asing lagi disertai sebuah kecupan kecil yang melekat di pipi. 



        Aku pasti bermimpi! Tak mungkin lelaki menyebalkan itu ada di sini. Batin Keyla.dengan mata yang masih enggan untuk membuka. Namun, hidungnya lagi-lagi mencium aroma yang amat familiar. Aroma maskulin sekaligus menggairahkan yang hanya dimiliki oleh seorang Stevan Antonius. Lelaki yang mampu membuat Keyla jatuh cinta dalam waktu sekejap. Pria yang mampu membuat gairahnya terpacu dan menginginkan pria itu menyentuh setiap jengkal tubuhnya.


       Keyla tidak ingin membuka kelopak matanya dan yang dia inginkan hanya menggerakkan tubuhnya. Tapi ....

 

 He? Kenapa tubuhku sulit bergerak? 



       Dengan terpaksa, Keyla  membuka matanya Perlahan saat tubuhnya terasa berat. Dan seketika, ada dada terpampang di depan mata. It's just a dream, Key. Ia berusaha meyakinkan dirinya sendiri meski apa yang ada di depannya adalah sesuatu yang nyata.



      "Bangunlah, Key. Aku ingin bicara denganmu," lanjut Stevan lagi sambil mengelus kepala Keyla perlahan.



      "Stevan?" tanya Keyla dengan nada malas sekaligus belum percaya sepenuhnya apa yang ada di depannya. Khas seperti seseorang yang baru bangun tidur yang masih kesulitan membedakan realitas dan kenyataan.



      "Hmmmmm."



      "Aku sulit bernapas. Tidak sadarkah kalau tubuhmu sangat besar? Geser sedikit badanmu." ucap Keyla sambil menggerakkan tubuhnya. Stevan pun merenggangkan pelukannya dan Keyla mendongak ke atas untuk melihat wajah lelaki yang ada di depannya itu. Disentuhnya pipi Stevan yang sedikit berbulu untuk memastikan bahwa apa yang terjadi bukanlah fatamorgana. 



      "Kenapa kamu ada di sini?" tanya Keyla sambil membuat lingkaran-lingkaran kecil di dada lelaki itu dengan jari telunjuknya yang kecil dan berwarna pucat.



"Menyusulmu," balas lelaki itu kemudian mencium kening Keyla dengan lembut dan mesra. "Apa kau cemburu pada Anna?" lanjut Stevan lagi dengan nada serius, dingin dan datar seperti biasa. 



       Sementara itu,Keyla yang bisa mendengar detak jantung Stevan sedang menikmati suara yang indah itu. Belum pernah Keyla menikmati hal-hal semacam ini di dalam hidupnya. Dan saking gemasnya, gadis itu menggigit bagian dada Stevan yang menonjol lalu menjawab, "Aku tidak boleh cemburu melihat calon suami bermesraan dengan perempuan lain?!" jawab Keyla gemas dan menggigit dada lelaki itu.


Eesshhhhh! 


     Stevan mendesis dan berusaha menahan sakit akibat gigitan Keyla. Panas, perih, sekaligus menimbulkan debaran yang tak tahu entah sampai kapan dia bisa menahannya.


      "Kau puas sekarang?" tanya Stevan mengusap-usap rambut Keyla seperti seorang tuan yang sedang mengelus kepala anak kucing yang dipeliharanya. 



      "Belum."



       "Ada lagi yang ingin kau lakukan?"



     "Siapa penyihir genit itu?" tanya Keyla dengan nada sinis dan penuh dengan kecemburuan. 



       Stevan tertawa kecil mendengar pertanyaan Keyla tapi Keyla justru jengkel bukan main dan mencubit perut Stevan yang sudah sekeras batu. "Anna datang untuk mengambil naskah. Dia teman sekaligus pemilik sebuah penerbit."



       "Stevan A?" Keyla mengernyitkan dahinya. Sudah lama dia curiga bahwa Stevan A adalah Stevan Antonius. 



"Hmmmm."



"Sudah kuduga!" celetuk Keyla bersemangat.


       Stevan A adalah Stevan Antonius. Penulis buku yang selalu best seller dan misterius. Romance-Misteri selalu menjadi andalan di dalam cerita. Dan kecurigaan Keyla bermula ketika dia tidak sengaja membaca tulisan Stevan di laptop yang terletak dimeja kerjanya.


       Jadi, ini alasannya kenapa setiap pagi buta pria itu memangku laptop dan mengetik ketika ada kesempatan? Selain itu, Keyla makin curiga bahwa Stevan adalah Stevan A ketika membaca dari gayanya bercerita. Ya, Keyla hafal betul karena sudah sejak lama dia menggemari novel-novel penulis misterius itu.



"Apa dia menyukaimu?"



"Entahlah. Aku tidak pernah memikirkannya."



"Tapi kenapa kalian terlihat begitu mesra?"



"Perasaanmu saja."



"I don't think so. Sikapmu berbeda jika denganku. Dingin dan seolah-olah kamu menghindariku. Aku merasa tidak tahu apa-apa tentangmu."



Stevan diam sejenak lalu melepaskan tubuh Keyla perlahan lalu membalikkan tubuh gadis itu. Dan saat ini, posisi tubuh Keyla ada di bawahnya. "Aku menjaga jarak denganmu karena aku takut tidak bisa mengontrol tubuhku," balas Antonius dengan lumatan bibirnya yang tipis, hangat dan juga basah. "Tahukah kau betapa tersiksanya aku selama ini?" lanjutnya lagi sambil menatap mata Keyla tajam dan Keyla bisa dengan sangat jelas mendengar degub jantung Stevan yang terdengar seperti genderang ditabuh. Dag dig dug dag dig dug.



"Lalu apa itu augesia?" tanya Keyla sembari memegang dada Stevan yang ada di atas tubuhnya. Lengannya menopang tubuhnya sendiri agar tidak jatuh menimpa Keyla dan itu terlihat sangat seksi. Otot-ototnya yang terpahat sempurna, memang tak terbantahkan. Pantas saja Anna seperti tersihir ketika bersama Stevan.



"Aku kehilangan indra perasa."



"Sejak kapan?"



"Mama menyadarinya ketika aku umur 5 tahun."



       Itukah sebabnya ia selalu makan-makanan yang sama? Karena ia tahu lidahnya tidak merasakan apapun? Dan makan makanan sehat lebih baik karena bagaimanapun rasanya yang ia tahu hanya rasa kenyang di perutnya. 



      "Ada lagi?" Ia bertanya sambil menepikan helai-helai rambut yang menutupi wajah Keyla. Dipandangnya wajah yang kecil itu dengan pipi yang kemerahan. Ingin sekali Stevan menerkam gadis itu dan tak melepaskannya lagi. 



      "Bangunlah," katanya lagi sambil tersenyum getir karena berusaha mengusir pikiran kotor dari kepalanya sendiri dan berdiri dengan perlahan.



      Keyla menarik tubuh Stevan secepat kilat hingga jatuh di atas tubuhnya. Dan Keyla langsung bisa merasakan ada sesuatu mengganjal diantara kedua kakinya. Keyla sontak menggigit pundak Stevan. Kali ini, sebuah gigitan kecil, lembut yang mampu membuat lelaki itu mengerang.


      "Key, hentikan," pintanya dengan lembut. Tapi berlawanan dengan reaksi tubuhnya karena Keyla bisa merasakan sesuatu yang lain makin mendesak dari balik celana Stevan. 



      "Kenapa kau sangat tidak penurut?" Stevan melepaskan pelukan Keyla dengan paksa kemudian berdiri dan memakai kemejanya yang ditaruh di sofa dekat jendela.


      Keyla memperhatikan setiap langkah Stevan dan bisa melihat dengan jelas bahwa wajah pria itu memerah dan dia terlihat malu. 



"Cepat turun. Aku menunggu di bawah," ucapnya  lalu tergesa-gesa keluar dari kamar Keyla. 


Sepeninggal Stevan Antonius, Keyla pun berdiri dan melompat-lompat di atas ranjangnya. "Yes, Keyla! You did it! Yahuuuuuuu!"


*Bersambung

1 Comments

  1. Augesia...

    Wah ilmu baru aku baru tahu....


    Key...
    Jangan nakal nakal ya key ..

    Blm syah tahu...

    ReplyDelete