Suamiku Dingin (Bab 2)

 

Novel online gratis


"Pah, katanya jalan-jalan? Kok malah ke sini? Mana gak kenal lagi sama orang-orangnya." Keyla bertanya dengan nada protes. Wajahnya masam dan bibirnya dimonyongkan. Ia yakin sekali tadi pagi saat sarapan, Papa bilang mereka akan pergi jalan-jalan biar lebih fresh. Keyla belum pikun apalagi salah pendengaran. Eee ... malah ternyata datang ke acara keluarga yang entah keluarganya siapa.


"Ini juga kan jalan-jalan. Jalan keluar dari rumah. Jalan dari tempat parkir ke sini." Papa merangkul Keyla sambil berkilah. Emang bener juga sih kata Papa. Tapi, gak gini juga kali!


"Dulu kamu seneng loh kalau main ke sini," lanjut Papa lagi yang membuat Keyla memasang wajah penuh tanda tanya.


"Dulu? Kapan? Emang iya? Kok aku gak ingat?"


"Saat kamu masih segini, nih." Papa menunjuk perutnya yang buncit.


Papa dan anak itu duduk di pojok ruangan sambil melihat anak-anak bermain dan berlarian. Mereka lebih suka berduaan ketimbang berkumpul dengan yang lain. Like father like daughter!


Sedangkan para ibu-ibu mempersiapkan makanan di tengah ruangan. Rumah itu sudah seperti kastil. Baik dari bangunan, ornamen, dan juga perabotan. Dominan warna emas dan putih. Barang-barangnya yang ada di dalam pun terlihat antik. Belum lagi macam-macam lukisan yang menghiasi dinding. Meski tak mengerti cara membaca lukisan, Keyla sempat melihatnya sekilas tadi. Terlihat mahal dan antik. Yang punya rumah ini pasti orang kaya dan antik! Tanpa sadar Keyla manggut-manggut. Ia penasaran seperti apa pemilik kastil ini karena dari tadi Papa belum memperkenalkannya dengan tuan rumah.



"Kamu tidak tanya ini rumah siapa, Key?" Baru mau tanya. Eee Papa sudah tanya duluan. Keyla menoleh ke arah Papa. "Rumah teman Papa, kan?! Keyla tahu itu. I'm smart, right?" jawab Keyla dengan bangga. 


"Betul. Anak Papa memang paling pinter! Tapi, yang paling penting adalah ini rumah calon suamimu," bisik papa di telinga Keyla sambil nyengir dan terlihat antusias. Gadis itu kegelian. Kumis Papanya menyentuh cuping telinga dan kulitnya seperti ditusuk-tusuk.


"Calon suami? Papa tidak bercanda, kan? Sejak kapan aku punya calon suami?" Pikir Keyla kebingungan. 


"Ih, Papa! Jangan bercanda, ah!" Keyla mencubit Papa dengan gemas. Mana ada calon suami? Pacar saja baru putus semalam! Keyla menggeleng pelan dan menganggap apa yang baru saja orangtuanya katakan adalah omong kosong belaka.


"Serius, Key," sambung Papa lagi yang bisa mengetahui ketidak kepercayaan putri semata wayangnya.


Karena tak percaya dengan kata-kata Papa, Keyla beranjak dari sofa dan berlari ke arah Mama yang ada di tengah ruangan. Tapi tiba-tiba saja, bruk! Gaun panjang Keyla terinjak oleh kakinya sendiri. Sangat memalukan dan pipi gadis itu meona. Untung saja semua orang sibuk dengan urusan masing-masing dan hanya Papa yang tertawa geli melihat tingkah anaknya itu.


 "Terlalu deh papa! Sangat senang melihat anaknya terjatuh karena mengarungi kejamnya dunia!" gerutu gadis itu kesal sambil menyipitkan matanya.


Perlahan ia mendekati Mama yang sedang berkerumun dengan teman sebayanya sekaligus ngerumpi.


"Maaaaa!" bisikik Keyla di telinga Mama. Aroma parfum jasmine memang sudah menjadi identitas wanita bertubuh langsing bak gitar spanyol itu. Gaun brokat berwarna merah muda yang lembut dan panjangnya selutut serta belahan dada yang sedikit terbuka akan membuat siapapun yang tak mengenalnya tidak akan pernah menyangka jika dia memiliki putri berusia duapuluh lima tahun. Dada dan bokongnya masih montok dan terlihat kencang. Tak heran Papa bertekuk lutut pada Mamadan lebih memilih mengalah saat mereka beradu mulut.



"Ada apa sih, sayang? Mama lagi repot, nih? Sebentar lagi acara tunangan kamu dimulai."


What? Tunangan? Mama malah justru lebih ngelantur daripada Papa! 


Keyla memeriksa kedua telinga. Mengucek mata hanya untuk memastikan bahwa ia dalam keadaan sadar dan bukannya sedang bermimpi.


"Keyla? Masih ingat tante, nggak? Kamu ternyata lebih cantik dari mamamu!" sapa seorang wanita berambut hitam dan dipotong model bob. Gaunnya yang berwarna biru terlihat cocok di badannya yang kurus dan tinggi bak seorang model.


"Hehehe ... makasih, Tante. Tapi Key gak kenal tante. Ini pertama kalinya Key lihat Tante. Apa mungkin Keyla yang lupa, ya?" Keyla bertanya bingung. Menggaruk kepalanya siapa tahu ia ingat pernah bertemu dengan wanita cantik di depannya itu.


"Hmpphh. Tidak apa-apa kalau tidak ingat. Tante maklum. Dulu kamu masih segini, nih." Ia memperagakan tangan kanannya dan menunjukkan seberapa tingginya dulu saat Keyla masih kecil. Sepahanya.


"Rambut kamu bagus. Persis seperti Lauren!" Sabrina mengusap rambut Keyla dengan lembut. Seperti sedang mengelus putrinya sendiri.


"Tentu, dong! Anak siapa lagi?!" sahut Mama dengan rasa bangga dan dengan nada congkak. "Buah jatuh gak jauh dari pohonnya! Hahahaha," lanjut Lauren lagi.


Ya, memang apa yang ada dalam diri Keyla ia dapat dari Mama. Rambut hitam bergelombang, bibir tebal, kulit putih yang membuatnya terlihat pucat, hidung kecil, mata belok dan berwarna coklatan, serta gigi rapi seperti biji timun. Bedanya hanya satu. Keyla memiliki lesung pipi yang didapatnya dari papa!


"Key, di belakang rumah ada taman bunga, loh! Mawar. Kesukaanmu!" ujar Tante lagi dengan penuh semangat. Seolah mendorong anaknya agar mau pergi ke sana.


"Benar, Tante?" Keyla menjawab antusias begitu mendengar kata mawar.


"Tentu saja! Lihatlah ke sana." Wanita itu menjawab dengan senyum lebar dan terlihat tulus. Membuatnya makin cantik dan kerutan di wajahnya sama sekali tak terlihat meski Keyla yakin usianya lebih dari empat puluh tahun.


Tanpa menunggu lama Keyla melihat-lihat ke arah pintu yang kira-kira menuju taman belakang. Dan ternyata benar pintu yang ia pilih. Saat keluar dari pintu, didapatinya taman yang sangat besar sekali. Bahkan lebih besar dari rumah orangtuanya. Aroma mawar yang tersapu angin membelai-belai wajah gadis itu. Terasa sejuk, harum dan menenangkan.


Sejak kecil Keyla memang menyukai mawar. Ia suka aromanya. Ia suka warnanya yang beraneka warna. Dan juga suka karena mawar bisa tumbuh di Indonesia dengan mudah. Tak seperti bunga sakura, misalnya. Atau jenis tulip yang ada di negeri kincir angin.


Selain itu Keyla juga menyukai filosofi dari setiap warna yang ada. Merah sebagai simbol cinta serta keromantisan, warna putih yang berarti kesucian, warna kuning yang seperti sinar matahari adalah lambang pesahabatan dan kehangatan. Dan yang pasti saat melihat mawar, ia membayangkan seorang pria datang padanya dengan membawa seikat mawar merah yang cantik.


Saat masih berpacaran dengan Bima, ia pernah menyuruh pemuda itu melakukannya. Tapi, katanya itu adalah hal kekanakan. Sok romantis-romantisan dan bukan gayanya bersikap romantis. Lalu apa gayanya? Bersikap cuek dan tidak memiliki komitmen?


Keyla tiba-tiba jadi kesal kalau mengingat tentang mantan kekasihnya. Percuma saja lima tahun pacaran kalau akhirnya mereka tidak menikah! Huhhh! Bukan hubungan seperti ini yang Keyla harapkan.


"Mawar- mawar itu bisa mati kalau kamu mendengus seperti itu." Tiba-tiba muncul suara seorang pria. Keyla menoleh ke kanan dan ke kiri. Mencari-cari dari mana suara itu datang.


"Aku di sini." Deg! Ada seseorang yang menempel di punggung Keyla. Ia yakin itu adalah suara pria yang tadi ia dengar. Gadis itu terlalu takut untuk menoleh hanya untuk mencari tahu siapa dia. Tubuhnya kaku seketika. Entah dari mana perasaan itu? Perasaan yang familiar dan mampu membuatnya terpaku.


"Lihat saja ke depan," lanjutnya lagi sambil menegakkan kepala Keyla lurus ke depan. Sejenak ia lupa berhenti bernapas. Pelukan laki-laki itu membuatnya lumpuh dan seperti orang yang terhipnotis. Ia tidak lagi merasakan angin yang sepoi-sepoi yang beberapa saat lalu menyapa dirinya. Akan tetapi yang dirasakan kini adalah panasnya gurun sahara.


"Aku harap kamu menyukai mawar-mawar yang kutanam," bisiknya lembut. Persis di depan telinga yang membuat gadis itu makin kepanasan sekaligus merinding.


Kedua tangan pria itu diletakkan di pinggang Keyla yang ramping dan berbalut gaun warna pastel. 


Aneh! Aku tak bisa mengelak. Jangankan marah, bicara saja aku tak mampu. Kuharap aku tidak terkena sihir atau kutukan dari penyihir jahat yang membuatku menjadi patung sebagai persembahan taman mawar berdarah. Ya Tuhan, apa yang aku pikirkan ini? Tenangkan dirimu Key! Bernapas lah agar kamu tidak mati di sini! Keyla berperang dengan batinnya sendiri. Menjaga dirinya agar tetap waras dan hidup tentunya.


"Kamu menanamnya sendiri?" tanya Keyla sembari membalikkan tubuhnya. Belum sempat gadis itu melihat wajah pria di belakangnya, ia sudah memegang kepalanya agar tetap memandang lurus ke depan.


Dia memakai kemeja berwarna hitam. Dia tidak memakai parfum atau pun deodoran, tapi Keyla bisa mencium aroma mawar darinya. Tubuhnya besar, tinggi, dan itit-otot dadanya terlihat menonjol.


"Iya. Dan aku memikirkanmu saat menanamnya."


Kaki Keyla terasa lemas mendengar kata-katanya. Begitu romantis tapi bukan kata-kata gombalan. Dan anehnya lagi justru ia senang mendengarnya. Tapi, siapa dia? Keyla merasa ada yang aneh di rumah ini. Rumah yang sudah seperti kastil. Ia seperti merasa tak asing namun sekeras apapun berpikir, Keyla tak ingat pernah ke sini sebelumnya.


Terima kasih telah membaca. Semoga sabar nunggu aku update di sela-sela kesibukan kerja, ya. 

Post a comment

0 Comments