Suamiku Dingin (Bab 3)

 

Novel gratis online

"Keyla? Ayo masuk!"


Lamat-lamat Keyla seperti mendengar suara Mama yang sedang memanggil dirinya. Dan yang benar saja ketika gadis itu menoleh, ia melihat Mama sedang melambaikan tangan dengan gemulai seperti ratu kecantikan saat menyapa penggemarnya dari atas panggung yang megah dan spektakuler!


Keyla mengedarkan pandangan ke sekeliling, mencari-cari pria yang tadi di belakangnya.


Ke mana dia? Kenapa aku tidak menyadari kalau dia sudah pergi? Ahh ... tidak, Key! Kamu benar-benar terhipnotis. Pikir Keyla agak bingung.



Gadis itu menggoyang-goyangkan kepalanya agar tersadar kembali. Supaya kata-kata yang menghipnotis dia beberapa menit lalu menghilang dan enyah dari pikirannya.


Keyla berlari ke arah mama dan memeluknya dengan tiba-tiba. "Eh, ada apa ini? Datang-datang main peluk aja!" protes Mama melihat tingkah putrinya yang jarang-jarang bermanja dengannya. Karena, favorit Keyla adalah Papa bukan Mama!


"Mah, tadi ada laki-laki di taman. Tapi tiba-tiba hilang."


"Laki-laki apaan? Mama lihat kamu sendirian kok."


"Seriusan, Mah. Masak Key bohong, sih?"


"Kamu kan memang sering bohong sama Mama!"



Jleb! Ternyata radar Mama selama ini bekerja dengan sangat akurat dan tidak pernah meleset! Keyla memang sering berbohong pada Mama. Terutama kalau soal Bima. Ia sering memakai uang pribadinya untuk membeli kebutuhan Bima. Well, sebagai pacar, tidak tega melihat jika bengkel motor kekasihnya itu sepi. Itu sebabnya Keyla membantu ekonomi Bima yang naik turun gak jelas juntrungannya. Dan alasan ekonomi itu jugalah yang membuatnya belum siap menikahi Keyla meski mereka sudah lama berpacaran.


"Mama gitu deh sukanya," balas Keyla kemudian bergelendotan manja dan berjalan ke arah Papa yang masih duduk di pojokan.


"Wah ... kuenya besar banget, Mah? Keyla belum pernah makan kue yang sebesar itu."


Keyla tergakum seperti anak kecil ketika melihat kue yang sangat besar di tengah ruangan. Makanan yang lain juga banyak dan aromanya menggoda. Harus siap-siap melihat timbangan geser ke kanan, nih.


"Gimana bunganya, Key? Cantik?" tanya Papa kemudian memeluk wanita yang baru saja lepas dari gandengannya. Mereka terlihat mesra dan seperti pengantin baru saja. Membuat jiwa kejombloan Keyla meronta-ronta seperti cacing yang disiram air sabun. Kelojotan!


"Cantik, Pah. Tapi lebih cantik Keyla!" balas Keyla sambil nyengir lebar-lebar.


"Tentu saja. Keyla kan anak Papa."


"Anak Mama juga dong, Pa," sahut Mama tak mau kalah dan mereka bertiga pun tertawa bersama.


Kok, aku merasa ada yang aneh, ya? Seperti ada orang yang mengamatiku sejak tadi? Brrrr ... tubuhku jadi merinding disko! Seram! Batin Keyla sambil mengusap tengkuk lehernya yang terasa dingin.


"Ayo kita ke tengah." Papa menggandeng kami anak dan istrinya. Mama di sebelah kiri dan Keyla di sebelah kanan. Sedangkan Papa berada di tengah.


Meskipun tak bisa dipungkiri perut Papa sedikit maju ke depan, tetap saja gagahnya tak mau hilang. Lagipula, Mama tergila-gila dan sudah cinta setengah mati pada perut gendut Papa. Setiap saat ketika mereka berdua, dielus-elusnya perut itu seakan-akan ada bayi di dalamnya.


Orang-orang telah berkumpul di tengah. Tidak terlalu banyak. Kira-kira lima belas orang termasuk mereka dan anak-anak. Dan rumah yang seperti kastil tersebut, terlihat terlalu besar untuk mereka semua.


Keyla membatin, seandainya acara ini diadakan di rumahku, barangkali tamu-tamu harus makan di luar rumah. 


"Sabrina? Bisa dimulai acaranya sekarang?"


Oh ... jadi nama tante yang pakai baju biru itu namanya Sabrina? Keyla manggut-manggut.


Tante sabrina berjalan menuju ke arah Keyla dengan menggandeng seorang pria yang kira-kira seumuran Papa. Pasti itu suaminya! Gak mungkin kan itu anaknya. Tapi kalau mereka punya anak lelaki pasti tampan dan gagah. Perpaduan antara kedua orang tuanya yang terlihat sempurna.


"Keyla, sayang. Ini Om Markus. Dulu dia sering gendong kamu loh di pundaknya." Tante Sabrina mencoba memperkenalkan suaminya.


Mereka bersalaman dan Keyla tersenyum lebar memperlihatkan giginya yang putih dan berjajar rapi. " Halo Om Markus," sapa Keyla dengan kaku. Meski usianya kini dua puluh lima tahun, Keyla sama sekali tidak tahu bagaimana caranya bersikap basa-basi.


Keyla mengerutkan dahinya, dia sama sekali tidak mengingat dulu pernah digendong laki-laki berdarah bule itu. Ya, rambutnya pirang, kulit putih, dan kumisnya juga kemerahan. Meskipun begitu, dia lancar berbahasa Indonesia.


"Hai, Keyla. Om tahu kamu tidak ingat. Karena kamu dulu masih kecil sekali saat kita bertemu."


Baguslah kalau om Markus berpikiran begitu. Lagipula, jika mereka bertemu saat umurnya lima tahun, mana mungkin Keyla ingat? Iya kan?!


Selain ada tante Sabrina, Om Markus, juga ada beberapa orang lainnya yang melihat Keyla secara bersamaan. Dan ia pun memutuskan untuk menyapa mereka hanya dengan melambaikan tangan dan membungkukkan badan sambil pasang senyum lebar. Ini adalah cara yang praktis dan kekinian agar tak perlu berputar untuk bersalaman!


Semua orang tersenyum dan melambaikan tangannya pada Keyla. Sedangkan anak-anak yang jumlahnya ada lima orang meneriakkan namanya. 


Ha? Namaku? Dari mana mereka tahu namaku Keyla?


Gadis itu berjalan mundur. Menuju arah Mama dan berbisik, " Dari mana anak-anak itu tahu namaku?" tanya Keyla penasaran.


"Pergilah ke tengah. Dan lihat nama siapa yang ada di kue itu!" Mama balas berbisik dan mendorong tubuh Keyla ke depan.


Dengan hati yang dag dig dug der, Keyla berjalan ke tengah dan semua mata di ruangan itu tertuju ke arahnya. Dan ada satu hal yang membuat dirinya merasa tak nyaman sejak tadi adalah sepasang mata yang menyorot ke arahnya dengan tajam sehingga Keyla tidak berani untuk membalas tatapannya.


Happy Enggagement. Keyla Laksaman & Stevan Antonius.


Keyla Laksamana dan Stevan Antonius? Bertunangan? Siapa mereka? Aku? Lalu siapa Stevan Antonius? Stop stop stop! Ini bukan mimpi, kan? Jadi, dari tadi Mama dan Papa tidak bercanda? Haloha ... adakah yang bisa menjelaskannya padaku? Apa maksud semua ini? Apakah ini sebuah prank? Keyla terus-terusan bertanya pada pikirannya sendiri. Dia berharap segera bangun dari tidurnya kalau ini hanya mimpi.


Keyla melihat ke sekelilingnya dan mengoceh sendiri dalam hati. Bertanya, namun tak ada yang menjawab. Ia merasa kebingungan sementara Mama dan Papa terlihat bahagia.


 Keyla melihat gemas ke arah Papa dan Mama. Oh, Tuhan! Orangtua macam apa mereka yang tertawa diatas penderitaan putri kandungnya sendiri?!


"Jangan pingsan di sini!" Tiba-tiba Keyla mendengar suara itu berbisik di telinganya. Suara yang tadi ia dengar saat di taman. Persis. Tak salah lagi. Tangannya yang terasa kokoh pun mendarat di pinggang Keyla dengan mulus tanpa permisi. Dan sekali lagi ia hanya bisa terdiam dan menerima semua perlakuannya. Sekali lagi, Keyla terhipnotis.


Stevan Antonius?

0 Comments