Suamiku Dingin (Bab 5)

 

Novel gratis

Kruuuk ... kruuuk ... perut Keyla yang berbunyi membuat gadis itu terbangun. Rupanya, ia tertidur karena kelelahan menangis di atas ranjang empuk yang ada di kamar Stevan Antonius.


"Mmmmhhh ... kenapa sih harus kelaparan tengah malam? Hey, cacing-cacing di perut! Apa kalian tidak tahu kalau aku sangat mengantuk?!" Keyla berbicara sambil menunjuk-nunjuk perutnya sendiri dan dia baru sadar kalau masih memakai gaun yang hari ini dipakainya saat acara pertunangan.


Keyla bangkit dari tidurnya. Membuka resleting belakang dan meletakkan baju itu begitu saja di lantai lalu memilih berbaring di balik selimut.


"Pantas saja sejak tadi aku merasa tubuhku sulit bernapas. Ternyata aku masih memakai gaun. Duh, Keyla ... Keyla," keluh gadis itu pada dirinya sendiri.


Kruk ... kruk ... perutnya kembali berbunyi. "Ahhh!!! Lapar yang sungguh sialan!" umpat Keyla memandang ke arah langit-langit yang gelap. Tak ada cahaya yang sedikit pun di ruangan itu.


Ia kemudian berguling-guling ke kanan dan ke kiri. Memikirkan apa yang seharuskan dia makan agar tidak lagi kelaparan. Ah, ponsel. Di mana ponselku? Barangkali aku bisa memesan makanan online. Pikir gadis itu antusias kemudian menjuntai kan kakinya ke bawah dan perlahan menapaki lantai yang terasa dingin.


Tangan Keyla meraba-raba tembok. Mencari saklar agar kamar itu tidak lagi menjadi gelap.


"Di mana saklar? Hello? Tuan saklar kau ada di mana? Ya, Tuhan! Mendekatlah padaku! Apa kau tidak tahu aku sedang kelaparan?!" protes Keyla yang seolah-olah menganggap saklar adalah sesuatu yang hidup dan bisa menanggapi ocehannya.


Setelah meraba-raba tembok dengan sabar akhirnya gadis yang sedang tidak berbusana itu bisa menemukan saklar. Tanpa ba bi Bu lagi, jemari lentik Keyla langsung menekan tombol saklar dan bim salabim layaknya sebuah mantra, kamar yang tadinya gelap gulita menjadi terang benderang.


"Nah, gini kan terang! Tidak gelap seperti masa depanku!" ocehnya sambil mengibaskan kedua tangannya. 


Keyla berbalik arah dan betapa kagetnya ketika dia mendapati telah ada sepasang mata yang mengawasi dirinya di sana. Seorang pria yang duduk di sofa persis di samping tempat tidur.


Kenapa aku baru tahu? Ya Tuhan sungguh bodohnya aku! Rutuk Keyla pada dirinya sendiri. Berarti, sejak tadi lelaki itu mendengarkan semua ocehannya?!


Sepasang mata kecoklatan dan tajam itu tidak melepaskan Keyla dari pandangannya. Dan untuk pertama kalinya mata Stevan Antonius dan Keyla Laksama saling bertemu meski hanya untuk beberapa detik.


"Apa kau terbiasa bertelanjang di depan seorang pria?" tanya Stevan menyelidik. Ia bangkit dari kursi dan berjalan ke arah Keyla yang masih terpaku.


Ketika tubuh kekar Stevan mulai mendekat, tanpa sadar Keyla pun berjalan mundur. Semakin dia mendekat, Keyla terus mencoba untuk melangkah ke belakang. Dan akhirnya dibelakangnya tak ada lagi ruang untuk menjauh. Tembok itu membentang di sana. Stevan tak berbicara apa-apa lagi selain sorot mata tajam yang mengintimidasi. 


"Apa kau terbiasa bertelanjang di depan pria?" tanyanya untuk kedua kali lalu kedua tangannya bertumpu pada tembok untuk mengapit Keyla.


"Apa kau terbiasa bertelanjang di depan pria?" tanya Stevan untuk ketiga kalinya. Dan nadanya terlihat sangat serius. Jantung Keyla tidak berhenti berdegup sekaligus takut. Sorot matanya berbeda dari sebelumnya dan tangan kirinya mencengkram pundak Keyla hingga ia meringis kesakitan.


"Apapun yang terjadi, jangan pernah melepaskan pakaianmu di depan laki-laki yang bukan suamimu," lanjutnya lagi dengan nada yang tiba-tiba menjadi lebih lembut.


He? Apakah orang ini psycho? Batin Keyla yang jantungnya hampir saja mau copot.


Stevan melepaskam cengkraman tangannya kemudian melepaskan kaos berwarna hitam ketak yang dipakainya. "Pakailah." Ia memberikan kaosnya pada Keyla dan gadis itu cepat-cepat memakainya agar ia tidak perlu lagi melihat sorot mata yang menyeramkan itu. Brrrr! Menakutkan dan membuat Keyla merasa seperti tersangka yang sedang diadili.


"Aku lapar," ucap Keyla ragu.


Tanpa menjawab dan dengan telanjang dada, pria itu meraih tangan Keyla dan menuntun dirinya keluar dari kamar. Menuruni tangga dan menuju dapur yang ada di lantai satu.


 Keyla mengikuti Stevan dengan cara setengah berlari karena langkah kaki lelaki begitu panjang dan dia tidak bisa mengimbanginya jika berjalan dengan biasa.


Setibanya di dapur, ia membuka kulkas dan menyuruh Keyla melihat-lihat makanan yang ia suka.


"Pilihlah," pinta Stevan sambil memegangi pintu kulkas.


"Aku boleh mengambil semauku?"


"Ya."


"Kau mau makan?"


"Tidak."


"Baiklah."


Setelah melihat-lihat, di sana ada banyak sekali makanan yang sudah ditaruh didalam kotak plastik berwarna putih. Ada beberapa salad, buah, dan juga ayam rebus.


"Makanan yang tadi siang masih ada?"


"Sudah dibawa pulang orang-orang yang bekerja di sini."


Setelah menimbang-nimbang dengan saksama, Keyla mengambil makanan yang bertuliskan salad dan juga ayam rebus.


Stevan lalu menutup kulkas dan menyuruh Keyla untuk duduk. Kemudian ia meraih sekotak ayam rebus dari tangan dari tangan Keyla dan menaruh potongan dada ayam itu diatas piring dan memanaskannya di dalam microwave selama dua menit.


Dibalik kediaman dan tatapan matanya yang tajam, Keyla melihat ada kehangatan di sana. terlebih lagi, ketika dia memperhatikan punggung Stevan. Dia jadi berpikir yang tidak-tidak dan rasanya ingin sekali mengelus otot-otot lelaki itu. Dia baru menyadari sungguh tampannya tunangannya itu.


"Sampai kapan mau melihatku?"


Astaga! Ternyata dia sadar Keyla sedang mengawasinya. Dan wajah gadis itu sampai memerah dan tertunduk malu. Keyla lagi-lagi mengutuk kebodohannya. Bisa-bisanya seorang gadis tertangkap basah sedang memandangi tubuh seorang pria? Sial sial sial!!!


"Makanlah." Antonius menyodorkan piring dan juga garpu pada Keyla. Ia kemudian mengambil gelas dan mengisinya dengan air putih.


"Ke mana om Markus dan tante Sabrina?" tanya Keyla sambil mengunyah beberapa potong timun.


"Pulang."


"Ke mana? Ini kan rumah mereka?"


"Jakarta. Rumah yang satunya."


Keyla hanya manggut-manggut. Bingung. Apalagi yang harus dibicarakan? Stevan begitu pendiam dan malah lebih suka menatap dirinya daripada berbicara langsung.


"Kamu punya pacar?"


"Aku sudah bertunangan," jawabnya singkat sambil memperlihatkan jemarinya dan akhirnya Keyla baru sadar. Dialah tunangan yang dimaksud!


Keyla mendengus. Ia sungguh tidak menyukainya. Maksudnya, suasana ini. Kaku dan rasanya aneh. 


Setelah menghabiskan makan malamnya, Keyla mencuci piring dan box makanan kemudian menaruhnya di rak piring untuk dikeringkan. Sementara itu Stevan terus saja mengawasi dirinya yang membuat Keyla kikuk dan mersa tidak nyaman.


"Hey. Mmm ... aku ingin mandi dan menghapus makeupku. Di mana aku bisa melakukannya?"


Tanpa menjawab sepatah kata pun, Stevan menggandeng tubuh Keyla dan berjalan menuju kamar.


Antonius membuka pintu kamar mandi dan wow, kamar mandinya bahkan lebih besar dari kamar Keyla di rumah!


"Pilihlah." Antonius membuka sebuah lemari yang berisikan baju-baju wanita.


"Punya tante Sabrina?"


"Milikmu. Mama yang membelikannya."


Punyaku? Apakah memang pertunangan ini sudah direncanakan sejak lama? Pikir Keyla dengan dahi yang berkerut.


Gadis itu mengambil handuk dan berjalan menuju bath tub lalu menutup tirainya dan mulai melepaskan pakainnya


"Hey! Kau masih di sana?"


"Hmmmm."


"Jangan ke mana-mana. Tunggulah di situ." Karena tak mendengarnya berdehem, Keyla mengintipnya dari balik tirai. Dan sekali lagi mata keduanya saling bertemu. Dan entah kenapa kalau dia merasakan kalau sebenarnya Stevan bukan orang asing. 


"Apa kau tahu berapa lama Mama dan Tante Sabrina bersahabat?"


"Ketika kau belum lahir."


"Benarkah? Kenapa aku tidak mengingatnya? Maksudku, Mama tidak pernah cerita kalau punya sahabat bernama Tante Sabrina."


Keyla berbicara sambil memijat-mijat wajahnya dengan lembut. Ada banyak makeup di sana. Kalau tidak dibersihkan dengan benar, saat bangun tidur pasti wajahnya ditumbuhi benjolan-benjolan jerawat.


"Ceritakanlah sedikit tentang dirimu. Agar aku tahu bagaimana harus bersikap. Kau sangat pendiam dan aku kebingungan," keluh Keyla sambil membasuh wajahnya.


Sambil menunggu jawaban, ia mulai membasahi rambut dan mencucinya dengan shampoo. Aroma mawar. Gadis itu sangat menyukainya. Wangi dan menyegarkan.


"Kenapa rumahmu sepi sekali? Apa kau tinggal sendiri?"


"Ada kau sekarang."


"Bukan itu maksudku. Tapi, di mana Bibi yang bersih-bersih rumah dan tukang kebun?"


"Paviliun belakang."


"Ah. Aku baru tahu. Apa kau tidak kesepian tinggal di rumah sebesar ini? Oh, ya. Apa kau baru pulang dari luar negeri? Apa kau sudah sering bertemu dengan Mama dan Papaku?"


Pria itu diam lagi. Sama sekali tidak menjawab. Padahal, dia berdiri di dekat lemari sejak tadi.


"Cepatlah. Nanti masuk angin," ucapnya dengan nada memerintah.


Dasar ditaktor! Umpat Keyla dalam hati. Ia melilitkan handuk di tubuhnya yang padat berisi dan memasukkan baju kotor ke dalam keranjang yang ada di sebelah bak mandi.


Antonius memalingkan pandangannya dan pura-pura tidak melihat Keyla yang sedang berjalan ke arahnya. Gadis itu membuka lemari pakaian dan memilih baju tidur berwarna merah muda yang terbuat dari kain satin.


"Pilihan tante Sabrina memang top markotop!" puji Keyla ketika melihat betapa berkualitasnya semua pakaian yang ada di lemari itu.


"Kamu mau melihatku berganti pakaian atau menunggu di kamar?"


Tanpa menjawab Antonius keluar dari kamar mandi. Keyla pun langsung beraksi dan membuka seluruh lemari yang ada. Baju-bajunya bagus dan terlihat mahal. Ada juga sepatu, tas dan juga aksesoris. Kemudian ia membuka lemari yang lebih kecil. Berisi pakaian pria dan warnanya hanya hitam dan putih. Milik Stevan? Ia bertanya dalam hati.


Keyla keluar kamar mandi begitu selesai berganti baju. Rambuttnya yang basah juga sudah dikeringkan dengan hair dryer. Ternyata, di dalam lemari-lemari itu ada beberapa kosmetik dan alat-alat kewanitaan yang sering dia pakai. Apakah Mama yang memberi tahu Tante Sabrina apa saja yang sering Keyla pakai? Hmmm ... itu tak jadi masalah sekarang. Karena kejengkelan Keyla yang tadi siang, sekarang sudah hilang ikut mengalir bersama daki yang menempel pada tubuhnya.


"Kamu sudah mandi?" tanya Keyla pada lelaki yang duduk di sofa samping tempat tidur.


"Tidurlah," jawabnya singkat tanpa melihat ke arah arah Keyla.


Keyla mendengus lagi. Pertanyaan apa, jawabnya apa. Dasar pria aneh!


Keyla naik ke tempat tidur dan menyembunyikan tubuhnya di balik selimut hngat.


"Hey. Kamu tidak kembali ke kamarmu?" Keyla bertanya lagi mulai berani melihat wajahnya secara terang-terangan. Stevan tidak melihat ke arah Keyla, matanya terpejam tapi dia yakin kalau Stevan masih mendengar suaranya.


"Kamu mau tidur di sebelah ku? Tempat tidur ini cukup besar untuk kita berdua. Lagipula, sekarang kita sudah bertunangan dan akan segera menikah."


Tanpa menjawab iya atau tidak, Antonius beranjak di kursi dan siap-siap berbaring di sebelah Keyla. Dari dekat ia bisa melihat dengan jelas otot-otot di tubuh Stevan. Luar biasa menggoda?


"Apa kau terbiasa tidur dengan pria?" tanyanya tanpa melihat Keyla dan justru tertuju pada langit-langit yang lampunya masih benderang.


"Kamu suka tidur dengan lampu menyala atau mati? Aku suka tidur dalam gelap. Jadi akan kumatikan saklarnya."


Tanpa menunggu jawabannya Keyla berdiri dan mematikan lampu lalu kembali merebahkan diri lagi di ranjang.


"Kalau iya kenapa? Apa kau sudah tidur?"


Antonius tidak menjawab. Tapi Keyla bisa mendengar suara napasnya yang tidak teratur. Secepat kilat ia mendekap tubuh Keyla dalam gelap. Ia tenggelam dalam tubuhnya yang bidang. Gadis itu bisa merasakan bulir-bulir keringatnya di wajahku. "Apa kau terbiasa tidur dengan seorang pria?" Ya Tuhan? Itukah yang hendak ia tanyakan sampai bersikap sejauh ini? "Mulai sekarang, hanya aku satu-satunya pria yang boleh tidur denganmu." Ia lalu melepaskan pelukannya. Menjaga jarak dengan Keyla. Ditaruhnya sebuah bantal di tengah-tengah mereka. "Jangan melewati batas ini atau kau akan menanggung sendiri akibatnya."


Note: Lanjut gak, ya? Komen dong.

0 Comments