Suamiku Dingin (Bab 6)

 

Novel online gratis

Brrr!!! Tubuh Keyla tiba-tiba mulai menggigil. Ia menaikkan selimut hingga menutupi bagian kepalanya.


Gadis itu masih belum ingin bangun dari tidurnya. Masih lelah, masih ingin bermalas-malasan, dan masih ... ingin menikmati semerbaknya aroma mawar di pagi hari? Wait wait wait ... aroma bunga mawar?!


Keyla mencium aroma mawar bercampur dengan hawa dingin menyusup ke dalam selimutnya yang hangat. Karena penasaran, gadis itu terpaksa membuka mata dan melihat apa yang sebenarnya terjadi. 


Rupanya, lampu yang kekuningan telah menyala, jendela sudah terbuka lebar dengan langit yang masih gelap terpampang di depan netra. Keyla melihat sosok Stevan yang sedang duduk memangku laptop. Jam berapa dia bangun? Dan apa yang ingin dia lakukannya dini hari begini? Tanya Keyla dalam pikirannya sendiri.


"Bangunlah. Udara pagi baik untukmu." Suara Stevan terdengar seperti sedang memerintah bawahannya.


Keyla menggeser tubuhnya ke pinggir ranjang agar lebih dekat dengan pria yang telah mencukur rambut halus di wajahnya. Terlihat lebih bersih dan lebih tampan. Keyla tak menyangkal hal itu. Dalam keadaan mata terpejam saja Keyla bisa memastikan bahwa Stevan memiliki figur yang bagus.


Rambut Stevan yang agak basah disisir ke belakang. Ia mengenakan celana warna hitam dan kaos warna putih yang ketat hingga memberlihatkan bentuk tubuhnya yang padat dan berotot. Keyla merasa ia tak perlu lagi melihat mentari di pagi hari, rasanya Stevan saja sudah bisa menyinari pagi hari nya. 


"Jam berapa ini?" tanya Keyla sambil mengelap pipinya. Ada sesuatu yang telah mengering yaitu air liurnya sendiri. Secepat kilat ia mengusap pipinya tapi Stevan keburu melihat kejorokannya.


"Lima." Ia menjawab singkat tanpa menatap Keyla karena jari-jarinya sibuk menekan keyboard laptop.


"Terima kasih. Tapi, bolehkah aku kembali tidur? Aku masih mengantuk," rengek Keyla yang tidak terbiasa bangun sepagi ini.


"Tidak," jawab Stevan yang membuat Keyla menggerutu. Dia sangat kaku sekali. Pasti dia tidak pernah memiliki seorang kekasih. Mana ada perempuan yang mau dengan pria yang pendikte seperti dia? Rutuk Keyla Hmmmpphh!!!


"Hey. Aku ingin bertanya sesuatu. Bolehkah?" tanya Keyla dengan malas.


"Hmmmmm."


"Berapa usiamu?" tanya Keyla tanpa ragu. 


"Tiga lima."


Keyla manggut-manggut. Pantas saja dia begitu. Usianya hampir kepala empat. Jadi wajar kalau sikapnya membosankan dan tidak bisa romantis seperti anak muda!Keyla yang akhirnya sedikit memahami.


Gadis itu akhirnya mengeluarkan kakinya dari selimut dan berjalan menuju sofa yang terletak di bawah jendela.


"Huwaaaaa! Lihatlah ke sana!" keyla menunjuk ke taman yang dihiasi lampu berwarna warni. Indah. Persis seperti taman hiburan di malam hari. 


"Aku sudah melihatnya setiap hari." Antonius menjawab datar. 


"Aku tidak tanya seberapa sering kamu melihatnya. Weekksss!" balas Keyla menjulurkan lidah lalu membuka tas warna hitam di depannya dan mengambil ponsel dari dalam. 


Ia mengabaikan Stevan yang dirasa menjengkelkan dan mulai memotret taman berkali-kali meskipun anglenya itu-itu saja.


Keyla melihat hasil memotretnya. Kurang puas dan akhirnya ia memutuskan untuk pergi ke taman.


Layaknya copet yang dikejar polisi, gadis itu keluar kamar dengan sandal bulu-bulu yang digunakan di dalam rumah. Ia menuruni tangga dan ada Bibi yang sedang membersihkan lantai menggunakan mesin penyedot debu.


"Pagi, Bi?" sapa Keyla girang.


"Pagi, Mbak Key. Kok sudah bangun?"


"Dia memaksaku bangun!" Keyla menjawab dengan cara berbisik sambil menunjuk ke arah atas agar Stevan tidak mendengarnya.


"Mas Steve memang bangunnya subuh," jelas Bibi yang ikutan berbisik.


"Bi. Key mau ke taman belakang dulu, ya."


Tanpa menunggu jawaban dari Bibi, Keyla berlari menuju pintu yang menghubungkan langsung dengan taman.


Kalau lari-lari begini tiap hari, aku tidak harus diet agar bisa langsing! Batin Keyla yang kelakuannya seperti bocah remaja padahal usianya sudah seperempat abad. Memang benar kata pepatah lama, usia tidak mempengaruhi kedewasaan seseorang!


Setelah sampai di taman, cepat-cepat Keyla mengambil foto dan video. Ia mengambilnya sebanyak mungkin dan senangnya bukan main! Serasa dapat lotre dengan hadiah puluhan juta rupiah.


"Pagi Mbak Key," sapa seorang lelaki tua yang menenteng dua ember ditangannya yang berisi pupuk untuk tanaman.


"Pagi, Pak. Mau dikasih pupuk? Key bantu, ya?" Keyla menawarkan diri dengan riang.


"Gak usah. Biasanya Mas Steve yang mengerjakan. Tapi sekarang kan ada Mbak Key di rumah, jadi Bapak yang ngerjain."


"Bapak tinggal di sebelah mana? Key boleh main?"


"Itu yang sebelah sana. Paviliun belakang. Sama Bibi yang di dalam," tunjuk Bapak ke arah paviliun.


"Si Bibi istrinya ya, Pak?"


"Hehehe ... iya, Mbak. Tapi sayang belum punya anak."


Keyla membalas manggut-manggut soalnya dia bukan gadis yang pandai berbicara manis dan bisa menenangkan kesedihan orang lain.


"Pak, Mas Steve kerjanya apa sih, Pak?" tanya Keyla penasaran karena malu jika harus bertanya langsung pada Stevan.


"Oh, Mas Steve kerjanya di depan komputer," jawab bapak menyeringai


"Itu Mas Steve," lanjutnya lagi.


He? Stevan? Keyla menoleh ke belakang dan di sana telah berdiri seorang Stevan dengan melipatkan tangannya.


"Sejak kapan punya hobi bergosip di pagi hari?" tanyanya mendekat ke arah Keyla yang memonyongkan bibirnya sedangkan si Bapak, berjalan menjauh alias kabur.


"Mmmmm ... sejak aku penasaran apa pekerjaan mu!" 


"Kebiasaanmu sangat buruk nona muda."


Laki-laki itu memencet hidung Keyla dan menyambar tangannya. Seperti biasa, Stevan melakukannya tiba-tiba dan menarik Keyla ke dalam rumah dan menuju ke arah dapur.



"Bibi ke mana?" tanya Keyla menyelidik begitu sampai di dapur.


"Pulang."



"Hey! Tidak bisakah kamu menjawab dengan jawaban lebih panjang?" Tanya Keyla sambil memukul meja makan. Kesal.


"Kamu itu misterius sekali. Jangan-jangan kamu gay, ya? Makanya mau dijodohkan denganku? Atau ... kamu psikopat seperti yang ada di film-film Hollywood?!" Stevan yang sedang mengaduk kopi tiba-tiba berhenti.


"Iya, Kan?! Pasti kamu gay! Sudah kaya, tampan, meskipun tidak setampan Bima, usiamu bahkan sudah terlalu matang, dan belum menikah. Bukankah itu aneh?" cerocos Keyla dengan mata yang sengaja disipitkan.


Pria itu tidak bereaksi sama sekali. Ia hanya mendengarkan ocehan Keyla dengan sabar persis seperti yang Papa lakukan setiap hari. Mendengarkan keluh kesah Mama tanpa menyela.


Stevan berjalan ke arah Keyla kemudian memeluknya dari belakang. "Kau mau mencoba aku gay atau bukan?" bisik Stevan yang membuat Keyla merinding. 


"Hehehe. Tidak perlu. Aku tidak masalah kalau kamu gay. Kita bisa bercerai setelah setahun pernikahan kita. Sungguh, aku tidak masalah."


"Oh ... jadi, setelah kita bercerai, kau akan bersama dengan pria yang bernama Bima itu?"


"Hahaha. Tidak ... tidak. Aku hanya bercanda. Jangan dimasukkan hati. Tolong lepaskan tangan mu. Oke?"


Stevan tidak berkutik. Ia masih memeluk erat tubuh Keyla dan enggan melepaskannya."Bagaimana jika aku tidak mau?" bisik Stevan tepat di depan telinga Keyla. Terdengar mesra, jantan dan arrgghh! Membuat Keyla membayangkan hal yang bukan-bukan!


"Aku akan berteriak!"


"Teriak saja, sayang ... aku ingin mendengar suara mu yang merdu," ucap Stevan mengecup cuping telinga Keyla dan seketika itu juga, gadis itu mematung. Jantungnya seolah berhenti dan lupa bagaimana caranya untuk bergerak.


****


Note: Ada yang baca? Ayo absen di kolom komentar!

Post a comment

0 Comments