Suamiku Dingin (Bab 7)

 

Novel online gratis

Setelah sarapan tadi pagi, Keyla memutuskan untuk kembali ke kamar dan tidur lagi. Dan sekarang, tepat jam 12 siang dia bangun karena perut gadis itu keroncongan.


Ketika membuka mata, Keyla tidak melihat sosok Stevan duduk di sofa samping tempat tidur. Laptopnya pun tidak ada. Keyla lalu berdiri dan melongok keluar jendela. Pria juga tidak ada disana. Karena penasaran, Keyla memutuskan keluar kamar dan menuruni tangga. Melihat ke arah dapur, lelaki itu pun tidak ada di sana.


Apakah dia ada di salah satu ruangan kamar yang tertutup itu? Huffttt. Pikir Keyla yang penasaran ke mana lelaki itu pergi.


Tak sanggup menerima kenyataan bahwa apa yang dicari Keyla tak ada, ia memutuskan untuk duduk di anak tangga terakhir.


"Ngelamunin apa Mbak, Key?" tanya Bibi penasaran sekaligus berpikir bahwa majikan barunya itu pasti merasa kesepian di rumah yang sebesar ini.


Mata Keyla langsung bersinar ketika mendengar suara itu. Bibi. Wanita yang sudah baya itu masuk membawa keranjang berisi sayuran. Keyla pun langsung berlari menghampirinya. Membantunya membawakan keranjang. Gadis itu tidak tega melihat tubuh tua Bibi terlalu banyak bekerja. Bukankah pekerjaan yang sulit membersihkan seluruh rumah sebesar ini sendirian?


"Mau masak apa, Bi?"


"Mbak, Key mau apa? Kalau Mas Steve, setiap hari makannya selalu sama. Bibi tinggal nyiapin saja dan masukin ke kulkas."


Keyla mengangguk. Tanda ia mengerti lalu bersiap melayangkan pertanyaan lain. Kesempatan bagus karena Stevan sepertinya tidak ada di rumah.


"Hmmmm ... apa, ya?" Keyla balik bertanya dengan alis yang bertaut. Kalau ditanya makan apa, dia pasti kebingungan.


"Makanan kesukaan Bibi apa? Biar Key yang masak," tanya Keyla lagi dengan semangat empat lima. Kalau sudah soal masak memasak, Keyla Laksamana jagonya!


"Beneran Mbak Key yang masak?"


"Beneran, dong, Bi! Suwer berani disambar gledek!" sahut Keyla mengangkat kedua jarinya hingga menyerupai huruf V.


"Itu lho Mbak Key. Masakan orang bule yang sering Mbak Key buat. Lasa-lasa apa gitu."


Eh? Kok Bibi tahu aku sering masak? Pikir Keyla agak kebingungan.


"Yang mana, Bi? Masakan Itali?"


"Nah itu. Yang ada di film kucing Garfil," jawab Bibi tak kalah semangatnya dengan Keyla.


Keyla berkeliling dapur, membuka lemari dan rak-rak untuk tahu apa isinya. Dapur di rumah besar bak istana itu terbuka dan tidak terlalu besar. Siapapun langsung bisa melihat orang yang ada di dapur dari ruang tengah yang sebesar lapangan tenis di Senayan.


"Mas Steve sering loh nonton Mbak Key masak. Jadi Bibi ngintip-ngintip saat bersihin ruang kerja Mas Steve," ucap Bibi disela-sela keasyikannya memeriksa setiap sudut dapur.


"Beneran, Bi?" tanya Keyla guna meyakinkan bahwa gendang telinganya masih normal.


"Serius Mbak Key! Kalau Bibi bohong, biar Bibi dikutuk jadi Cinderella!" 


Hahaha. Mereka berdua pun tertawa bersama. Di pikiran Bibi, dengan adanya Keyla membuat rumah itu menjadi lebih hidup.


"Bibi punya bahannya? Untuk membuat lasagna?"


"Ada ... ada. Mas Steve sering masak itu," jawab Bibi bersemangat dan membuka lemari berisi stok makanan.


"Biar Key aja, Bi. Bibi istirahat saja."


"Wah. Kebetulan kalau gitu. Bibi mau bersihin ruang gymnya Mas Steve."


"Yang mana Bi ruangannya?"


"Yang nomor tiga. Samping ruang kerja." Bibi pun berlalu. Berjalan dan naik menuju ruangan yang dimaksud.


Sepertinya di rumah ini memiliki banyak rahasia dan cerita. Terutama Stevan Antonius Pakaiannya hanya berwarna hitam dan putih, setiap hari selalu makan makanan yang sama, ia tahu banyak tentangku, bahkan sering menonton Channel Youtube ku, dan dia juga pendiam. Aku tidak pernah melihatnya tertawa. Dan dia hanya sesekali tersenyum. Batin Keyla yang merasa aneh dengan tunangannya itu.


Keyla mencari-cari celemek di laci. Setelah menemukannya, ia memakainya dengan perasaan gembira. Kemudian mencari talenan, pisau, dan beberapa mangkok.


Setelah semuanya siap di meja, gadis itu mulai mencincang daging yang ditemukan di kulkas. Setelah selesai, ia mencincang halus satu buah bawang bombay lalu membuka satu kaleng tomato puree dan menaruhnya dalam mangkok. Butter, susu, keju, dan garam pun telah siap di meja. Dan tidak lupa sebungkus lasagna dan juga tepung terigu.


Setelah semua bahan siap di meja, Keyla mulai memanaskan panci dan memasukkan salt butter dan menunggunya hingga meleleh.


Keyla memasukkan bawang bombay dan menumisnya hingga matang. Setelah itu ia masukkan daging cincang hingga setengah matang. Kemudian masukkan tomato puree lalu membubuhi dengan lada garam dan tidak lupa keju parmesan yang sudah diparut. Keyla sengaja tidak menambahkan red wine karena ia pikir Bibi tidak diijinkan untuk makan makanan beralkohol.


Setelah saos merah matang. Keyla mengambil frying pan dari dalam laci lalu memanaskannya, kemudian menambahkam salt butter. Keyla mengecilkan api kemudian memasukkan tepung terigu dan mengaduk-aduknya hingga rata dan berbentuk pasir. Setelah selesai Keyla mwmasukkkan susu dan mengaduknya hingga rata dan tidak ada lagi gumpalan tepung.


Keyla memanaskan oven165 derajat. Sambil menunggu oven panas hingga temperatur yang diinginkan, ia mulai menata lembaran lasagna, saos merah, dan putih secara bergantian di dalam wadah tahan panas. Setelah semuanya selesai, lalu memasukkan lasagna ke dalam oven dan memanggangnya hingga matang.


Hmmmm perfecto! Kata Keyla begitu lasagna matang lalu mematikan oven dan mengangkat lasagna dan menaruhnya di meja. Dari aromanya, Keyla bisa memastikan rasanya pasti enak. Buru-buru ia berjalan menuju lantai dua. Ruang gym tempat bibi bersih-bersih.


"Biii?" Keyla mengetuk pintu kemudian masuk. Ruangan itu seperti gym betulan. Maksudnya, seperti di tempat fitness dan itu membuat Keyla takjub.


"Ayo Bi turun." Ia mengajak Bibi untuk ke dapur. 


"Ayo ayo ... Bibi juga sudah lapar."


"Mau Key bantu lap-lap,Bi?" tawar Keyla sungguh-sungguh agar ia bisa menyibukkan diri.


"Gak usah. Bersihin ini hanya sebulan sekali. Soalnya Mas Steve kalau habis makai pasti langsung bersihin sendiri pakai tisu basah."


Begitu melangkah dari pintu, Keyla jadi teringat Stevan dan ia ingin menyapa pria itu.


"Bibi makan duluan aja, ya. Ada di meja. Ambilin juga buat Bapak. Oke?"


Bibi berjalan menuruni tangga tanpa Keyla. Dan gadis itu mengetuk pintu ruangan Stevan sebanyak tiga kali. Karena tidak ada jawaban, ia langsung masuk ke dalam.


Stevan yang sedang duduk di sofa warna hitam sambil membaca buku melihat ke arahnya ketika masuk. Seperti biasa, tatapannya seakan akan ingin mencabik tubuh Keyla dan menelan tubuhnya yang mengkal menggemaskan.


"Aku membuat lasagna. Kau ingin mecobanya?


Tanpa menunggu jawabannya, Keyla langsung duduk di sebelah Stevan namun pria itu diam saja dan seolah menganggap Keyla tidak ada. Ia tetap fokus pad buku di tangannya.


"Aku tahu kamu sering menonton chanelku. Bibi yang bilang. Jadi kamu tidak perlu lagi bersikap pura-pura dingin padaku."


Stevan masih diam dan enggan meladeni kecerewetan Keyla.


"Baiklah kalau tidak mau menjawab!" kata Keyla bernada mengancam kemudian membaringkan kepalanya di pangkuan Stevan. 


"Aku akan seperti ini sampai malam jika kamu belum menjawabku!" sambung Keyla lagi menggoyangkan kepalanya di paha Stevan terasa keras.


Dan yang benar saja. Semenit, dua menit, hingga sepuluh menit Keyla mengamati wajah pria itu dari bawah, tidak ada tanda-tanda Stevan ingin menjawab pertanyaannya.


"Hey!" Keyla menggoyang-goyangkan kepalanya. Mencari-cari perhatian namun itu sia-sia belaka.


"Buku apa favoritmu? Kalau aku, menyukai novel romantis. Aku suka buku-bukunya Stevan A. Sayangnya, aku tidak tahu seperti apa wajahnya. Informasinya di internet juga tidak ada. Anonim! Dan kabar terakhir yang kudengar setelah buku terbarunya terbit, ada yang melihat bahwa Stevan A sebenarnya cacat. Itu sebabnya ia menyembunyikan jati dirinya karena malu!" cerocos Keyla lalu menggeserkan tubuhnya untuk berganti posisi. Miring. Menghadap ke perut Stevan yang terlihat rata.


"Hey! Apa kamu pernah membaca buku-buku Stevan A?"


"Tidak." 


Akhirnya Keyla bernapas sedikit lega karena pria itu akhirnya mau menjawab.


"Pantas saja. Kamu harus membacanya agar tahu bagaimana cara memperlakukan wanita. Apalagi wanita itu adalah calon istrimu," balas Keyla jengkel sambil menusuk-nusuk perutnya dengan jari telunjuk.


"Apa kamu pernah jatuh cinta?" tanya Keyla lagi sambil menggambarkan bentuk hati di perut Stevan yang terasa keras dan berotot.


"Apa kamu tahu bagaimana rasanya tidak diperhatikan? Merasa tidak dihargai dan diabaikan?"


"Tidak."


"Huffft! Sungguh sial aku akan menikah dengan pria kaku seperti mu!" rutuk Keyla yang mulai mengantuk karena pangkuan Stevan begitu hangat dan seperti obat tidur baginya.


Begitu Keyla benar-benar teridur, Stevan meletakkan bukunya di meja dan memandangi wajah gadis itu dengan senyum yang lembut. "Apa kau kelelahan bicara kucing kecilku?" tanya Stevan lalu menempelkan bibirnya dengan lembut pada bibir Keyla untuk beberapa saat. 


****


Note: Kalau banyak yang komen dan views, Author akan lanjut cerita ini.

Post a comment

0 Comments