Suamiku Dingin (Bab 8)

 

Novel online gratis

Keyla Laksamana mengerjapkan matanya. Belum sadar sepenuhnya. Tubuhnua yang terbaring di sofa rasanya enggan diajak kompromi meskipun hanya untuk menggerakkan tangan.


Mata Keyla mengedarkan pandangan dan mencari-cari Stevan. Melihat ke sekeliling dengan mata setengah mengantuk. Tidak ada. Ia pasti menghilang saat aku memejamkan mata barusan! Pikir Keyla agak kecewa karena orang yang ingin dilihat pertama kali saat dia bangun adalah pria itu. Pria menyebalkan yang dengan sukarela masuk ke dalam hatinya dengan pelan namun pasti.


Keyla bangkit dari pembaringannya dan berkeliling menyusuri rak-rak warna coklat yang terisi buku-buku. Penataannya sangat rapi dan koleksinya juga cukup lengkap. Mulai dari buku kesehatan, ekonomi, bisnis, dan juga novel. Semua buku ditempatkan di rak yang berbeda agar lebih mudah untuk mencarinya. Pun disesuaikan dengan urutan abjad.


Mata Keyla tertuju pada rak novel yang berada di pojokan. Koleksinya lebih sedikit daripada jenis buku yang lain. Remember Desember? Inikan novel favoritku? Karya pertama yang ditulis oleh Stevan A. Dasar Stevan Antonius, katanya tidak tahu Stevan A?! Gerutu Keyla sambil memonyongkan bibirnya yang sudah seperti dubur ayam.


Keyla melangkah keluar dari ruang kerja Stevan Antonius yang bergaya eropa klasik tersebut. Menurutnya, usia Stevan tidak setua itu. Tapi selera rumah, perabotan, serta penataan taman tidak mencerminkah usianya yang tergolong baru setengah tua.


Ketika sedang menuruni tangga, Keyla mendengar gelak tawa seorang wanita yang membuat gadis itu merasa tak nyaman. Suara itu asing dan yakin belum pernah melihat dia sebelumnya di rumah ini.


Keyla menuruni setiap anak tangga dengan rasa keingin tahuan. Penasaran. Ia mengikuti dari mana suara yang mengganggu itu datang. Dan ternyata ... Stevan sedang duduk di gazebo taman. Dia dan wanita itu duduk bersebelahan. Terlihat sangat akrab. Dan untuk pertama kalinya, Keyla mendengar gelak tawa Stevan. Dan entah kenapa, tawa mereka seperti duri-duri tajam yang menghujam dada Keyla. Sakit, sesak, namun tak meninggalkan bekas luka.


Dari kejauhan, Keyla melihat Stevan berbisik di telinga wanita yang berambut hitam bergelombang itu. Terlihat sangat akrab dan mesra.


Apakah dia sedang menggodanya? Membisikkan kata mesra? Kenapa dia terlihat senang sekali? Dia marah padaku ketika tidak sengaja setengah telanjang di depannya, tapi dia bermesraan dengan wanita lain? Dasar play boy cap kapak! Batin Keyla jengah. Ingin rasanya dia berjalan ke arah mereka berdua dan menyiramkan air cucian beras agar tawa mereka yang merusak pemandangan berhenti! 


Tawa itu tidak berhenti, dan justru semakin menjadi. Entah lelucon apa yang dibuat dibuat Stevan? Keyla muak mendengar dan melihat pria itu tertawa dengan seorang wanita lain. Cemburu? Tentu! Keyla adalah tunangannya yang sah dan sebentar lagi mereka akan menikah.


Karena tak tahan lagi, Keyla melenggang dari tempatnya berdiri dan menaiki tangga menuju ke kamar. Mengambil tas dan secepatnya pergi dari rumah itu agar aku tak bisa lagi mendengar tawa mereka membuat diri menjadi merasa risih sekaligus iri. Entah jampi-jampi apa yang digunakan perempuan itu hingga bisa membuat Stevan tertawa seperti orang kerasukan.


*****


"Sudah sampai, Mbak," ujar tukang ojek online ketika baru sampai di supermarket. Rumah Stevan memang bukan di kawasan perkotaan dan jarang dilalui oleh taksi. Beruntung ada aplikasi ojek online. Jadi Keyla bisa melarikan diri dengan mudah. 


"Makasih ya, Pak," balas Keyla sambil mengembalikan helm warna hijau tersebut.


"Sama-sama, Mbak. Saya kira rumah tadi gak ada orangnya lho, Mbak. Saya kalau lewat situ hawanya merinding. Hiii."


Keyla tertawa geli. Yang punya rumah memang seperti makhluk halus. Balasnya dalam hati. Lagian, pagar rumah kok lebih tinggi dari rumah. Mana ada yang tahu kalau manusia yang tinggal di dalam. Dan bukan hantu?


Baru dua hari Keyla tidak merasakan udara bebas, rasanya sudah seperti setahun! Supermarket memang surga dunia. Ya, setidaknya itu menurut Keyla. Apapun yang dibutuhkan untuk urusan di dunia perdapuran ada di sini. Warna hijau dan merah dari sayuran yang dipajang, mampu mendinginkan mata setelah terbakar melihat tawa dua roh halus!


"Susunya Mbak silakan dicoba." SPG dari merk milk kesehatan yang ternama menawari Keyla sample yang ditaruh di gelas plastik kecil. Katanya, kalsiumnya tinggi dan baik untuk kesehatan tulang. Sebenarnya yang gadis itu butuhkan sekarang adalah milk untuk kesehatan hati! Bukan milk untuk kesehatan tulang!


" Ada yang rasa coklat gak, Mbak?" tawar Keyla. Padahal dikasih gratis kok nawar.


"Ada, Mbak. Ini."


Keyla meminum sample yang kira-kira sebanyak 20 ml. Lumayan enak. Dan tanpa pikir panjang Keyla membelinya. Meskipun milk ini tidak akan membuat hati sehat, paling tidak agar tulang Keyla kuat agar bisa menghadapi kenyataan bahwa pria yang sebentar lagi akan menikah dengannya itu sedang berduaan dengan wanita lain di depan matanya.


Keyla berjalan menuju tempat sayuran. Ingin tahu apa saja herbs yang ada di sana. Ketika hendak mengambil basil, ponsel Keyla berbunyi. "Iya, Mah? Ada apa? Key kira Mama sudah lupa sama anak sendiri," jawab Keyla dengan bibir yang sengaja dimonyong-monyongkan. Tapi, dasarnya Keyla sudah cantik,ya gak akan jelek meskipun bibirnya menyerupai dubur ayam betina.


Sambil mendengarkan ocehan Mama, Keyla mengambil dua ikat basil dan memasukannya ke dalam keranjang.


Ia berjalan sedikit ke depan sambil mendorong troley. Ada beberapa jenis keju. Ia mengambil parmesan yang bungkusnya warna merah dan juga satu pack yoghurt.


" Sudah belum, Ma, ngomongnya? Key mau belanja, nih."


"Kamu itu, ya! Ditelepon Mama kok malah gitu? Durhaka!"


"Lho, bukannya Mama yang durhaka karena sudah ninggali Keyla di rumah Stevan?"


Keyla mendengus mendengar suara Mama yang seperti radio bobrok kemudian meninggalkan keranjang di depan etalase keju. Dan mengambil tomat cerry di seberang. Untung ini hari senin. Jadi supermarket tidak begitu ramai. Karena sering berbelanja, Keyla cukup hafal kapan pusat perbelanjaan akan ramai atau sepi. Biasanya, mall atau swalayan akan mulai rame hari Jumat, Sabtu, Minggu dan juga tanggal merah.


"Key lagi belanja, Ma. Kalau memang Stevan khawatir, ngapain gak telepon Key langsung? Sudah dulu ya, Ma? Key lagi sibuk!" jawab Keyla kesal lalu menutup teleponnya. Mama dan calon mantu sama saja. Diktaktor! Keluh Keyla gondok.



Urusan dengan bahan-bahan segar selesai. Keyla mendorong troley ke arah makanan kering. Ia membutuhkan virgin olive oil dan juga roasted cashew nuts.


Ketika membuat Pesto, Keyla tidak mau repot-repot memanggang kacang mete terlebih dahulu sebelum digunakan. Itu sebanya membeli kacang mete yang sudah dipanggang adalah solusi terbaik untuk orang-orang malas sepertinya.



Setelah membeli semua yang dibutuhkan, Keyla mendorong troley ke arah kasir. Tidak ada antrean di sana. Sepi. Yang ada hanya suara lagu korea yang sedang hits. Blackpink.


"Mau pakai kardus atau plastik, Mbak?" tanya kasir dengan sopan sambil men-scan barang-barang yang Keyla keluarkan dari keranjang besi yang memiliki empat roda tersebut.


"Gak usah, Mbak. Pakai ini aja," jawab Keyla mengeluarkan tas belanjaan yang bisa dilipat dari dalam tas miliknya. Lagipula, Keyla sudah terbiasa membawa tas belanjaan kemanapun aku pergi. Well, Keyla tahu cara ini tidak akan membantu mengurangi pemanasan global, tapi setidaknya ia tidak menambah panasnya bumi ini. Lagipula membawa belanjaan dengan plastik sangat riskan jika barangnya berat. Kalau tiba-tiba plastiknya robek, kan repot. Lebih aman tas belanjaan yang bisa dipakai berkali-kali serta memiliki motif yang kekinian is the best way.


****


Taksi berhenti di depan rumah Stevan Antonius dan Keyla, melihat ke luar jendela ke arah Bapak dan Bibi yang berdiri di depan gerbang dengan wajah cemas.


"Mbak tinggal di sini?" tanya sopir taksi ketika Keyla memberikan uang pembayaran.


"Iya, Pak. Memangnya kenapa?" Keyla balik bertanya karena penasaran. 


"Dulu saya sering dengar kalau pemilik rumah ini tidak pernah keluar rumah seumur hidupnya. Tapi tidak tahu itu benar atau tidak. Tapi kayaknya hanya cerita angin saja, Mbak."


Setelah mendengar jawaban si bapak supir taksi, Keyla turun dan buru-buru dihampiri oleh Bibi serta Bapak.


"Haduh ... Mbak Key ... ke mana aja kok gak bilang-bilang?" tanya bibi terlihat khawatir. Bapak secepat kilat mengambil belanjaan dari tangan Keyla dan menentengnya.


"Mas Steve nyariin Mbak Key dari tadi. Haduh ... gimana ini, Mbak? Mas Steve pasti marah," tanya bibi dengan gelisah.


"Supermarket, Bi." Keyla bmenjawab dengan tenang dan singkat.


"Pak ... gimana ini, Pak?" Bibi bertanya pada Bapak dan lelaki yang sudah baya itu tidak bereaksi.


Jarak pintu gerbang ke rumah utama memang cukup jauh. Dan semakin dekat jarak mereka bertiga dengan rumah, Bapak dan Bibi terlihat makin gelisah. Gelagat mereka tidak seperti biasanya.


Terlihat Stevan Antonius bersandar di pintu dan mentap Keyla tajam kemudian beralih melihat ke arah Bapak dan Bibi seolah-olah menyuruh mereka untuk masuk. Dan yang benar saja, Bibi dan Bapak masuk ke dalam rumah secepat kilat. Sedang Stevan melihat ke arah Keyla dan rasanya ingin meremah gadis itu dan memasukkan ke dalam mulutnya.


"Dari mana?" tanya Stevan dengan menekan suara. Sedangkan Keyla hanya diam. Dia sedang tidak ingin berbicara pada pria berbadan tinggi tegap itu.


"Dari mana?" tanya Stevan lagi sembari mendekati Keyla. Tatapan matanya sangat dingin. Keyla bergeming dan sama sekali tak ingin melihat wajah pria itu dan berpaling melihat ke arah lain.


"Kenapa kau suka aku mengulangi pertanyaan yang sama berulang kali?" tanya Stevan lagi dengan kesal.


Keyla tetap mengacuhkannya dan berjalan menuju pintu. Belum sempat gadis itu membuka pintu, Stevan menarik tangan Keyla dan tiba-tiba bibir Stevan memagut bibir gadis itu dengan ganas dan bercampur rasa marah.


Keyla berusaha melepaskan diri dan mendorong tubuh pria yang sedang menangkup bibirnya dengan paksa. Tapi, tangan Stevan yang besar mencengkram tubuhnya terlalu kuat.


Bibir Stevan mulai merambah ke telinga, "Kenapa kau suka menguji kesabaranku?!" bisiknya sambil mengerang sementara tangan kanannya meremas rambut Keyla. 


Gadis itu bisa mendengar detak jantung Stevan yang iramanya tak beraturan sama seperti napasnya dan terdengar berat layaknya orang sedang lomba lari.


Keyla tidak tahu apa yang lelaki itu pikirkan. Yang jelas Keyla tidak menikmati keintiman itu. Karena tak tahan lagi dengan perlakuan Stevan, Keyla berusaha menggigit lengannya agar dia melepaskannya.


"Awwwwww!" Stevan mengerang dan akhirnya melepaskan tubuh Keyla. Gadis itu berlari ke kamar dan perasaan benci mulai muncul dan merayapi hatinya. Ya, dia benci orang lain bertindak sesuatu pada tubuhnya sementara ia tak menginginkannya. Keyla merasa dia bukanlah wanita penjaja tubuh yang bisa diperlakukan kasar dan seenaknya. Meskipun tak dipungkiri gadis itu telah jatuh cinta padanya, tapi ia tidak bisa memaafkan perbuatan Stevan hari ini.



Post a comment

0 Comments