Suamiku Dingin (Bab 9)

 

Novel gratis

Keyla membanting tubuhnya ke atas tempat tidur dengan bersungut-sungut. Ia masih bisa merasakan napas Stevan yang memburu di telinganya. Dan aroma itu ... aroma maskulin yang membuat Keyla marah sekaligus mendamba. Sulitkah memperlakukan dirinya dengan cara yang lebih halus dan manusiawi? Seharusnya pria itu tahu semua gadis ingin diperlakukan dengan lembut 


Keyla memiringkan tubuhnya ke kanan dan memandang ke luar jendela. Dihirupnya lekat-lekat udara yang masuk ke dalam kamar. Segar dan aroma mawar menyapa hidungnya.


SOS ... SOS ... SOS ....


Suara ponsel Keyla berbunyi dan dengan sigap, ia bangkit dari tempat tidur dan mengambil ponselnya yang ada di sofa. 


"Halo ...," jawab Keyla dengan malas. Bukan karena tahu siapa yang menghubunginya. Tapi, karena dia memang sedang malas untuk bicara. Stevan merusak suasana hati dan pikirannya.


"Hai, Beb. Lagi di mana? Aku datang ke rumah, Om bilang kamu tidak ada," jawab Bima, mantan kekasih Keyla dengan nada menyelidik.


"Aku kirimin alamatnya lewat SMS, ya. Lagi malas, nih." Keyla langsung menutup sambungan telepon itu dan mengirimkan pesan kepada Bima. Ia memberikan alamat rumah Stevan dan Bima membalas kalau besok pagi ia akan datang. 


Keyla kembali meletakkan ponselnya di sofa dan berjalan gontai ke tempat tidur. Ia menjatuhkan tubuhnya lagi ... berguling-guling di atas ranjang dengan perasan jemu hingga suara bunyi pintu diketuk pun terdengar.


"Hmmmm." Keyla membalas dengan malas. Lagian, ngapain mengetuk pintu? Toh tadi saat pria itu hendak mencumbunya dengan paksa, Stevan tak permisi dulu!


Lagian, Keyla tahu siapa yang ada di depan pintu. Siapa lagi kalau bukan pemilik rumah?!


Sesaat kemudian, sosok Stevan muncul dari balik pintu. Ia berjalan pelan menuju tempat tidur dan Keyla pun langsung berpaling. Ia lebih memilih melihat tembok kamar daripada wajah tunangannya. Hmmmphh! Enak saja! Tadi berbuat kasar sekarang memasang tampang menyesal dan sorot mata mengiba.


Keyla menarik selimut yang ada di bawah kakinya dan menutup tubuhnya dengan selimut tersebut. Sementara Stevan, hanya berdiri di samping tempat tidur sambil terus mengamati Keyla.


Stevan tahu dia telah berbuat kesalahan karena berbuat kasar pada Keyla. Dan kini, ia menyesali perbuatannya itu. Sungguh.


"Maafkan aku," ujar Stevan yang mendudukkan dirinya di tepi tempat tidur.


Maaf? Enak saja! Pikir Keyla kesal lalu menaikkan selimut hingga menutupi kepalanya. Dengan wanita lain saja bisa bersikap lembut dan tertawa. Denganku? Boro-boro! Selalu cuek dan merasa tak butuh! 


"Key." Stevan berkata lembut dengan nada sesal sambil memegangi pundak Keyla. Namun, gadis itu menggerakkan bahunya agar Stevan jangan menyentuhnya. 


Lelaki itu merebahkan dirinya di samping Keyla. Memeluk gadis itu dengan tangannya yang besar dan hangat. "Aku menyesal. Aku sungguh minta maaf. Kau mau kan memaafkan aku?"


Damn it! Keyla mengutuk dirinya sendiri karena tak bisa berkutik lagi. Ia juga tak mampu menolak. Tubuh Stevan begitu hangat dan aromanya melenakan. Keyla rasanya ingin menjerit dan mengumpat. Namun pelukan hangat Stevan adalah hal yang tak mampu ia tolak begitu saja.


Keyla bodoh bodoh bodoh bodoooooh!


***


Seperti biasa, Stevan selalu bangun ketika Keyla masih terlelap dan tempat favorit pria itu adalah sofa yang terletak di samping tempat tidur. Tak lupa laptop bertengger di hadapan, dan kali ini ditemani secangkir kopi yang masih mengepul.


Keyla bisa mencium aroma kopi yang kuat. Kopi yang baru digiling kemudian diseduh dengan air panas yang baru diangkat dari atas api Dan tanpa sadar Keyla pun berbalik ke arah Stevan yang telah menyadari bahwa gadis itu sudah bangun.


Dua sejoli itu saling berpandangan dalam beberapa detik. Namun, bagi Keyla, beberapa detik yang terlewat itu saja mampu membuat jantungnya hendak meloncat ke lantai. 


Tatapan itu begitu sexy, lembut dan membuatnya makin terpikat hingga hilang sudah kemarahannya yang kemarin.


Keyla menyadari bahwa ada yang tidak beres dengan dirinya. Ada yang salah dengan otaknya. Dulu, saat berpacaran dengan mantan kekasihnya, Bima, Keyla tak pernah meras seperti ini. Namun dengan Stevan, ia seolah berubah menjadi orang lain dan tak mampu mengenali dirinya sendiri.


Keyla menyibakkan selimut yang menutupi tubuhnya. Duduk di tepi tempat tidur dan menjuntai kan kaki ke bawah. Ia diam sejenak. Mengingat-ingat lagi jadwalnya hari ini.


Ketika menyadari bahwa pagi ini Bima akan berkunjung, tanpa menyapa Stevan, Keyla langsung bergegas ke kamar mandi.


Suara gemericik air dari kamar mandi terdengar oleh Stevan yang tengah menarikan jemarinya di atas laptop. Ia tak bisa konsentrasi lagi saat terlintas di otaknya bagaimana halusnya kulit Keyla dan harumnya aroma tubuh gadis itu. Stevan mendengus. Meletakkan laptop di sampingnya dan memejamkan matanya. Membiarkan pikiran liar bergumul di dalam kepalanya.


"Temanku akan datang kemari," ketus Keyla saat ia keluar dari kamar mandi. Wajahnya yang cantik jadi makin fresh karena telah diolesi make-up tipis-tipis. Bibirnya merona, tebal dan menggoda. Dan pakaiannya? Tentu saja yang terbaik. Mini skirt denim dan t-shirt warna pink yang menonjolkan lekuk tubuhnya.



"Siapa?" tanya Stevan penasaran namun dibuat setenang mungkin. Wajahnya datar. Dia tak ingin terlihat antusias.


"Mantan! Kami baru putus beberapa hari lalu!"


Stevan melihat Keyla. Dari ujung rambut sampai ujung kaki kemudian mendengus kesal. Dia berdiri dan langsung menarik tangan Keyla menuju kamar mandi.


"Hei! Mau apa?!"


Stevan tidak menjawab dan malah membuka lemari pakaian. Ia mencari-cari sesuatu dan menyibakkan pakaian yang ada di gantungan dengan kasar.


"Pakai ini!" katanya sambil memberikan celana panjang pada Keyla. 


Keyla melipat kedua tangan di depan dada. "Gak. Rok mini ini kelihatan oke, kok. Seksi dan bentuk tubuh ku juga tidak seburuk itu hingga harus ditutup-tutupi!


Stevan mendekati Keyla dengan sorot mata yang tajam. Seperti seekor serigala yang telah mendapatkan mangsanya. Pria itu melingkarkan tangannya di pinggang Keyla yang ramping. "Pakai ini sendiri atau aku akan memakaikannya?"


"Ti ... tidak mau!"


"Pakai sendiri atau aku akan memakaikannya?" Stevan mengulangi lagi kalimatnya. Terdengar serius. 


"O ... oke! Aku akan memakainya. Sekarang, lepaskan aku!"


Stevan melepaskan pinggang Keyla dan memberikan celana berwarna pastel itu pada tunangannya. 


"Sekarang, keluarlah!"


Pria itu tidak mendengarkan kata-kata Keyla dan menyandarkan tubuhnya pada tembok.


"Kalau kamu di sini, bagaimana aku bisa ganti baju?!"


"Sebentar lagi kita akan menikah."


Arrrggghh! Keyla kesal bukan main. "Aku tahu kita akan menikah. Jadi, tolong keluar lah. Kamu menyuruhku ganti baju tapi tetap berdiri di sini!"


"Aku ingin melihat mu ganti baju," jawab Stevan seolah tak memiliki beban apapun. Dan lagi, melihat wajah Stevan yang tenang dan tatapan matanya yang seperti bayi tanpa tanpa dosa, membuat Keyla rasanya ingin memaki. 


"Dasar pria menyebalkan!" rutuk Keyla sinis di dalam hatinya.


 -Bersambung-

0 Comments