Janda Muda (Bab 3)

 

Novel gratis


Lama tidak tinggal di kampung, Kenanga merasa cukup senang karena di sini lah tempat kelahirannya dan tumbuh menjadi seorang remaja. Salah satu desa yang ada di kabupaten Kudus. Desa yang mayoritas penduduknya menghasilkan uang dari cara bertani maupun bekerja di pabrik rokok.


"Kapan pulang, Nanga?" tanya Tiwi pura-pura tidak tahu. Padahal, sejak tadi, sebelum kenanga datang ke warung, ia lah yang paling getol membicarakan Kenanga yang statusnya telah berubah. Dari gadis menjadi istri. Dan dari seorang istri menjadi janda di usia yang masih tergolong muda. 


"Masih muda kok jadi janda, ya? Pasti gak pinter melayani suami!" kata Tiwi pada Tini saat pertama kali ketemu.


"Bener, Wi. Cantik, sih! Tapi, kalau di rangjang loyo, ya suami kabur!" sahut Tini tak kalah hebohnya sambil memakan kelengkeng yang ada di depannya. Itung-itung, icip-icip gitu lah meski gak beli.


Kenanga yang baru sampai di warung Bu Tejo pun menyahut. "Kemarin sore, Wi. Kamu apa kabar? Sudah lama kita gak ketemu."


"Baik, alhamdulillah. Kamu sendiri gimana?"


"Ya, baik lah, Wi. Lihat saja Nanga masih cantik. Singset! Padahal, anak sudah dua!" sahut Tini yang seumuran dengan Tiwi dan juga Kenanga. Mereka adalah kawan masa kecil. Bedanya, mereka langsung menikah begitu lulus SMP sedangkan Kenanga melanjutkan sekolah hingga ke jenjang perkuliahan.


"Hehehe. Bisa aja kamu, Tin."


"Aku tanya Kenanga kok kamu yang jawab sih, Tin? Gak usah dikasih tahu, aku juga tahu kalau Kenanga cantik, singset! Nikahnya saja sama orang kaya je. Guanteng kayak artis!" protes Tiwi sambil mengamati Kenanga dari ujung rambut hingga ujung kaki. Pakai daster yang gedombyoran aja cantik begini. Apalagi kalau pakai rok mini? Tiwi merasa was-was dan harus segera menyudahi belanja di warung Tejo.


"Ya gak apa-apa to, Wi kalau aku ngejawab. Iya, kan, Nga?" 


Kenanga hanya tersenyum sambil mengambil beberapa ikat kangkung dan juga memilih tomat yang masih hijau. 


"Tuh, kan. Kenanga gak masalah, kok." 


"Iya iya. Kalau begitu aku mau pulang dulu!" Tiwi menyerahkan belanjaannya kepada Bu Tejo, pemilik warung. 


Tini yang mendapat jawaban tetangganya itu pun heran. Tidak biasanya Tiwi pulang cepat kalau sudah main ke warung. Biasanya, gosip dulu baru pulang! 


"Mau ngapain, sih? Di rumah ada tamu?" tanya Tini penasaran.


"Anu ...mau mewanti-wanti Mas Joko! Oya, Nanga. Kamu jangan main ke rumah ku, ya. Biar aku yang main kerumah mu. Oke?!" Tiwi pun langsung ngacir sambil menenteng tas kresek warna hitam sambil membatin. Pokoknya, apapun yang terjadi, jangan sampai Joko ketemu Kenanga. Soalnya dulu waktu remaja, suaminya itu pernah naksir Kenanga. 


Sepeninggal Tiwi, Tini mulai mengorek kebenaran dari gosip yang beredar. Yaitu gosip bahwa anaknya pak lurah sudah cerai! 


"Suami mu kok gak kelihatan, Nanga? Kalau mudik kan biasanya suka lari keliling kampung," korek Tini yang sedang berpandangan dengan Bu Tejo. Wanita paruh baya yang sejak tadi diam-diam menguping pembicaraan mereka.


"Di Jakarta, Tin. Aku pulang sama anak-anak."


"Ooooo. Pasti sibuk, ya, Nga?"


"Iya, Tin. Papanya anak-anak memang doyan kerja."


"Syukurlah kalau doyan kerja. Bukan doyan perempuan. Hati-hati lho kamu itu. Jaman sekarang, laki-laki itu sulit dimengerti apa maunya! Dikasih istri satu, mintanya empat!" jawab Tini yang terkekeh dalam hati. Senang sekaligus jengkel. Ngapain sih pakai sembunyi-sembunyi segala? Semua orang kampung tahu kalau Kenanga sudah menjadi janda. Tak perlu ditutup-tutupi lagi!


"Hehehehe. Iya, Tin. Makasih perhatiannya."


"Sama-sama. Kalau gitu, aku pulang dulu, ya. Kamu gak usah main ke rumah ku. Aku saja yang main ke rumah mu. Oke?" 


"Lho, gak jadi beli kelengkeng, Tin?" tanya Bu Tejo yang sudah puas menguping.


"Gak, Bu. Suami belum bayaran! Kelengkengnya manis, Bu. Semoga laris, ya!"


Bu Tejo mendesah jengkel. Lalu menggerutu. "Dasar Tini! Kerjanya main ke warung cuma gosip saja! Bukan belanja!"


"Kelengkengnya sekilo, ya, Bu," ucap Kenanga tak mau menanggapi perkataan Bu Tejo. Bukan karena tak ingin. Tapi, bukankah diam lebih baik?! Kenanga sangat tahu apa maksud Tini dan Tiwi barusan. Ia mengerti. Sangat mengerti! Mereka takut kalau suami mereka direbut olehnya. Mereka menganggap bahwa keberadaan Kenanga adalah sebuah ancaman. 


Sabar, Kenanga. Ini semua pilihan mu. Ujian hidup! Kau harus kuat! Kata Kenanga pada dirinya sendiri. Ya, jadi janda bukanlah dosa. Bukan suatu kejahatan atau merusak moral.


*Bersambung

0 Comments