Janda Muda (Bab 4)

 

Novel gratis

"Bapak ke mana, Bu?" tanya Kenanga ketika tidak melihat batang hidung Bapak-nya yang biasanya nongkrong di depan rumah sambil kipas-kipas menggunakan kipas yang terbuat dari bambu saat pulang dari warung.


"Em ... anu ... katanya ada tugas ke luar kota. Tapi gak bilang mau ke mana. Kayak gak tahu saja gimana Bapakmu," jawab Ibu yang baru saja duduk di teras rumah sambil meluruskan punggungnya. Capek lantaran harus membantu mencuci pakaian duo bocil yang nodanya tak hilang-hilang kalau hanya dicuci menggunakan mesin cuci. Harus direndam dan dikucek menggunakan tangan biar bersih!


Kenanga meletakkan tas belanjaan dan ikut duduk di sebelah ibunya. "Urusan apa, Bu? Pergi dengan siapa?" Ia penasaran ke mana Bapaknya pergi. 


"Gak tahu. Bapak gak bilang. Cuma pamit bakalan gak pulang beberapa hari gitu. Kamu masak, sana buat makan siang. Ibu mau leyeh-leyeh dulu."


"Huufft. Nanga kan sudah bilang, biar Nanga saja yang nyuci bajunya anak-anak," jawab Kenanga masuk ke dalam rumah sambil menenteng tas belanjaan dan memikirkan ke mana Bapaknya pergi. Kenanga tak ingat dia punya saudara di luar kota, apa lagi yang mengharuskan Bapaknya untuk menginap. 


***


Setelah menempuh perjalanan panjang dari kota kretek ke ibukota, akhirnya Bapak sampai juga di kantor tempat Bram bekerja. Pria yang sudah tak muda lagi itu mengenakan sandal kulit, celana kain warna hitam dan juga kemeja kotak-kotak. Dilihat dari tampangnya saja, bisa dipastikan bahwa dia tidak bekerja di perusaah besar tempat kakinya berpijak saat ini.


"Maaf, Pak. Bapak tidak bisa bertemu dengan Pak Bram kalau tidak ada janji," jawab resepsionis ketika Handoko mengutarakan maksud kedatangannya.


"Bilang saja kalau Handoko, ada di sini! Dia pasti tahu saya ini siapa!"


"Maaf, Pak. Pak Bram sibuk dan tidak bisa bertemu dengan sembarang orang."


Handoko bersungut-sungut. Marah. Mau bertemu Bram saja susahnya sudah seperti kalau mau bertemu dengan presiden! 


"Sudah saya bilang! Telepon saja si Bram! Bilang kalau saya mau menemuinya! Kalau tidak, saya tidak akan pergi!"


Handoko tetap ngotot dan akan membuat kerusuhan selama keinginannya belum terpenuhi. Jauh-jauh datang ke Jakarta, ia tak boleh pulang dengan tangan kosong. Dia ingin memarahi mantan menantunya itu karena telah menyia-nyiakan Kenanga dan membiarkan anak dan cucunya itu pulang sendiri. Kalau memang ingin mengembalikan istrinya ke rumah orangtuanya, kembalikan dengan baik-baik! Pakai tata krama!


Huffft. Resepsionis itu pun mendengus. Tak mungkin dia membiarkan pria berpenampilan biasa-biasa saja itu bertemu dengan atasannya tanpa janjian terlebih dahulu. Siapa tahu, lelaki di hadapannya itu punya niat buruk. Iya, kan?


"Sekali lagi maaf, Pak. Saya tidak bisa melakukannya. Kalau Bapak tetap memaksa, saya tidak punya cara lain selain memanggil satpam dan mengusir Bapak keluar dari gedung!" ancam wanita muda yang berpakaian rapi dan berdandan necis tersebut.


"Saya tidak peduli!" tantang Handoko berkecak pinggang. 


Karena kesal, resepsionis itu pun akhirnya memanggil satpam dan memintanya untuk mengusir Handoko. "Maaf, Pak. Anda harus keluar dari sini. Jangan membuat keributan."


"Siapa yang membuat keributan? Saya mau bertemu dengan Bram! Kalian yang mempersulit saya!"


Satpam itu pun mau tak mau menarik tubuh Handoko. Tentu saja dia tak tega, tapi, mau bagaimana lagi? Ini adalah tugasnya. "Maaf, Pak. Tidak sembarangan orang bisa menemui beliau. Beliau orang penting di perusahaan ini."


"Siapa bilang saya orang sembarangan? Saya ini mertuanya!" teriak Handoko yang menarik perhatian beberapa orang yang baru saja keluar dari lift.


"Ada apa ini?" tanya Angel jengkel melihat keributan di lobby. Langkah satpam yang memegangi Handoko pun berhenti dan membalikkan tubuh.


"Maaf,Bu. Bapak ini mengaku mertuanya Pak Bram dan ingin menemui beliau." 


Bram yang berada di sebelah Angel pun langsung mengenali mantan mertuanya itu. "Bapak?" katanya dengan nada terkejut dan langsung berjalan ke arah mertuanya. Satpam yang tak kalah terkejutnya pun langsung melepaskan tubuh tubuh Handoko.


Plak! 


Sebuah tamparan melayang di pipi sebelah kanan Bram. Tak puas hanya dengan sebuah tamparan, Handoko menampar lagi. Berkali-kali hingga tangannya merasa lelah. Begitu berhenti, Bram baru membuka mulut.


"Maafkan Bram, Pak."


"Maaf mu tidak berguna. Bapak tidak akan pernah memaafkan mu. Kamu membiarkan Kenanga dan anak-anak pulang sendirian. Di mana tanggung jawab mu? Kamu menganggap Kenanga anak yatim piatu yang tidak punya orangtua?!"


"Kenanga tidak mau aku antar, Pak."


"Itu karen kamu membuatnya marah!"


Kesal karena melihat Handoko diperlakukan itu di depan umum, Angel pun menjadi berang dan mendekat ke arah mereka. "Pak, Pak Bram dan Kenanga sudah bercerai. Beliau tidak punya kewajiban mengantar ke mana Kenanga pergi!"


Handoko mengamati Angel. Melihat dengan tatapan menyelidik dari atas hingga bawah kemudian berbicara dengan nada sinis. "Kamu pasti orang ketiga yang merusak rumah tangga anak ku!"


"Hati-hati kalau bicara, Pak. Jangan menuduh sembarangan!" sela Angel tak terima. Dia tak ingin hal ini menjadikan bahan gosip di perusahaan. Apalagi, sampai merusak reputasinya dan Bram. 


"Humph! Perempuan seperti mu, dengan mata tertutup saja aku bisa menilai! Bram ... demi wanita ini kah kamu menghianati pernikahan mu dengan Kenanga? Mengabaikan anak-anak mu? Ingatlah kata-kata ku, Bram. Kamu akan menyesali perbuatan mu! Dan ketika waktu itu datang, semuanya sudah terlambat! Ingat kata-kata orangtua ini, Bram!"


***

Handoko mendudukkan bokongnya pada kursi besi yang terletak di pinggir jalan tak jauh dari gedung tempat Bram bekerja. Kulitnya terasa hangat, butiran-butiran keringatnya mulai menetes. Inilah yang tak disukai Handoko dari Jakarta. Panas, macet. Orang kampung seperti dirinya memang tak cocok tinggal di kota metropolitan seperti Jakarta.


Pria itu menguap sambil melihat ke sekeliling. Mencari-cari barangkali ada penjual es yang lewat. Tenggorokannya haus, perutnya mulai keroncongan dan matanya mulai mengantuk. 


"Kapan pulang, Pak?" Pesan singkat itu baru dibacanya. Ponsel yang layarnya masih hitam putih itu pun langsung dimatikan. Dia tidak tahu bagaimana cara menghadapi Kenanga.


Handokomerasa tak bisa menjadi Bapak yang baik. Ia gagal memberi kebahagiaan pada anaknya. Dan kepulangan Kenanga dengan status baru yang melekat, membuat Handoko hatinya hancur berkeping-keping. Apalagi, saat melihat putrinya diam-diam menangis. Melihat cucu-cucunya yang menanyakan di mana Papa mereka. Sakit hati Handoko. Apalagi saat melihat dengan mata kepalanya sendiri Bram dengan nyata mengkhianati putrinya karena bermain serong.  


"Kasihan sekali kamu Cah Ayu," gumam Handoko dan tanpa terasa, ada cairan yang meleleh dari pelupuk matanya. Membasahi pipinya yang telah keriput dan terbakar sinar matahari.


Iatak pernah menyangka orang sangat dicintai Kenanga akan mengkhianatinya. Mencampakkan dirinya. Apalagi, saat dulu Kenanga ngotot menikahi Bram. Handoko mendengus. Membayangkan Kenanga waktu pertama kali lahir, belajar tengkurap, jatuh bangun saat berjalan, hingga menjelma menjadi gadis yang cantik. Meskipun Handoko begitu keras dalam mendidik putrinya, tapi cintanya pun tak kalah banyak.


"Permisi ... Pak Handoko?" 


Suara itu mengejutkan Handoko yang buru-buru menyeka air matanya.dan langsung berdiri. "Iya? Ada perlu apa dan tahu saya dari mana?"


Pemuda berpakaian rapi dan mengenakan kaca mata dengan frame tebal itu pun tersenyum. "Saya, Juned, Pak. Sekretaris pribadi Pak Saga. Beliau meminta saya untuk mengejar Pak Handoko."


Saga? Handoko mengerutkan keningnya. Dia tidak merasa pernah mengenal pria itu.


"Ah, Bapak pasti bingung. Tadi saya mengikuti Pak Handoko dari kantor Pak Bram."


Handoko pun manggut-manggut. Pura-pura mengerti meskipun ia sendiri masih kebingungan. 


"Oh ... ada apa, ya?" 


"Tunggu sebentar, Pak. Biar Pak Saga yang menjelaskan."


Tanpa menjawab, Handoko kembali duduk dan mengamati pemuda yang sedang berdiri di depannya. Sepatu licin, jas yang bagus, tidak mungkin dia seorang penipu. 


"Selamat siang, Om. Masih ingat dengan saya?" kata seorang pemuda dengan perawakan tinggi dan berbadan tegap yang mengagetkan Handoko.


Pria baya itu pun berdiri, melihat ke arah pemuda yang baru saja menyapanya. Dia tak ingat pernah mengenal pemuda ini. "Siapa, ya?"


Pemuda itu pun tersenyum. Wajar jika Handoko tak mengenalnya. "Sagara Ramdani, Om. Keponakan Ilham Ramdani." 


"Ya Allah Gusti! Sagara?!" Handoko pun memeluk lelaki yang tingginya 185 cm itu dengan perasaan senang. Ilham Ramdani adalah sahabat masa kecilnya hingga tua. Tapi, sayangnya lelaki itu meninggal lebih dulu darinya. Dia ingat sekali dulu sering memancing bersama Saga saat pemuda itu mengunjungi sahabatnya.


"Om apa kabar?" 


"Baik-baik. Kamu sendiri bagaimana, Ga? Terakhir lihat waktu kita mancing bersama saat kamu liburan sekolah."


"Baik, Om. Om sendiri mau ke mana? Bagaimana kalau ikut saya? Di sini panas, tidak asik buat ngobrol," balas Sagara yang yang langsung menuntun Handoko menuju mobil mercy mewak miliknya. 


***


"Bapak gak SMS Ibu?" tanya Kenanga yang baru saja selesai menidurkan kedua buah hatinya. Mereka kecapean karena tak berhenti main sejak pagi. Begitu selesai makan siang, ee ngantuk melanda.


"Gak ada. Bapak juga gak balas SMS mu, kan?" Ibu balik balik bertanya dan meminta Kenanga untuk duduk di sebelahnya. 


"Gak. Hp Bapak dimatikan, Bu. Nanga jadi khawatir. Kalau terjadi apa-apa dengan Bapak bagaimana?"


"Tenang saja. Bapak pasti akan baik-baik saja. Nanga, ada yang ingin kamu bicarakan dengan Ibu?"


"Tidak, Bu. Nanga baik-baik saja. Selama ada Ibu, Bapak dan anak-anak, Nanga akan selalu baik-baik saja."


"Jangan membohongi Ibu mu Cah Ayu," balas Ibu dengan lembut kemudian memeluk putrinya. Tanpa terasa, air mata Kenanga pun luruh juga. Punggungnya bergetar, dan rasa sakit itu menjalar lagi ke setiap sendinya. Ingatan tentang pengkhianatan Bram, membayangkan saat mantan suaminya itu meniduri Angel dan di saat waktu yang berbeda, tidur juga dengan dengannya. Dada Kenanga nyeri, perutnya mual dan sakit hatinya makin bertambah.


"Apakah Kenanga istri yang buruk, Bu? Istri yang tak bisa mengurus suami? Orang-orang bilang, semua ini salah Nanga, Bu. Nanga tidak bisa menjadi perempuan yang bisa menjadi idaman suami. Itu sebabnya Mas Bram mencari wanita lain di luar rumah."


"Ssssttt. Nanga adalah perempuan yang baik. Nanga adalah istri yang sempurna. Bram yang tak tak pernah merasa cukup. Dia yang tidak pernah bersyukur. Itu sebabnya dia mencari wanita yang sepadan dengannya. Percayalah ... setelah sekian lama, Tuhan akhirnya membuka mata mu. Membuka borok mantan suami mu," sahut Ibu mengelus rambut putrinya. Dia tahu kata-kata saja tak akan mampu mengobati sakit hati Kenanga. Tapi, Ibu yaki putrinya akan mendapatkan pengganti Bram. Pria yang lebih baik dan lebih bertanggung jawab daripada mantan suami Kenanga.


*Bersambung

0 Comments