Janda Muda (Bab 6)

 

Novel online gratis

      "Mama Mama Mama!" teriak Maga dan Arga ketika melihat helikopter yang terbang rendah. Mereka sedang bermain di teras ketika suara helikopter terdengar dengan jelas diikuti benda terbang nan gagah itu di atas rumah mereka.

      

      Tak hanya mereka saja yang ternganga, tetangga-tetangga yang tadinya ada di dalam rumah pun berhamburan keluar karena penasaran dengan apa yang terjadi. Baru sekali seumur ini mereka menyaksikan helikopter yang terbang serendah itu. Padahal, biasanya hanya lewat saja. Selain itu, helikopter yang ada di atas mereka itu bukan kelikopter milik militer. Tetapi mewah dan mengkilap seperti yang sering mereka lihat di layar televisi.



       "Arga! Itu Mbah Kakung!" teriak Maga yang rambutnya sedang diikat dua menunjuk ke arah kakeknya yang melambai-lambai sambil melihat ke bawah. 


     "Arga! Maga! Mbak Kakung pulang!"


    "Waaaa. Mbah Kakung naik heli! Mbah Kakung naik heli?" Maga lompat-lompat kegirangan sementara Arga langsung berlari ke dalam rumah menuju dapur. 


    "Mama ... Mbah Kakung terbang! Naik heli!" 


      Hmmm? Terbang? Naik heli? Kenanga memang mendengar suara helikopter tapi dia menyangka itu hanya lewat saja. Barangkali reporter dari stasiun televisi atau petugas TNI AU yang sedang latihan terbang. 


     "Kok Arga tahu itu Mbah Kakung?" tanya perempuan yang baru saja selesai memasak makanan untuk makan siang itu. 


        "Mbah Kakung manggil dari atas, Ma," jawab Arga sambil menunjuk ke luar. 


      Meskipun belum paham apa yang dimaksud anak lelaki berusia enam tahun itu karena tak mungkin Bapaknya naik helikopter, Kenanga keluar saja dari rumah dan melihat dengan mata kepalanya sendiri apa yang sedang terjadi. Dan yang benar saja, helikopter mewah berwarna hitam mengkilap sedang berputar-putar di atas rumah mereka.


      Barangkali, pilotnya sedang mencari landasan yang tepat sekaligus aman. Di lain sisi, Bapaknya sedang kegirangan memanggil nama Arga dan Maga. Entah bagaimana ceritanya Bapak bisa naik helikopter, yang jelas Kenanga baru sekali ini melihat wajah Bapaknya yang sumringah sejak kepulangannya ke kampung halaman. 


     "Arga! Maga! Mbah Kakung bawa oleh-oleh yang lezat!" teriaknya dari atas sana. 


   Ya Allah, Bapak! Suaranya keras sekali seperti orang yang baru dapat hadiah lotre saja. Batin Kenanga sembari menepuk jidatnya.


        ***


     Pilot baru saja mendaratkan helikopter di lapangan tak terpakai yang ada tak jauh dari rumah Kenanga. Tentu saja hal itu disambut oleh warga kampung termasuk Maha dan Arga yang menyeret Kenanga agar mengikuti ke mana helikopter itu mendarat. Untung saja pepohonan tak lagi rimbun seperti saat kenanga kecil dulu.


      "Mbah Kakung!" teriak Maga yang langsung lari ke arah Handoko ketika baling-baling berhenti berputar. Sementara Arga, masih berada di dekat Kenanga dan memperhatikan mereka dari kejauhan. 


     "Cucu Mbah yang paling cantik!" Handoko langsung memeluk cucunya dan menciumi kedua pipinya yang gembul dan kemerahan.


       "Mbah dari mana? Maga kangen! Kok, naik helikopter gak ajak-ajak!" tanya Maga menggembungkan kedua pipinya. Bibirnya monyong seperti dubur ayam.


       "Mbah juga kangen. Kalau mau naik helikopter, tanya dulu sama Om," balas Handoko melihat ke arah Saga yang berdiri di sebelahnya. Mereka bagaikan langit dan bumi. Handoko yang terlihat sekali seperti orang kampung dan kulitnya kecoklatan, sementara Sagara yang seperti bintang film. Gagah, kulit bersih, dan juga tampan. Lelaki itu sungguh mengundang decak kagum siapapun yang melihatnya. 


     "Om, Maga boleh naik heli?" Magani pun mendongak ke atas agar bisa bicara dengan Saga. Pria itu pun tersenyum. Dan tanpa menjawab, ia mengangkat tubuh mungil Maga dan memeluknya erat.


      "Boleh. Tapi ada syaratnya."


      "Apa syaratnya?"


       "Cium pipi Om dulu, dong!"


Mmmmuuachh! Tanpa pikir panjang, Maga pun mencium pipi Saga. Pipi kanan, kiri, dan juga keningnya. 


     Melihat pemandangan itu pun Kenanga mendekat. Baru kali ini gadis cilik itu akrab dengan pria asing. Apalagi sampai mau digendong plus mencium wajahnya. Maga paling anti melakukan itu pada orang yang tak dikenal.

     

       "Maga?! Tidak sopan!" kata Kenanga mencoba berbicara sepelan mungkin agar tidak menjadi pusat perhatian para tetangga yang mengerubungi lapangan.


       "Hehehe. Habisnya Om ganteng sih, Ma."


       "Maga ...." Kenanga setengah mengeram dan langsung merebut Maha dari gendongan Saga. 


     "Gak mau. Maga mau naik heli!" tolak Maga yang langsung melingkarkan tangannya dengan erat di leher Saga.


         "Maga, ikut Mama atau malam ini Maga kena hukum?"


      "Gak mau ya gak mau. Maga mau naik heli! Om sudah janji dengan Maga."



      Baru saja Kenanga hendak mengambil paksa dari pelukan Saga, pria itu terburu menengahi. Mana mungkin dia tega membiarkan gadis kecil yang cantik itu direbut dari pelukannya? Ia sudah kadung jatuh cinta dengan Maga. "Biarkan saja. Namanya juga anak-anak. Jangan dipaksa."


     "Betul kata Saga. Jangan paksa Maga. Biarkan dia ikut Om nya," sahut Bapak kemudian berjalan melewati Kenanga dan Arga. 


'Om-nya? Sejak kapan Maga punya Om?'


       ***


Butuh usaha keras memaksa Maga agar mau lepas dari Saga. Ia selalu menempel seperti benalu bahkan saat acara makan siang. Akhirnya kini Kenanga tahu kenapa Bapaknya meminta dia masak makanan yang enak. Ternyata, untuk tamunya. 


"Maga, biarkan Om makan. Kamu duduk di kursimu sendiri. Jangan minta dipangku," ucap Kenanga yang baru saja selesai menyiapkan makan siang di meja. Semua orang sudah duduk di kursi masing-masing kecuali Maga yang terus menempel pada lelaki yang mengenakan jas warna coklat tua itu. Dari sekilas lihat saja Kenanga tahu bahwa jas itu jauh lebih mahal daripada yang sering dikenakan Bram.


"Tidak apa-apa. Biarkan saja, Nga. Namanya juga anak-anak," sela Bapak yang seolah-olah terdengar sebagai pembelaan di telinga Kenanga. Heran, dengan Bram saja lelaki tua itu tidak pernah sepengertian ini. 


Tanpa membantah, Kenanga pun diam saja dan mulai memakan apa yang di hadapannya. Sesekali ia melirik ke arah Maga yang sedang disuapi oleh Saga. Sementara kakaknya, Arga, seperti biasa dia selalu mandiri. Mengambil makanan sendiri dan belajar mencuci piringnya sendiri setelah selesai makan. 


"Maga, biarkan Mama yang nyuapin."


"Tidak apa-apa, Kenanga. Aku melakukannya dengan senang hati. Anakmu begitu menggemaskan," jawab Saga tanpa ragu dan hal itu mengundang senyum di bibir Bapak.


***


Akhirnya dua bocah itu pun tidur setelah lelah bermain dengan Saga. Kenanga tak menyangka bahwa Maha dan Arga bisa akrab dengan orang yang baru dikenalnya. 


        "Tidak tidur, Nga?" tanya Saga yang masih melihat-lihat album foto di tangannya. Malam ini, ia akan tidur di depan televisi karena di rumah Kenanga tak ada kamar untuk tamu. Sementara, Saga enggan menginap di hotel. Ia tak keberatan tidur di sofa yang sempit dan warnanya sudah pudar itu.


     "Sebentar lagi. Beresin mainan dulu." Kenanga menjawab singkat dan langsung mulai memasukkan boneka-boneka Maga ke dalam keranjang. Kenanga tak menyukai situasi ini. Dan tak seharusnya dia bertemu dengan Sagara saat ini. Membuatnya kikuk saja. 


     "Ke mana suamimu?" 


Pertanyaan Saga langsung membuat tangan Kenanga berhenti memunguti mainan. Saga memang brengsek. Tak mungkin kan dia tidak tahu tentang statusnya saat ini. Pasti Bapaknya sudah cerita pada lelaki yang dulu sempat satu kelas dengannya itu saat SMA. 


"Ke mana suamiku, itu bukan urusanmu."


Saga menyunggingkan bibirnya. Kenanga memang selalu begitu. Selalu galak padanya. Dan dia ingat sekali, dulu pernah ditolah lima kali oleh wanita itu. 



"Bagaimana kalau aku bilang itu urusanku?"



***

-Bersambung-


Novel author yang lain :

1. Kapan Hamil?

2. Suami Dinginku





Post a comment

1 Comments

Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)