Janda Muda (Bab 7)

 

Novel online

"Aku tidak peduli jika itu memang urusanmu!" jawab Kenanga sembari mendorong keranjang mainan ke pinggir ruangan. "Tidurlah. Sudah malam. Ini di kampung, bukan di Jakarta. Tidak seharusnya kamu menginap di sini," lanjut Kenanga lagi. Dia tak habis pikir, Saga sekarang pasti bukan hanya kaya melainkah konglomerat. Tapi, tidur saja numpang!


"Bapakmu mengijinkan aku untuk tidur di sini," balas Saga menyunggingkan senyumnya yang menawan sekaligus nakal. Melihat bibir yang tersungging itu, buru-buru Kenanga mengalihkan pandangannya. Wajah boleh tampan,tetapi tetap saja dia menyebalkan. Dan kenanga tak ingin jatuh ke dalam pelukan buaya seperti Sagara yang hanya menggunakan ketampanannya untuk menarik perhatian para gadis seperti yang dilakukannya seperti dulu. 


'Jangan tergoda, Kenanga! Dia masih Sagar yang play boy seperti dulu!'


"Terserah," ucap Kenanga gemas kemudian berjalan cepat menuju kamarnya yang ada di lantai atas. Dia tak ingin berlama-lama berduaan dengan lelaki itu. Kenanga tak ingin ada salah paham diantara mereka. Apalagi ini di kampung, salah sedikit saja Kenanga yakin dia akan menjadi buah bibir di desa.


Salah paham? Kenanga buru-buru menepis bayangan itu. Lagipula, pria tampan seperti Saga, tak mungkin kan belum memiliki pasangan. Dan Kenanga tak mau disangka menjadi orang ketiga. 


***


Kenanga baru saja selesai menyapu dan dan mengepel lantai rumah. Hari masih terlalu dini untuk anak-anak bangun. Biasanya, jam tujuh mereka baru mau turun dari tempat tidur. Tapi, hari ini berbeda. Pukul 05:30 mereka telah turun ke bawah sambil mengucek mata. 


"Ma? Om Saga belum pulang, kan?" tanya Maga sambil mengucek matanya diikuti Arga yang berpegangan pada tangga. 


Kenanga langsung menepuk jidatnya dan mendekati kedua buah hatinya yang memilih duduk di anak tangga. "Anak Mama sudah gak sayang lagi ya, sama Mama? Bukannya bilang selamat pagi tapi malah menanyakan orang lain. Mama marah!"


"Habisnya Mama gak asik!" balas Maga yang langsung berdiri dan menuruni tangga menuju ruang keluarga tempat di mana Saga sedang pura-pura tidur. Padahal, sejak subuh datang, dia bangun dan menikmati suara yang ditimbulkan oleh kegiatan Kenanga.


 Baru kali ini hidup lelaki yang lama menyendiri itu terasa berarti dan percikan-percikan api yang belum padam, kini malah menjadi lebih besar dan hampir membakar tubuhnya. Dia ingat sekali sosok Kenanga yang cantik, gesit, cerdas dan juga galak. Sampai sekarang dia tak paham kenapa Kenanga terkesan membencinya dan menghindarinya. Apa sih yang kurang darinya? Tampan, cerdas dan digilai para gadis di sekolah.



"Om Saga ... Om ... ayo kita naik heli," ucap Maga penuh semangat dengan suaranya yang cempreng. "Kita ke Jakarta ketemu Papa."


Buru-buru Kenanga lari mendekati putrinya. "Sayang, Om Saga masih tidur. Tidak sopan membangunkannya," bisik Kenanga sambil berjongkok. "Ayo kita ke kamar mandi dulu. Cuci wajah dan gosok gigimu."


"Tapi Om Saga sudah janji ngajak Maga dan Arga naik heli. Janji adalah hutang, Ma. Maga mau ke Jakarta ketemu Papa."


Ketemu Papa? Kenanga langsung terdiam. Dia lupa bahwa Maga dan Arga belum tahu tentang perceraiannya dengan Bram. Dia juga lupa bahwa anak-anaknya tetaplah membutuhkan sosok seorang ayah. Namun, apakah Bram juga masih ingat anak-anaknya saat sedang bersama kekasihnya?



"Iya. Tapi kan gak pagi-pagi juga, sayang," jawab Kenanga denga suara yang gemetar. Hatinya berdenyut sakit tiap kali teringat pada mantan suaminya. Dan makin nyeri saat lelaki itu sama sekali tidak menghubungi Maga dan Arga.


"Pagi-pagi itu bagus, Ma. Kata Bu guru udara masih segar dan bagus untuk kesehatan!" Maga menjawab dengan suara yang menggemaskan dan mendekati tubuh Saga yang terbaring di sofa.


Kenanga mengelus dadanya pelan. Entah sejak kapan Maga pintar bicara dan tak mau lagi mendengarkan ucapannya.


"Om, bangun ...," bisik Maga tepat di telinga Saga. "Aku tahu Om sudah bangun," lanjut gadis cilik yang masih mengenakan piayama berwarna pink dengan gambar Teddy bear itu. 


Saga pun tersenyum lebar dan membuka sebelah matanya. "Cium dulu, dong. Baru Om bisa bangun."  


Mmmuuaacchh! 


Ciuman Maga langsung membuat Saga bangkit dan mengangkat tubuh gadis itu ke atas perutnya. "Anda mau ke mana princess? Pelayan ini akan menemani ke mana pun Anda pergi."


"Maga mau ke Jakarta ketemu Papa. Maga kangen sekali dengan Papa!"


Kasihan sekali kamu, sayang. Papa bahkan lupa dan lebih memilih selingkuhannya daripada kita. Ucap Kenanga dalam hati kemudian beringsut dari sana. Dia tak ingin Maga dan Saga melihat bulir bening yang tak sengaja jatuh ke pipi dengan sangat kilat. 



"Mama menangis?" tanya Arga ketika Mamanya itu menghampirinya di anak tangga.


"Tidak, sayang. Mata Mama kelilipan." Buru-buru ia menyeka air matanya yang sudah terlanjur dilihat Arga. Sebagai anak yang lahir terlebih dulu, Arga lebih dewasa dibanding Maga. Ia seperti tahu apa yang sedang terjadi diantara kedua orangtuanya.


"Arga tidak mau ketemu Papa, Ma."


Deg. Lagi-lagi dada Kenanga seperti dipukul godam ketika mendengar Arga berbicara dengan suara yang dingin dan sorot mata yang menaruh benci ketika menyebutkan kata Papa.


"Kenapa, sayang? Arga tidak kangen Papa?"


"Tidak. Di sini ada Mbah Kakung dan Mbah Putri," balas Arga kemudian menaiki anak tangga dan menuju kamarnya. Kenanga tertegun. Apakah anaknya itu tahu kalau orangtua mereka telah berpisah?



***


Akhirnya baling-baling besi itu mulai berputar dan perlahan heli yang ditumpangi Kenanga dan anak-anak meninggalkan pijakannya pada tanah. Bapak dan Ibu melambaikan tangan mereka ke udara, tak lupa juga orang-orang yang melepas kepergian mereka ke Jakarta. Tadinya, Kenanga menolak ikut. Tapi apalah daya, Maga terus saja merengek dan tangisnya tak akan berhenti jika keinginannya tidak dituruti. 


Maga melambaikan tangannya di depan kaca, sementara Arga lebih memilih membaca komik Conan kesayangannya di kursi depan. Sedangkan Kenanga sendiri, merasa tak nyaman duduk di belakang bersama dengan Saga. Entah kenapa baju yang dia kenakan hari ini menjadi sesak dan heli yang cukup luas dan mewah ini menjadi sempit.


"Maga, duduklah dengan baik," ucap Kenanga berusaha menutupi kecemasannya. "Mbah Kakung dan Mbah Putri sudah tidak kelihatan lagi."


"Tapi ada pohon-pohon, Ma. Maga mau bilang halo sama burung-burung. Kalau naik pesawat kan gak bisa lihat pohon. Lihatnya awan."


Huuffttt. Ada saja balasan dari Maga. Gadis itu seperti tak pernah kehabisan kata-kata.


"Om, habis ketemu Papa, nanti Maga akan minta uang Papa untuk belikan Om es krim, ya," kata Maga yang sudah mulai tenang duduk di kursinya ditemani co pilot perempuan yang sejak tadi sibuk melayani anak-anak. Membantu memasang sabuk pengaman, menyiapkan camilan, dan menyiapkan selimut yang hangat untuk menutupi kaki mereka. 


"Bagaimana kalau Maga carikan saja Om istri?"


"Di mall ada, Om? Kalau ada, nanti Maga minta Papa untuk belikan."


Kenanga menarik napasnya dalam-dalam. Ternyata, secerdas apapun Magani, ia hanyalah anak yang berusia enam tahun. 


"Sepertinya tidak ada," jawab Saga merapikan bagian kerah jasnya. 


"Adanya di mana, Om?" tanya Maga penasaran sambil memasukkan chips kentang ke dalam mulutnya. 


"Coba tanya Mama. Mama pasti tahu." 


Kenanga langsung tersedak sedangkan co pilot yang memakai seragam itu berusaha menahan tawanya. Sekarang, dia tahu alasan bosnya jauh-jauh ke Kudus dan meninggalkan semua urusan bisnisnya. Terlebih lagi, ia lebih memilih tidur di rumah sederhana milik Kenanga daripada di hotel.


"Mama tahu cari istri di mana?"


Cari istri? Memangnya istri adalah barang yang bisa dicari dan dibeli? 


"Gak, sayang. Jangan makan sambil bicara. Oke? Tidak baik," kilah Kenanga karena tidak tahu harus menjawab apa.


"Mbak. Mbak tahu di mana cari istri? Om Saga sudah berbaik hati sama Maga. Maga harus membalasnya dan carikan istri," tanya Maga pada gadis di depannya tanpa menghiraukan peringatan Kenanga. 


"Di belakang Maga ada istri."


He? Di belakang? Maga langsung memiringkan tubuhnya dan melihat ke kursi belakang. Tak ada istri di sana. Yang ada hanyalah Kenanga yang wajahnya sudah memerah seperti kepiting rebus.


"Mama sakit?" tanya Maga polos dengan matanya yang bulat dan bibirnya yang mungil.


"Tidak, sayang. Ma ... Mama tidak sakit."


"Kok wajah Mama merah?"


"Anu ... ini karena make up, Maga."


"Oh ...." Maga memutar kembali tubuhnya dan menyandarkan punggung di kursi yang empuk lalu mengamati gadis muda di depannya. "Ma, kalau besar, Maga jadi pilot!"


Huufftt. Dasar anak-anak. Kemarin saat melihat film dokter, katanya ingin jadi dokter. Sekarang lihat co pilot di depannya, ingin jadi pilot. Besok apa lagi? 


"Pakailah selimutmu. Rokmu terlalu pendek," kata Saga sambil menutupi kaki Kenanga yang jenjang dengan kain wol hangat dan kualitas terbaik. 


Kenanga berusaha menyingkirkannya. Dia sudah biasa dengan udara AC. Tidak terasa dingin. "Tidak perlu."


"Jangan membantah," bisik Saga tepat di telinga Kenanga yang membuat wanita itu langsung meremang. Entah ada setan mana yang merasuki dirinya, tetapi suara Saga terdengar begitu seksi, aroma tubuhnya maskulin dan wajahnya yang terbalut rahang kokoh, membuatnya merasakan seperti tersengat aliran listrik untuk sesaat.


*** Bersambung


2 Comments

  1. terimakasih novelnya membantu waktu luang ku untuk membaca
    https://bit.ly/2Qxq5Y3

    ReplyDelete
  2. duuuuh.... istri bang saga cari dimana yaaaa?

    ReplyDelete