Kapan Hamil (Bab 17)

 

Novel gratis online

Setelah mengumpulkan beberapa  pakaian dari dalam lemari almarhum istri Syam dan juga selimut, Virna menyambung dan mengikatnya kuat-kuat lalu menaruhnya di bawah tempat tidur. Setelah itu, ia berdiri di dekat jendela. Mengamati suasana yang ada di luar sana dengan cermat dan menghitung ada berapa pria berpakaian hitam yang berjaga-jaga di sekeliling rumah dan sepanjang pantai.




Virna berdiri di dekat jendela setiap Syam selesai mengunjunginya. Virna mencatat di dalam kepalanya apa saja pergerakan bodyguard Syam, jam berapa saja mereka bergantian bertugas, adakah kapal yang datang, adakah pengunjung yang menemui Syam atau pernahkah Syam meninggalkan rumahnya yang terletak di pulau pribadi, Pangkil?




"Raymond Rowan setuju untuk memberikan kita vaksin dan menukarnya dengan Karlina," ucap salah seorang lelaki yang tak sengaja Virna dengar saat pria itu berbicara melalui sambungan video dengan Syam. Syam kala itu sedang duduk di sofa yang letaknya dekat dengan jendela. Sementara Virna sendiri sedang ada di tempat tidur dan menyembunyikan dirinya di balik selimut. Selama dua minggu ini Virna lebih senang pura-pura sakit dan tak kuat bicara daripada harus melayani pembicaraan dengan Syam yang dinilainya membosankan.




"Oke. Asal kita mendapatkan vaksin itu, apapun akan aku lakukan," balas Syam dan Virna pun tetap memejamkan matanya serta berusaha tidak bergerak. Dia tak tahu persis apa yang sedang terjadi, yang jelas, Virna tahu bahwa Raymond dan suaminya akan datang untuk menyelamatkan dirinya. 




" ... dan saat Raymond datang ke tempatmu, bunuhlah dia. Kalau tidak, maka dia yang akan membunuhmu dan menghancurkan bisnismu."




'Bunuh? Tidak! Aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi!'




Karena mendengar hal itu, Virna memutuskan bagaimana pun caranya, dia harus pergi dari pulau ini sebelum suami adiknya itu datang. Dia tak akan membiarkan saudarinya itu menjadi janda dan keponakan-keponakannya yang lucu menjadi yatim.






"Pertama-tama aku akan turun dengan tali, kemudian berlari menuju dermaga saat pergantian shift. Aku akan masuk ke dalam kapal dan bersembunyi di sana. Hanya di saat itulah penjagaan tidak terlalu ketat," ucap Virna mantap pada dirinya sendiri sambil memperhatikan boat yang ada di pantai. 




"Dan kalau gagal ...." Virna menekan pelipisnya. Tak ada cara lain selain mengambil risiko. "Kalau gagal ... bisa jadi aku yang akan mati. Tapi, itu lebih baik karena Raymond tak akan ke sini jika tahu aku mati." Virna berucap mantab tanpa ragu. Dia tak akan membiarkan keluarganya tersakiti karena keluarganya saat ini adalah hal terpenting bagi Virna. Tetapi,Virna lupa akan satu hal. Bahwa dirinya juga penting dan sangat berarti bagi suaminya. Tiger.




***




"Sudah kubilang serahkan saja padaku," kata Raymond sembari membuang asap cerutu ke udara. Ia berbicara pada Tiger yang baru saja bisa berjalan setelah dua minggu terbaring di ranjang rumah sakit. Fisiknya masih lemah dan dia tak mungkin membiarkan lelaki itu ikut ke dalam misi penyelamatan Virna ke pulau Pangkil.




"Aku adalah suaminya, Bos. Aku harus ikut."




"Lihatlah kondisimu. Kau belum sepenuhnya pulih dan aku tidak mau mengambil risiko. Biarkan aku dan Panther yang mengurusnya," jawab Raymond dengan tenang namun setiap katanya ditekan.




"Tidak. Terlalu bahaya kalau kau turun sendiri. Apa istrimu tahu kau akan pergi?"




Raymond menekan cerutunya di atas asbak. Jangankan tahu. Tara bahkan tak mau bicara dengannya dan tidak membiarkan dirinya mendekati anak-anaknya. 




"Jangan injak rumah ini sebelum Mbak Virna pulang!" sentak Tara ketika sudah 1x24 jam namun batang hidung Virna tak juga muncul. Dan selain pada Raymond, kepada siapa lagi Tata hendak marah? Tidak mungkin kan pada rumput tetangga yang bergoyang?



"Maafkan aku, sayang. Bagaimana kalau Cleo menangis?" 



"Tenang saja. Aku adalah orang yang mengandung Cleo, melahirkan dan juga menyusuinya! Aku tahu bagaimana cara menenangkan anakku sendiri!" balas Tara sebelum menutup pintu kamar dengan kasar. Dan sejak hari itu, Raymond memilih tinggal di rumah sakit ditemani Panther yang kerepotan karena dia juga menjadi pelampiasan atas kemarahan istri Bos-nya. 




"Dengarkan ...." Raymond mendudukkan pantatnya pada kursi di sebelah ranjang. "Aku  berjanji akan membawa Virna pulang. Kau harus beristirahat dan memulihkan tenagamu. Oke?"


Tiger tak menyahut. Dia hanya menatap ke langit-langit kamar rumah sakit sembari memikirkan istrinya. Sudah dua minggu sejak kecelakaan itu terjadi. Dia ingin tahu bagaimana keadaan Virna. Apakah dia baik-baik saja? Adakah helaian rambutnya yang jatuh karena tersakiti? Dia tak tahan lagi terbaring begini tanpa melakukan apapun.


***


Suara angin pantai yang berdesir dan dingin tak mampu membuat pria yang mengenakan baju menyelam itu kedinginan. Buru-buru ia melepaskan peralatan snorkeling yang tadi ia gunakan. Karena penjagaan cukup ketat, Tiger tak bisa membawa boat terlalu dekat dengan pantai. Akhirnya dia memutuskan untuk menyelam. 



"Tunggu aku, Sweethart. Aku akan segera membawamu pulang," gumam Tiger begitu selesai dan mulai mengamati sekitar di balik kegelapan malam. Satu ... dua ... tiga ... Tiger menghitung berapa pria yang berjaga-jaga sambil membawa senjata. Perlahan-lahan Tiger itu mendekati lelaki yang paling dekat dengannya. Dia terlihat menguap dan lelah. Ngantuk, barangkali. Karena ini sudah tengah malam dan memang sudah waktunya bagi manusia untuk beristirahat.


"Selamat malam! Selamat tidur dengan nyenyak," ucap Tiger dengan senyum kemenangan sebelum menggorok habis leher si penjaga dengan belati Eickhorn KM 4000 Advanced Combat Knife yang termasuk ke dalam daftar belati militer paling mematikan di dunia. Belum sempat pria itu bersuara, tubuhnya sudah jatuh ke pasir dan Tiger lekas menyeretnya ke arah kegelapan. Tanpa menunggu lama, dia memasukkan mayat itu ke dalam lubang yang telah disiapkan dan menutupi tubuhnya dengan pasir pantai. 


Tiger melakukan penyergapan dengan mulus. Satu persatu dari sepuluh penjaga tumbang tanpa perlawanan termasuk cctv yang telah ia rusak sehingga penjaga yang ada di dalam rumah tak akan mampu menangkap pergerakannya. 


Sementara itu di sisi lain, Virna sedang mondar-mandir dengan cemas. Dia harus melarikan diri malam ini. Di pantai, ada kapal dan dia bisa bersembunyi di sana sampai esok pagi. "Nyonya, saatnya minum obat Anda," kata pelayan dibarengi dengan suara ketukan pintu.


Virna buru-buru kembali ke tempat tidur dan menutupi tubuhnya dengan selimut. "Masuk," jawabnya dengan suara yang dibuat lemah. 


Begitu kepala pelayan itu masuk, dia memberikan obat dan juga segelas air kepada Virna namun ditolak. "Letakkan saja di atas meja. Terima kasih. Aku ingin istirahat."


"Baik." Pelayan itu menjawab kemudian berbalik dan berjalan menuju arah pintu. 


"Tunggu!" 


Langkah kaki kepala pelayan pun terhenti. Ia menoleh ke arah Virna. "Ya?"


"Besok pagi, tidak usah membawanku sarapan."


Kepala pelayan pun tersenyum ramah. "Baik. Selamat tidur, Nyonya," jawabnya kemudian menutup pintu dan menguncinya. Dan ketika ia berjalan melewati kolam, kepala pelayan melempar kunci tersebut ke dalam kolam renang. Dia tahu malam ini Virna akan berusaha melarikan diri. Dan inilah salah satu cara untuk membalas budi baik Virna padanya.


***


"Kau sudah memberikan obat pada istriku?" tanya Syam melemparkan tubuhnya di atas sofa yang empuk dan terlihat mewah.


"Sudah, Tuan," jawab kepala pelayan sambil menuangkan ke teh ke dalam cangkir. 


"Bagus. Layani semua kebutuhannya agar Karlina cepat sembuh."


"Baik," balas kepala pelayan sembari tersenyum ketika Syam menenggak teh yang telah ia berikan obat tidur. Dan tanpa menunggu lama, Syam yang berkali-kali menguap pun akhirnya terpejam sambil menyenderkan tubuhnya. 


"Maafkan saya, Tuan," ucap kepala pelayan yang telah memastika bahwa Syam kehilangan kesadarannya. Dengan cepat ia kemudian mengikat tangan dan kaki Syam menggunakan tali serta membungkam mulutnya menggunakan kain. 


Sekian tahun kepala pelayan itu bekerja dengan Syam, ia rela diperlakukan dengan tidak baik. Syam pria yang kasar, dan tak segan memukulnya. Kalau bukan karena bayaran yang tinggi dan mampu menghidupi keluarganya, Marina tak ingin lagi bekerja pada pria yang kejiwaannya terganggu terganggu tersebut. Hingga pada suatu hari, ia melihat bagaimana Virna melawan Syam saat lelaki itu berniat untuk menciumnya. Ia mengancam akan bunuh diri jika pria itu tetap ingin menyentuhnya. 


"Lebih baik aku mati daripada harus melayani nafsu bejatmu!" ancam Virna mengarahkan pisau buah di pergelangan tangannya.


"Hahaha. Perempuan sepertimu tak mungkin berani melakukannya. Lihatlah istriku, aku kaya, tampan, kurang apa lagi?"


Tanpa segan-segan Virna menekan pisau hingga keluar sedikit bercak darah. "Meskipun kamu raja di dunia ini sekali pun, aku tidak akan sudi kau sentuh!" 


Melihat keberanian Virna dan kobaran di bola matanya, Syam memilih mundur. Ia tak ingin menyakiti Virna yang dianggapnya sebagai Karlina. "Oke. Aku tidak akan menyentuhmu. Tapi, jangan pernah menyakiti dirimu sendiri."


Setelah Syam meninggalkan kamar Virna, Marina membantu wanita itu untuk membalut lukanya. Selama ini, belum pernah ia menemui orang seberani Virna karena semua orang yang tinggal di Pangkil sangat tunduk pada Syam. Jangankan melawan, menatap matanya saja mereka tidak berani.


"Kenapa Anda menolak, Nyonya? Anda bisa saja mati."


"Lebih baik aku mati dariapa melayaninya. Aku tidak sepertimu yang diam saja ketika lelaki itu memukulmu."


Marina tersenyum kecut. Habisnya bagaimana lagi? Hanya Syam lah yang mampu memberinya bayaran tinggi meski ia tak diperbolehkan keluar dari pulau Pangkil. Semua uang yang diterimanya ia kirimkan untuk anak-anaknya dan hanya sesekali saja mereka berbicara melalui telepon. 


"Seandainya saya punya sayap, saya akan terbang dan melarikan diri dari sini." 


"Tidak harus punya sayap untuk pergi dari sini! Kita masih punya kaki! Apa kamu tidak punya keluarga? Tidak memiliki orang-orang yang kamu rindukan? Kita hidup di negara hukum dan memiliki kebebasan. Kamu bukan budak!"


Lama Marina terdiam. "Saya memiliki anak-anak dan suami. Untuk mereka lah saya bekerja. Suami saya kerja di bar milik pak Syam, dan dia menjual saya untuk bekerja di sini. Kalau saya pergi tanpa persetujuan pak Syam, saya takut anak-anak akan dilukai oleh bapaknya."


Virna mendengus kemudian memegang tangan Marina. "Berikan aku alamat rumahmu. Kalau aku keluar dari sini, aku berjanji akan mengurus anak-anakmu. Setelah itu, aku akan meminta suamiku untuk mengeluarkanmu!" 


***

Tiger berjalan mengendap-endap dengan kewaspadaan penuh. Kepalanya mendongak mencari-cari kamar mana kiranya Syam mengurung Virna. Ketika melihat bayangan seseorang yang bergelantungan, Tiger mengamati dengan cermat. Virna? 


"Sweethart?!" 


Virna mengenali suara itu. Tiger? Ini bukan mimpi, kan? 


"Lompat lah. Aku akan menangkapmu!"


Tanpa pikir panjang. Virna pun melepaskan tangannya dan melompat begitu saja. Ia percaya, suaminya akan menangkap tubuhnya dan tidak akan membiarkan dirinya terjatuh.


Ahhh! Virna memekik begitu Tiger menangkap tubuhnya dan tanpa ragu, perempuan itu mengalungkan tangan di leher Tiger. "Aku percaya kamu akan datang menyelamatkanku," ucap Virna dengan isak tangis kebahagiaan yang tak bisa dibendung lagi. 


"Maafkan aku datang terlambat. Kau pasti menderita."


Virna menggeleng cepat dan mendekatkan bibirnya pada Tiger. Dilumatnya pelan bibir tipis suaminya sebagai obat atas kerinduannya selama ini. 


Suara sirine terdengar keras saat sepasang sejoli itu memadu kasih. Dan suasana yang tadinya remang-remang, kini menjadi terang benderang. Suara seseorang bertepuk tangan di belakang mereka pun terdengar. 


"Bagus ... bagus ... ternyata Dewi Fortuna masih berpihak padamu. Tapi sayangnya, sekarang keberuntunganmu berakhir!" ucap Syam menembakkan peluru ke udara. Sontak, Tiger pun menurunkan Virna dan memintanya berdiri di belakangnya. 


"Jangan senang dulu, Tuan. Keberuntunganku bisa saja sudah berakhir, tapi baru saja aku mendapatkan kembali Dewi yang sesungguhnya," balas Tiger tanpa ragu sembari mengacungkan pistol ke arah Syam. 


"Hahaha. Kau kira bisa lolos? Dan kau, Karlina, kau pikir obat tidur bisa membuatku tak sadarkan diri? Oh, ya ... Aku telah mengirim Marina ke neraka. Dan setelah itu, lelaki di depanmu itu akan pergi menyusulnya."


"Tidak! Aku tidak akan membiarkan itu terjadi!" teriak Virna yang tak dapat lagi menahan emosinya. 


"Hahaha. Tenanglah, sayang. Kau adalah istriku, tidak akan ada yang bisa memisahkan kita," sahut Syam yang memberi tanda kepada anak buahnya agar mengepung Tiger dan Virna. 


"Sekarang, kau akan mati di tanganku, Garry!" ucap Syam mantab sembari menarik trigger yang di arahkan pada Tiger.


Dor ... dor ... dor .... suara rentetan tembakan pun terdengar sangat keras. Virna menutupi telinganya. Memejamkan matanya. Dia tak kuat melihat pemandangan yang ada di depan netranya.


*Bersambung ....


Terima kasih ya sudah sabar menunggu. Hufttt ... sudah masuk bulan Desember. Mulai sibuk mempersiapkan natal dan acara tahun baru. I love you all ....

1 Comments

  1. waduh semakin mendebarkan.... up lagi thor... aku makin dag dig dug dan penasaraaaan

    ReplyDelete