Suamiku Dingin (Bab 15)

Novel gratis

Akhirnya Keyla dan Stevan sampai di rumah. Kelopak mata Keyla langsung membelalak ketika melihat sepasang baju pengantin di tengah-tengah ruangan yang sudah seperti aula. Sepasang gaun itu terlihat gemerlapan dan menimbulkan decak kagum pada diri Keyla. 


Gadis itu dengan semangat berjalan ke arah sepasang baju itu dan tak berhenti mengagumi betapa indahnya gaun pengantin itu. Tuxedo warna hitam yang nampak gagah dan gaun warna putih miliknya yang sederhana namun terlihat elegan. 



Keyla langsung bisa membayangkan ketika memakainya. Kain yang melekat pas sesuai bentuk tubuhnya, dada belahan rendah berbentuk V, bahu yang terbuka, serta bagian belakang yang memperlihatkan punggungnya yang ramping serta gaun itu memiliki ekor yang cukup panjang. Keyla terkekeh dalam hati. Ia berharap tidak akan menginjak bagian bawah gaun ketika ketika berjalan. Kalau tidak, semua undangan yang hadir pasti akan menertawakannya. 



"Bagaimana? Kau menyukainya?" tanya  melingkarkan kedua tangannya di perut Keyla dan menyandarkan dagunya pada bahu Keyla yang proposional. Dihirupnya lekat-lekat aroma Keyla. Manis sekaligus membangkitkan hasratnya sebagai laki-laki yang normal. Entah sudah berapa lama Stevan menunggu saat hari pernikahan mereka tiba.



"Hmmm! Ini indah sekali. Bukankah ini seperti kain sutra asli?" tanya Keyla yang memegangi gaun indah di hadapannya. Kain itu terasa begitu halus dan dingin. Oh ... Keyla rasanya tak sabar lagi ingin mengenakan gaunnya itu. Stevan pasti seperti pangeran jika memakai tuxedo tersebut. Wajah yang tampan dan sedikit berbulu, rahang kokoh, alis tebal dan sorot mata yang sexy, serta tubuh atletis meski dia bukan seorang binaragawan. 



"Ya. Mama yang membuatnya," sahut Stevan makin mengeratkan pelukannya. Kalau saja diantak ingat bahwa mereka belum resmi menjadi suami istri, barangkali saat ini Stevan sudah mengangkat tubuh Keyla ke kamar dan menikmati setiap inci tubuh gadis itu. 


'Sabar, Steve. Pria sejati dapat menahan nafsunya dan menempatkan miliknya pada saat dan waktu yang tepat.'



Wow. Keyla semakin terkejut mendengarnya. "Apakah tante Sabrina perancang busana? Aku tidak pernah tahu soal itu."



"Ya." Stevan menjawab dengan singkat dan melayangkan ciuman di leher jenjang Keyla. Gadis itu melenguh dan napasnya terasa berat. Namun, ia tak berhenti mengagumi calon mertuanya itu.



'Pantas saja tante Sabrina begitu stylish dan baju-baju yang ada di lemariku pun terlihat sangat berkelas dan mahal. Aku tidak yakin apakah uangku cukup untuk membeli semua baju-baju itu?'



"Kalian begitu mengejutkanku. Adakah hal lain yang tidak kuketahui?" 



"Kau akan tahu jika kita sudah menikah nanti," balas Stevan dengan nada berat dan hembusan napas yang mampu membuat Keyla merinding.


Keyla hanya diam saja. "Memangnya, ada keluarga yang tidak memiliki rahasia? Ya, kurasa setiap orang memiliki hal tersembunyi dalam diri mereka masing-masing," ucapnya dalam hati dengan tangan yang masih memegangi tangan Stevan yang terasa besar, kuat dan hangat.


***


Semua tamu sedang sibuk berbincang-bincang dengan gelas berisi minuman dingin di tangan mereka. Pernikahan Keyla dengan Stevan Antonius berjalan dengan lancar dan hanya dihadiri keluarga maupun teman dekat. Acara pemberkatan berjalan dengan khidmat diiringi debaran jantung Keyla yang tak bisa dikendalikan. Ia tak menyangka akhirnya kini ia telah resmi menjadi seorang istri. Dan pria yang menjadi suaminya adalah seseorang yang telah dijodohkan dengan dirinya jauh sebelum dia dilahirkan.



"Key, Steve, cepet-cepet kasih Mama cucu, ya?" ujar tante Sabrina yang kini jadi Mama mertua Keyla. Senyumnya sejak pagi tak berhenti mengembang dan tawanya menghiasi pernikahan Keyla layaknya alunan musik yang ceria.



"Kalau bisa, kasih double! Ha ha ha ha!" imbuh Mama dan akhirnya kedua sahabat baik itu pun tertawa kegirangan sebelum akhirnya Keyla dan Stevan meninggalkan perayaan pernikahan mereka.


* * * 


"Kamu terlihat cantik hari ini," ucap Stevan sambil melihat istrinya yang sedang melepaskan perhiasan dan juga mahkota kecil di kepalanya. Sejak tadi kakinya dipikul-pukulkan ke lantai. Dia tak sabar lagi ingin melahap makanan yang ada di hadapannya itu. Begitu cantik sekaligus menggemaskan.



"Apa biasanya aku jelek?" keyla menjawab sambil melihat pantulan bayangan Stevan yang sedang berdiri di belakangnya melalui cermin meja rias. Bibirnya cemberut dan pipinya mengembung.



"Biasanya kau terlihat menyebalkan," balasnya lagi sambil senyum menyungging di bibir lelaki itu.



"Bukankah sebaliknya? Kamu selalu mengabaikanku."



"Baiklah. Mulai sekarang aku tidak akan mengabaikanmu lagi." Stevan menimpali sembari mengangkat tubuh Keyla.



"Tunggu! Aku ingin mandi dulu!" Keyla meronta agar Stevan menurunkan tubuhnya meski itu sia-sia belaka.


Tubuh Keyla berkeringat karena seharian berdiri dan menyambut tamu yang datang. Ia ingin mandi dan berganti baju dengan pakaian sexy agar lebih menarik sebelum melakukan ritual sakral bersama Stevan yang kini berstatus sebagai suaminya.



Awww! Pekik Keyla ketika Stevan menjatuhkan tubuhnya dengan kasar ke atas ranjang empuk yang telah ditaburi dengan kelopak mawar merah 


"Sssssttt! Jangan berteriak. Masih banyak orang di bawah." Jari telunjuk Stevan  menempel di bibir Keyla dan tanpa aba-aba, Stevan mulai melancarkan ciumannya dengan sangat ganas. Ia kini tak perlu lagi menahannya karena sepenuhnya Keyla adalah miliknya yang bisa ia cumbu kapanpun ia ingin tanpa harus melanggar norma.



Dulu, Keyla hampir tak percaya ada seorang pria yang tidak menginginkan sex dari pasangannya sebelum menikah. Tapi, kini Stevan Antonius membuktikan padanya. Seberapa besar pun keinginannya, ia tidak ingin memakan apa yang bukan miliknya. Dan tanpa Keyla sadari tetes air matanya luruh ke pipi. Stevan yang sedang mencumbu leher Keyla pun menyadari apa yang sedang berlangsung. Ia menghentikan gerakan bibir dan tangan yang sedang menyusuri tubuh Keyla. 



Stevan melihat ke mata Keyla. "Key, are you okay?" tanya Stevan kemudian menghapus air mata Keyla menggunakan jemarinya dengan sangat hati-hati seolah sedang memegang sesuatu yang rapuh. Keyla tahu pria itu sedang memandangi dirinya dengan tubuh yang berada di atasnya. Tapi, Keyla tak sanggup membalas tatapan suaminya tersebut 



Keyla hanya menggeleng pelan. Tanda ia tidak baik-baik saja.



"Apa kau masih memikirkannya?" tanya Stevan lembut seolah dia tahu apa yang tiba-tiba mampir di pikiran istrinya. 



"Tentu saja aku masih memikirkannya. Meski kau tidak pernah mempersalahkan kegadisanku, tapi aku merasa bersalah padamu. Seharusnya aku bisa menjaga diriku dan tidak membiarkan laki-laki yang bukan suamiku mengambil apa yang bukan haknya," jawab Keyla di dalam hati karena bibirnya kelu. Lidahnya tercekat dan rasa sesak menjalar ke dalam dadanya.



Stevan menari napas dalam lalu menjatuhkan tubuhnya di samping wanita yang sangat dia cintai. Ia meraih selimut untuk menutupi tubuh Keyla dan mendekapnya dengan erat.



 "Tidurlah ... kau pasti lelah," ucapnya dengan lembut dan mengelus rambut Keyla dengan cinta yang tak pernah kurang. Tangis Keyla semakin pecah dan perempuan itu sembunyikan wajahnya di dada Stevan.



I'm sorry, my husband ....


*Bersambung

1 Comments

  1. Pelajaran buat kita utk say no to free sex

    Agar tdk menyesal kemudian

    ReplyDelete