Suamiku Dingin (Bab 16)

 

Novel online

"Good morning, my wife," ucap Stevan yang mengecup kening Keyla. 


"Hmmm? Jam berapa sekarang?" tanya Keyla dengan nada suara yang masih mengantuk. Matanya terasa berat dan bengkak karena acara malam pertama mereka yang gagal. Meskipun begitu, Stevan sama sekali tidak kecewa. Dia bisa mengerti Keyla dan tak menyalahkan istrinya karena kehilangan keperawanannya sebelum mereka menikah.


"Tujuh," balas Stevan menyingkirkan helaian rambut di kening Keyla dengan lembut. Dan tanpa sadar, Keyla mendekatkan bibirnya pada bibir Stevan yang kemerahan. 


"Aku malu sekali. Seharusnya aku bangun lebih pagi daripada kamu."


"Mandilah. Setelah itu kita sarapan." Stevan berkata kemudian berniat beranjak dari ranjang. 


"Tunggu!" Keyla memegangi tangan lelaki itu yang terasa dingin dan Keyla bisa merasakan otot-otot tangan Stevan yang kuat. "Kamu marah?"


Sejenak lelaki itu mengamati mata istrinya yang masih bermata sendu. Matanya yang bengkak sama sekali tidak mengurangi kecantikan istrinya. "Tidak. Bagaimana aku bisa marah padamu?" 


Stevan mendekati istrinya dan langsung memagut bibir Keyla dengan lembut dan tanpa terburu-buru. Tangannya mulai menjelajah ke setiap lekuk tubuh Keyla dengan kobaran hasrat yang membara. "Di mana mantan kekasihmu pernah menyentuhmu?" tanya Stevan tanpa nada marah apalagi menghakimi. Keyla menoleh ke arah tembok untuk sesaat kemudian menjawab pertanyaan suaminya.


"Di sini." Keyla menunjuk ke arah dadanya dan Stevan pun langsung mencumbu Keyla di bagian itu. Sepanjang pagi, mereka terus bergumul di atas tempat tidur dan Stevan terus memuaskan hasratnya dan menghajar Keyla tanpa ampun.


"Aku akan membuatmu hanya ingat padaku, Key," batin Stevan ketika mengeluarkan maghma miliknya untuk kesekian kali. Tubuhnya gemetar bersamaan dengan Keyla, dan istrinya itu benar-benar tak mampu bergerak lagi selain dadanya yang kemerahan naik turun. 


"Kamu yang terbaik!" ucap Keyla begitu Stevan menjatuhkan diri di sampingnya. Keyla tak ingat entah berapa kali suaminya itu membuat dirinya melayang kernakan. Dia bahkan tak mampu lagi menggerakkan kakinya. Suaminya begitu luar biasa dan amat lihai membuat Keyla dimabuk kepayang. 



"Setelah ini, tak akan ada yang mampu memuaskan mu selain aku," balas Stevan melumat lagi bibir istrinya yang sedikit bengkak. Dan kejantanannya yang sempat layu beberapa detik, kini segar dan bermekaran kembali. 


"Hei ... kita sudah melakukannya sepanjang pagi. Lihatlah, hari hampir siang."


Stevan pun menghentikan bibirnya kemudia bangkit dan memposisikan tubuhnya di atas Keyla. "Aku tidak peduli, sayang. Aku masih lapar dan ingin memakanmu," bisik Stevan dengan kerlingan mata yang nakal sekaligus menggoda.


***


Tempat pertama yang Keyla dan Stevan kunjungi untuk berbulan madu adalah Singapore. Tujuan pertama  sepasang pengantin baru itu adalah Jewel yang merupakan air terjun dan ada di dalam bandara Changi serta dikelilingi pepohonan. Persis menyerupai air terjun sungguhan yang berada di pegunungan.



"Apa kamu menyukainya?" tanya Keyla pada Stevan yang sedang duduk sambil melihatnya bermain air. Lelaki hanya tersenyum. Keyla tahu suaminya itu tidak menyukai keramaian dan lebih suka menghabiskan waktu di dalam rumah, tapi Keyla ingin sekali menikmati bulan madu dengan mengunjungi beberapa negara impiannya. Keyla ingin sekali mencicipi sekaligus penasaran makanan apa saja yang ada di negara yang mereka kunjungi.



"Apa kamu bosan?" Keyla meletakkan bokongnya di samping suaminya. Ia menghirup udara dalam-dalam kemudian mengeluarkannya perlahan dan rasanya sejuk seperti di hutan sungguhan.


"Tidak selama ada kamu." Stevan membalas lalu mengecup bibir Keyla dengan lembut dan mesra.



"Hey!" Keyla memekik. "Bagaimana jika orang lain memperhatikan?"



"Tenang saja. Semua orang sibuk dengan urusan masing-masing," bisiknya seakan tahu apa yang ingin dikatakan oleh . Ya, sebagai negara maju, orang Singapore cukup cuek dengan apa yang terjadi di sekitarnya. Mereka sibuk dengan urusan masing-masing dan tak ada waktu untuk bergosip apalagi mengurusi dua insan yang sedang dimabuk cinta. Buat mereka, rumput di halaman rumah sendiri lebih hijau daripada rumput di halaman tetangga.



"Sejak kapan kamu suka menulis?" tanya Keyla penasaran dengan pekerjaan yang digeluti oleh suaminya. 



"Aku tidak ingat," jawab Stevan datar.



"Kenapa kamu menyembunyikan identitasmu?"



"Karena aku takut para wanita akan mengejarku," balasnya dengan bangga dan sorot mata yang pongah namun menggoda.



Ciiihhh! Keyla melirik ke arah Stevan dan matanya menyipi. Ia berpura-pura risih melihat suaminya yang terlalu percaya diri. Ya ... meskipun itu benar, sih. Karena suaminya itu memang tampan dan gadis-gadis pasti akan dengan senang hati menyerahkan tubuhnya ke dalam pelukan seorang Stevan Antonius.



"Aku tidak pernah tahu kalau kamu adalah pria yang suka menyombongkan diri."



"Tapi aku tahu bagaimana cara menguasaimu," balas Stevan menyunggingkan senyumnya.


"Apa kau mau kembali hotel? Aku akan mengajarimu cara bagaimana agar aku bertekuk lutut," goda Keyla dengan kerlingan mata. Dan tanpa menjawab, Stevan mengangkat tubuh Keyla dan berjalan meninggalkan Jewel dan menuju hotel. Marina Bay Sands.


"Hei! turunkan aku! Lihatlah orang-orang sedang memperhatikan kita!"


Stevan hanya tersenyum dan terus melangkah. Dia tak peduli meski semua mata tertuju pada mereka. Yang jelas, ia ingin menunjukkan pada dunia bahwa Keyla adalah istrinya. Satu-satunya perempuan yang mengisi hatinya.



***


"Honey, kamu sering bepergian ke luar negeri?" tanya Keyla pada suaminya yang sedang membuka pintu kamar hotel.


"Tidak. Hanya sesekali saja," balas Stevan yang langsung merebahkan dirinya di tempat tidur dengan memejamkan mata begitu masuk ke dalam kamar.



"Berapa anak yang ingin kamu miliki?" tanya Keyla sembari meletakkan tubuhnya di samping Stevan lalu memiringkan tubuh ke kiri agar ia bisa memeluk tubuh suaminya.



 "Sebanyak mungkin. Dua belas, mungkin." Matanya masih terpejam saat menjawab.


"Oh, no! Itu terlalu banyak. Kalau begitu, kamu saja yang melahirkan!"


"Kau yang melahirkan, aku yang menghamili. Bagaimana?"


"Enak saja!" Keyla mencubit dada Stevan dengan gemas. Enak saja ingin punya anak dua belas tapi hanya menyalurkan sperma. Dasar laki-laki!


"Key ...."



"Hmmmm?"



"Kau begitu menyukai pekerjaanmu?"



"Tentu saja. Meskipun uang yang dihasilkan tidak besar, aku saaaangat menyukainya!"



"Apa kau ingin membuka sebuah restoran?" tanya Stevan lagi dengan serius. 



"Tidak. Aku tidak mau terlalu sibuk. Aku ingin menjadi ibu sekaligus istri yang siap siaga bagi suami dan anak-anak kita nanti," jawab Keyla antusias dan penuh semangat.


Stevan mengecup kepala Keyla dan ia pun mengeratkan pelukanya. Terus terang saja, sejak kecil Keyla memimpikan memiliki keluarga yang bahagia dan rumah yang seperti kastil. Dia ingin membesarkan anak-anaknya di sana dan mengajari bagaimana caranya menikmati hidup yang singkat ini.



"Bagaimana jika kamu membuka identitasmu ke publik? Apakah itu mungkin? Dan kamu muncul di channelku." Keyla balik bertanya dan ide itu muncul begitu saja. Untuk menaikkan subscribers, terkadang creator harus membuat dobrakan yang baru agar menarik minat orang-orang. Subscribers naik, itu berarti kesempatan Keyla untuk mendapatkan pundi-pundi rupiah lebih banyak.



"Aku akan membicarakan dengan Anna. Apa kau menginginkannya?" 


Keyla mengangguk semangat. Dan tersenyum senang membayangkan channelku akan ramai dikunjungi dan menjadi trending topic karena penulis ternama Stevan A muncul di YouTube miliknya.



"Tapi ...." Keyla berkata ragu. Ia tak yakin untuk mengatakannya atau tidak.


"Tapi apa?" tanya Stevan sambil mengelus wajah istrinya. Ia meyakinkan Keyla untuk mengatakan apa yang ada di pikirannya. "Katakan saja. Aku akan mendengarkannya."


" ... aku tidak suka melihatmu bersama Anna," ucap Keyla dengan nada manja dan kesenangannya hilang seketika saat mendengar nama wanita itu. Anna seperti duri dalam daging bagi Keyla. Untuk alasan yang tak pernah tahu, entah kenapa dia sangat membenci wanita itu.



"Apa kau cemburu?" Stevan langsung mendorong tubuh Keyla hingga telentang dan tubuh kekar lelaki itu berada di atasnya. 



Bibir Keyla langsung monyong lima senti. "Memangnya tidak boleh aku cemburu? Sudah berapa lama kamu berteman dengannya? Apa kamu pernah memiliki rasa padanya? Apa kamu menyukai tubuhnya yang seksi? Apa kamu pernah melihat ke arah bongkahan dadanya yang sangat besar dan seperti operasi plastik itu? Pernah, kan? Pasti pernah! Bagaimanapun juga kamu adalah seorang la ...." Belum sempat Keyla mengucapkan rentetan pertanyaannya, bibir Stevan telah berada di mulutnya. Sedangkan, dengan ganas lidah Stevan sudah bermain di dalam mulut Keyla dengan liarnya. Terpaksa, Keyla menyimpan kata-katanya di dalam dada dan meladeni suaminya itu.


Keyla meremas rambut Stevan dan melingkarkan kakinya di pinggul pria itu. 


Stevan melepaskan ciumannya dan berbisik di telinga Keyla. "Apa kau sudah tak sabar?"


"Kalau iya, kenapa?" tantang Keyla mendorong tubuh suaminya dan membuat pria itu telentang di ranjang yang empuk. 


Stevan tersenyum dengan cara menyunggingkan bibirnya. Istrinya nampak cantik sekaligus menggemaskan saat seperti itu. Apalagi, ketika Keyla melepaskan pakaiannya satu persatu dan melemparkannya ke lantai.


"Lihat saja, aku akan membuatmu bertekuk lutut di kakiku!" ucap Keyla dengan sorot mata yang seksi dengan dua tangan yang mengelus bongkahan dadanya sendiri. Melihat pemandangan itu, sesuatu di balik celana Stevan makin mendesak untuk keluar. Celananya terasa sesak dan dia sangat penasaran dengan apa yang ingin dilakukan oleh istrinya.


Tanpa ragu, Keyla pun mulai mencumbu suaminya. Melumat bibirnya yang tipis kemudian turun ke bagian leher dan dada. Keyla melepaskan pakaian Stevan satu demi termasuk celananya. Lidahnya menari-nari di setiap sudut-sudur sensitif Stevan.


Gaya Keyla begitu seksi. Tubuhnya sempurna dan tak pernah bosan melihatnya. Stevan yang tadinya hanya melihat aksi Keyla pun tak tahan untuk tidak menyentuh kulit istrinya yang lembut dan kenyal.


"Permainanmu berhenti di sini, sayang," ucap Stevan yang langsung meraih bongkahan bokong di hadapannya. Keyla yang sejak tadi sedang memanjakan milik suaminya pun tersentak ketika lidah Stevan telah menari-nari di atas miliknya yang lembab. 


"Mmhhh. Steve?" Keyla berhenti mengulum sesuatu yang ada di hadapannya karena rasa nikmat. Lidah lelaki itu sesekali menjentik dan menghisap area paling krusial.


"Hmmmm? Teruskan permainanmu, sayang. Biarkan aku yangmengurus di bagian sini," balas Stevan menyesap milik Keyla kuat-kuat. Tubuhnya bergetar hebat dan bibirnya tak berhenti meracau dan memanggil nama suaminya berkali-kali.


***


"Apa kamu pernah mencoba ini sebelumya?" tanya Keyla pada Stevan. Mereka sedang makan malam di sebuah kedai mi rebus di salah satu kopitiam yang ada di sudut Singapore. Meskipun namanya mi rebus, rasa, teksture dan tampilannya sangat berbeda dengan mi rebus yang ada di Indonesia.


 Kuahnya kental dan kekuningan, rasanya terlalu manis di lidah Keyla dan mi nya sendiri memakai mi hokien dan ada taburan cabe hijau mentah, tahu, udang rebus, serta telur rebus dan taburan bawang goreng. Keyla tidak bilang rasanya buruk, hanya saja kurang cocok di lidahnya dan dia yakin rasa ini akan asing di lidah kebanyakan orang Indonesia.



Stevan menggeleng. "Tidak." Wajahnya terlihat enggan, kesal, dan banyak pikiran. Terlihat sekali dia menyembunyikan sesuatu. Entah apa yang ada di kepala pria itu.


"Apa kamu ingin mencoba makanan lain setelah ini?" Keyla bertanya sehalus mungkin. Menekan rasa kekesalan di dalam dirinya dan Stevan hanya menggeleng lagi.


'Apakah ia sedang bisu sehingga tak bisa bicara? Bikin kesal saja!'



Keyla tahu suaminya itu tidak suka makanan yang tidak sehat. Maksudnya, makanan yang mengandung karbohidrat. Ia lebih suka makan sayur atau ayam rebus. Toh, di lidahnya semua makanan terasa sama saja. Hambar. Tapi, tak ada salahnya mencoba makanan lain yang belum pernah ia makan sebelumnya. Iya, kan?



Setelah selesai makan malam, sepasang pengantin baru itu kembali ke hotel.


"Tidurlah," kata Stevan yang terlihat kesal sembari merebahkan dirinya di sofa. Keyla hanya mendengus.


"Apa bedanya bulan madu di luar negeri dan di rumah? Seharusnya saat ini kita berkeliling!" protes Keyla dalam hati. Baru saja beberapa jam lalu mereka menikmati permainan ranjang yang begitu menggairahkan dan menantang. Lalu kini? Kejadian itu seperti lenyap begitu saja.



Dengan kesal, Keyla mengganti pakaiannya lalu memilih menyembunyikan tubuhnya dibalik selimut sambil berselancar di media sosial.



"Aku harus kembali ke Indonesia," celetuk Stevan tiba-tiba. Sontak, wanita yang baru saja mengunggah status di Facebook itu bangkit dari posisi tengkurap dan melihat ke arah Stevan yang berdiri tegap di samping tempat tidur.



"Kamu tidak bercanda, kan?!"



"Ada urusan mendadak, Key," jawabnya singkat dan mulai mengemasi barangnya. Wajahnya memang terlihat gelisah sejak tadi. Tapi, tidak bisakah bercerita pada istrinya? Apa alasan mendadak pulang begini? Apakah urusan itu lebih penting daripada acara bulan madu mereka? Trip mereka masih panjang! Keliling Asia, Eropa, bahkan Timur Tengah!



"Come on, Steve! Apakah urusan itu lebih penting daripada bulan madu kita? Paling tidak, katakan padaku kenapa kamu harus pulang. Aku ingin kejelasan. Sejak tadi mukamu masam dan tidak nyambung kalau diajak bicara!"



"Kau bisa tinggal jika ingin. Aku akan kembali kalau urusannya selesai."



"Bukan itu yang aku maksud. Ceritakan padaku apa yang sebenarnya terjadi! Bukan masalah aku tinggal atau tidak!"



"Anna di rumah sakit. Dia membutuhkanku sekarang."



'Anna? Sebenarnya siapa sih Anna? Sebegitu pentingnyakah dia? Apakah ada hal yang tidak aku ketahui? Ya, semua ini memang aneh sejak awal. Banyak hal yang tidak kuketahui. Banyak misteri dalam pernikahan ini.'



"Apakah wanita itu lebih berharga daripada istrimu, Steve?" Suara Keyla tiba-tiba menjadi pelan. Tak memiliki kekuatan lagi untuk berteriak. Dan melihat suaminya begitu khawatir terhadap perempuan lain, membuat hatinya luluh lantak. Hancur menjadi kepingan-kepingan kecil yang tak mungkin bisa disambungkan kembali.



Stevan Antonius duduk di samping istrinya kemudian berkata,"Key, ayo kita pulang." Tangannya berusaha menyentuh pundak Keyla namun dengan cepat ia mundur ke belakang. Keyla sedang tak ingin disentuh suaminya. Hatinya remuk redam dan amarahnya sedang memuncak. Terlebih lagi, dia tidak ingin terbujuk oleh rayu Stevan.



"Pergilah. Aku akan tetap tinggal." Keyla membalasnya dengan suara gemetar dan air mata yang telah mengambang di pelupuk mata.


"Oke. Aku akan segera kembali kalau Anna sudah sembuh," balas Stevan sebelum suara koper ditarik terdengar sangat menyakitkan bagi Keyla.


'Apa kamu mencintai Anna, Steve? Jika iya, kenapa tidak menikahinya saja? Apakah aku ini hanya seekor lalat pengganggu bagi kalian? Stevan, apa artinya aku buatmu?'


 Keyla menututupi tubuhnya dengan selimut kain katun yang lembut. Air matanya membanjir dengan hati yang terus bertanya-tanya.


Apakah selama ini cinta itu hanya sebuah kebohongan? Apakah pernikahan ini hanya sebuah tipu daya? Keyla sungguh merasa tak mengerti apa maksudnya sikap dan tindakan suaminya. Anna? Sebegitu penting kah perempuan itu hingga harus menelantarkan dan meninggalkan istrinya? Cinta? Kemana perginya cinta yang beberapa jam lalu digaungkan oleh Stevan? Hilang ditelan bumi kah? Atau, sesungguhnya cinta tak pernah ada.


'Ma, Pa, apakah hal ini juga termasuk rencana kalian?'


* Bersambung. 


Novel ini akan segera tamat dan di episode berikutnya, alurnya bakalan maju mundur (flashback) cantik.

1 Comments

  1. duuuh... siapa anna sebenarnya ya? apa hubungannya dgn stevan?

    ReplyDelete