Suamiku Dingin (Bab 17)

 

Novel online

Langit begitu cerah hari ini. Kebiruan dan diiringi awan yang berarak mengikuti ke mana angin hendak berhembus. Quebec telah memasuki musim gugur. Dedaunan yang menguning mulai jatuh perlahan satu demi satu. Dan di sana, di bawah pohon yang daunnya pasrah tersapu angin ada Awan yang sedang bermain dengan kelinci putih kesayangannya.



"Tidak ikut bermain, Key?" James memberikan sekaleng minuman dingin padaku. Aku menggeleng dan pria itu hanya tersenyum. Kami duduk di anak tangga sambil melihat Awan yang berlari ke sana ke mari dengan teriakan-teriakan gembira. Suara cemprengnya seperti mentari di atas sana. Memberikan cahaya pada kegelapan. Menghangatkan jiwa-jiwa yang dingin serta kesepian.



"Apa kamu yakin tidak ingin pulang ke Indonesia, Key?" James memulai pembicaraan karena dari tadi kami hanya berdiam tanpa sepatah kata. Dan hal itu, sudah lumrah diantara kami. James yang tak.banyak bicara, dan aku yang telah kehilangan hasrat untuk bicara sejak lama. Tak ada lagi Keyla yang ceria dan cerewet. Yang ada hanyalah Keyla yang penuh luka di dada.



"Apa kamu sedang mengusirku, James?" Mataku melirik ke arahnya. Pura-pura marah.



"Oh, bukan begitu, Darling. Aku hanya khawatir pada orangtuamu. Mereka pergi dengan rasa sedih."



Mama dan Papa memang sedih, kecewa, sekaligus marah pada diri mereka sendiri. Seandainya mereka tidak menikahkanku dengan Stevan Antonius, aku tak akan lari sampai sejauh ini. Aku masih duduk di pangkuan mereka dan menjadi bulan-bulanan kecerewetan Mama.



Setelah lima tahun kami tidak bertemu akhirnya bulan lalu aku memberitahukan mereka bahwa aku tinggal di Kanada melalui surat yang kukirim. Aku memang sengaja tidak menelepon mereka atau memberitahukan di mana aku tinggal. Hingga pada akhirnya James menyuruhku untuk menemui mereka. Tapi aku tak ingin pulang ke Indonesia. Aku tidak ingin menghirup udara yang sama dengan orang-orang yang telah menyakitiku. Aku tidak ingin berbagi oksigen dengan orang yang telah mencampakanku. Itu terlalu menyakitkan dan menyesakkan dada.



Mama dan Papa langsung terbang ke Kanada begitu mengetahui alamatku. James menelepon mereka bahwa dia akan menjemput di bandara.



"Keyla!!!" teriak mama begitu turun dari mobil dan melihatku sedang menggendong Awan. Ia berlari ke arahku dan air matanya mulai menguar di udara.



"Maafkan Mama, sayang ... maafkan Mama." Tangisnya pecah sambil berlutut di kakiku. "Ma ...." Tak sempat aku berkata-kata tangisku sudah mendorong untuk keluar. Pipiku basah. Aku membungkuk, memeluk Mama dengan tangan kananku. Kami sama-sama melepaskan kerinduan yang selama ini terpendam.



"Mama sangat merindukanmu." Kedua tangannya yang kini kurus membelai kedua pipiku. Wajahnya tak secerah dulu lagi. Kecantikannya hanya tinggal sisa. Pucat tanpa polesan apapun. Rambutnya yang memutih pun dibiarkannya begitu saja. Ia seperti tak peduli dengan penampipannya lagi. Mama benar-benar berubah menjadi seorang nenek.



"Keyla juga, Ma. Maafin Keyla ya, Ma."



"Tidak sayang. Mama dan Papa yang salah. Iya, kan Pa? Lihat, Pa ... ini Keyla kita. Putri kita satu-satunya. Dan ini? Awan kah? Cucu lelakiku?" Mama langsung mengambil Awan dari gendonganku. Diciuminya cucunya yang selama ini ia rindukan. Awan diam saja dan dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi. Meskipun begitu ia sama sekali tidak menangis atau menolak. Aku yakin, dia pasti masih mengingat wajah oma dan opa yang sering kuperlihatkan melalui selembar foto.



"Lihat, Pa. Cucu kita." Papa yang sejak tadi menahan haru akhirnya memeluk Mama dan Awan. Diusapnya air matanya yang tak mampu dibendung lagi. "Maafin Keyla, Pa." Aku memeluk mereka. Orang-orang yang selama ini aku rindukan.



Aku melihat James tersenyum ke arahku. Matanya yang sayu menyiratkan kebahagiaan untukku. Terima kasih James ... terima kasih untuk semua yang telah kamu berikan. Terima kasih karena telah mempertemukanku dengan Mama dan Papa. Terima kasih telah mempertemukan Awan dengan oma dan opa yang sering ia sebut-sebut dalam kesehariannya. Terima kasih karena telah mau menampungku dan mencintai orang yang terbuang sepertiku. Dan terima kasih karena berusaha menyembuhkan luka hatiku meski tak semudah itu ....



***



"Papa, give me more, please," rajuk Awan dengan mata berkaca-kaca dan bibir yang dilengkungkan ke bawah.



"No, Boy. That's enough for today."



"No, Papa. I want more. I want more!"



Terlihat Awan mulai berpura-pura menangis dan mengguling-gulingkan badannya di lantai dapur. Dan saat melihatku ia berlari ke arahku," Mama. Lihatlah Papa," katanya sambil menunjuk ke arah James yang sedang menikmati sarapannya. "Papa tidak memberikanku coklat hari ini."



"Benarkah?" tanyaku sambil membungkukkan badan dan mencubit hidungnya karena gemas.



"Mmmmm. That's not fair, Mama!" Awan mulai pandai memprotes kebijakan yang kami terapkan dalam mendidiknya.



"Baiklah kalau begitu. Mama akan menghitung berapa sisa coklat yang ada di laci dapur." Aku berpura-pura akan jalan ke dapur sedangkan James yang melihat kami berusaha menahan tawanya.



"Sepertinya Bunny memakan jatah coklat hari ini. Aku akan bersabar menunggu besok," sergah Awan menggandeng tanganku agar menjauh dari dapur. Aku dan James tertawa bersamaan. Sejak pangeran kecilku sakit gigi karena terlau banyak makan coklat, aku dan James hanya memberi jatah satu coklat untuk satu hari. Tidak boleh lebih meski Awan terus saja merengek.



"Come on, Boy! Apa kau mau extra coklat hari ini?" Awan tiba-tiba sudah berada di pundak James. "Yes, Papa!" Awan kegirangan menyambut tawaran papanya. "Ayo kita bersihkan rumah Bunny. And i will give you more chocolate!" James kemudian berlari menuju kandang Bunny yang terletak di halaman belakang. Tawa Awan terdengar begitu riang dan nyaring dari dalam rumah. Sedangkan James terlihat menikmati perannya sebagai orangtua.



Aku bertemu dengan lelaki keturunan Indonesia-Itali itu lima tahun lalu saat berada di Singapura. Dua hari setelah Stevan Antonius meninggalkan hotel, aku menuju China Town dan mencari penginapan yang lebih murah di sana.



Ketika itu, kupikir Stevan Antonius akan kembali untuk menjemputku. Tetapi apa yang kuharapkan tidak terjadi. Ia hanya meninggalkan kartu kreditnya di resepsionis. Dan saat aku check-out aku meninggalkan kartu kredit itu di sana. Aku memang tak memiliki banyak uang tapi bagaimana dengan harga diriku jika memakai uang dari pria yang telah membuangku?



Saat makan siang, tidak sengaja aku bertemu dengan James yang sedang mengambil foto di kawasan China Town. "Indonesia?" Dia bertanya padaku yang sedang menyantap semangkuk mi siam yang rasanya cukup asing di lidah. Bihun putih, udang rebus, tahu goreng, telur, dan disiram kuah berwarna kecoklatan yang rasanya asam.



"Iya." Aku menjawab tanpa ragu. Dari wajahku memang terlihat Indonesia sekali. Jadi, tak mungkin orang menyangka aku dari Eropa. Lagipula ia terlihat melirik buku berbahasa Indonesia yang kubaca sambil menikmati makanan di depanku.



"James. Ibuku berasal dari Itali. Ayahku orang Indonesia. Papua," katanya sambil mengulurkan tangannya yang bertato. Pantas saja kulitnya terlihat sedikit gelap meski wajahnya kebule-bulean.



"Keyla." Aku menyambut uluran tangan itu. Meskipun dia orang asing entah kenapa aku merasa dia tak memiliki niat jahat dan tanpa sadar cerita tentang kehidupan yang baru aku alami meluncur begitu saja dari bibirku.



"Apa rencanamu sekarang?" James bertanya padaku. Dan aku belum memiliki jawaban yang pasti. Aku masih memikirkan apa yang akan kulakukan selanjutnya.



"Apa kamu mau pulang ke Indonesia?" Aku menggeleng. Aku tak ingin kembali ke Indonesia. Setidaknya untuk sekarang.



"Bagaimana dengan orangtuamu? Mereka pasti mengkhawatirkanmu."



"Aku sudah menghubungi mereka dan kubilang sebulan sekali akan berkirim surat untuk memberitahukan keadaanku."



James menganggukkan kepalanya. Tanda ia mengerti dengan keputusanku dan tak ingin terlalu banyak berkomentar. "Apa kau pernah ke Kanada? Aku tinggal di sana. Apa kau mau melihat-lihat seperti apa musim gugur?"



Kanada? Siapa yang tak ingin ke sana? Lagipula, aku ingin mengunjungi negara itu sudah sejak lama dan Kanada ada di list honeymoonku bersama Stevan meski kini semua itu rasanya mustahil untuk terwujud.



"Tidak." Aku menggeleng meskipun saat ingin.



"Come on, Key. Kamu bisa menghilangkan stressmu di sana." Aku menghitung-hitung berapa biaya yang harus kukeluarkan di dalam kepalu. Dan itu sangat banyak. Aku tak memiliki cukup uang.



"I don't have enough money, James." Aku berterus terang padanya. Dan tidak terduga, pria yang mengenakan t-shirt warna biru tua dengan kacamata hitam yang menggantung di lehernya menawariku tiket dan tempat tinggal yang tak bisa kutolak. Bukankah aku ingin menjauh dari orang yang memberikan rasa sakit padaku? Meskipun ini terdengar egois, aku yakin dengan keputusanku. Seperti Stevan yang yakin meninggalkanku sendirian di negara asing ini demi seorang wanita bernama Anna.



Ya ... Pertemuan singkat itulah yang membawaku ke Quebec, Canada. Dan di sinilah Awan kecilku dilahirkan.


*Bersambung ....


Kira², kalau teman² mengalami hal seperti Keyla, apa yang akan kalian lakukan?



1 Comments

  1. duuuuuh... jahatnya stevan.... jadi dia menikahi keyla hanya sekedar ingin yahu rasanya meniduri keyla saya ya? savage!!!

    ReplyDelete