Suamiku Dingin (Bab 18)


Novel online



 "Jadi berangkat ke Afrika, James?" tanyaku pada James.



Kami sedang makan malam. Nasi goreng sayur kesukaan Awan. "Iya. Aku berangkat besok." James meneruskan mengunyah makanan di mulutnya sementara Awan langsung berhenti menyendoki nasi di piringnya.


"You can't go to any where, Papa!" protesnya lalu turun dari kursi dan mendekati Papanya dan memasang wajah melas. Matanya berkaca-kaca dan bersiap untuk meledakkan tangisnya.



Sejak masih bayi, Awan memang sangat dekat dengan James. Meskipun ia bukan ayah biologisnya tetapi pria yang kini berusia 40 tahun itu mencintai Awan melebihi ayah kandungnya sendiri.



Saat itu, ketika usia kehamilanku memasuki empat minggu dan tetangga menemukanku pingsan di halaman rumah, barulah aku tahu kalau ada jabang bayi di rahimku. "Selamat Key. Kamu sedang hamil," ujar Erika. Dia asli orang Indonesia yang memiliki suami orang Kanada. Erika sudah lama bertetangga dengan James namun jarang bertemu karena James jarang ada di rumah.



Sebagai seorang fotografer profofesional sebuah majalah satwa yang cukup terkenal seantero jagat raya, ia sering bepergian ke luar negeri. Dan sejak aku tinggal di rumahnya, akulah yang menjaga rumah itu.



"Aku sudah memberi tahu suamimu kalau kau pingsan. Tapi dia baru bisa pulang minggu depan. Dokter bilang kau tidak boleh kelelahan."



Suami? Pasti James yang dimaksud oleh Erika. Sejak hari pertama tinggal di sini, ia memamg memperkenalkanku sebagai istrinya. Katanya, agar aku lebih nyaman tinggal di Quebec karena bagaimanapun juga aku masih orang Indonesia yang dikenal dengan adat ketimuran. Tetangga sekitar pun percaya begitu saja dan tak ada yang berusaha mencari tahu kebenarannya karena mereka sibuk dengan urusan masing-masing. Di sini, tak ada yang suka dengan acara gosip dan saling menghormati privasi satu sama lain. Dan meskipun James memperkenalkanku sebagai istrinya, ia sangat menghormatiku. Ia tak pernah menyentuhku atau memandang dengan sorot mata negatif. Dan semua itu berlangsung hingga sekarang.



Pernah sekali Awan bertanya kenapa aku tidak tidur dengan Papanya," Papa kalau tidur ngorok. Jadi, Mama dan Papa kamarnya terpisah." Awan mengangguk mengerti dan tak pernah lagi bertanya sejak saat itu.



"Sini ... sini ... anaknya Papa. Mau dibelikan apa kalau Papa pulang?" James mengangkat Awan ke pangkuannya. Dan saat mendengar kata mainan, Awan jadi teralihkan.


 "Pesawat ... air plane ... air plane ... wuuuuz," jawabnya sambil memperagakan menerbangkan pesawat.



"James, aku harap kamu tidak berniat membelikannya mainan lagi. Lihatlah ...." Jari telunjukku menunjuk ke arah keranjang mainan. " ... tumpukan itu lama-lama akan sebesar gunung. Kamu terlalu memanjakan Awan." Lanjutku. Menggerutu karena James terlalu memanjakan Awan dan itu tidak baik untuknya.



"Apa kau mendengar itu, my boy?"



"Don't listen Mama, Papa! You know what?" jawabnya terbata-bata. "Mama selalu marah if you are not at home," lanjut Awan.



"Really?" Ayahnya pura-pura tidak tahu dan kaget.



"Yah. But i love Mama," lanjut Awat mengacungkan dua jempolnya.



James mencium kening pangeran kecilnya. Rasanya apapun yang ia miliki ingin diberikan pada Awan. "Papa love Mommy, too," sahut James sambil melihat ke arahku dan mata kami saling bertemu.



"Key ...." James memulai pembicaraan tatkala Awan mulai terlelap dan barangkali sedang bermimpi bermain dengan Bunny karena sejak tadi ia tersenyum sambil mengucapkan nama kelinci yang sudah dipeliharanya selama dua bulan. James yang membelikannya, katanya, agar Awan berlatih cara bertanggung jawab. Dan yang benar saja, Awan lah yang memberikan Bunny makan dan minum serta sesekali membantu membersihkan kandang.



"Maukah kamu menikah denganku? Ini permintaanku yang ke 151. Apakah jawabanmu tetap sama?" Seperti biasa, ia selalu berbicara terus terang dan langsung pada intinya.



James, lelaki berhati malaikat itu memang sering memintaku menjadi istrinya. Namun aku belum siap untuk menikah lagi. "James," kataku sehalus mungkin agar Awan tidak terbangun. "Bisakah kamu memberiku waktu?"



"Apakah itu artinya aku memiliki kesempatan?" Wajahnya terlihat sumringah. Apakah ia berpikir kali ini aku akan menjawab iya? Karena biasanya aku akan menjawab langsung dengan kata 'tidak'.



James adalah laki-laki yang sempurna. Ia tak hanya tampan, tetapi perangainya pun sangat lembut, berwibawa, dan bertanggung jawab. Selama empat tahun ini, ia telah menjadi sosok ayah yang baik untuk Awan. Tak hanya dihujani dengan hadiah, pangeran kecilku itu juga diberikan cinta yang tak terbatas. Dan aku mulai berpikir, apakah selama ini sikapku terlalu kejam? Bagaimanapun juga, James adalah lelaki normal dan membutuhkan seorang wanita yang menyambut dan melayani di ranjang. Sedangkan aku? Tak kupingkiri ada rasa kesepian di dalam hatiku. Dan tubuh yang minta dihangatkan saat musim dingin tiba. Aku ingin membuka hati, meskipun itu hanya sebagai balas budi.


***


"Jika ada apa-apa, segera hubungi aku. Okay?" ucap James sebelum masuk kedalam mobil bersama rekan-rekannya. Aku mengangguk kemudian ia memeluk dan mengecup Awan yang ada di gendonganku.


 "Jaga Mama ya, jagoan!"



"Yes, Papa. Don't forget my air plane."



Mendengar jawaban Awan aku dan James tertawa bersamaan karena dari semalam yang dia ingat hanya mainan yang dijanjikan oleh Papanya. "Key, aku menunggu jawabanmu," katanya sebelum tubuh besar dan kecoklatan itu berbalik.



Apa lagi yang aku tunggu? Bukankah pria itu sudah sangat baik dan dia sangat mencintai Awan. Masih kurang sempurnakah dia sebagai seorang suami sekaligus ayah?



Suara ponselku berdering. Cepat-cepat aku mengambilnya di atas meja,"Halo, Mama? Apa kabar?"



"Mama rindu," balasnya dengan sesenggukan.



"Omaaa. Opaaaa. Omaaaaa," sahut Awan tepat didepan telingaku. Kutekan mode loudspeaker dan kutaruh ponsel di meja agar Awan leluasa berceloteh.


"Awan. Oma kangen!"



"Miss you, Oma, Opa."



"Awaaan. Ini Opa!" Terdengar suara Papa ikut nimbrung.



"Opa Opa Opa." Awan kegirangan mendengar suara oma dan opa. Meskipun belum lama bertemu, mereka sudah sangat akrab. Mungkin itulah yang dinamakan ikatan darah. Mau sejauh apapun dan selama apapun berpisah, hubungan itu tak bisa putus begitu saja. Kata pepatah, darah lebih kental daripada air. Benarkah begitu? Tiba-tiba bayanganku tertuju pada ayah biologis Awan. Stevan Antonius. Bagaimanakah kabarnya selama ini? Apa ia mencariku? Apakah dia sudah menikah lagi? Apakah dia masih... mencintaiku?



"Mama dan Papa sehat?" Aku mencoba menepis apa yang barusan aku pikirkan. Mama dan Papa pun tak pernah menyinggungnya lagi. Jadi, untuk apa aku mengingatnya? Awan tak perlu Papa yang lain. Di hanya butuh James. Sosok Ayah yang dikenalnya sejak masih di dalam perut.



"Tentu, sayang. Tentu. Kami harus sehat karena ingin melihatmu lagi."



"My prince, apakah Bunny sudah diberi makan?" Karena ingat ia belum memberi makan Bunny, Awan berlari menuju kulkas dan mengambil beberapa sayuran tanpa menjawab. Aku sengaja agar ia tak mendengar percakapanku dengan omanya. Akuu tak ingin Awan mempertanyakan apa yang didengarnya.



"Ma, Key akan menikah dengan James." Mama terdiam beberpa saat. "Baiklah sayang jika itu keinginanmu. Tapi, bagaimana dengan surat ceraimu?"



Aku baru ingat jika statusku masih sebagai istri orang. "Aku akan membicarakan dengan James, Ma."



"Baiklah, Key. Apapun keputusanmu kali ini Mama akan mengikutinya. Mama ingin kamu dan Awan bahagia, sayang."



Setelah mengobrol cukup lama, Mama mematikan sambungan telepon dan aku mencari-cari Awan yang ternyata masih bersama Bunny.



"Prince, apa itu? Apa yang ada dimulutmu?" Dari jauh Awan terlihat sedang mengunyah sesuatu. Aku tak ingat memberikan makanan padanya.



"Hai, Mama," sapanya mengacuhkanku. Ia lebih memilih mengelus-elus bulu Bunny.



"Hai, Key! Aku memberikan nungget wortel pada Awan!" teriak Erina dari dapurnya yang terbuka. Rumah kami hanya dibatasi pagar kayu setinggi lutut orang dewasa, jadi kami masih bisa saling bertegur sapa satu sama lain.



"Terima kasih, Erika. Kau terlihat sibuk sekali," sahutku tak kalah keras.



"Ya, besok akan ada tamu. Teman lamaku dari Indonesia akan datang."



"Benarkah? Aku sangat senang mendengarnya. Apa kau perlu bantuan?"



"Tentu saja! Dengan senang hati."



Aku melompat pagar menuju dapur Erika. Awan tengah sibuk dan dia tak ingin diganggu. Untunglah Bunny kelinci yang penurut. Ya, menurut pada Awan dan James. Tidak padaku. Karena sejak awal aku menentang kedatangannya. Aku tidak suka memelihara binatang di rumah karena merawatnya butuh tenaga ekstra. Belum lagi saat membersihkan kandangnya. Meskipun pada akhirnya tetap saja aku yang membersihkan. Dan karena ketidaksukaanku itulah Bunny juga tak menyukaiku. Itu satu-satunya alasan yang relevan. Apa yang kita beri, itu yang kita terima.



"Apakah ini perlu dipotong?" Aku menunjuk arah wortel yang telah dikupas.



"Iya, Key. Aku akan membuat acar mentimun. Suamiku sangat menyukainya jika dimakan dengan nasi goreng."



"Aku jadi penasaran siapa yang akan datang. Karena tidak biasanya kau memasak sebanyak ini. Bahkan di pesta ulang tahun suamimu."



Hahaha ... Erika tertawa lepas sambil memotong timun, "Kamu membuatku malu, Key. Sebenarnya kami berteman sejak masih kuliah, lalu bekerja seatap. Aku tidak tahu apa makanan kesukaannya dan setiap kali aku menanyainya dia bilang terserah. Itu sebabnya aku menyiapkan sebanyak ini. Jadi dia punya banyak pilihan untuk dimakan." Dan yang benar saja. Nugget yang sebagian telah digoreng sudah siap untuk dikemas. Beberapa jenis sayuran salad, acar, telur balado, rendang ayam, setoples krupuk, dan entah masih ada apa lagi di box makanan yang bertumpuk di atas meja.



Aku melanjutnya memotong wortel dan kulihat Awan menerobos melalui sela-sela pagar yang bisa dilewati tubuhnya.



"Aunty, i want more ...," katanya menengadahkan tangan pada Erika. Dan Erika pun mengambil beberapa buah nugget wortel yang masih hangat.



"Prince, cucilah tanganmu dahulu." Ia lalu melihat ke sekeliling, mencari air untuk mencuci tangannya. Dan dia menemukan ember berisi air yang biasa digunakan Erika untuk menyirami tanamannya.


"Sudah." Awan mengangkat kedua tangannya yang basah sebagai bukti ia telah cuci tangan meskipun tak menjamin kebersihannya. Ia lalu duduk di kursi dan menikmati potong demi potong makanan di depannya.


"Apa kau menyukainya, Boy?" tanya Erika sambil mencium rambut Awan yang coklat berkilaun. Erika belum memiliki anak diusia pernikahannya yang ke sepuluh tahun, itu sebabnya ia sangat dekat dengan Awan dan selalu memberinya makanan.


"Mmmmmm." Awan mengangguk.



"Apa suamimu akan pulang malam ini?"



"Tidak, Key. Dia sedang ada urusan kantor. Mungkin seminggu. Tapi aku sudah bilang kalau temanku akan menginap. Bagaimna dengan James?"



"Ia akan pulang minggu depan. Seperti yang kamu tahu dia jarang ada di rumah."



"Ya. Aku bersyukur James memiliki istri. Jadi ada yang menjaga rumah dan tak perlu takut lagi jika kebetulan aku sedang sendiri di rumah. Aku sering membayangkan ada hantu di rumahmu saat itu," cerita Erika diakhiri dengan tawa kengerian.



"Erika, tidakkah kamu tahu aku di rumah sendirian malam ini? Kenapa membicarakan hantu?" Aku bergidik ngeri sekaligus penasaran bagaimanakah penampakan hantu Kanada? Apakah ada pocong, genderuwo, kuntilanak, atau tuyul? Tidak ... tidak! Cepat-cepat aku mengusir pertanyaan itu dari kepalaku.



"Apa kamu takut, Key?" goda Erika yang tak kalah takutnya denganku.



"Tentu saja! Lihatlah bulu-buluku." Kuperlihatkan tanganku pada Erika.



"Oh, tidak! Bulu kudukku merinding, Key. Tidak seharusnya kita membahas soal itu!" Erika terlihat menyesal karena memulai pembicaraan soal hantu.



"Lebih baik kita selesaikan masakanmu dulu," usulku agar kami cepat-cepat masuk ke dalam rumah. Udara di luar tiba-tiba menjadi beku dan terkesan ada yang memperhatikan kami. Brrrrrrrr

Post a comment

1 Comments

  1. hah?! tamu dari Indonesia? jangan jangan dia steve????

    oh nooooo!!!

    ReplyDelete
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)