Suamiku Dingin (Bab 19)

 

Novel online

"Apa Awan sudah tidur, Key?" bisik Erika agar tak membangunkan Awan yang sedang terlelap.


"Iya. Dengarlah napasnya. Sangat tenang," balasku tak kalah pelan. Pangeran kecilku berada di tengah, sedangkan Erika di sebelah kiri dan aku sendiri di sebelah kanan dipan. Gara-gara cerita hantu kami tidak berani tidur sendiri di rumah. Itu sebabnya kami memutuskan untuk tidur bersama.



"Key, saat besok temanku datang, menginaplah di sini. Setidaknya sampai James pulang."



"Baiklah. Ini semua salahmu, Erika."



"Ya. Dan aku minta maaf. Kukira kamu pemberani."



"Itu hanya pikiranmu saja. Sebenarnya aku sangat penakut pada hal-hal seperti itu. Aku berharap James cepat-cepat pulang jadi aku tidak akan menyusahkanmu."



"Apakah pintu depan dan belakang sudah kukunci, Key?" Erika mulai terlihat panik.



"Aku juga tidak ingat. Apakah kamu mau mengeceknya?"



Dengan aba-aba, kami berdua bangkit dari tempat tidur. Kamar itu remang-remang karena hanya lampu tidur yang menyala. "Apa kau sudah mengunci rumahmu, Key?" tanya Erika menyalakan lampu ruang tengah.


"Ya, aku sudah menguncinya." Kami berjalan beriringan menuju pintu belakang yang ternyata sudah dikunci. Kemudian kami menuju pintu depan dan sudah dikunci juga. Aku menarik dan menghembuskan napas untuk menghilangkan ketegangan.



"Kenapa kamu tiba-tiba pikun, Erika?" Aku menggerutu.



"Sorry, Key. Aku benar-benar tidak ingat. Apa kau mau kopi?"



"Bukan ide yang buruk." Sambil menunggu Erika membuat kopi aku menyalakan televisi di ruang tengah dan duduk di sofa warna merah hati.


"Key." Erika memberikan secangkir kopi panas dengan campuran creamer. Lalu ia duduk di sebelahku.



"Jam berapa temanmu sampai?"



"Entahlah. Sekararang sudah pukul sebelas dan kita hanya perlu menunggunya."



"Aku sampai lupa bertanya. Apakah temanmu laki-laki atau perempuan."



"Dia seorang pria yang tampan! Bahkan terlalu tampan untuk ukuran orang Indonesia. Aku pernah naksir saat kuliah dulu, tapi ia selalu menolak ajakanku berkencan. Ceritanya itu kami bersahabat, empat orang. Dua laki-laki dan dua perempuan. Dua sahabatku yang lain mereka saling menyukai dan akhirnya mereka menikah. Saat itu kupikir tak ada salahnya jika aku dan dia berpacaran. Tapi gak tahunya dia sudah memiliki wanita lain. Ha ha ha ha." Erika bercerita diakhiri tawa yang garing dan aku pun ikut tertawa. Bukan karena ceritanya tapi karena tawa Erika. Ia memiliki tawa yang khas mirip seperti artis perempuan bernama Soimah saat sedang manggung.



"Bagaimana kedua sahabatmu yang lain itu? Apakah mereka tidak ikut ke sini?" Mendengar pertanyaanku Erika menjadi lesu. Wajahnya redup. Seperti sedang mengingat sesuatu hal yang buruk.



"Kisah mereka sangat tragis, Key. Tadinya, mereka adalah keluarga bahagia yang memiliki satu anak. Hingga suatu saat kedua sahabat priaku ini dan anaknya ingin bermain golf bersama dan entah bagaimana ceritanya mobil yang mereka tumpangi mengalami kecelakaan. Ayah dan anak itu mati di tempat. Sedangkan temanku yang satunya, yang akan datang kemari, satu-satunya yang selamat meskipun mengalami luka yang serius. Sejak kejadian itu dia menyalahkan diri sendiri atas kematian sahabat serta anaknya. Ia trauma dan depresi hingga ia mengurung diri di rumah, tak mau lagi menyetir mobil ataupun berada keramaian. Ia menjadi sangat pendiam dan tertutup. Barangkali, rasa bersalahnya lah yang membuatnya seperti itu."



"Apakah sahabat perempuanmu menyalahkan dia atas kematian suami dan anaknya?"



"Tidak. Sama sekali tidak. Ia memang sedih tapi akan lebih sedih lagi jika sahabatku yang satunya itu ikut mati juga. Dia perempuan yang cukup bijaksana dalam bersikap. Ia yakin, kematian suami dan anaknya adalah bagian dari kehidupan yang harus diterima dan dijalani. Kupikir itulah yang namanya takdir. Kita tidak pernah tahu kapan dan di mana akan mati. Sama halnya aku yang tak tahu apakah aku akan menjadi wanita yang sempurna atau tidak," jawab Erika sambil mengelus perutnya.


Aku kemudian memeluknya, mengusap-ngusap punggungnya agar air mata yang ditahannya sejak tadi bisa mengurai. Dan beberapa saat kemudian, perempuan dalam pelukanku seperti gelas yang sangat rapuh. Tangisnya membanjiri punggungku. Ternyata, dibalik keceriannya selama ini tersimpan luka yang teramat dalam. Luka atas kematian sahabatnya. Terlebih luka hati karena Tuhan tak kunjung memberinya momongan. Ia ingin menjadi perempuan yang seutuhnya. Yang mengandung, melahirkan, dan menyusui. Ya, kupikir semua wanita memiliki keinginan yang sama seperti Erika. Menjadi perempuan yang sempurna.


***


Awan dan aku sedang membersihkan rumah Bunny. Sisa-sisa sayuran dan juga kotorannya aku masukkan ke dalam lubang yang digali oleh james agar bisa dijadikan pupuk kandang.



"Wash your hand, prince," perintahku ketika Awan selesai membantu membersihkan. Ia kemudian lari ke tempat cuci tangan di pojokan. Dekat dengan beberapa sayuran yang James tanam untukku.



"Apa yang ingin kamu makan untuk makan siang?" tanyaku sambil mengusapkan sabun di tanganku.



"Chocolate."



"Coklat bukan untu makan siang." Aku memercikkan air pada Awan dan dia berlari. Aku mengejarnya dan kami berlari berputar-putar sebelum akhirnya ada suara yang kukenal memanggil. Erika.



"Key. Kemarilah! Temanku sudah datang!" teriaknya dari pintu. "Oke!" Aku menjawab singkat dan kembali mengejar Awan yang masih berlari dan berharap untuk ditangkap.



"Apa kamu ingin coklat untuk makan siang, prince?" Ia mulai memelankan larinya setelah mendengar kata-kata coklat lalu berbalik dan lari ke arahku yang sudah mulai ngos-ngosan.

"Dua," balasnya polos dan aku menangkapnya.

"Apa kau mau dua ... mau dua?" Aku menciumi pipinya yang gembul dan ia meronta ronta. Tak heran James begitu menyayangi Awan karena dia begitu menggemaskan.



Ayo kita ke rumah aunty Erika dan meminta coklat!



Aku melompati pagar dengan Awan yang berada di gendonganku dan masuk ke rumah Erika melalui pintu dapur. "Hai, Erii ...." Aku terperangah melihat teman Erika yang tengah duduk di sofa dan belum menuntaskan kata-kataku.



"Key, ini temanku. Kemarilah."


Aku menurutinya dan mendekat lalu menurunkan Awan dan ikut duduk bersama mereka. "Keyla." Aku mengukurkan tangan dan memperkenalkan diri. Sedangkan dia hanya tersenyum melihatku.


"Mama ...." Awan memberikanku sebuah permen coklat yang di dapat dari piring diatas meja dan dia ingin aku membukanya.



"Steve, ini tetanggaku yang aku ceritakan barusan. Ia akan menginap di sini sampai suaminya pulang." Erika menerangkan namun pria itu hanya tersenyum dan menutup hidungnya yang menjulang tinggi. Aku baru sadar kalau aku dan Awan baru saja selesai membersihkan rumah Bunny.



"Maafkan aku, Erika. Aku lupa kalau aku habis membersihkan rumah Bunny. Aku harus pulang sekarang," kataku pada Erika seraya berdiri. "Prince, ayo kita pulang." Dia menggeleng dan justru asik bermain keping-keping coklat di lantai berlapis karpet. "Awan?" Aku menekan suaraku. Tiba-tiba jengkel karena Awan tak mau mendengarku.


"Awan gak mau mandi!" teriaknya sambil berpegangan pada kaki lelaki yang sejak tadi memperhatikanku dan itu membuatku gugup. Tanpa menunggu lama aku mengangkat Awan dan menggendongnya. Ia menangis dan meronta hingga coklat-coklat digenggamannya berceceran. "Sorry Erika. Kami harus pulang sekarang."



***



Setelah membujuk Awan untuk makan akhirnya ia mau juga. Ia masih marah karena aku tak membolehkannya main di rumah Erika. Dan sebagai gantinya aku membolehkannya makan coklat sebanyak yang Awan inginkan.



Tok ... tok ... tok ...



Aku menghentikan makanku sedangkan Awan masih asik dengan brokoli rebus siram saus kepiting yang ada di piringnya.



Kubuka pintu dan ternyata ada seorang pria berdiri di sana. "Erika ingin aku memanggilmu untuk makan malam," katanya pelan dan tenang.



"Katakan padanya aku sudah makan. Dan aku tak jadi menginap." Belum sempat pintu rumah tertutup sepenuhnya, kaki pria itu menghalangi dan aku tak cukup kuat untuk melawannya.



"Bisakah kita berbicara sebentar?"



"Tidak. Aku sedang sibuk sekarang." Tanpa permisi pria itu mendorong masuk ke dalam rumah.



"Papa!" Tiba-tiba Awan menoleh dan menyangka lelaki yang barusan masuk adalah Papanya.


"Bukan, sayang. He is not your father!" Aku menyela agar Awan tetap berada di kursi makannya.



"Keluarlah. Tolong," pintaku pada pria itu yang justru duduk dengan nyaman di sofa. Sedangkan aku masih berusaha menenangkan diri sendiri. Aku tak ingin dia menangkap kegugupanku. Dan aku masih setengah tak percaya teman yang Erika ceritakan adalah Stevan Antonius yang sampai kini masih berstatus suamiku yang sah dan ayah dari Awan.



"Aku mencarimu selama ini."



Aku memalingkan wajah. Tak sudi mendengarkan alasannya. Jika pun seperti yang Erika bilang bahwa dia merasa bersalah pada Anna, bukan hal yang benar dia meninggalkanku dan mendatangi sahabatnya. Aku tak ada hubungannya dengan kecelakaan itu lalu kenapa aku yang ikut terkena imbasnya?



"Keluarlah. Tidak ada yang perlu kita bicarakan. Seperti yang kau lihat, aku sudah menikah dan memiliki anak." Aku menunjuk ke arah pintu dan dia masih bergeming. Aku berjalan menuju Awan dan tak menghiraukan pria itu. Anggap saja dia seperti angin lalu.



"Sudah selesai, sayang?"



"Hmmmm." Dia mengangguk.



"Mau puding mangga?"



"Yes, please." Aku mengambil semangkuk puding dari dalam kulkas dan aku tahu ada mata yang mengawasiku. Ruang tamu dan ruang makan sekaligus dapur memang dalam satu ruangan. Tak ada pembatas.



Sembari menunggu Awan selesai makan, aku membereskan dapur dan mencuci piring. Rumah James tidak begitu besar. Hanya ada dua kamar tidur, dapur sekaligus ruang makan, dan ruang tamu. Tapi aku menyukainya. Sederhana dan elegan. Bangunan dan ornamennya berwarna putih dan memiliki pekarangan yang cukup luas. Val-David adalah perkampungan terbesar di Quebec. Tak hanya memiliki makanan yang lezat, pemandangannya saat musim gugur pun sangat menakjubkan. Dedaunan yang berwarna warni yang tak ada di Indonesia adalah daya tarik tersendiri buatku. James memang bukan orang kaya, tapi dia adalah pria yang baik.



"Mama." Awan menunjukkan mangkuknya yang telah kosong.



"Sudah? Ayo ke kamar mandi dan gosok gigimu."



Awan turun dari kursinya dan tiba-tiba ia lari ke arah Stevan Antonius dan duduk di sampingnya.



"Aku boleh duduk di sini?" tanyanya bernada menggemaskan. "Aku tidak suka gosok gigi. I hate it!" Ia pura-pura marah dan orang yang diajaknya bicara hanya tersenyum.



"Awan?" Aku melotot ke arahnya. "Let's go to the bed!"



"No, Mama! Awan mau main!" Ia lalu turun dari sofa dan berlari menuju keranjang mainannya. Dikeluarkannya helikopter terbarunya dan ditunjukkan pada Stevan.



"Papa membelikannya. Minggu depan Papa akan membelikanku pesawat."



"Benarkah?" tanya lelaki itu tak tahan untuk tidak mengangkat dan memangku Awan. Hah, aku tak kuasa lagi untuk melarang ataupun marah. Aku tak ingin melakukannya di depan Awan. Ia belum tahu kalau dialah papanya yang sesungguhnya. Dan aku juga tidak tahu bagaimana harus menjelaskannya . Tidak seharusnya pria itu muncul tiba-tiba dan membuat canggung suasana. Sekarang, aku sudah cukup bahagia ....


*Bersambung

Post a comment

1 Comments

  1. tuh kan beneran si steve yang datang...

    oia keyla jgn lupa ya ada bonding yg kuat antara ayah dan anak

    ReplyDelete
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)