Suamiku Dingin (Bab 20)

 

Novel online gratis

"Apakah dia sudah tidur?" tanya Stevan kaku.



"Ya. Dia kelelahan setelah bermain dan membantuku membersihkan rumah Bunny. Sekarang, pulanglah ke rumah Erika." Aku mengusir Stevan yang telah menemani Awan bermain dan membantu mengangkatnya yang tertidur di sofa.



"Apa kau mengusirku?" tanya Stevan lagi seperti enggan kembali ke rumah Erika. Terlihat sekali bahwa ada hal yang ingin dia katakan padaku.



"Tidak baik seorang laki-laki berada di rumah seorang perempuan bersuami yang suaminya sedang tidak ada di rumah!"



"Kita belum pernah bercerai."



Tak mau membangunkan Awan yang terlelap, aku mengajak Stevan untuk keluar kamar. "Pergilah. Aku tak mau Erika berpikir macam-macam," kataku sambil membuka pintu. Aku tak mau ia terlalu lama di sini. Hal itu hanya ingin membuatku marah atas apa yang terjadi di masa lalu. Aku belum bisa memaafkannya dan sakit hatiku masih belum bisa disembuhkan.



"Dengarkan penjelasanku, Key."



"Tidak ada lagi yang perlu dijelaskan, Steve. Kamu sudah mencampakkanku demi temanmu, dan aku sudah menikah lagi sekarang. Tidak ada lagi yang perlu dibahas diantara kita."



"Key ...," katanya dan mulai mendekatkan tubuhnya ke arahku.



"Tidak, Steve! Pergilah." Dengan reflek aku melangkah mundur. Aku tidak ingin berdekatan dengannya.


"Apapun penjelasanmu, waktu tidak akan bisa berputar kembali. Kumohon ... keluarlah," lanjutku lagi dan tanpa berkata-kata dia melangkahkan kakinya keluar dari rumahku.



Wajah Stevan Antonius masih tetap seperti dulu, tampan dan bertubuh atletis. Hanya saja kerutan di wajahnya mulai terlihat. Aku mengunci pintu secepat kilat lalu menjatuhkan tubuhku di atas sofa. Untung James tidak ada di rumah. Dan ada hal yang aku khawatirkan, apakah Erika mengetahui hubungan kami di masa lalu? Aku harap tidak. Aku tak ingin Erika ataupun James mengetahui masa laluku bersama Stevan. Terlebih, aku tak ingin menyakiti James.



***



Tok tok tok ....



Aku terperanjat saat mendengar orang mengetuk pintu dan ternyata semalaman aku tertidur di sofa. Apakah Stevan yang datang sepagi ini? Aku membiarkannya beberapa saat, aku belum siap untuk beretemu dengannya lagi ... lagipula, apa sih yang dia inginkan? Satu menit ... dua menit ... orang itu terus mengetuk hingga ponselku pun berbunyi. James.



"Hai, James? Bagaimana kabarmu? Eeh, benarkah? Tunggu ... tunggu. Aku akan segera membuka pintunya." Aku menutup teleponnya dan buru-buru membuka pintu. "Sorry, James. Membuatmu menunggu. Aku masih tidur dan baru saja bangun."



"Tidak apa-apa, Darling," balasnya sambil mengusap rambutku. Lembut. Dan seperti biasa senyumnya selalu secerah mentari. Deretan giginya yang terlihat rapi, putih dan bersih. Bulu-bulu halus di wajahnya dibiarkan tumbuh liar di sana. Dan kulitnya yang kecoklatan semakin membuatnya terlihat sebagai pria yang jantan.



"Kenapa tidak bilang kalau kamu akan pulang secepat ini?" tanyaku sambil meraih sebuah bungkusan dari tangannya. Aku bisa mencium aroma mainan dari dalamnya. Pesawat?



"Kejutan," sahutnya sambil menggandengku masuk ke rumah dan menutup pintunya. Dari arah kamar, Awan bisa merasakan kedatangan Papanya.


" Papaaaa ...." Ia berteriak sambil berlari.



"Ohoho ... halo, kapten? Apa kau sudah bangun?" Diangkatnya tinggi-tinggi tubuh Awan dan tawanya meledak-ledak sampai mengisi setiap sudut rumah. Aku bahagia melihat mereka seperti ini. Awan tidak membutuhkan ayah kandungnya. Dan ia tak perlu tahu bahwa James bukanlah Papanya. Awan hanya membutuhkan James sebagai Papanya. Itu saja! 



"Pesawat, Pa ... pesawat!"



"Kiss me." James menunjuk pipinya agar diberi ciuman oleh malaikat kecilnya. Awan menghujani pria itu dengan ciuman dan cinta.


"Apa ada urusan mendadak James?" selaku ditengah keakraban mereka.



"Ya. Aku tidak tahan untuk menemuimu."



"Sejak kapan kau pandai menggoda?"



"Sejak kapan ya ...." Ia tiba-tiba menarik tanganku hingga menempel pada tubuhnya. Dan untuk pertama kalinya jantungku berdebar sangat keras.



"Sejak aku tahu bahwa kau akan menjawab iya," bisiknya tepat di depan telingaku dan aku merasa pipiku memerah karenanya. Tersipu.


***


"Hai James ... kapan kau pulang?" Erika berteriak dari dapurnya. Sedangkan James dan Awan sedang membersihkan rumah Bunny sambil bermain. Setiap ada kesempatan, James memang lebih memilih menghabiskan waktu dengan Awan untuk mempererat ikatan mereka. Terkadang, James memiliki ketakutan jika Awan tahu bahwa dia bukanlah ayah yang sebenarnya. Ia tak mau kehilangan harta yang paling berharga baginya. Baginya, Awan adalah hidupnya. Nyawanya.



"Hai, Er. Tadi pagi. Apa kau sedang ada tamu?"



"Ya. Kemarilah. Kita makan siang bersama. Keyla? Aku menunggumu tadi malam untuk makan."



"Sorry, Erika. Aku terlalu lelah semalam."



"Baiklah. Yang penting hari ini kita makan bersama. Lihatlah, aku sudah menyiapkannya."



Aku sebenarnya enggan pergi ke rumah Erika, tapi James dan Awan buru-buru cuci tangan dan melompat pagar. Sedangkan aku pura-pura memetik tomat yang memang sudah merah.



"James, ini Steve. Steve ini James. Suaminya Keyla." Erika memperkenalkan kedua pria itu yang sama-sama tampan, sama-sama memiliki tubuh yang kekar, dan sama-sama pria yang ada di dalam hidupku. Aku memasang telinga lebar-lebar agar bisa mendengar apa yang mereka bicarakan. Tentu saja aku bukan menguping. Suara Erika sungguh keras padahal tubuhnya mungil.



"Apa kau akan lama tinggal di sini, Steve?"



"Ya. Mungkin sampai aku menemukan istriku." Mereka mengobrol sambil membolak balikkan ayam yang sedang dipanggang. Aromanya membuat perutku keroncongan.



"Ke mana istrimu kalau aku boleh tahu?"



"Sepertinya dia marah padaku. Dan ngambek."



"Hahaha ... istrimu sangat kreatif sekali. Ngambek sampai pergi ke luar negeri." Tawa James ditimpali Stevan Antonius.


"Eh, benarkah itu Steve? Kau tidak pernah bercerita tentang istrimu?" Erika menyela. Kaget. Karena baru pertama kali mendengar kisah rumah tangga orang yang didaulat sebagai sahabatnya itu.



"Dia memang memiliki banyak ide. Itulah sebabnya sampai 5 tahun berlalu aku belum menemukannya."



"Wow. Apakah dia pergi dengan lelaki lain"



"Entahlah. Mungkin aku akan tahu jika sudah bertemu dengannya. Apakah istrimu tidak ikut makan?"



"Darling. Kemarilah. Bawa tomat yang kau petik ke sini." He? James memanggilku?


"Mama! Come here!" Awan ikut-ikutan memanggil. Ia sedang menyiapkan lesehan bersama Erika.



"Kemarilah, Key. Bantu aku menyiapkan piknik kecil-kecilan." Erika tak mau kalah dan suaranya lantang yang menarikku secara paksa ke dalam suasana yang aneh. Satunya suamiku, dan yang yang satunya lagi calon suamiku.



Seperti biasa, aku melompat pagar. Kemudian mencuci tomat dan menaruhnya di pring yang telah disediakan Erika.



"Key, kemarilah." James menyuruhku untuk mendekat dan aku menurut. "Apa kau sudah berkenalan dengannya?" lanjut James. Aku mengangguk dan melingkarkan tanganku ke pinggang James untuk pertama kalinya. Pria yang sedang mengenakan celana pendek dan kaos tanpa lengan itu langsung mengelus rambutku dengan lembut. Sedangkan di sana ada sepasang mata yang mengamati dengan tatapan tak senang.



"Apa ayamnya sudah matang, James?"



"Sepertinya sudah." James mengambil piring di dekatnya dan ditaruhnya pototongan ayam. "Apakah ayammu sudah matang, Steve?"



"Ah, entahlah. Aku tidak begitu pandai memasak. Biasanya istriku yang memasak." James melihat ayam-ayam itu. Membolak baliknya beberapa saat dan mengangkatnya.



Kami duduk melingkar di atas tikar. James di sebelah kiriku, Awan di sebelah kanan disusul dengan Antonius dan Erika. Aku menaruh nasi putih dan ayam bakar yang telah kusuwir ke piring Awan. Ia memakannya dengan lahap. "Apa kau menyukainya, Prince?" Awan mengangguk. "James, makanlah," kataku sambil mengambilkan nasi dan sepotong paha. "Apa kau mau sambal?"



"Boleh."



Kutaruh sesendok sambal di piringnya. James makan menggunakan tangan. Dan sesekali menyesap jari-jarinya yang berlumuran bumbu.



"Erika. Apa kau mau mencoba?" Aku menyodorkan letuce yang kuisi dengan suwiran ayam, mentimun dan sambal.



"Ini enak sekali, Key. Aku ngerasa sedang ada di Indonesia," kata Erika setelah memasukkan bungkusan lettuce ke dalam mulutnya. Sepasang mata mengamatiku. Barangkali ia berharap aku akan menawari makanan. Tapi aku sedang tidak ingin melakukannya.


"Bolehkah aku mencobanya?" Stevan menunjuk lettuce di depanku.


"Tentu. Ambillah sebanyak yang kau mau." Tangannya yang panjang meraih piring dan mengambil beberapa lettuce.



"Apa kau menyukainya, Steve?" tanya Erika pada sahabatnya.



"Ya. Ini enak sekali." Ia menjawab singkat sambi melihatku. "Seperti masakan istriku," lanjutnya kemudian yang tiba-tiba menjadikan susana makan siang kami canggung dan diam untuk sesaat. Hanya suara piring dan sendok Awan yang bersuara.


***


"Sebenarnya apa tujuanmu ke sini?" tanyaku setengah berbisik ketika kami selesai makan siang. Stevan diam sambil melipat tikar. "Apa kau tau aku ada sini?" Dia diam lagi. "Kau tidak pernah berubah. Egois dan selalu memikirkan dirimu sendiri." Aku meninggalkannya dan menyusul yang lain di dalam rumah. Mereka sedang menikmati teh sore sambil menonton televisi.



"Aku memang egois. Itu sebabnya aku menyesal," kata pria itu sebelum aku pergi meninggalkannya dan aku memilih untuk tidak mendengarnya. Apa gunanya pernyataan itu saat ini? Benang cinta diantara kami sudah kusut. Sulit untuk diuraikan kembali.



*** Bersambung


1 Comments

  1. duh.... simalakama buat keyla yaaa

    berhadapan dengan suami dan calon suami

    ReplyDelete