Suamiku Dingin (Bab 21)

 

Novel gratis

"Dia pasti kelelahan." James mengusap dahi Awan yang sudah tertidur pulas. Setelah makan siang tadi ia bermain dengan Bunny di halaman belakang.

"James ...."

"Hmmmm?"

"Aku ingin bicara."

Kami pun berjalan keluar kamar agar tidak membangunkan Awan. "Apa kau mau teh?" tawarku ketika kami di dapur.

Ia menggeleng. "Duduklah." James menepuk-nepuk kursi agar aku duduk di sebelahnya. "Apa yang ingin kau bicarakan?" lanjutnya lagi sambil menatap ke arahku yang terus menunduk. "Bicaralah, Key," ucapnya halus. Digenggamnya tanganku dengan hangat.

"Steve ... aaad," jawabku terbata. Aku tak yakin apakah harus menceritakan hal yang sebenarnya padanya atau tidak. Ia lalu bangkit dari kursinya kemudian memelukku. Dan untuk bertama kalinya aku sedekat itu dengannya. Mendengar detak jantung serta hembusan napasnya.


"Apa kau ingin berbicara tentang suamimu?" Aku mendongak ke atas. Melihat wajah James yang terlihat tenang seperti biasanya. Dari mana ia tahu apa yang ingin aku bicarakan?

"Jika itu yang ingin kamu bicarakan, lebih baik tidak usah."

"Kenapa?"

"Karena aku sudah tahu."

"James?"

"Itu sebabnya aku pulang lebih cepat. Orangtuamu mengirimkan email padaku setelah kau bilang ingin menikah denganku."

"Padahal aku ingin memberitahumu sendiri tentang pernikahan itu." Aku menunduk lesu dan pria itu tetap mendekapku.

"Mama bilang, Stevan selama ini mencarimu. Ia sering bertanya pada orangtuamu di mana kamu tinggal? Tapi, mereka tidak memberitahu karena mereka juga tidak tahu. Hingga suatu ketika Stevan tahu kalau orangtuamu pergi ke Kanada. Dan dari situ ia mulai mencari tahu tentangmu."

"Apa yang harus aku lakukan sekarang, James? Aku tidak tahu bagaimana cara memberitahukannya pada Awan. Aku juga tidak ingin Stevan Antonius tahu bahwa Awan adalah anaknya. Kamu Papanya, James. Selama ini kamulah yang menjadi Papa bagi Awan dan akan selalu begitu!"

"Sssstttt. Tenanglah, Key. Kita hanya perlu menunggu waktu untuk menjawabnya. Bagaimanapun, Stevan masih berstatus suamimu dan Awan adalah anaknya. Mereka sama-sama memiliki hak untuk saling mengetahui satu sama lain."

"Lalu bagaimana dengan pernikahan kita?"

"Kita menunggu waktu yang tepat. Dan mungkin sekarang bukan saatnya.

Keesokan harinya aku melihat dari jauh James yang sedang mengobrol dengan Stevan sambil menemani Awan bermain dengan Bunny di belakang rumah. Aku tak tahu apa yang mereka bicarakan karena aku hanya sesekali mengintip dari balik jendela. Sesekali mereka tertawa, kemudian terlihat serius dengan apa yang mereka bicarakan. Dan aku terus terang tidak mengerti apa yang ada di pikiran James. Aku telah memutuskan hal itu karena kupikir itulah hal terbaik untuk Awan. 

"Lalu bagaimana denganmu, Key? Bagaimana dengan kebaikanmu? Apakah kamu menginginkan pernikahan itu?" tanya James tadi malam. Tentu saja aku menginginkan pernikahan itu. Apapun yang terbaik untuk Awan akan baik juga untukku. Dan soal kepulanganku ke Indonesia ... sejujurnya aku lebih nyaman berada di sini dan tidak ada keinginan untuk kembali ke Indonesia.

"Kamu belum bisa memaafkan masa lalumu, Key. Itu sebabnya kamu terus menghindar. Menghindar dari orang-orang di masa lalumu, dan menghindar dariku," katanya terakhir kali sebelum mengucapkan selamat malam dan ia masuk ke kamarnya. Sedangkan aku masih duduk di kursi dan memikirkan apa yang James katakan.

"Apa yang kalian bicarakan, James?" tanyaku ketika saat James masuk ke dalam rumah dan mendekatiku yang sedang memasak. "Di mana Awan?" lanjutku dengan nada kaget ketika tidak melihat Awan di belakang papanya.

"Dia sedang bermain dengan Papanya, Key."

"Kamu Papanya, James! Bukan yang lain!" Buru-buru aku ke belakang rumah tapi Awan tidak ada sana. Aku melompati pagar dan mengetuk-ngetuk pintu rumah Erika.

"Di mana Stevan, Erika? Di mana dia?" Erika kaget melihatku menerobos masuk begitu saja dan mencari-cari seisi ruangan untuk mencari Awan.


"Key, Awan tidak ada di sini. Ia sedang bermain dengan Steve ... maksudku, Papa kandungnya."

Mendengar ucapan Erika aku pun berbalik. Apakah dia telah mengetahui semuanya? Apakan Stevan Antonius yang menceritakannya? "Papa Awan hanya James, Erika! Tidak ada yang lain!" Aku berteriak lali pergi dari rumah Erika kemudian mencari ke sekeliling hingga ke ujung gang. Demi apapun juga, aku tak belum rela Stevan menjadi Papa bagi Awan.


"Hai Daniella, apa kau melihat Awan?" tanyaku dalam bahasa Perancis pada wanita paruh baya yang tengah menyirami sayurannya di depan rumah. Ia menunjuk ujung danau. Ke arah taman bermain anak-anak.

Aku berlari sekencang mungkin. Memutari danau dan menghiraukan pemandangan musim gugur yang indah. Dedaunan yang berwarna warni tak mampu mengalihkan perhatianku dari Awan. Dari jauh aku mampu melihatnya. Bermain prosotan dengan pria yang hingga kini aku belum bisa menerimanya lagi hadir dalam kehidupanku.

"Awan!" Aku berteriak. Lari ke arahnya. Kupeluk dan kuciumi tubuhnya yang kecil. "Tidak seharusnya kau membawanya tanpa seizinku!"

"James telah mengizinkan, Key."

"Aku ibunya. Aku yang melahirkannya. Tidak ada yang boleh menyentuh Awan tanpa sepengetahuanku."

Aku meninggalkan Stevan yang berusaha mencegahku. "Key, dengarlah penjelasanku! Kumohon!"

Aku mengabaikannya. Kugendong Awan menjauh dari tempat itu sejauh yang kubisa. "Mama marah sama Om itu? Papa bilang, Awan punya dua papa." James kah yang mengatakan itu? Apa maksudnya melakukan hal ini semua?

***

"Apa yang sebenarnya kamu inginkan, James? Tidak seharusnya kamu memberitahukan hal yang sebenarnya kepada Awan." Sebisa mungkin aku menekan suaraku. Kami bertiga sedang duduk bersama. Aku, James dan Stevan.


Sementara, Awan aku meminta Erika menjaganya. Aku tak ingin dia mendengarkan pembicaraan orang dewasa. Itu tak baik bagi psikologisnya. Ia juga tak akan mengerti dan belum bisa mencerna masalah dengan baik.

"Apa kalian tidak memikirkan bagaimana Awan? Punya dua papa? Apa kamu sudah kehilangan akal sehatmu, James? Bagaimana jika suatu saat dia ditanya tentang papanya dan dia menjawab memiliki dua papa? Bagaimana anak seumurannya akan menjelaskan tentang situasi ini? Dan kau Stevan? Apa alasanmu datang kemari setelah bertahun-tahun?"

"Key." Kedua pria yang duduk bersebelahan itu menjawab bersamaan.

"Aku ingin kita pulang ke Indonesia, Key."

"Aku ingin menikah denganmu, tapi setelah kamu bercerai dengan suamimu dan menjelaskan bahwa Awan memiliki Papa yang lain."

"Aku tidak mengerti maksud kalian."

"Aku adalah Papa Awan."

"Aku juga Papanya," timpal James.

"Arrrrrghhh! Ini semua salah kamu Stevan! Harusnya kamu tak perlu kemari. Lupakan kalau kita menikah dan nikahi saja sahabatmu. Dan ini juga salah kamu James. Tidak seharusnya kamu memberitahu Awan!"

"Sorry," ujar mereka bersamaan. Aku merasa ada bintang-bintang di atas kepalaku. Pusing dan lelah.


Kemudian Awan tiba-tiba muncul dari pintu," Papa!" Kedua pria itu menoleh bersamaan. "Awan ingin duduk di tengah," katanya lagi. "Papa," sambung Awan menoleh ke James. "Papa." Ia menoleh ke  Stevan Antonius yang terharu dan langsung memeluk tubuh mungil itu.

Aku menarik napas sepanjang yang aku bisa kemudian menghembuskannya perlahan mungkin. Aku berharap semoga tidak kebablasan. Mata Awan begitu bersinar, ia menggoyang-goyangkan kakinya sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang ompong. Dia terlihat gembira mengetahui punya dua papa.

"Awan mau pulang?" tanya Stevan Antonius begitu meyakinkan.

"Ke mana?"

"Ke rumah Papa."

"Ketemu Oma Opa?" Awan terlihat exited membayangkan bertemu oma opa.

"Tentu saja," jawabnya.

"Mama, ayo kita ketemu oma opa!" Ajaknya dengan wajah seperti habis menang lotre.

"Papa boleh ikut gak, Boy?" tanya James yang terlihat memelas.

"Hmmm. Papa juga harus ikut!"

Aku menatap tajam seperti ingin mencabik dua pria itu! Entah apa yang ada di pikiran mereka. Usia makin bertambah tapi justru sifat kekanakannya mulai muncul.

****

"Sebenarnya apa yang kalian bicarakan kemarin, James?" tanyaku ketika kami di dalam pesawat. Aku duduk bersebelahan dengan James dan Awan bersama Antonius.

"Tidak ada. Aku hanya bilang padanya akan berbagi."

"Berbagi? Apa maksudnya?"

"Awan."

"Awan bukan makanan yang bisa dibagi-bagi!"

"Aku tahu. Tapi aku ingin kau dan Awan pulang ke rumah keluargamu. Dan ini satu-satunya cara agar kau mau kembali ke Indonesia."

"Harusnya kau bilang jika ingin mengusirku!"

"Aku tidak mengusir. Aku ingin kau bahagia bersama keluargamu."

"Aku sudah bahagia. Denganmu dan Awan!"

James menggenggam tanganku. "Aku senang mendengarnya," lanjutnya lagi. Dari tadi kami mengobrol dengan cara berbisik karena para penumpang pesawat sedang tidur dan tidak ada lagi lampu menyala. Di luar pun sama. Gelap dan hanya suara mesin yang terdengar begitu bergemuruh.

"Key. Apa kau mencintaiku?" Cinta? Tentu saja ada cinta buatnya. Meskipun sedikit aku tak bisa memungkirinya. Belum sempat aku menjawab bibirnya telah meraup bibirku. Dan untuk pertama kalinya setelah sekian lama aku merasakan sebuah ciuman. "Maafkan aku Key. Aku sudah tak bisa menahannya lagi." Ia melanjutkan ciumannya. Aku bisa merasakan napasnya yang hangat dan tangannya yang mulai meraba bagian dalam pahaku.

"James." Aku menghentikan pergerakan bibirnya.


"Suasana ini sangat romantis, Key." Ia menjawab tepat di depan telingaku dan aku seperti tersengat listrik. Ia kembali melancarkan serangannya.

"Kau tahu berapa lama aku ingin melakukan ini, Key?" Napas James mulai memburu. Tangan kanannya mulai menyusup diantara kedua pahaku dan reflek aku melebarkannya. Ada jari jemari yang menari dengan gemulai di sana. "James," bisikku sambil memeluk tubuhnya yang kekar. "Apa kau menyukainya?" Aku hanya bisa menggigit bibirku agar tidak ada suara pekikan. "Kenapa kau melakukan ini?"

"Karena kita akan segera menikah." Aku tidak bisa menolaknya. Tidak pula menghindar. Sebagai perempuan biasa aku juga merindukan saat-saat seperti ini.

***

Taksi online yang kami pesan berhenti di depan rumahku. Tepatnya rumah orangtuaku. Sudah lama aku tak melihatnya, dan rumah itu masih sama. Terlihat papa dan mama duduk di teras menunggu kedatangan kami.

"Omaaaa ... opaaa ... Awan berlari masuk ke halaman rumah yang memang tidak memiliki pagar. Mama dan papa langsung berlari ketika mendengar suara cucunya yang melengking.

"Awan ... Oma kangen!" Mama memeluk Awan begitu juga Papa. Diangkatnya tinggi-tinggi tubuh mungil itu hingga kegirangan. Tapi wajah Mama itu langsung hilang ketika melihatku dan kedua orang pria di samping kiri dan kananku.

"Duduklah!" Mama memberi aba-aba pada kami bertiga ketika kami di ruang tamu. Sementara Awan sedang bermain dengan Opa di belakang rumah.

"Steve, Mama sangat kecewa sekali. Mama pikir kamu akan membahagiakan Keyla. Kalau tahu akan begini jadinya Mama tidak akan menjodohkan kalian dari awal. Mama tahu selama ini kamu mencari Key, tapi Mama tidak yakin apakah bisa memberimu kesempatan untuk kedua kalinya. Perbuatanmu sebagai suami dan sebagai seorang pria sangat tidak bertanggung jawab. Bagaimana bisa kamu meninggalkan Keyla begitu saja demi sahabatmu? Karena Mama sama kecewanya dengan Keyla, makanya selama ini Mama menolak bertemu denganmu. Dan tahu-tahu, ternyata selama ini kamu menyewa orang untuk mengawasi Mama. Mama tidak tahu harus bersikap bagaimana. Untung Papa tahu. Ia curiga karena selalu merasa diikuti. Memata-matai mertua sendiri itu tidak baik."


Stevan Antonius seketika langsung berlutut. Memohon maaf karena apa yang ia perbuat salah. Hanya dengan cara itulah dia akan tahu di mana aku. Dan ketika orang suruhan itu kepergok, Mama langsung memberi tahu James yang ketika itu baru sampai di Afrika. Aku manggut-manggut mendengar Stevan Antonius memberi penjelasan.

"Karena Key dan James akan menikah, Mama harap kamu segera menceraikannya."

Mendengar kata-kata itu, pria itu terlihat lesu. Tidak ada lagikah jalan kembali untuknya? Atau ... sesempit itukah hatiku hanya untuk memaafkan? Bukan ... ini bukan hanya tentang memaafkan. Tapi tentang kepentingan. Prioritas. Aku merasa aku tidak penting dibanding sahabatnya. Itu yang tidak bisa kuterima.

"Ma, kami sudah terlanjur bilang pada Awan kalau Stevan adalah Papanya yang lain."

Mama mendengus mendengarkan apa yang baru saja kuucapkan.

"Awan boleh saja memiliki dua Papa, tapi suamimu harus satu, Key. Ini Indonesia, dengan siapa kamu tinggal itu akan jadi masalah. Di sini, James bukanlah suamimu. Kau tidak bisa tinggal bersama. Dan Steve, kalian juga tidak bisa tinggal bersama. Sebentar lagi kalian akan bercerai." Mama mendikte. Ia tak lagi pendiam seperti beberapa bulan lalu saat kami bertemu. Energinya telah kembali meski penuaan di wajahnya tak bisa dielakkan lagi.

"Key ... apa kau benar-benar menginginkan perceraian itu?" Stevan Antonius menatapku. Tajam. Seolah-olah ada banyak hal yang ingin ia katakan. Aku menangkap ada cinta di matanya, tapi hatiku ... terlalu takut untuk memulainya kembali. Dan di sisi lain ada seseorang yang cintanya baru saja bersemi setelah disirami ....

"Iya. Ini adalah keputusan terbaik yang telah aku pilih, Steve."

*** Bersambung

1 Comments