Suamiku Dingin (Bab 22)

 

Novel gratis

Sebelum menandatangani surat cerai, Stevan memberi beberapa persyaratan. Aku dan Awan harus tinggal di rumahnya selama satu minggu dan setelah bercerai dia boleh menemui Awan kapan saja. Aku mengiyakan karena aku juga tidak ingin terlalu alot saat bernegoisiasi. Aku ingin pernikahanku dengan James berjalan dengan lancar dan tanpa hambatan yang berarti.



Meskipun tadinya Mama tidak setuju, setelah dibujuk James akhirnya Mama tak bisa menolak lagi. Entah apa yang James katakan pada Mama. Karena, jarang sekali ia mau menurut dengan usul orang lain.



"Mbak Key!" teriak bibi sambil berlari ketika melihatku turun dari mobil. Kami berpelukan sesaat sebelum air mata kami sama-sama tertumpah. Bibi adalah salah satu orang yang aku rindukan ketika berada di Quebec. Masakannya, tawanya yang renyah, dan perhatiannya yang hangat.




"Mbak Key. Selamat datang kembali," ucap Bapak dengan mata yang memerah. Ia tak sanggup menahan keharuan.



"Makasih, Pak."



"Sayang, ayo turun." James menurunkan Awan dari gendongannya. Sementara Stevan membawa masuk barang-barang kami.


"Kasih salam dulu sama Bibi dan Bapak," pintaku pada Awan."



"Salam Bibi, Bapak. Aku Awan. Umur 4." Awan memperkenalkan dirinya sambil membungkuk dengan sopan.



"Pak, lihatlah. Mirip mas Steve waktu kecil." Bibi menciumi Awan dengan gemas dan Papak hanya tersenyum dari kejauhan.



"Pak. Bi, ini James. Papanya Awan." Mendengar kata-kataku Bapak dan Bibi bengong. Mereka bingung tak bisa mencerna kalimatku. Meskipun begitu, mereka tetap memberikan senyum tulus.



"Ayo masuk Mbak Key," pinta bibi yang menuntun Awan. Pangeran kecilku memang mudah akrab dengan siapa saja. Termasuk orang yang baru ia temui.



Dari kejauhan rumah itu tak berubah. Aroma mawar masih tetap menjadi ciri khas dan hal yang paling kusukai dari kastil mewah ini. Tapi, semakin dekat dengan pintu masuk, aku merasakan dadaku tertusuk ribuan jarum. Langkah kakiku terhenti.



"Ada apa, Key?" tanya James. Ia mengusap punggungku.



"Tidak apa-apa, James." Aku menggandengnya dan terus maju ke depan. Stevan dan seorang wanita yang kukenal sedang berdiri di samping pintu. Anna. Melihat wanita itu, rasanya duniaku yang telah runtuh malah menjadi lebur.



"Hai, Keyla. Aku baru tahu kalau kau selama ini bertetangga dengan Erika," sapa wanita itu. Suaranya nyaring dan tak bersahabat bagi telingaku.


Aku mengacuhkannya dan enggan menanggapi. "Ayo James." Aku mengajaknya masuk tanpa menghiraukan Anna sedangkan Awan entah pergi ke mana. Barangkali sudah bermain dengan Bibi dan Bapak.



Tak seperti dulu, rumah ini tak kosong lagi. Ada sofa di ruang tengah dan juga banyak sekali mainan. Aku tak heran, bagi orang kaya seperti Stevan Antonius, menyiapkan semua ini tak perlu menunggu waktu lama.



"Key, kemarilah. Aku menaruh barangmu di atas," ucap Stevan sambil berjalan menaiki anak tangga.



"Kamu mau ikut, James?" Ia menggeleng. Dan lebih memilih duduk di sofa.



"Tidurlah di sini," kata Stevan membuka pintu kamar yang dulu pernah kami pakai bersama.



 "Barang-barangmu yang lain masih di tempat yang sama," lanjut lelaki itu lagi.



"Apa yang dilakukan wanita itu di sini?" tanyaku sinis dan berterus terang. Kalau tahu Anna ada di sini, aku tak akan pernah menyetujui permintaan Stevan.



"Anna?"



"Siapa lagi. Apa kamu benar-benar tak tahu salahmu, Stevan?" ucapku kesal dan menjatuhkan bokong ke atas tempat tidur.



"Key. Tenanglah." Lelaki itu berusaha menyentuh bahuku namun dengan cepat kutepis.



"Apa dia tinggal di sini?"



Stevan tidak menjawab. "Lalu kenapa kamu memintaku tinggal di sini? Kamu lupa? Karena dialah kita berpisah! Karena dia juga lah Awan harus hidup jauh dari Papa kandungnya dan Oma Opanya! Aku tidak mengerti dengan cara berpikirmu, Steve!" Aku melemparkan tasku padanya. Sekuat tenaga aku memukuli tubuh itu. Tapi tak ada gunanya. Pada akhirnya aku yang menangis. Aku yang tersakiti. Dan aku yang jatuh. Dan lagi ... aku lah yang 



"Key ... tenanglah Key! Aku bisa menjelaskan padamu!" Stevan mengguncangkan tubuhku dengan cara memegangi kedua bahuku.



"Bagaimana aku bisa tenang?" Aku menyingkirkan kedua tangan itu dan menghempaskannya.



"Anna sedang sakit dan dia butuh teman."



"Dan teman itu adalah kamu?!" Aku mendorong tubuhnya dan menangis sejadi-jadinya. "Keluarlah, Steve ... aku sedang tidak ingin melihatmu," kataku sambil menunjuk ke arah pintu dan Stevan pun keluar dan sesekali ia melihat ke belakang. Aku benar-benar muak dengan sikap dan cara berpikirnya! 



***



"Are you alright, Darling?" Suara James yang lembut dan belaian tangannya yang hangat membuatku membuka mata.


"Apa aku tertidur? Di mana Awan?"



"Tenanglah. Awan bersama Bibi. Dia baik-baik saja. Apa kau merasa lebih baik sekarang?"



"Mmm ... aku masih mengantuk sekali."



"Kau pasti kelelahan," balas James melayangkan sebuah kecupan di dahiku yang sedikit berkeringat.



"James ...." Aku membalikkan tubuhku ke kanan. Menghadap James.



"Hmmm?"



"Apa wanita itu masih di sini?"



"Aku rasa begitu."



"Ayo kita kembali ke Kanada, James. Aku tidak bisa tinggal dengan wanita itu. Aku takut Stevan akan mengambil Awan."



"Tidak, Key. Kamu harus tinggal di Indonesia. Di sinilah rumahmu. Tempat orangtuamu berada," balas James mengelus rambutku dan tatapan matanya yang sendu, berbeda sekali dengan Stevan yang hanya ada Anna di dalam pikirannya.



"Mama!" teriak Awan dari pintu yang mulai terbuka. Stevan tengah menggendongnya. Aku bangun dari tempat tidur dan memeluk Awan yang ditaruh di atas tempat tidur.



"Apa kau senang bermain dengan Bibi?"



"Mmmmhhh!" Awan mengangguk. "Papa punya banyak kelinci. Tapi aku belum kasih nama," lanjutnya lagi.


 "Benarkah itu, Steve?" Dia hanya berdiri sambil tersenyum. Sebelum pulang ke Indonesia, Awan memang sempat menangis karena tidak bisa membawa Bunny. Kemudian, Dia berjanji akan membelikannya banyak kelinci putih. Dan ia menepatinya.



 "Papa, ayo lihat kelinci. Kita beri nama satu-satu," ajaknya pada James. James menurut dan menggendongnya. Kami belum berani melepas Awan sendirian berjalan di tangga.



"Steve, jagalah Keyla." James menepuk pundak Stevan lalu keluar dari kamar.



"Duduklah." Aku menepuk-nepuk selimut.



"Ayo kita bicara, Steve," tukasku dengan tubuh yang lemas.



"Apa kau baik-baik saja, Key?" tanya pria itu dengan tubuh condong ke arahku. Reflek aku menutup hidung. Lalu kami tertawa secara bersamaan.



"Aku tidak mengira membersihkan kandang kelinci begitu merepotkan. Apalagi jumlahnya lima ekor," keluh Stevan sambil mengendus tubuhnya sendiri.



 Aku tertawa kecil. "Bukan kandang, Steve. Tetapi rumah. Meskipun aku tidak suka memelihara binatang, aku ingin Awan memperlakukan peliharaannya seperti manusia. Mengajaknya bicara, bermain, memberi makan dan menyayanginya."



"Baiklah. Terima kasih karena telah membesarkan anak kita dengan baik." Hatiku tiba-tiba terenyuh mendengarnya. Stevan benar, bagaimanapun dia adalah ayah dari Awan. Darah dagingnya.



"Berterima kasihlah pada James. Selama ini dia telah mengurus kami berdua."



"Aku akan berterima kasih padanya karena telah menyayangi anak dan istriku. Tapi tidak untuk kejadian di pesawat." Mendengar itu aku tertunduk malu dan disusupi sedikit rasa bersalah. Apakah aku menyesal? Melakukannya dengan James? Tapi sebentar lagi kan kami akan menikah.



"Tentang Anna. Sakit apa dia?" Aku memberanikan diri untuk mulai bertanya. Setelah bangun tidur, suasana hatiku menjadi lebih tenang dan emosiku lebih terkendali.



"Dia selalu mencoba untuk bunuh diri. Dan pertama kali dia melakukannya, saat kita berbulan madu. Aku tidak bisa mengabaikannya, Key. Dia tidak memiliki keluarga."



Tapi kamu bisa mengabaikanku? Kata-kata itu hanya muncul di hati saja. "Apa sekarang dia baik-baik saja?" Stevan menggeleng.



"Ia baru beberapa hari tinggal di sini setelah keluar dari rumah sakit sejak bunuh dirinya yang terakhir. Dokter bilang mentalnya sedang tidak sehat dan dia membutuhkan orang lain untuk menjaganya."



"Dan orang itu adalah kamu?"



"Key, kumohon. Mengertilah."



Aku tidak bisa berkata-kata lagi. Tak penting lagi buatku. Lagipula,sebentar lagi aku dan James akan menikah.


"Benarkah tak penting lagi?" segurat pertanyaan itu muncul dan meninggalkan sayatan di hatiku terdalam.

*** Bersambung ....

1 Comments

  1. duuuh anna bener2 menjadi duri dalam dagingnya pernikahan key dan steve

    ReplyDelete