Suamiku Dingin (Bab 23)

 

Novel gratis

Kami sedang makan malam bersama dan Bibi lah yang membantuku memasak. Sementara Awan selalu mengikuti Bapak ke mana pun dia pergi. Bapak mencabut rumput Awan ikut menirukan. Bapak memotong tangkai-tangkai mawar, Awan juga tak mau kalah dan bapak memakaikan sarung tangan pada Awan agar tidak terluka. Biasanya, Awan hanya tahu cara bermain tetapi. Tetapi, sejak di sini lain cerita. Dia melihat Bapak melakukan banyak hal yang belum pernah ia ketahui sebelumnya.



"Kamu suka ini, sayang?" tanyaku pada Awan yang memasukkan sawi ke dalam mulunya. Bibi yang menanamnya di kebun belakang. Ia begitu telaten menanam sayuran untuk konsumsi sendiri dan kalau berlebihan, ia akan membaginya dengan orang yang ia temui ketika hendak ke pasar.



"Apa kau menyukainya, James?" Baru pertama kali aku membuatkannya mi kari. 



 "Yah ... ini enak sekali. Aku tidak tahu kalau kau pandai memasak, Key." Tak heran, selama ini tinggal dengan James, aku memang kehilangan keinginanku untuk memasak makanan yang ribet. Aku lebih suka memasak makanan yang simpel. Direbus atau dikukus. Sementara Stevan, dengan lahap memakan apapun yang ada di depannya. Bibi bilang, sejak aku pergi dari rumah dia tak lagi menjadi pemilih makanan. Apapun akan dimakannya tanpa complain. Ia sering tidak tidur dan setiap hari mengurusi kebun mawar. Katanya, dia ingin merawatnya sendiri agar aku bisa menikmatinya ketika pulang nanti.



"Makanlah, Anna," kataku pelan karena dari tadi wanita yang duduk berhadapan denganku itu hanya membolak balikkan mi di dalam mangkuknya. "Apa kau mau makanan yang lain? Aku akan ambilkan."



"Aku ingin daging kelinci." Ia menjawab sambil tersenyum. Sontak kami berempat termasuk Awan langsung berhenti makan.



"Mama ... jangan makan Lunny," rengek Awan sambil menangis setelah mendengar ucapan Anna akan memakan Lunny, salah satu kelinci barunya.



"Ssstt ... jangan menangis, sayang. Tante Anna hanya bercanda." Aku berusaha menenangkan.


"Habiskan makananmu, my prince." Aku menaruh lagi beberapa lembar sawi di piringnya dan sepotong dada ayam goreng. Awan mengelap air matanya dengan cepat dan melanjutkan lagi makannya. Saat sedang makan, aku selalu mengajarkannya agar menghabiskan apapun makanan yang ada di piringnya. Tak baik membuat anak memiliki kebiasaan menyisakan makan atau membuangnya.



"Key, kau juga makanlah."



"Terima kasih, James." Sementara itu Anna hanya memperhatikan makanan di depannya tanpa menyentuhnya sama sekali. Penampilannya masih sama seperti dulu. Dandanannya selalu tebal dan selalu memakai pakaian dengan belahan dada rendah. Tapi kini, ia nampak tak seceria dulu. Raut wajahnya datar dan sorot matanya kosong.



"Steve, apa kau yakin anak itu adalah anakmu?" celetuk Anna dengan senyum mengejek. Dengan cepat, aku pun menutup telinga Awan. Tak ingin kata-kata yang buruk masuk ke dalam dirinya meskipun terlambat beberapa detik. Dan tentu saja Awan adalah anak Stevan. Darah dagingnya. Memangnya siapa lagi?! Kalau saja aku tak menyiapkan kesabaran ku, ingin rasanya kusumpal mulut wanita itu menggunakan cabai setan agar bibirnya jontor!



"Bisa saja kan dia adalah anak James. Iya, kan Steve? Lima tahun mereka tinggal bersama tak mungkin tidak pernah kumpul kebo." Anna melanjutkan dengan nada sinis dan membuat terlingaku rasanya panas. Ya ampuuun! Orang sakit jiwa pun tak ada yg mulutnya sepedas wanita itu! Dasar mulut Kaleng rombeng!


Dadaku naik turun mendengar ucapan itu. Sementara James hanya mengelus pundakku. Memintaku untuk bersabar dan tak perlu membalas.Sedangkan, Stevan Antonius yang duduk di sebelahnya pun tak berkata apa-apa dan masih melanjutkan makannya. Tak ada tanda-tanda ingin menyangkal atau menjawab pertanyaan Anna. Dasar pria tak bisa diharapkan! Aku merasa keputusanku sudah tepat untuk meminta bercerai dengannya!



"Anna. Bisakah kita melanjutkan makan malam kita?" Aku berusaha meredam amarahku meski itu sulit. Untung saja ada James. Aku bisa mengendalikan emosiku.



"Tentu saja. Sebagai tuan rumah aku harus menghormatimu. Makanlah Keyla." Aku menghela napas. Tak mau lagi menanggapi kata-katanya. Tuan rumah? Statusnya cuma numpang di sini. Akulah yang masih resmi menjadi nyonya di rumah ini.



"James, bisakah kamu bawa Awan ke atas?" pintaku saat kami sudah selesai makan. Sementara itu Anna langsung menonton televisi dan menyetel suaranya sangat keras sekali. Sekarang rumah ini menjadi berisik.



"Biarkan aku membantumu, Key." Stevan Antonius membantu membereskan meja dan memasukkan sisa makanan ke dalam kotak dan menaruhnya di dalam kulkas.



"Apa kau yakin akan membiarkan temanmu itu tinggal selamanya di sini?" keluhku sambil mencuci piring. "Kamu terlalu lembut dengan sahabatmu. Dan aku sangat kecewa kamu hanya diam saja dia berkata buruk tentang Awan!"



"Dia hanya sedang sakit Key. Emosinya tidak stabil."



"Dia perlu penanganan khusus, Steve Tempatkanlah di rumah sakit agar ada yang mengawasinya."



"Tapi dia belum gila, Key."



"Tapi setengah gila? Ya Tuhan ... bagaimana bisa dia bicara seperti itu di depan anak kita?" Stevan justru tersenyum mendengar omelanku. Laki-laki aneh!



"Ini hal penting, Steve. Kenapa kamu hanya diam dan tersenyum? Perasaanku tidak enak sejak tahu Anna tinggal di sini." Tanpa berbicara, pria itu justru melingakarkan tangannya di perutku. Aku tak bisa menghindar atau tak mau menghindar? Tak bisa marah atau tak mau marah? Dadaku berkecamuk dengan pertanyaanku sendiri.



"Aku senang kau menyebut Awan anak kita. Aku sudah lama ingin mendengar kata-kata itu," ucapnya sambil meraba-raba perutku.


 "Aku menyesal tidak bisa melihat Awan tumbuh di sini." Ia lalu memutar-mutarkan jemarinya di atas perutku. Dan anehnya, aku justru merasa nyaman dan ingin waktu berhenti untuk sesaat.



"Bukankah itu salahmu karena lebih memilih sahabatmu ketimbang istrimu sendiri?" Aku menggoyang-goyangkan bahuku agar lelaki menyingkir.



"Bagaimana kalau kita membuat adik untuk Awan, Key?"



"Apa kau coba merayuku?"



"Apa salahnya merayu istri sendiri?"



"Salah. Karena kita akan bercerai."



***



Pagi ini rumah Stevan digemparkan karena ditemukannya kepala kelinci yang berada diantara bunga wamar. Darah segar masih tercecer di sana ketika Bapak hendak memberi pupuk kandang. Sontak kami pun berlarian menuju tempat kejadian.



"Siapa yang melakukannya, Pak?" tanya Stevan sambil memalingkan wajah Awan agar tidak melihat langsung.


"Papa, Lunny mati?" tanya Awan yang berada di gendongan James. Matanya mulai memerah dan berkaca-kaca seperti hendak menangis.


"Tidak, boy. Dia hanya sakit," James yang berada di samping Stevan pun menyahut. "Steve, bawalah Awan masuk." James memerintah dan memberikan Awan padanya. Ia tak ingin anaknya melihat peliharaan kesayangannya mati dengan cara mengenaskan. Stevan pun berjalan menjauh sambil menenangkan Awan.



"Bapak sama Bibi nemuin badannya, gak?" tanyaku pada mereka yang sedang kebingungan dan kasihan karena kelinci itu belum lama tinggal di rumah ini.



"Bibi udah nyari, Mbak. Tapi gak ada."



"Kepalanya mau dibuang atau gimana Mbak Key?" tanya Bapak tak tega melihat kepala kelinci berwarna putih itu.



"Dikubur saja, Pak. Tolong beri tanda ya, Pak."  Aku menjawab dengan penuh kekhawatiran dan perasaanku makin tidak enak.



"Bi, kira-kira siapa ya yang tega ngelakuin ini?"



"Bibi juga gak tau, Mbak. Seumur-umur baru kali ini ada kejadian aneh di rumah." Aku menghela napas. Berpikir bagaimana menjelaskannya jika Awan menanyakan.



"James, menurutku siapa yang melakukannya?"



"Entahlah, Key."



"Dimana Anna?"



"Sepertinya masih sarapan."



Kami kembali masuk ke dalam rumah dan Anna masih menikmati kopi dan rotinya. "Anna, apa kau tahu tentang Lunny?"



"Lunny? Adakah penghuni lain di rumah ini selain kita?" tanya Anna pura-pura tak mengerti dengan apa yang aku maksud.



"Maksudku kelinci peliharaan Awan."



"Oh, aku kira siapa."



"Mama!" teriak Awan sambil membawa kotak berwarna coklat dari arah pintu depan.


"Apa ini?" tanyaku ketika ia mendekat.


"Mainan dari pengantar surat."


Mungkin maksudnya adalah tukang pos. Aku melihat Stevan mengikuti dari belakang.


"Apa kau mau roti bakar, prince?" Ia mengangguk dan kulangkahkan kaki ke dapur. "Apa kau mau kopi, James?"



"Baiklah."



"Aku juga mau, Key," teriak Stevan padahal aku tak menawarinya. Mereka bertiga sedang membuka bungkusan-bungkusan itu dan ada setumpuk mainan yang buatku terlalu banyak.



"Kemarilah! Kita sarapan bersama!" perintahku pada Awan dan kedua papanya.



"Anna? Apa kau mau ikut sarapan bersama kami?" Ia hanya melambaikan tangan yang berarti tidak.



"Prince, makanlah. Habiskan susu coklatmu." Aku mengusap usap rambutnya yang mulai memanjang.



"James, ini kopimu." Kutaruh segelas kopi di hadapan James. "Dan Steve, ini kopimu."



"Apa kalian mau nonton film?"



"Ide bagus, Darling," balas James penuh semangat.



"Bagaimana denganmu Steve?"



"Boleh."



"Anna? Apa kau mau ikut bersama kami?"



Anna hanya melambai sambil sesekali tertawa melihat tayangan televisi. Meskipun ada rasa ketidak sukaan, aku tak bisa sepenuhnya membenci Anna. Bagaimanapun juga aku merasa kasihan padanya setelah Stevan menceritakan kisahnya. Dan aku baru menyadari betapa egoisnya diriku selama ini. Kehilangan anak dan suami dalam waktu yang bersamaan pasti membuatnya depresi. Sementara, tak ada bahu untuk bersandar atau sekadar bercerita. Ada penyesalan merasuk ke relung jiwaku. Penyesalan karena membenci Anna dan Stevan untuk alasan yang tidak aku ketahui.


*** Bersambung

0 Comments