Suamiku Dingin (Bab 24)

 

Novel gratis

"Apa kau sudah lama menjadi seorang penulis, Steve?" tanya James dengan santai.



"Ya. Saat aku masih remaja menurutku seorang penulis itu keren dan banyak digilai para gadis."



"Hahaha ... jadi, itukah alasanmu menjadi seorang penulis? Ternyata kau sama saja seperti remaja lain.



"Tentu saja, James. Apalagi? Hahaha. Digilai para gadis adalah kebanggan tersendiri yang bisa dijadikan catatan sejarah. Hahaha."



 Kedua pria itu tengah asik mengobrol sambil mengawasi Awan yang sedang mandi bola. Meskipun sejak tadi banyak mata yang mengawasi dan menggunjing ganteng-ganteng kok gay, sepertinya mereka tak peduli. Tidak penting mendengarkan omongan orang lain yang tak mengenal kita. Kalau didengarkan, hanya akan timbul sakit hati. Lagipula mereka laki-laki yang diciptakan Tuhan dengan akalnya, jadi tak mudah baper alis terbawa perasaan seperti kaum perempuan.



"Gadis-gadis berpikir kalau penulis itu romantis. Padahal tidak sama sekali. Mereka hanya berani mencumbu melalui kata-kata yang puitis." Kedua pria itu tertawa lagi sambil sesekali melambaikan tangan ke arah Awan. Sedangkan aku memperhatikan mereka dari jauh sambil menikmati segelas es kopi dan juga kue pie mini.



Sesampainya di rumah aku lansung duduk di sofa. Tepat di sebelah Anna. "Kata Steve kamu menyukainya. Kami membelikan beberapa untukmu," kataku pada Anna dan akuu membuka kotak kue berisi fruits pie mini. Anna langsung melahapnya tanpa menoleh ke arahku.



"Jadi kapan kalian akan bercerai?" Anna mengawali pembicaraan dengan pie didalam mulutnya.



"Secepatnya. Kenapa? Sepertinya kamu ingin cepat-cepat kami bercerai. Sudah tak sabar ingin menjadi Nyonya Stevan?"



"Tentu saja. Rumah ini sekarang terlihat hidup. Ada suara tawa dan anak-anak. Aku tak begitu menyukainya. Rasanya, aku ingin sekali menyingkirkan gangguan-gangguan itu."



"Apa kau merasa terganggu Ann?"



"Tentu saja. Karena waktu Steve jadi habis untuk tertawa dan bermain dengan bocah menyebalkan itu!"



Huffft. Sabar, Key ... sabar! Yang waras ngalah!



"Apa kamu menyukai Stevan?" tanyaku pura-pura bodoh dan Anna terdiam. Entah apa yang dipikirkannya. Sedang menyelam ke masa silamkah ia? Atau berusaha menggali kenangan almarhum suami dan anaknya?



***


-Flashback-




"Ke mana Erika dan Jack, Steve?" tanya Anna heran karena tak melihat dua sahabatnya itu.



"Mereka sedang mengerjakan tugas di perpustakaan."



"Mereka terlalu rajin. Hahaha ... bisa-bisa ntar dosennya kalah pinter."



Stevan tertawa mendengar lelucon Anna. Sejak pertama kali masuk kuliah entah kenapa mereka tiba-tiba menjadi sahabat. Barangkali, karena mereka sama-sama berdarah Indonesia.



"Setelah lulus mau ke mana, Steve?" tanya Anna sembari meminum kopi yang baru saja ia pesan di cafetaria. Sementara Stevan, seperti biasa, si herbivora satu ini hobi ngemil sayuran rebus saat sedang lapar.



"Balik ke Indonesia. Ngapain lagi?"



"Ya, kali aja kamu tetap tinggal di LA."



"Kamu sendiri?" Giliran Stevan bertanya pada gadis berambut blonde dengan dada yang monthok itu. Meskipun ia orang Indonesia, warna rambut dan kulitnya tetap matching. Secara, dia satu-satunya pewaris perusahaan percetakan yang terkenal di Indonesia. Orang kaya! Mau rambutnya warna warni seperti pelangi juga pantas dan sah-sah saja.



"Samalah kita. Balik ke Indonesia juga."



"Nikah sama Jack?" Anna berpikir keras untuk menjawab pertanyaan itu. Lagipula, meskipun ia berpacaran dengan Jack, Anna tak pernah berpikir akan mengakhiri hubungan mereka di pelaminan.



"Liat ntar, deh! Kamu gimana? Sampe sekarang gak punya gandengan."



"Emangnya truk pake acara gandengan segala?"



"Kamu pakai acara jual mahal, sih! Ganteng-ganteng kagak laku. Ahahaha."



Steve membiarkan tawa gadis itu mengisi kekosongan kantin kampus agar tidak sepi lagi seperti kuburan. Sementara, jemari tangannya fokus pada notepad di depannya.



-Menunggu kelahirannya seperti menanti matahari terbit dari barat. Menakutkan sekaligus menyenangkan karena yang diharapkan akhirnya datang juga. Rinjani ... apakah ia sedang berlarian di bawah hujan ketika pulang sekolah?-


***


"Rik, gimana hubunganmu sama Steve?" tanya Anna penasaran sambil memperhatikan bayangannya sendiri yang ada di dalam cermin.



"Gimana apanya? Kan kita temenan."



"Bukannya kamu habis nembak dia?"



"Iya. Tapi ditolak mentah-mentah! Katanya dia sudah punya calon istri!"



What?! Anna yang sedang memakai maskara tiba-tiba kecolok. Stevan tidak pernah membicarakan gebetan apalagi pacar, kenapa tiba-tiba mention soal istri? Apakah itu cuma akal-akalannya saja agar bisa menolak cinta temannya sendiri? Lebih tepatnya, seperti yang pernah dilakukan Steve terhadap Anna yang akhirnya memutuskan untuk bersahabat saja karena cewek yang kerap memakai pakaian sexy itu ditolaknya berkali-kali.



"Terus, kamu nyerah gitu aja, Rik?"



"Iyalah. Masak ngejar-ngejar terus. Lelaki di dunia ini kan bukan hanya dia." Erika pura-pura jual mahal. Padahal dalam hatinya ia masih ingin berusaha mendapatkan Stevan yang maha sempurna. Tak hanya tampan dan kaya raya yang menjamin masa depannya cerah, tapi ia juga bukan buaya yang memanfaatkan ketenaran serta uangnya.



"Kamu sendiri gimana Ann sama si Jack?" Erika balik tanya kepada teman satu apartemennya itu. Berkat Anna lah ia bisa menikmati kamar dengan vasilitas lengkap dan serba mewah. Secara, orangtuanya memiliki keuangan yang pas-pasan. Kalau tidak karena mendapat beasiswa, mana mungkin Erika bisa kuliah ke luar negeri?



Meskipun Anna adalah tipe gadis yang ingin dilayani dan anak mami, itu tak masalah selama Erika bisa makan dan tidur secara gratis!



"Ya, gitu deh. Membosankan!" keluh Anna menjatuhkan tubuhnya di sofa sambil manyun.



"Apanya yang membosankan? Tingkahnya di tempat tidur?"



"Entahlah, Rik. Kalau kamu mau, ambil aja," sahut Anna memalingkan wajah keluar jendela. Ia memandangi kendaraan yang berlalu lalang di bawah sana. Dan bayangan sesosok pria pun muncul di benaknya. Stevan Antonius. Tak dapat ia pungkiri meskipun kini telah memiliki kekasih, wajah kokoh dan terlihat jantan itu masih sering mampir dalam mimpinya. Wajar saja Anna begitu tergila-gila, Steve itu paket lengkap nasi padang. Ada nasi, rendang, daun ubi tumbuk, teri medang goreng, ayam goreng, telur dadar, ditambah sambal hijau. Mengenyangkan dan tak pernah membosankan.



"Ogah, ah. Lagian, dia mana tertarik sama gadis cupu sepertiku? Dia itu seleranya tinggi kayak kamu. Apalagi dadaku tepos. Mana tertarik dia? Ngelirik aja enggak." Anna dan Erika tertawa bersama-sama. Apalagi ketika Erika memperagakan dada Anna yang besar dengan cara menyumpal BHnya menggunakan kaos kaki.


***



"Beib ... main, yuk!" Ajak Jack pada Anna yang ketika selesai mengikuti kelas.



"Malas, ah ...." Anna mendengus kesal. Moodnya memang sedang tidak baik dan selalu berubah-ubah layaknya cuaca.



"Kamu sakit, Beib?" Anna menggeleng.



"Terus kenapa? Laper?" Ia menggeleng lagi.



"Mau diantar pulang, Beib?" Anna mengangguk. Hari ini dia memang tak ingin ke mana-mana. Ia sedang kesal setelah percakapan tadi pagi dengan Erika. Calon istri Stevan? Dia penasaran dan ingin mengkonfirmasi sendiri kebenarannya.



Tok tok tok ... Anna mengetuk pintu apartemenen yang tepat di bawah kamarnya. Hari ini Stevan tidak ada mata kuliah. Kalau tidak di kamar, di mana lagi dia? Meskipun tampan dan mapan ia sama sekali tidak gaul.



"Masuk." Steve mempersilakan dan Anna secepat kilat langsung menyambar masuk. Padahal, dia bilang ke Jack akan langsung tidur supaya pacarnya itu tidak mampir ke kamarnya. Eee malah dia kelayapan sampai rumah tetangga. Ckckck



"Ada apa Ann?" tanya Steve lalu mendudukkan bokongnya di kursi dan kembali mengetik. Sementara gadis itu sedang asik berguling-guling di tempat tidur dengan sprei warna putih.



"Seperti apa tipe cewek yang kamu suka, Steve?" Stevan diam karena dia sedang berkonsentrasi.


"Ngapain sih kamu?" Anna gemas sendiri karena diabaikan, padahal Steve sedang ber kon sen tra si! Bukan mengabaikan. Laki-laki memang sudah diciptakan begitu. Kalau sedang bekonsentrasi melakukan satu hal, maka otomatis pendengarannya akan menurun. Beda dengan perempuan yang Tuhan ciptakan multi tasking alias bisa mengerjakan beberapa tugas sekaligus, tetapi tetap bisa mendengar.



Anna lalu mendekati pria itu, menepuk pundaknya.



"Ada apa Ann?"



"Yaelah ... dari tadi ditanyain kagak nyambung. Lihat ke sini deh," kata Anna sambil memegang wajah Steve yang diarahkan ke dadanya yang menyembul keluar. "Tipe wanita seperti apa yang kamu suka?" lanjut Anna penuh penekanan pada setiap kata. Agar jelas dan yang diajak bicara langsung mendengarkan.



"Entahlah." Stevan menjawab dengan gelagapan. Bukan karena belahan dada Anna yang mengarah ke mukanya, tapi ia bingung apa yang merasuki gadis berusia sembilan belas tahun itu.



"Kata Erika, kamu sudah punya calon istri. Siapa dia? Apa dia lebih cantik dari aku?"



"Yang pasti dia gak segila kamu." Stevan membalas dengan datar dan tak heran lagi dengan tingkah temannya itu yang seringkali over.



 Anna manyun. Ia merasakan cemburu yang teramat sangat. Selama ini, ia tak pernah mengejar laki-laki karena kaum adam itulah yang selalu mengejarnya. Baru kali ini ada pria yang menolaknya. Dan makin hari, dia justru makin penasaran dengan Stevan. Meskipun ia telah memiliki Jack, dia tetap tak bisa dibandingkan dengan Steve. Di mata Anna, tidak ada laki-laki lain yang bisa memuaskan mata dan hasratnya selain Stevan. Ia terobsesi. Dan tak jarang, saat bercumbu dengan Jack, Steve lah yang ada dibenaknya. Dan tujuannya hanya tertuju pada satu titik. Stevan Antonius. Apapun caranya, Anna harus mendapatkan laki-laki itu!


*** Bersambung (Sebentar lagi tamat).



Post a comment

1 Comments

  1. jadi anna terobsesi sekali sama steve yaaa....


    sementara di hati steve hanyalah keyla

    ReplyDelete
Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)