Suamiku Dingin (Bab 26)

 

Setelah lulus dari universitas, keempat sahabat itu menempuh jalannya masing-masing. Erika yang kebetulan bertemu dengan bule Kanada dan langsung menikah. Steve yang tetap menekuni dunia menulisnya dan menggunakan nama pena anonimus Stevan A, dan juga Anna dan Jack yang lulus langsung menikah. Mereka mengelola salah satu perusahaan milik ayah Anna. Dan tak ada alasan bagi orang tua Anna menolak pemuda itu. Meskipun Jack dari keluarga biasa-biasa saja, berkat dirinyalah Anna bisa menjadi sosok yang lebih baik meskipun harus tetap mengkonsumsi obat secara rutin.



Hingga suatu ketika Steve, Jack dan putranya mengalami kecelakaan mobil. Jack dan putranya meninggal di tempat, sedangkan Steve terluka tak terlalu parah namun menimbulkan traumatis dalam dirinya. Ia menjadi penyendiri dan tak pernah lagi menyetir mobil. Ia merasa bersalah. Takut. Andai saja saat itu dia membiarkan Jack yang menyetir, tak akan ada yang namanya kecelakaan itu.



"Sudahlah, Steve. Jack dan Ben sudah tenang di alam sana. Aku percaya Tuhan telah mengaturnya," hibur Anna saat menjenguk Stevan di rumah sakit.



Meskipun Anna merasa kehilangan, jauh di dalam dirinya ia bersyukur karena Stevan masih selamat. Masih ada harapan untuk dia bangkit. Dan seolah-olah ada bisikan bahwa Tuhan berpihak padanya. Tuhan tahu bahwa Anna masih memiliki cinta untuk sahabatnya, Steve. Dan barangkali, sekarang inilah saatnya untuk bersatu.



Sejak kematian suaminya, Anna memang lebih intens dengan Steve. Ia juga tak lagi meminum obat. Padahal, obat itu berfungsi membuatnya tidur di malam hari dan untuk mengontrol emosi. Alhasil, karena tak ada yang mengawasi Anna seperti apa yang dilakukan Jack, ia kerap mengingat pesakitan yang orangtuanya berikan. Ia ingat bagaimana saat di TK dulu tak memiliki teman karena menganggap dirinya adalah pungut. Ia sering diejek karena mama tak pernah mengantarkan ke sekolah. Dan saat perayaan hari Ayah, pak Dilman yang menghadiri acara itu. Anna kecil tak hanya butuh mainan bagus, pakaian indah, tapi ia butuh mama papanya. Butuh cinta dan kasih sayang. Anak pungut ... anak pungut! Kata-kata itu kerap muncul dalam tidurnya. Itu sebabnya ia tak minum obat. Ia tak ingin tertidur. Dan tidak ingin bermimpi tentang masa kecil yang mengoyak kebahagiannya hingga ia dewasa.



"Aku akan menikah, Ann," kata Antonius pada sahabatnya ketika sedang berada di gazebo. Mereka yang tadinya tertawa mengenang masa lalu pun tiba-tiba menjadi diam dan suasana menjadi hening.



"Siapa gadis itu, Steve?" tanya Anna penasaran sekaligus kecewa. Dadanya terasa nyeri. Antara cemburu dan takut kehilangan. Jika Steve menikah, bagaimana dengan diriku?



Padahal, kedatangannya ke rumah Steve ingin menyampaikan perasaannya. Tapi yang didengar Anna justru berita buruk yang memporak porandakan harapan dan kewarasannya.



"Keyla." Steve menunjukkan sebuah video gadis berusia 25 tahunan yang tengah memasak.



"Youtuber? Dari mana kau mengenalnya? Kau tidak pernah bercerita tentang gadis ini sebelumnya."



"Sejak ia masih di dalam perut. Mama dan orangtua Keyla bersahabat, jadi kami dijodohkan."



"Kamu mencintainya?"



"Ya. Aku sudah lama menunggu hal ini. Kini dia sudah cukup dewasa untuk menikah."



"Baiklah, Steve. Apakah aku boleh bertemu dengannya?"



"Apa kau akan hadir di pernikahan kami?"



"Tentu saja, Steve. Kau satu-satunya yang masih tersisa." Suara Anna menjadi lemah. Wajahnya bermuram durja. Tak tahan melihat itu Steve memeluk temannya. Ia juga ingin Anna bahagia dan hidup seperti orang normal lainnya.



"Apa aku boleh bertemu dengannya, Steve?"



"Tentu saja. Kebetulan dia ada di sini."



Anna dan Steve melangkah ke dalam rumah. Mencari Keyla. Tetapi gadis itu tidak ada di kamarnya, tidak juga di dapur. "Di mana Keyla, Bi?" tanya Stevan melalui sambungan telepon. Bibi yang merawatnya sejak kecil itu tinggal di paviliun belakang.



"Pulang ke Jakarta. Bibi sudah larang tapi kayaknya Mbak Keyla marah."



"Baiklah." Stevan menjawab singkat.



"Gimana Steve? Dia gak ada?"



"Rupanya balik ke Jakarta. Sorry ya, Ann. Mungkin lain kali."



"Mau diantar Bapak, Ann?"



"Gak deh. Aku pulang naik taksi saja." Dan berselang beberapa saat, Anna pulang ke rumah dengan perasaan yang tak menentu. Setelah kehilangan anak dan Jack, suaminya, Anna tak ingin ingin kehilangan lagi. Steve, sahabat dan juga orang yang sejak dulu ia cintai. Jika pria itu menikah, pasti Anna tak diperhatikan lagi. Ia harus melakukan sesuatu. Ia tak ingin kehilangan lagi orang-orang yang dicintainya dan tidak akan dibiarkan orang lain merebutnya.



***



(Steve. Anna bunuh diri dan sedang kritis.)



Pesan itu terpampang di ponsel seorang pria yang tengah makan bersama istrinya. "Ada apa Steve?" tanya Keyla pada suaminya yang terlihat gelisah saat mereka sedang makan. "Ke mana lagi kita? Apa kau mau ke Sentosa Island?"


Stevan menggeleng." Lebih baik kita kembali saja ke hotel, Key," balas Steve dengan enggan dan wajahnya terlihat panik.



Huuuffttt. Perempuan itu mendengus kesal. Bulan madunya ternyata tak seindah yang dibayangkan. Tahu begini, lebih baik ia di rumah saja.



"Key."



"Hmmm?"



"Aku mau ke kamar mandi dulu. Tunggulah di sini. Aku akan kembali."



"Baiklah," jawab Keyla merengut.


Begitu sampai di toilet umum, buru-buru Stevan menghubungi ayah Anna.

"Halo, Om. Gimana keadaan Anna? Mmm ... tidak apa-apa, Om. Aku akan pulang secepatnya ... bulan madunya ditunda dulu. Yang penting adalah keselamatan Anna saat ini. Baik, Om. Baik. Sampai jumpa."



Stevan mencuci wajahnya di toilet. Ia berpikir keras bagaimana cara memberitahu istrinya. Ia tak tahu bagaimana harus menjelaskan cerita yang sebenarnya.



***



"Kau baik-baik saja, Steve?" tanya Keyla ketika sedang di dalam lift menuju kamar mereka.



"Aku hanya lelah, Key."



"Aku tahu cara mengobati lelahmu," goda Keyla meraba pantat suaminya yang sedang dibungkus celana jins warna hitam. Tanpa menunggu lama, lelaki itu bereaksi. Tak mau menyia-nyiakan pancingan istrinya.



"Apa kau mau bercinta di dalam lift?" bisik Stevan tepat ditelinga Keyla.


"Tidak di sini. Karena sebentar lagi lift akan terbuka."



"Oh, sayang sekali." Stevan pura-pura kecewa. Padahal yang sebenarnya dia sedang bimbang hingga sedang tak berhasrat menyentuh istrinya. Saat memasuki kamar, ia langsung merebahkan tubuhnya di atas sofa. Ia harus segera pulang ke Indonesia. Jika Anna meninggal begitu saja, bagaimana dengan janjinya terhadap Jack? Suami Anna meninggal karena Steve, dan sejak saat itu pula lah pria bernama lengkap Stevan Antonius berjanji akan mengurus Anna seperti bagaima sahabatnya itu merawat Anna.



Stevan mengepaki barang-barangnya, dan Keyla tentu saja marah. Gadis itu cukup keras kepala dan terkadang sifat kekanakannya muncul begitu saja. Stevan memaklumi, sejak kecelakaan yang menimpanya tak hanya ingatannya yang hilang. Tetapi tingkah laku dan cara berpikirnya pun akan mulai dari nol lagi. Dan meskipun kini usia Keyla duapuluh lima tahun, ada saatnya dia akan bertindak dan berpikir seperti remaja. Stevan tahu itu bukan salah Keyla, dan bagaimanapun juga dia sudah lama menaruh hati pada gadis yang dulu pernah ia gendong saat orangtua Keyla main ke rumah Stevan di Bandung.



"Key, kumohon. Pulanglah denganku," pinta Stevan yang hendak menyentuh pundak istrinya. Buru-buru wanita itu mengelak. Ia sedang marah dan tak ingin berbaik hati pada suaminya. Ia tak mengerti kenapa lebih memilih sahabatnya ketimbang dia, istrinya sendiri. Stevan berlalu begitu saja. Dengan berat kakinya melangkah. 'Maafkan aku, Keyla ....'


***


"Bagaimana keadaan Anna, Om?" tanya Stevan yang langsung ke rumah sakit setelah tiba di bandara.



"Dia baru saja siuman. Untung luka di tangannya tidak dalam. Tak sampai putus nadi," jawab ayah Anna penuh kekhawatiran. Ia tak tahu harus bagimana lagi menghadapi putrinya. Sejak terakhir kali dari rumah Stevan, emosinya semakin tak terkendali. Ia kerap berbicara sendiri di kamar dan enggan berbicara kepada orangtuanya.



"Steve ... tolong bantu Om dan Tante, ya? Cuma sama kamu Anna mau nurut." Ibu Anna memelas sambil memegang tangan pemuda itu. "Jack gak ada lagi di dunia ini. Anna pasti kesepian," lanjutnya lagi. Air mata membanjiri pipinya yang mulai banyak kerutan. Ia merasa berdosa. Karena dialah Anna sampai seperti sekarang. Mama tak menyangka, kasih sayang ia berikan justru merusak anaknya sendiri hingga kehilangan masa depan.



"Kau baik-baik saja, Ann?" tanya Stevan pada Anna yang tengah terbaring.


"Aku baik Steve." Anna tersenyum. Ia merasa berhasil telah menarik Steve kembali ke sisinya.


'Aku yakin kau akan datang, Steve ... aku tak akan membiarkan Keyla merebutmu dariku ....'


***Bersambung ....

1 Comments