Suamiku Dingin (Bab 28)

 

Novel maitra tara

"Mama!" Tiba-tiba suara Awan membuatku membuka mata. Namun saat aku terbangun, sosoknya tak ada. Aku yakin sekali Awan memanggilku. Suara itu terdengar jelas.



"Ada apa, Key?" Pria di sampingku mengerang. Tubuhnya yang tanpa sehelai benang terpampang di depan mataku.



"Aku seperti mendengar suara Awan. Ia memanggilku Steve."



"Kau hanya bermimpi, Key," kata Stevan sambil memelukku. Sekarang baru pukul dua pagi, Awan pasti tidur lelap bersama James.



 "Aku ingin melihatnya, Steve. Apa kamu mau menemaniku?"



"Tentu saja, Key," jawabnya mengusap punggungku.



Setelah berpakaian, kami keluar kamar bersama. Aku merasakan ada yang aneh yang membuat perasaanku tak enak. Biasanya lampu utama rumah Antonius tidak dinyalakan. Pintu juga dibiarkan terbuka dan televisi masih menyala. Pintu kamar James sedikit terbuka. Aku langsung melongok ke dalam. Ada James di sana, tapi di mana Awan? Ketika aku mendekati James, kepala pria itu berdarah cukup banyak. Seperti habis dipukul oleh seseorang. Ya Tuhan!



"Steve? Lihatlah?!" Ia yang berdiri di ambang pintu berlari ke arahku.



"Oh, suck! Key, cepat panggil ambulance, Key!" Aku berlari ke kamar mengambil ponselku dan memanggil ambulance.



"Apa mereka akan datang?" tanya Stevan cemas. "Cepat ambilkan kotak obat di lemariku!" perintahnya semakin cemas karena saat ia berusaha memanggil James pria itu tak bisa mendengar sama sekali. "Keyla!" Mengetahui aku yang kebingungan dan hanya mondar-mandir Stevan mengeraskan suranya dan membuatku kaget. Aku berlari ke kamar dan mengambil kotak obat kemudian Antonius memasang perban di kepalanya.



 "Darahnya sudah agak mengering." Stevan bergumam. Mengering? Apakah itu artinya kejadiannya sudah cukup lama. Ya, Tuhan! Kenapa aku tak mendengar suara apapun?



"James? Bangunlah. Apa kau mendengarku?" Stevan masih berusaha memanggil James.



"Apa dia mati, Steve?"



"Tidak. Dia hanya pingsan. Cepat panggil Bapak dan Bibi." Aku menuruti perintahnya karena otakku sama sekali tidak bekerja saat ini.



"Mbak, Key. Ada apa ini?" tanya Bibi ketika sampai dan wajahnya kebingungan.



"Entahlah, Bi. Keyla juga bingung."



"Bibi ikut ke rumah sakit kalau ambulance datang. Ok?" Bibi mengangguk dan beberapa saat kemudian Bapak masuk membawa petugas rumah sakit. Mereka menaikkan James ke atas tandu dan memasukkan ke dalam mobil ambulance yang terparkir tepat di depan rumah.



"Bapak keliling rumah. Cari Anna dan Awan. Jangan lupa cek juga gudang belakang. Kalau perlu telepon beberapa orang kampung belakang dan minta tolong." Tanpa menunggu lama Bapak langsung melaksanakan tugas yang diperintahkan oleh Stevan.



"Darimana kau tahu pelakunya Anna, Steve?"



"Karena tidak ada orang lain di rumah ini," jawab Stevan yang berwajah tegang dengan tangan yang terkena bercak darah.



"Awan akan baik-baik saja, kan? Iya, kan?" Ia kemudian memelukku dengan erat dan memberikan sebuah kecupan di dahi.



"Tenanglah Key. Anak kita akan baik-baik saja."



Tenang? Bagaimana aku bisa tenang? James tergeletak tak sadarkan diri sementara Awan belum ketahuan di mana rimbanya. Di situasi seperti ini tiba-tiba pikiranku blank. Sama sekali tidak bisa berpikir karena semua terjadi begitu cepat.


***



"Iya, Om. Baiklah. Terima kasih," ucap Stevan yang sedang menghubungi orangtua Anna dan meminta ijin untuk meminta bantuan polisi. Pria itu mendengus kemudian mematikan ponsel dan memasukkannya ke dalam saku.



Kami berdua mencari Awan di sekitar rumah, barangkali ada petunjuk. Di luar langit mulai memerah, tanda matahari akan terbit sebentar lagi. Embun-embun di dedaunan mulai tertangkap korneaku dan kami belum melihat ada tanda-tanda Awan dan Anna.



Karena tak menemukan apa-apa, kami kembali ke rumah dan memutuskan menunggu Bapak. Barangkali, dia menemukan sesuatu karena bapak hafal daerah ini.



"Mbak, Key! Mbaaak!" teriak Bapak dengan tergopoh-gopoh dari arah gerbang yang diikuti beberapa warga kampung. "Ini mainan Den Awan. Kami temukan di dekat jurang."



 Astaga! Kakiku seperti tak bertulang. Lemas dan badanku seperti tidak mampu berdiri tegak lagi. Bagaimana bisa mainan Awan sampai di sana? Dan bagaimana anak sekecil itu bisa berjalan sampai ke hutan? Duniaku seketika runtuh. Ibu mana yang kuat menghadapi hal seperti ini?

 

 Stevan menangkap tubuhku sebelum benar-benar terjatuh. "Anna bagaimana, Pak?" tanya Stevan dengan suara gemetar.

 


Bapak sedikit tertunduk dan dia tak kalah sedihnya. "Gak ada, Mas. Cuma ada mainan ini. Kami sudah mencari ke mana-mana."



***



Mentari semakin di atas kepala. Tak ada berita tentang Awan maupun Anna. Aku mencoba menangkan diriku sendiri sementara Stevan sedang berada di rumah sakit menjenguk James. Aku sangat berharap dia baik-baik saja.



Sambil berharap-harap cemas menunggu kabar dari Bapak dan juga pihak kepolisian, aku menyusuri setiap kamar yang ada di lantai dua. Karena penasaran, aku memasuki ruangan Anna yang berada di paling ujung. Tepatnya, bersebrangan dengan kamarku.



Begitu masuk, aroma cinamon terendus oleh indra penciumanku. Tempat tidur Anna yang bertatakan sprei katun berwarna biru langit terlihat lembut dan juga hangat. Meja rias yang terletak di dekat jendela yang memperlihatkan jalan raya, penuh dengan kosmetik dan parfum yang sering Anna kenakan. Perempuan modis dan masa kini yang tak bisa hidup tanpa kosmetik.



Aku melihat ke sekeliling kamar Anna. Dan mataku tertarik untu membuka lemari pakaiannya, gaun-gaunnya indah dan terlihat mahal. Memang cocok untuk Anna. Bentuk tubuhnya bagus seperti gitar Spanyol dannaku sendiri heran kenapa Stevan tak tertarik padanya? Bukankah biasanya pria tak tahan melihat wanita bertubuh moleh dan berparas cantik?



Aku berpikir, saat Anna masih sekolah dulu, pasti banyak pria yang mengejar-ngejarnya. Meskipun aku tak begitu menyukai Anna, aku tak bisa mungkir akan kecantikannya. Aku duduk di kursi dan membuka laci meja. Ada pernak pernik yang berkilauan, sebuah foto anak laki-laki dan bersama seorang pria. Apakah ini suami dan anaknya?



Pandangan mataku menangkap sebuah buku dengan sampul warna putih dan ada gambar bunga melati di tengahnya. Sebuah buku diary. Aku memutuskan untuk membukanya perlahan dan mulai membaca tulisannya.



{ Jika saja aku bisa memilih sebelum aku dilahirkan, aku akan memilih lahir di keluarga miskin harta dan bukan miskin kasih sayang. Aku ingat dengan jelas saat masih TK dulu. Anak-anak lain mengejekku dengan sebutan anak pungut. Mula-mula aku diam dan hanya menangis. Tapi saat sampai di rumah dan melihat papa mama bertengkar, aku tiba-tiba menjadi marah dan perasaan dendam menjalari setiap aliran darahku. Keesokan harinya saat masuk sekolah, ketika teman mengejek dengan sebutan anak pungut, aku tak lagi diam dan menangis. Aku mendekati mereka dan memukul kepala mereka satu persatu. Sungguh aneh, tubuhku yang lebih kecil dari teman sebayaku, tiba-tiba menjadi kuat saat kemarahan menguasaiku. Aku senang melihat mereka menangis.



Ketika SMP aku memiliki banyak teman. Baik itu laki-laki maupun perempuan. Ya, hanya tiga tipe murid yang memiliki banyak teman. Karena kamu kaya, pintar, atau baik. Dan aku menempati alasan yang pertama. Mereka berbondong-bondong mendekat karena tahu aku selalu diantar mobil mewah dan tas maupun sepatu yang kupakai selalu bagus. Menurut mereka aku sempurna. Padahal, di dalam tubuhku semua yang ada di dalamnya hancur lebur. Kenakalan apapun yang kulakukan, Mama dan Papa tak pernah marah. Mereka selalu menemukan kambing hitam atas kesalahan yang aku lakukan. Aku kerap berpikir, jika aku membunuh orang apakah orangtuaku akan menutupinya dan masih menganggapku sebagai putri yang baik?}

0 Comments