Suamiku Dingin (Bab 29)

 

Novel maitra tara

"key?" Suara Stevan yang lembut dan tepat berad di depan telinga mengagetkanku. Sontak, kepalaku yang sejak tadi bersandar pada meja pun terangkat.



"Apa yang kau lakukan di sini?" tanyanya sambil membelai lembut rambutku.



"Emmm ... anu. Cuma lihat-lihat saja." Buru-buru aku menutup buku diary yang belum selesai aku baca.



"Anna sudah ditemukan, Key."



"Benarkah? Lalu di mana Awan?" Stevan menggeleng pelan. Wajahnya terlihat lelah karena mondar-mandir seharian.



"Mau ikut ke rumah sakit melihat Anna?" Rumah sakit? Ya Tuhan, sebenanya apa yang sedang terjadi di sini? Karena ingin tahu, aku pun mengiyakan dan mengikuti langkah lelaki itu dari belakang tanpa berkata apa-apa karena Stevan agaknya sedang malas untuk ditanya-tanya. Wajahnya suntuk dan otot-ototnya terlihat menegang. 



Begitu sampai, aku melihat Anna terbaring lemah di ranjang rumah sakit. Katanya, dia ditemukan di jurang tempat mainan Awan di temukan. Tubuhnya penuh luka, beruntung polisi menemukannya tepat waktu. Jika tidak, maka nyawanya tak akan tertolong lagi.



"Apa James ada di rumah sakit ini, Steve?" Pria yang berdiri di sampingku itu itu menggeleng  pelan dengan tatapan mata yang tertuju pada Anna.



"Dia dibawa ke rumah sakit lain, Key."



"Apa menurutmu Anna yang menculik Awan? Kalau begitu, di mana Awan, Steve? Apakah polisi sudah menghubungimu?



"Entahlah, Key. Semua kejadian ini terlalu mendadak. Kita hanya bisa menunggu sekarang."



Aku mendekat ke arah ranjang dan duduk di samping Anna berbaring. Aku memegang tangan Anna dengan lembut sambil sesekali melihat wajahnya karena iba. Perasaanku berkata sebenarnya dia adalah wanita yang baik. Hanya saja dia kurang beruntung dalam hidupnya. Kehilangan kasih sayang orangtua, serta anak dan suaminya. Tangannya hangat dan wajahnya tetap cantik meskipun ia terbaring sakit.



Setelah beberapa menit, aku dan Stevan meninggalkan kamar rawat Anna dan memilih duduk di luar. Ada banyak hal yang ingin kutanyakan pada Stevan tentang pembicaraan tempo hari saat kami masih di Kanada.



"Duduklah Steve," kataku sambil menepuk kursi besi panjang tepatdi depan pintu masuk kamar. "Ceritakan padaku, apa yang kau bicarakan pada James saat masih di Kanada."



"Bukan hal yang penting. Dia hanya bilang akan melepaskanmu jika ternyata kamu masih mencintaiku."



"Apakah itu semacam taruhan?"



"Bisa jadi. Pria memang menyukai sesuatu hal yang menantang." Aku sungguh bingung. Otakku tak dapat mencerna apa yang terjadi. Itukah sebabnya dia meminta aku tinggal di rumahnya sebelum menandatangani surat cerai? Dia berharap agar aku luluh dan mengubah keputusanku?



"Apa kau pernah melihat Anna ketakutan, Steve?"



"Anna?" Pria yang masih berstatus suamiku itu menggeleng.


Ohhh ... aku hanya mengeluarkan kata itu karena aku merasakan ada yang tak beres. Jelas-jelas Anna lebih sering duduk sendiri ketimbang kumpul bersama kami. Dan saat melihat James, Anna seperti melihat hal yang menakutkan baginya. Wajahnya selalu nampak tegang ketika berpapasan dengan pria itu semenjak Lunny mati. 



"Apa kau mau ikut menjenguk James," tanya Stevan seraya berdiri.



"Tidak. Aku akan menunggui Anna. Kamu pergilah."


"Oke. Nanti aku akan menghubungimu," balas Stevan kemudian berdiri dan perlahan mulai berjalan menjauh. 



Aku mengeluarkan buku diary Anna dari dalam tasku dan melanjutkan membaca begitu sosok Stevan menghilang di belokan lorong rumah sakit.



{ Saat memasuki SMA tubuh molekku terbentuk sempurna. Dada yang menonjol melebihi anak seusiaku, pinggang yang ramping dan bongkahan bokong yang padat. Aku juga mulai mengenal dunia malam dan sering clubbing. Mama dan Papa tak pernah marah dengan apa yang aku lakukan. Katanya, masa-masa remaja sepertiku memang darahnya sedang panas.



Hingga suatu ketika, aku bertemu dengan seorang pelajar dari sekolah lain di sebuah diskotik. Dengan dia lah aku merelakan keperwananku. Dan sejak itu kami berpacaran.



Anak laki-laki itu sangat baik. Ia perhatian, dan sikapnya terlihat sangat menyayangiku. Aku sering main ke rumahnya. Dia tinggal sendirian karena ayahnya tinggal di Papua.



Ayahnya adalah seorang pemilik tambang batubara yang cukup besar. Sementara ibunya tinggal di Itali. Mereka bercerai. Dan pacarku itu memilih untuk tidak ikut dengan keduanya. Meskipun begitu, ia tak pernah kekurangan. Uang selalu mengalir deras ke dalam dompetnya.



"Ann," ucap Patek menyalakan rokoknya saat aku sedang tidur di kamarnya. Hampir tiga tahun pacaran dengannya aku sudah terbiasa keluar masuk rumah pemuda itu. "Bukankah kau mau ujian sebentar lagi? Kenapa malah ada di sini?"



"Hei ... tidak bisakah kau melihatku tidur? Soal ujian tenang saja. Orangtuaku punya banyak uang untuk membeli kelulusan. Bagaimana denganmu? Bukankah kau juga mau ujian?"



"Orangtuaku tidak peduli aku lulus atau tidak. Lagipula, tanpa sekolah pun aku tetap kaya." Patek menikmati rokoknya sambil menyandarkan tubuhnya ke tembok. Postur tubuh Patek tinggi dan besar, wajahnya tak seperti orang Indonesia pada umumnya. Matanya agak hijau kecoklatan. Seperti kucing yang sering lewat di depan jendela kamarku.



"Apa kau mau mencoba merokok?" tawarnya.



Aku menggeleng lalu pemuda yang otot-otot tubuhnya mulai terbentuk itu mendekatiku dan mulai menciumi leherku. Aku mengerang dan mengarahkan tanganya tepat di dadaku. "Apa kau mau mencoba sesuatu yang baru?" tanpa bertanya apa itu aku langsung mengiyakan. Patek memang menyukai hal-hal baru di dalam hubungan seks. Dia sering bergumam jika ingin melakukannya di dalam sebuah pesawat, pinggir pantai, atau bahkan di lift kaca yang bisa terlihat banyak orang. Aku sadar itu tidak normal, tapi bagiku apalah artinya normal? Aku sendiri pun sama dengannya. Abnormal.



"Apa?" tanyaku penasaran.



Patek mengeluarkan sesuatu yang tak pernah kuduga sebelumnya. Ia mengambil sebuah cerutu kuba dan menyalakannya. Oh, shit! Aku bangkit dari tempat tidur dan cepat-cepat mengancingkan seragamku.



"Are you crazy?!" teriakku.



 Mendadak raut wajah Patek berubah. Aku seperti tak mengenalnya. Pemuda yang tiga tahun terakhir kukenal dengan kelembutannya dengan sekejap menjadi beringas.

 


"Stay a way!" Ia berusaha mendekat hendak menyulutkan cerutu padaku. "Kamu gila, Tek!" Aku berteriak. Melempar apapun yang teraih oleh tanganku.





"Come on, Darling. Bukankah kamu menyukai seks?!" Aku merambat tembok. Menuju pintu keluar kamarnya.



"Ya! Gue suka seks tapi gak pakai kekerasan Kamu mabok, ya?!" Kudorong sekuat mungkin tubuh Patek dan ia jatuh ke lantai. Ia tertawa seperti orang sakau. Aku memang menyukai permainannya. Tapi, aku tak mau melakukan hubungan seks yang kasar! Aku lari sekencang mungkin ke jalan raya. Ada banyak orang di sana dan pasti Patek tak berani melakukan apapun padaku. Sejak saat itu ....}



"Anna?!" Suara seorang perempuan yang terdengar panik membuatku menutup buku. Ia masuk ke dalam kamar dengan tergesa ditemani seorang pria. Orangtua Anna?



Ibu itu terlihat menangis sambil memeluk putrinya. Sedangkan pria yang berdiri di sebelahnya terlihat menyeka air matanya. Aku masuk untuk menyapa mereka. "Permisi, Om, Tan. Orangtua Anna?"



"Betul. Kamu pasti Keyla, ya? Stevan memberitahu kami kalau nak Key menunggui Anna." Pria tua itu menjawab dengan ramah. Dari penampilan dan suaranya ia sangat berwibawa. Memang cocok sebagai pemimpin perusahaan besar.



"Maafkan Anna nak Keyla. Karena Anna ...." Belum sempat ayah Anna meneruskan, aku memegang tangannya 



" Tidak masalah, Pak. Sekarang kami sudah bersama lagi." Ia tersenyum dan memelukku. Aku bisa merasakan kehangatan di sana. Cinta seorang ayah untuk anaknya.



"Wali ibu Anna?" tanya seorang dokter yang tiba-tiba masuk dan didampingi dua orang perawat.



"Iya, Dok. Kami orangtuanya." Ayah Anna menjawab dan memberi salam.



"Hasil pemeriksaan ibu Anna, luka lebam di tubuhnya dikarenakan dipukul benda tumpul. Ada juga beberapa sayatan di pangkal paha dan daerah kewanitaannya mengalami robek seperti habis diperkosa."



Kami bertiga mendadak lemas namun ibu Anna tubuhnya terhuyung dan kehilangan kesadaran. Diperkosa? Aku semakin tak mengerti dengan apa yang terjadi. Ada apa dengan rumah Stevan? Kejadian aneh terus saja bermunculan. Mulai dari kelinci, James, Awan dan Anna. Ya Tuhan ... cobaan apalagi yang ingin Kau berikan padaku ....


*** Bersambung


0 Comments