Suamiku Dingin (Bab 30)

 

Novel maitra tara

"Steve?" ucapku begitu lelaki itu meneleponku. 



"Apa James baik-baik saja? Oh, baiklah. Sampaikan salamku padanya. Anna masih belum sadar. Tentang itu ... bisakah kau kemari? Oke. Aku akan menunggumu. Aku harap polisi akan segera menemukan Awan. Baik ... baik ... hmmmm. Cepatlah kemari."



Aku menutup telepon dari Stevan lalu memasukkan ponsel ke dalam tas. Katanya, James baru saja siuman. Dan ketika dia menanyakan soal Anna, aku ingin bercerita langsung padanya. Kemudian tentang Awan ... polisi masih mencarinya dan kini mereka tengah menggeledah rumah Stevan. Barangkali, ada petunjuk yang bisa digunakan dalam menyusuri keberadaan Awan. Meskipun begitu, aku bersyukur Stevan  tetap tenang. Aku tak tahu lagi bagaimana jadinya jika ia ikut-ikutan panik sepertiku.



Aku berjalan ke arah kantin dan meninggalkan Anna di ruangannya. Orangtuanya masih di sana. Dan ibunya yang tadi sempat pingsan dirawat di sebelahnya. Aku memesan segelas es teh tawar dan mengambil satu bungkus nasi kuning dan duduk di pojokan kantin rumah sakit. Perutku tak bisa menunggu Stevan sampai datang. Cacing-cacing di perutku bukanlah makhluk penyabar. Sambil memasukkan makanan ke mulut, aku membuka buku diary itu lagi dan mulai membacanya ....



{Sejak saat itu aku tak pernah lagi menemui Patek. Wajahnya yang brutal masih sering membayangiku. Hingga suatu ketika saat aku menyetir mobil sendiri ada sebuah mobil mengikuti. Aku mengenali mobil itu. Milik Patek. Aku tahu jalanan kota Jakarta tak pernah sepi, tapi bagi orang panik sepertiku membunyikan klakson di tengah lampu merah mampu membuang sedikit penat dan sah-sah saja. Ketika lampu itu hijau, aku melaju kencang. Mencari celah agar Patek tak bisa lagi mengikutiku. Tapi sungguh sial, dia bisa mengikutiku. Aku melihat di depan ada gang menuju perumahan. Kubelokkan mobil ke kiri dan ternyata Patek pun terus membuntuti. Kuinjak gas dan saking paniknya aku tak sadar di depan ada belokan. Ada seorang anak kecil sedang bermain sepeda. Aku membanting setir ke kanan tapi itu sudah terlambat. Anak itu terlempar cukup jauh sedangkan mobilku menabrak pagar rumah.



Saat keluar dari rumah sakit, aku melihat Patek mondar mandir di depan rumahku. Aku takut bukan main. Dan akhirnya aku menceritakan kejadian itu pada Mama dan Papa. Beruntung mereka memiliki banyak koneksi. Polisi segera menggeledah rumah Patek dan katanya ditemukan sabu-sabu seberat 1 gram. Ada beberapa botol miras dan juga ganja. Ketika rumah itu digeledah, Patek tengah teler hingga tak sadarkan diri. Aku kaget bukan main. Ternyata, pemuda yang selama ini kukencani berdiri di balik topeng. Atau hanya aku saja yang bodoh hingga tak bisa membedakan mana yang benar-benar baik atau tidak?



Saat Mama dan Papa mengirimku untuk kuliah di LA, kudengar Patek direhabilitasi. Dan saat kuliah itulah aku menemukan teman-teman baru yang tulus mencintaiku. Tapi sayangnya, mereka terlalu naif. Mereka berpikir aku ini gila. Padahal ... hahaha ... aku benar-benar tidak gila. Aku hanya orang yang tak bisa memendam kekesalanku dan suka diperhatikan. Apapun akan kulakukan agar orang-orang menyayangiku. Dan untuk mendapatkan semua yang aku inginkan itu, aku telah melakukan banyak hal. Hehehe ....



Ketika ketiga sahabatku mengatakan aku harus melakukan psikotes, aku mengiyakannya. Aku tak mau menolak karena itu akan membuatnya kecewa. Saat melakukan tes itu, ternyata aku memang mengalami mental issue. Tapi aku tidak gila.



Devdas bilang bipolar vase mixed episode. Dimana aku tak hanya bersemangat dalam melakukan apapun, tak bisa tidur, sembrono, agresif, tapi aku juga memiliki keinginan untuk bunuh diri. Apa yang patek bilang adalah benar. Pertama kali aku memiliki keinginan untuk bunuh saat kecelakaan mobil itu. Aku putus asa, marah dan kecewa karena orangtuaku lebih memilih pekerjaan dibanding anak mereka. Aku berpikir ingin menceburkan mobil yang kukendarai ke sungai atau memasukannya ke dalam jurang. Bukan untuk menabrak anak kecil. Dan kudengar anak kecil itu mengalami trauma. Dan yang paling mengecewakan adalah Papa dan Mama menyalahkan orang lain atas perbuatanku.



Aku meminta tolong pada Devdas agar ia memberitahu teman-temanku bahwa kondisi psikologisku sangat parah (meskipun memang parah ... dan aku belum gila). Dan yang benar saja, mereka percaya dan langsung memberitahu orangtuaku. Aku berterima kasih pada Devdas, karena dia aku bisa menemukan apa arti teman yang sesungguhnya. Mama papa juga berubah. Mereka meluangkan banyak waktu untukku. Dan tentu saja mengawasi therapi yang aku lakukan.



Beberapa tahun kemudian, aku menikah dengan pacarku, Jack. Dia adalah pria yang sangat baik. Dan dari pernikahan kami aku memiliki seorang anak. Namun naas, mereka meninggal dalam kecelakaan dan hanya temanku yang selamat. Aku terpuruk, saat itu. Tak ada lagi orang memperhatikaku sebagaimana yang dilakukan Jack. Aku tak lagi minum obat. Aku mulai imsomnia dan bayangan-bayangan masa lalu muncul termasuk cinta serta gairah yang kupendam untuk sahabatku. Stevan. Kupikir, kematian Jack dn Ben adalah sebuh takdir agar aku dan Steve bisa bersama. Aku mulai menginginkannya lagi, memimpikannya dan ingin mencumbu tubuhnya yang menawan. Pria itu mulai menyedot seluruh pikiranku dan aku dibuat gila karenanya. Aku tak bisa lagi mengendalikan dan mengenali tubuhku sendiri. Tapi aku belum gila. Aku hanya terlalu menginginkan Stevan!



Saat dia menikah dengan perempuan lain, bisikan-bisikan agar aku bunuh diri semakin menjadi. Aku juga sering mengurung diri di kamar dan asik dengan duniaku sendiri. Mama dan Papa pikir aku sudah gila. Padahal, aku tidak gila. Aku hanya menginginkan Stevan seperti orang gila. Cintaku tak terbalas dan sejak kemunculan wanita bernama Keyla itu perhatian Steve teralihkan. Ia tak lagi peduli lagi padaku. Dan aku berpikir aku akan melakukan cara apapun agar mereka berpisah. Ya, aku harus melakukannya. Aku membenci Keyla dan ingin Stevan kembali ke pelukanku. Tanpa Stevan, tanpa orang yang menyayangiku, apa artinya sebuah kehidupan?}



Kututup buku diary itu. Menarik napas perlahan dan memakan nasi kuning yang tinggal secuil. Meskipun jengkel, tapi aku ikut bahagia karena Anna memiliki sahabat yang baik. Salah satunya adalah Stevan. Setelah selesai aku membuka buku itu kembali. Masih banyak yang ingin kuketahui tentang Anna. Aku merasa aku bisa menemukan jawaban atas apa yang terjadi belakangan ini. Dan saat aku membuka lembaran selanjutnya dan belum sempat membacanya, Stevan telah berdiri di depanku.



"Aku tidak menyangka ibu yang anaknya tak tahu hilang ke mana, masih bisa makan selahap ini," sindirnya kemudian duduk di depanku.



"Aku juga tidak menyangka seorang pria yang istrinya sedang pergi tapi malah menampung wanita lain di rumahnya," balasku tak mau kalah tapi justru pria itu hanya tersenyum. "Apa kau sedang bahagia?" tanyaku bersungut-sungut. "Apa kau sudah melihat Anna?"



Dia menggeleng lalu menyeruput es teh milikku. "Dokter bilang, Anna diperkosa. Dia juga dianiaya. Apakah menurutmu Anna bisa jalan sampai sejauh itu, Steve? Bukan hal tidak mungkin jika seseorang melemparkannya ke sana," lanjutku lagi dengan suara serius. 



"Apa kau mau mencoba menjadi detektif, Key."



"Apa kau sedang mengejekku sekarang?"



"Key."



"Hmmmm?"



"Jika aku mengatakan hal yang sebenarnya, apa kau akan percaya?" tanya pria itu menatap ke dalam mataku. Ada keraguan di dalam ucapannya.



"Tergantung. Mau bicara apa?"



"Apa kau tahu James seorang pemakai?"



Deg! Aku menggeleng pelan karena kaget sekaligus tak percaya. "Dari mana kamu tahu?"



"Hasil lab dan dari bekas suntikan di tangannya."



Aku tak bisa berpikir lagi akan apa yang terjadi. Selama lima tahun tinggal dengan James, dia baik-baik saja. Maksudku, tidak menunjukkan tanda-tanda bahwa dia seorang pemakai. Ya Tuhan ....




*** Bersambung ....


Note Author: Hayo, adakah yang bisa menebak siapa yg memperkosa Anna? Dan hilang ke mana kah Awan? Dan siapa yang memukul kepla James?

Post a comment

0 Comments