Suamiku Dingin (Bab 31)

 

Novel suamiku dingin

Polisi telah menemukan Awan ketika aku dan Stevan kembali ke rumah setelah dari rumah sakit. Mereka menemukan buah hatiku di rumah Lunny dan saat polisi menemukannya, Awan sedang tidur di dalamnya.



"Maafkan Bapak, Mas karena tidak mencari den Awan dengan teliti," ucap Bapak dengan sungguh-sungguh. Kepalanya tertunduk dan ada seugurat penyesalan di wajahnya. 



Stevan langsung memegangi Bapak. Dia tak mungkin menyalahkan orang yang telah bersamanya puluhan tahu. "Tidak apa-apa, Pak. Siapa yang menyangka dia akan tidur sana. Kami semua lega. Awan baik-baik saja dan dia tetap ceria. Terima kasih karena telah mencari Awan dengan sekuat tenaga."




Aku menciumi tubuh Awan yang berbau kelinci mulai dari rambut, wajah, badan hingga tangannya. Tangisku tak terbendung lagi dan rasa syukur aku panjatkan dalam hati. Tak pernah terpikirkan bagaimana hidupku jika aku sampai kehilangan Awan.



Segera aku memandikan Awan dan menggantikan baju dan cepat-cepat menyiapkan untuknya. "Kenapa kau tidur bersama Lunny, Sayang?" tanyaku sambil menyuapi Awan di dapur. Makannya begitu lahap dan pipinya yang terlihat gembul begitu menggemaskan.



"Bunny menyuruhku. Dia datang ke kamar dan aku mengikutinya," jawabnya polos dan tanpa terasa air mataku berlinang. Terima kasih, Bunny. Seandainya Awan tidak pergi dari kamar itu, entah apa yang akan terjadi pada anakku.



"Kamu tidak takut, sayang?"



Awan menggeleng cepat sambil tersenyum memperlihatkan giginya yang ompong.



"Apa Bunny masih di sini?" tanyaku penasaran terlepas apakah itu hanya imajinasinya saja.



"Ya. Dia sedang bermain Lunny. Aku akan menengoknya lagi nanti setelah selesai makan." Awan menjawab dengan penuh semangat. Syukurlah dia tidak sadar dengan apa yang sedang terjadi di rumah ini. Aku bisa bernapas sedikit lega sekarang.



Rumah Lunny berada di pojokan paling ujung belakang. Stevan membuatnya tertutup dan luas. Di sekelilingnya di beri pagar agar mereka tidak bisa berkeliaran dan masuk ke taman mawar.



"Apa kau merindukannya, sayang?"



"Hmmph! Bunny terlihat gemuk sekarang. Tante Erika pasti memberikannya banyak makan," jawabnya dengan suara menggemasakan dan mengundang senyumku.



"Mama juga merindukanmu, Sayang. Rindu sekali!" Aku memeluknya erat sampai-sampai tak ingin melepakannya.


"Sakit,Mama." Awan merengek dan memonyongkan bibirnya. 


"Maafkan aku, sayang," balasku mengecup pipi Awan.


***


"Apa yang akan terjadi pada James?" tanyaku pada Stevan saat kami sedang di kamar. Awan sedang di paviliun belakang bersama Bapak dan Bibi yang baru saja pulang dari rumah sakit.



"Polisi akan menjaganya, Key. Di kamarnya juga ditemukan barang bukti. Dan saat ini mereka juga sedang mencari tahu apakah dia ada hubungan dengan sindikat atau tidak. Bagaimanapun James warga asing. Tidak heran jika polisi mencurigainya sebagai pengedar."



Ya Tuhan, James. Selama ini dia baik sekali padaku dan Awan. Aku tertunduk lesu dan tak percaya dengan apa yang barusan aku dengar.


 "Sudahlah, Key. Biarkan polisi yang menanganinya. Yang penting Awan sudah ketemu," lanjut Antonius.



"Belum, Steve. Masih ada hal yang tak beres. Tentang Anna."


"Apa kau tidak tahu aku sedang lelah? Aku tak ingin membahas itu lagi." Stevan mencium bibirku tanpa aba-aba. Aku merangkul lehernya yang ada di atas tubuhku.



"Kalau lelah, tidurlah," godaku dan dia hanya menyeringai.


"Aku ingin tidur denganmu," balasnya.



"Ini masih terlalu siang untuk bercinta, Steve!" Aku pura-pura mendorong tubuhnya dan dia juga pura-pura terjatuh.



"Aku tak menyangka kau sangat kuat, Key."



"Tentu saja. Jangan meremehkanku!" balasku kemudian duduk di atas tubuh Stevan yang telentang.



"Apa kau sedang mencoba merayuku?"



"Entahlah." Kubuka kancing baju pria itu dan mata kami saling menatap satu sama lain. Ia menarikku ke arah dadanya mendekapku seakan-akan tak ingin kehilangan.



"Berjanjilah Key, semarah apapun dirimu, tetaplah bersamaku," ucapnya lirih sebelum menautkan bibirnya padaku. Aku merasakan sesuatu yang mendesak ke arahku. Tangan Stevan mengangkat tubuhku agar duduk tepat di atas kejantanannya.


"Key, kamu tahu kan apa yang harus kau lakukan?" ucapnya perlahan dan aku terhipnotis begitu saja. Tak ada lagi bayangan tentang James. Tak ada lagi kekhawatiran tentang Anna. Yang ada hanya aku yang mulai menggerakkan pinggulku dengan pelan. Kunikmati setiap gesekan yang ada di pangkal pahaku hingga aku menyadari satu hal. Sepasang mata milik Steva tak berhenti melihatku.



"Jangan melihatku seperti itu, Steve. Kamu membuatku malu!" kataku yang lansung turun dari tempat tidur mengambil segelas air putih di meja.



"Apa kau mau minum?" tanyaku yang sedang duduk di sofa sambil meneguk air.



Sudah lama aku tak merasakan suasana seperti ini. Pria yang aku cintai di ranjang, jendela yang terbuka hingga angin sepoi-sepoi yang bebas hilir mudik ke kamarku membawa aroma mawar dari taman belakang.



"Aku sedang ingin meminum yang lain. Tapi minumanku kabur," balas Stevan dengan jengkel.



"Apakah minumanmu memakai tekhnologi terbaru? Jadi dia punya kaki untuk kabur?"



"Mungkin saja. Atau jangan-jangan ia ingin diminum pria lain. Tapi aku tak yakin apakah ada pria setampan aku di luar sana?!"



"Ciiihh. Percaya dirimu terlalu tinggi. Malulah dengan matahari, ia masih bekerja menyinari bumi tapi kau hanya tiduran saja."



"Baiklah. Suamimu ini memang pengangguran. Tapi aku masih cukup kaya untuk bisa membangun sebuah kastil untukmu dan Awan."



"Apa kau sedang tidak waras?!"



"Mana ada laki-laki yang waras jika ditolak oleh istrinya?"



"Siapa bilang aku menolakmu? Aku hanya ingin kamu bersabar."



Aku meletakkan gelas di meja dan mendekati pria yang sedang merengek seperti bayi lalu duduk di atas tubuhnya. "Apa kau mau bermain?" Aku mengerlingkan mata.



"Taruh tanganmu di atas dan jangan menyentuhku. Kalau kau melanggar, kau harus menunggu sampai malam. Oke?" Pria itu tak menjawab. Napasnya naik turun dan dia ingin menciumku. Aku menghindar dan dia terlihat kesal. "Bukankah aku sudah bilang jangan menyentuhku."



"Kau bilang tangan, Key. Bukan bibir," balasnya greget.


"Sama saja, Steve." Aku tak mau kalah. Kugerakkan bokongku dan area paling sensitifnya sudah sangat tegang.



Tangannya gusar dan ingin sekali menyentuhku. "Apa kau senang menyiksaku?" tanya Antonius terbata.



"Tentu saja," jawabku dengan kerlingan mata sambil meremas dadaku sendiri. 



"Keyla!" erang lelaki itu menarik tanganku dan mulai melumat bibirku.


Kemudian dengan cepat, aku melepaskan dirinya diri darinya dan turun dari ranjang. "Kamu kalah, Steve. Sudah kubilang kamu tak boleh menyentuhku."


"Arrrgghhh ... siii ...." Belum selesai Stevan  mengumpat, suara nyaring memanggilnya.


"Papa!" Awan tiba-tiba muncul dari balik pintu lalu naik ke atas ranjang.


"Ada apa jagoan?" Stevan memeluk Awan dan berguling-guling di atas tempat tidur. Awan cekikikan ketika papanya menciumi wajahnya.



"Geli geli geli." Awan berusaha melepaskan diri dari cengkraman papanya. "Papa, ayo kita membersihkan rumah Lunny."



"Tapi Papa haus. Bisakah kau meminta Mama untuk memberikan susu?"



"Awan akan mengambilkannya di kulkas," jawabnya polos disertai kekecewaan Stevan. "Papa mau susu coklat? Ayo ikut." Awan menarik tangan Papanya dan mengajak turunndari tempat tidur.



Aku tak bisa berhenti tersenyum. "Pergilah Steve. Kau bisa minum susu sepuasmu di dapur!" ejekku sebelum mereka menghilang dibalik pintu.



Aku meraih tas di meja. Mengambil buku diary milik Anna dan membacanya kembali ....



{Aku tak menyukai kedatangan Keyla dan anaknya di rumah ini. Perhatian Stevan jadi teralihkan dan lebih banyak menghabiskan waktu bersama mereka. Terlebih lagi aku tak menyukai pria yang datang bersamanya. James.



Aku tak suka bagaimana cara ia memandangku. Ia seperti tengah melucuti bajuku satu persatu. Aku juga tak menyukai tawa anak kecil. Hal itu membuatku sakit. Awan selalu mengumbar tawanya, ia juga kerap membawa kelinci putihnya bermain di dalam rumah. Aku terganggu.


"Mama?" kata Awan yang menjatuhkan mainannya tepat di bawah kakiku. "Papa bilang Awan punya dua Papa. Apakah Awan juga punya dua Mama?" Anak laki-laki itu bertanya dengan polos. Aku mengacuhkannya dan dia malah memberikan minannya berbentuk bola salju itu padaku kemudian ia berlari entah ke mana. Awan mengingatkanku pada Ben. Tak bisa diam dan selalu berputar-putar di rumah. Jack membelikannya banyak mainan sama seperti yang dilakukan Steve. Diam-diam, aku merindukan mereka dan tanpa sadar air mataku tertumpah ... seandainya bisa, aku ingin menyusul suami dan anakku.}



Tak kuat lagi membaca diary Anna, aku menutupnya. Bagaimanapun juga dia adalah seorang perempuan dan seorang ibu. Dan bagi seorang ibu, tak ada yang lebih sakit ketika kehilangan buah hatinya? Aku tak bisa lagi menyalahkannya atas kebenciannya terhadapku. Barangkali, jika aku tidak hadir dalam kehidupan Stevan, mereka akan bersama dan hidup bahagia.



*** Bersambung ....

Post a comment

0 Comments