Suamiku Dingin (Bab 27)

 



Anna tertawa sambil melahap kue pie di pangkuannya. Remahan-remahan crush itu berceceran di rok dan lantai. Aku mengamatinya, pandangan matanya kosong, ia seperti sedang menikmati dunianya sendiri. Dunia yang tak orang lain ketahui.



"Mama!" Awan berteriak dari dapur. Kedua papanya tengah memasak bersama. Dari baunya, tercium aroma nasi goreng bumbu terasi.



"Anna. Apa kau mau ikut bergabung bersama kami di dapur?" Ia menggeleng dan kembali menatap layar televisi. Tak ada tayangan yang lucu di sana. Hanya ada berita kriminal dan politik. Aku merasa iba padanya, dan kupikir Anna seharusnya mendapatkan perawatan yang tepat dari tenaga ahli.



"Steve, bisakah kita bicara setelah ini?"



"Hmmm. Tentu saja."



"James, bisakah kamu bersama Awan sebentar?"



"Tentu saja, Darling. Lagipula kalian masih suami istri, lakukanlah semau kalian."



"James?!" Aku mencubit perutnya dan dia malah tertawa. Ia memang hampir tak pernah terlihat serius dan aku sering tak mengerti dengan jalan pikirannya. Bagi James tak ada masalah yang berat di dunia ini dan tak perlu memikirkan sesuatu hal sampai berlarut-larut. Katanya, hidup itu hanya sekali dan harus dinikmati serta bahagia. Jika tidak, apa bedanya kita dengan orang mati?



Selesai makan malam Awan dan James bermain di kamar. Tepat di sebelah kamarku. Sementara aku dan Stevan mengobrol di ruang kerjanya.



"Steve, apa kamu sudah lama bersahabat dengan Anna?"



"Ya. Sejak kami kuliah."



"Apa kamu tidak pernah merasa ada yang aneh dengan dirinya?"



"Aneh? Dia memang seperti itu."



"Kupikir dia butuh perawatan, Steve. Sebagai sahabatnya, seharusnya kamu tahu ada yang salah dengan mentalnya." Stevan hanya diam di meja kerjanya. Tidak menanggapi. Ia seperti enggan untuk berbicara lebih banyak tentang Anna.



"Baiklah," kataku sambil berdiri dari sofa. Sepertinya lelaki itu sedang tak ingin diganggu. Apapun itu aku tak ingin memaksanya bicara.



"Key?" Aku menghentikan langkahku. "Ada apa?" tanyaku sewot.


"Tidak apa-apa. Pergilah melihat Awan." Hih. Dasar. Selalu saja egois dan memikirkan dirinya sendiri.



Tok ... tok ... tok ....



Aku membuka pintu lalu masuk ke dalam kamar James," Apa Awan sudah tidur, James?"



"Iya, Key. Baru saja. Apa kau mau tidur di sini?" jawabnya setengah berbisik. Aku menggeleng.



"Baiklah kalau begitu. Kutinggalkan dia di sini. Aku akan pergi ke kamar."



"Selamat tidur, Keyla. Aku akan menjaga pangeran kecil kita."



Aku menjauh dari James, pergi ke kamarku sendiri dan ketika aku masuk sosok Stevan sudah ada di sana. Duduk di sofa samping tempat tidur sambil memangku laptopnya dengan bertelanjang dada. Aku tak bisa memungkiri, meski kini usianya telah memasuki kepala empat, sama sekali tidak mengurangi karismanya. Ia tetap menjaga tubuhnya. Tetap tampan dan jantungku selalu berdegup keras karenanya. Semakin aku menolak dan menghindar, pria itu semakin membayangi pikiranku.



"Apa malam ini kau akan tidur di sofa itu?" tanyaku sambil berlalu ke kamar mandi. Selesai membersihkan tubuhku, aku berganti pakaian dan langsung membaringkan tubuhku di ranjang. Kuregangkan otot yang kaku. Menonton dan menemani Awan bermain ternyata sangat melelahkan.



"Steve, bisakah kamu kembali ke tempatmu?" perintahku sedikit jengkel karena sikap dinginnya terhadapku ternyata tak berubah. Ia tak selalu menjawab pertanyaanku. Dan kadang-kadang dibiarkan berlalu begitu saja.



"Aku bosan tidur di ruang kerjaku," jawabnya sambil berbaring di sampingku dan dadaku tersentak. Hal ini mengingatkanku saat dulu pertama kali datang ke rumah ini.



"Terserah kau sajalah." Aku memiringkan tubuhku ke arah tembok. Memberikan Stevan punggung dan perlahan-lahan mulai menutup mataku. Lagipula, tidak ada hal penting yang perlu kami bicarakan.



"Key. Bukankah kamu terlalu kejam padaku?" Tangan kekar itu memelukku dari belakang. Aku yang pura-pura tidur bisa merasakan dengan jelas hembusan napasnya di kepalaku. "Baiklah. Aku akan membuatmu terbangun," bisiknya dengan lembut selembut sentuhan tangannya mulai meraba bagian luar baju tidurku dan aku hanya perlu menikmati dengan mata tertutup.



"Apa kau menyukainya?" Ia bertanya sambil membalikkan tubuhku." Bangunlah, aku tahu kamu tidak tidur." Aku membuka mata dan wajah pria itu, orang yang diam-diam aku rindukan tepat berada di depan mataku. Aku menatap ke dalam bola matanya lekat-lekat, ada perasaan tak ingin kehilangan di sana. Namun, luka yang pernah ada tak bisa sembuh begitu saja.


 "Key, aku mencintaimu." Stevan berbisik persis di depan telingaku. Aku juga mencintaimu Steve. Tapi, apa mungkin kita bersama kembali? Ada Anna dan James diantara kita.



"Key," ucap pria yang berada di atasku. Jari-jarinya membelai pipiku dan aku merasakan ada sesuatu yang lain mengganjal di perutku. Aku tersenyum dan wajah Antonius terlihat malu. "Apa kau tahu berapa lama aku menantikan hal ini?" katanya lagi sesaat sebelum bibir kami bersentuhan. Aku memeluk tubuhnya yang sudah basah oleh keringat. " Apa kamu merindukanku?"



"Pertanyaan bodoh," jawabnya gemas dan mulai membuka satu persatu kancing bajuku.



 Aku menghentikannya," Jangan, Steve. Aku malu. Ada bekas jahitan saat melahirkan Awan di perutku." Seperti tak menggubris apa yang aku katakan, dia justru menghujani bekas jahitan itu dengan kecupan lembut dan sesekali menggigitnya. "Itu memapukan!" Aku menutupi wajah dengan kedua tangan.

 


"Tidak ada perempuan yang paling seksi selain dirimu, Key. Aku mencintai setiap luka yang ada tubuhmu. Tanpa luka, Awan tak pernah ada. Dan tanpa luka tak akan ada kerinduan seperti yang kita rasakan sekarang. " Stevan berkata lembut dan menyingkirkan tanganku. Kami saling bertatapan sesaat sebelum aku dan dia melepaskan kerinduan yang selama ini terpendam. Kerinduan yang kututup dengan ego dan kemarahan.



"Steve?" tanyaku sambil membelai kulitnya yang terpampang di depanku. Otot dadanya masih kencang sama seperti dulu.



"Hmmmm?"



"Apa kau masih suka menulis?"



"Iya. Meski sejak kamu pergi sama sekali belum ada yang diterbitkan."



"Kenapa?"



"Karena kau pergi membawa semua cerita yang ingin kutuliskan."



"Dasar. Bagaimana dengan penggemarmu?"



"Entahlah. Mungkin mereka sudah lupa. Bagaimana denganmu, Key? Apa kau bahagia tinggal bersama James?" Ia bertanya. Dan ada nada kecemburuan yang bisa tertangkap.



"Ya. Dia sangat baik dan aku bahagia."



"Apa kau yakin akan menikah dengannya?"



Aku terdiam. Belum siap dengan jawaban yang akan aku berikan. Bukankah hati manusia cepat berubah? Beberapa menit lalu aku membencinya, tapi kini aku ingin selamanya di sisinya.



"Aku tak ingin memaksamu menjawabnya, Key. Apapun keputusanmu, aku akan menerimanya." Bulir-bulir air mataku tiba-tiba terjatuh. Entah oleh sebab apa? Apakah karena kebingunganku sendiri? Atau atas ketidak pastian akan perasaanku sendiri? Yang jelas, James dan Stevan sama-sama Papa dari anakku. Pria yang sama-sama mengisi hatiku.

Post a comment

1 Comments

Emoji
(y)
:)
:(
hihi
:-)
:D
=D
:-d
;(
;-(
@-)
:P
:o
:>)
(o)
:p
(p)
:-s
(m)
8-)
:-t
:-b
b-(
:-#
=p~
x-)
(k)