Sumamiku Dingin (Bab 25)

 



Ketika pulang kuliah Erika terkejut mendapati apartemen Anna berantakan. Bantal, buku-buku, bahkan makanan yang ada di dalam kulkas tercecer di lantai. Memang Erika tak keberatan membersihkan segala kekacauan yang sahabatnya buat, tapi Anna tak pernah separah ini jika marah. Sebelum-sebelumnya, jika emosinya tak terkendali, ia hanya akan mengumpat.



Sebagai anak tunggal dari keluarga berada, Anna tak pernah kekurangan apapun. Segala yang diminta tanpa harus merengek atau berusaha, orangtuanya pasti akan menurutinya. Namun sebagai gantinya, ia kehilangan apa itu kasih sayang orangtua. Ia tak pernah bermain dengan ayah ibunya, karena mereka tak pernah ada di rumah. Anna hanya dijaga oleh seorang nanny yang telah merawatnya sejak masih bayi.



"Ma, minggu depan waktunya ambil rapor. Mama datang, ya?!" pinta Anna suatu ketika saat menghubungi mamanya yang sedang ada di Milan.



"Gak bisa, sayang. Mama kan harus nemenin Papa. Masih ada banyak perlu di sini. Minta bibi mengambilnya. Oke?!" Mama menutup teleponnya begitu saja seolah-olah enggak melayani telepon dari anaknya sendiri.



Gadis yang masih duduk di kelas dua SMA itu pun hanya duduk sambil memandangi makan siangnya. Ia berpikir bagaimana caranya orangtuanya bisa pulang secepatnya. Ia malu diledek oleh teman-teman sekolah dengan sebutan 'anak pembantu'. Secara, selama ini untuk urusan sekolah nanny lah yang mengurusnya.



Tidak, orang lain tak boleh memandang Anna sebelah mata. Ia tak bisa direndahkan. Lakukan sesuatu! Kalimat-kalimat itu terus saja berseliweran di otaknya. Ia ingin orangtuanya segera pulang dan harus!



"Bi? Kunci mobilnya di mana?" teriak gadis yang mengenakan seragam putih abu-abu itu. Rambutnya lurus, hitam, dan wajahnya juga dipoles. Dan polesan itu terlalu tebal untuk anak seusianya.



"Dibawa Pak Dilman, Neng. Udah ditunggu di depan tuh," sahut bibi yang sedang mencuci piring di dapur.



Anna pun langsung ke depan. Menghampiri pak Dilman. "Pak, sini kuncinya."



"Lho, kan bapak nggak ngijinin non Anna nyetir sendiri. Ntar pak Dilman dimarahi bapak, lho."



"Papa gak ada di rumah. Siniin deh pak kuncinya. Kalau gak, Anna marah, nih."



Pak dilman kebingungan. Kalau kuncinya dikasih, bakalan ada sesuatu yang gak beres. Kalau gak dikasih, anak bosnya itu bakalan marah dan mengamuk karena tidak dituruti. Karena tak sabar menunggu pak Dilman yang sedang berpikir, Anna menyahut kunci itu dari tangan pak Dilman dan langsung masuk ke dalam mobil berwarna merah itu.



"Non! Buka pintunya. Nanti pak Dilman dimarahi bapak, lho!" teriak pak Dilman sambil menggedor pintu. Anna tak menghiraukan dan langsung tancap gas.



Bukannya pergi ke arah sekolah, Anna justru memutari jalan yang ada di Jakarta tanpa tujuan yang jelas. Meskipun belum punya surat ijin mengemudi, tak masalah buatnya. Toh orangtuanya kaya. Pasti bisa menutup rapat mulut polisi jika dia kena tilang.



Anna terus saja membunyikan klakson. Padahal jalanan kota Jakarta padat merayap di pagi hari. Dan amarah Anna pun semakin tak terkendali. Rasa-rasanya ia ingin menubruk semua kendaraan yang ada di depannya.



Setelah lolos dari jalanan kota Jakarta yang ramai, ia masuk ke dalam kawasan perumahan. Jalanannya begitu sepi dan anak-anak bisa bermain dengan bebas di sana karena semua penghuni komplek tahu bahwa tempat mereka adalah children friendly.



Meskipun ada tulisan harap mengemudi dengan pelan karena banyak anak-anak, Anna tak mengindahkannya. Ia menginjak gas secepat yang dia bisa dan ketika hendak menikung, ia kaget ternyata ada seorang anak yang sedang bermain sepeda. Karena ngebut, Anna tak bisa mengendalikan kemudinya, anak kecil yang berusia sekitar enam tahun itu terpental bersama sepedanya sedangkan Anna menubruk pagar sebuah rumah. "Keyla!" Seorang perempuan menangis sambil memanggil-manggil gadis cilik yang berlumuran yang tergeletak di pinggir jalan itu. Ia meraung-raung, sangat takut jika putrinya tak bisa bangun lagi



Sehari setelah kecelakaan, orangtua Anna kembali dari Milan dan langsung menuju ke rumah sakit. "Kamu gak apa-apa sayang?" tanya mama ketika baru sampai.



"Anna takut, Mah!" teriak gadis yang sedang tiduran di ranjang dengan luka di kepalanya. Ia tak terluka sebanyak korban, hanya mobil bagian depannya saja yang penyok cukup parah. Tapi toh gak masalah. Papanya langsung bisa membeli mobil yang baru untuk Anna. Sedangkan di ruangan lain, ada seorang anak yang sedang berjuang keras antara hidup dan mati. Ia belum sadar sejak dilarikan ke rumah sakit. Ia mengalami pendarahan di kepala cukup hebat, beruntung golongan darah Keyla dan papanya sama jadi tak perlu menunggu pendonor darah karena kebetulan stok darah di rumah sakit sedang habis



"Mama ada di sini, sayang. Gak usah takut lagi. Oke? Ini semua salah pak Dilman karena membiarkanmu nyetir sendiri." Mama memeluk anak gadis satu-satunya yang terbaring itu dan Anna tersenyum. Mama dan papanya pulang sebelum hari pengambilan rapor sekolah.


***


"Kamu baik-baik saja, Ann?" Erika menghampiri Anna yang telentang di kasurnya. Pandangan matanya nanar dan tak menyahut saat diajak bicara. Ia membalikkan tubuhnya, melihat sahabatnya, Erika. "Sorry, ya, Rik. Kamu harus beresin kamar ini?" Erika mengelus rambut sahabatnya itu. Ia tak masalah jika harus membersihkan apartemennya sehari penuh. Erika gadis yang pandai dan pintar mengatur waktu. Yang ia takutkan adalah temannya ... ia takut kalau suatu saat ia sedang marah atau merasa tertekan, Anna akan melakukan hal yang lebih parah dari saat ini.



"Apa kau mau air?" Anna menggeleng. Erika lalu mengambilkan selimut dan menutupi tubuh gadis itu. Dan jauh di dalam lubuk hatinya, Erika merasa bersyukur. Meskipun orangtuanya tidak kaya raya, tetapi ia tak kekurangan kasih sayang dan sering menghabiskan waktu bersama. Erika menarik napas perlahan dan menghembuskannya. Ternyata ... hidup orang lain tak seindah yang dilihat. Seperti gunung, dari jauh terlihat indah. Ketika dekat, banyak binatang buas di sana yang siap menerkam siapa saja.


***


"Steve, ayo dong naik. Anna gak mau makan, tuh!"



"Aku lagi sibuk, Ka. Kenapa lagi sih itu bocah?"



"Gara-gara kamu lah. Siapa lagi? Cepetan sana! Anak orang mati baru tahu rasa!"



Stevan enggan meninggalkan meja kerjanya dan tidak ingin diganggu. Apalagi oleh Anna yang sering berulah. "Iya ... iya ... jangan merengek terus! Sebagai gantinya, rebusin ayam sama sayur yang ada di kulkas. Deal?" Steve berusaha bernegosiasi. Tak ada yang gratis di dunia ini meskipun itu di dalam dunia persahabatan.



"Deal!" balas Erika bersemangat. Selama ada Stevan, masalah Anna pasti kelar!



Steve menaiki tangga, menuju kamar milik Anna. Tanpa mengetuk pintu ia langsung masuk begitu saja. "Kenapa lagi, Ann?" Ia bertanya pada gadis yang tengah bersembunyi dibalik selimut.



"Kamu tidak kasihan dengan Erika yang selalu mengurusmu saat sedang marah?" Stevan sebenarnya malas terlalu banyak bicara. Tapi tak bisa membiarkan Anna terus-terusan seperti ini. Ia tahu bagaimana kisah keluarga Anna, tapi bukan berarti apapun tindakannya bisa dibenarkan.



"Steve?" Anna merengek dan bangkit dari tidurnya.



"Apa kamu benar-benar sudah punya calon istri?" Astaga! Kepala Stevan tiba-tiba seperti dipukul bogam. Apakah hanya karena hal itu Anna mengubah kamarnya seperti kapal pecah?



"Tidak, Ann. Calon dari mana? Cuma asal ngejeplak waktu ditanya Erika." Sebisa mungkin Stevan berbohong agar Anna tidak semakin parah. Gadis itu memang sulit mengendalikan emosinya ketika sedang marah.



"Syukurlah, Steve!" Anna memeluk Stevan yang duduk di tepi ranjang. Pria itu tak tahu harus bereaksi bagaimana, jadi diam adalah jalan terbaik. Tetapi, sebagai pria normal ia tak bisa diam begitu saja. Anna hanya mengenakan celana super mini dan kaos tanpa lengan. Ia juga tak memakai bra, jadi ada yang menonjol dan mendarat empuk ditubuh Steve. Ia bisa merasakannya dan jauh di dalam dirinya ada sesuatu yang ingin ia lepaskan. Sebuah hasrat seorang laki-laki dewasa.



"Steve?" Anna mulai meracau, ketika terlalu bahagia, gadis itu juga tak mampu mengendalikan dirinya. Terlebih saat berdekatan dengan sahabat prianya itu. Pesonanya tak bisa terbantahkan. Anna ingin sekali bercumbu dengannya. Didorongnya tubuh berdada bidang itu hingga telentang, Anna menaiki tubuhnya dan ia mampu merasakan ada yang mengganjal diantara kedua pangkal kakinya.



"Anna. Hentikan!" Anna tak mau mendengar dan sudah terlanjur menggerakkan bokongnya. Tak tahan dengan sikap Anna, laki-laki itu membanting tubuh Anna ke ranjang dan ditinggalkan begitu saja. Padahal, kalau boleh jujur Stevan juga sempat menikmati sensasi itu. Di mana seorang gadis duduk di atas kejantanannya dan minta untuk digoda. Menyadari bahwa Stevan sama sekali tidak tertarik padanya, gadis itu berteriak sekencang-kencangnya. Jika tak aku tak bisa memilikimu, orang lain juga tak boleh mendapatkanmu.



*****



"Ann?"



"Iya." Anna menjawab singkat. Mereka sedang mengerjakan tugas di perpustakaan bersama Erika dan Jack.



"Apa kau mau melakukan sebuah tes?" lanjut Stevan sementara kedua teman lainnya pura-pura membaca buku sambil mendengarkan. Erika, Jack dan Stevan sudah membahas persoalan Anna. Psikologisnya tidak baik-baik saja dan dia butuh pertolongan secepatnya.



Mereka semua tahu bagaimana sikap Anna. Emosinya tidak stabil. Saat sedang senang, ia akan mengumbar tawanya. Ia juga kerap tertawa untuk sesuatu hal yang tidak lucu. Ketiga sahabatnya itu tahu bagaimana didikan orangtua Anna merusak anak semata wayang mereka.



"Tes apa? Aku gak hamil, kok. Jack selalu pakai pengaman saat kita berhubungan. Iya, kan Jack?" Jack si penurut pun hanya mengangguk. Meski ia tahu kekasihnya hanya setengah hati padanya, pria itu tak keberatan. Atau meski dia gila sekalipun, Jack akan tetap mencintainya. Buatnya, Anna adalah segalanya. Ia ingin gadis itu bahagia dan mendapatkan banyak cinta.



"Ke psikiater. Kau ingat Dev, kan? Temanku yang tahun lalu lulus? Sekarang sudah membuka praktek."



"Ogah. Itu kan cuma untuk orang gila aja. Aku masih waras tauk!"



"Kami bertiga sudah pergi tes. Ya, itung-itung mengetahui minat bakat dan juga kepribadian." Anna tercengang. "Kamu juga, Rik?" tanyanya pada Erika yang duduk di sebelah kirinya. Ia mengangguk. Terpaksa berbohong agar Anna mau melakukan tes psikologis. "Kamu juga, Beib?" Anna lanjut bertanya pada Jack, kekasihnya. "Iya, Beib."



"Ihhh ... kalian kok jahat, sih. Gak" bilang-bilang. Ngajak dong biar kita barengan! Uhhh ...!" Anna manyun. Pura-pura marah tapi jauh di dalam hatinya ia gembira. Ia senang diperhatikan oleh teman-temannya.



****



"Gimana hasilnya, Dev?" Jack bertanya pada Devdas. Pemuda berkewarganegaraan Amerika sekaligus keturunan India. Jack dan kedua sahabatnya pergi bersama ke klinik bersama, sedangkan Anna sedang ada kelas.



"Dia perlu terapi, Jack. Lebih cepat lebih baik. Hasil dari tes Anna, ia mengalami gangguan psikotik." Mendengar jawaban Dev, Jack mengusap wajahnya. Ia tak heran karena selama ini Anna memang kerap berubah suasana hatinya. Saat ia merasa sangat senang, beberapa saat kemudian ia terlihat terpuruk jika itu berhubungan tentang Steve dan orangtuanya. Beruntung Jack adalah pria baik, ia cukup bisa mengerti kekasihnya dan tak ingin banyak menuntut.



"Dia memiliki kecenderungan ingin bunuh diri, Jack. Dan sebelumnya, dia hampir membunuh seorang anak kecil. Dan yang memprihatinkan adalah Anna tidak merasa bersalah pada gadis itu. Padahal jelas-jelas anak itu hampir meregang nyawa. Karena benturan di kepalanya, korban hilang ingatan permanen. Dia kehilangan ingatan masa kecilnya." Keyla? Steve mengusap wajahnya. Ia menarik napas perlahan dan tiba-tiba menjadi gelisah. Apakah gadis yang menabrak Keyla adalah Anna?



"Kami harus bagaimana, Dev?"



"Beritahu orangtuanya, Jack. Bagaimanapun juga mereka harus tahu. Pola didik mereka lah yang merusak putrinya sendiri. Kalian tahu apa yang dikatakan orangtua Anna setelah kecelakaan mobil itu?" Mereka bertiga menggeleng secara bersamaan.



"Apa yang terjadi bukan salah Anna. Tetapi salah supirnya yang pada hari itu tidak mengantarkan Anna ke sekolah. Juga karena gadis cilik itu bermain di jalanan. Dan Anna meyakini apa yang dikatakan orangtuanya. Apapun yang ia lakukan tak pernah salah. Terlebih, orangtuanya selalu sibuk dan tidak memberikan Anna cukup kasih sayang."



Sepulang dari klinik Jack, Steve dan Erika berdiskusi bagaimana langkah selanjutnya. Karena menurut Dev, hanya mereka bertiga lah yang bisa menolongnya. Bagi Anna, ketiga sahabatnya itu sangat berharga melebihi orangtuanya sendiri. Terutama Jack. Meskipun Anna tak begitu mencintainya, di dalam hati gadis itu tahu bahwa Jack adalah pemuda yang baik. Ia selalu mengalah, perhatian, dan tidak pernah mengeraskan suara padanya. Hal itulah yang sebenarnya ia butuhkan. Sosok yang penyayang dan bisa melindungi.



"Aku akan pulang ke Jakarta dan menemui orangtua Anna," tukas Jack pada Erika dan Steve.



"Ide bagus!" Erika dan Steve menjawab bersamaan. "Kamu memang pria yang tepat untuk Anna!" Steve menepuk bahu temannya itu. "Menantu idaman!" ledek Erika diiringi tawa yang bercampur kesedihan dan mulai sekarang, gadis yang tinggal sekamar dengan Anna itu berjanji akan memperlakukan Anna lebih baik. Ia akan meluangkan lebih banyak waktu untuk mengobrol dengannya. Karena bagaimanapun, Anna adalah gadis yang baik sekaligus sahabat terbaiknya yang selalu bersedia membantu masalah ekonominya.



Pernah suatu ketika saat orangtua Erika menelpon bahwa adiknya kecelakaan dan tak bisa mengirimkan uang padanya sama sekali. Anna dengan senang hati berbagi uang jajan pada Erika. Dan sejak saat itulah, Anna meminta Sahabatnya itu tinggal di apartemennya. Selain tak perlu lagi membayar uang sewa kamar, dia juga bisa makan sepuasnya tanpa takut kelaparan. Dan tanpa disadari Erika mendedikasikan seluruh tenaga dan pikirannya untuk Anna.



Hidup ini memang lucu. Orang yang kita pikir hidupnya sangat sempurna, tapi pada kenyataannya tidak. Mereka memiliki banyak kekurangan yang disembunyikan rapat-rapat. Mereka memiliki luka yang perlahan-lahan menggerogoti hati dan jiwa mereka. Menelan dalam kegelapan yang bernama kesepian.


***Bersambung

0 Comments