Suamiku Dingin (Bab 32)

 

Novel suamiku dingin


"Mau ke mana Steve?" tanyaku pada pria yang beraroma Lunny itu terlihat buru-buru. Jalannya sangat cepat dan aku mengikutinya ke kamar mandi dan menungguinya.



"Apa kau mau ikut mandi, Key?"



"Tidak!"



"Lalu kenapa kau menungguku di sini?"



"Apakah masalah buatmu melihat suamiku sendiri mandi?"



"Tentu saja masalah buatku. Kau tahu kan tidak ada tirai yang menghalangi tubuhku. Apa kau merasa sedang melihat tarian erotis di diskotik?"



"Hmmm ... bukan ide yang buruk. Meskipun kau sudah tua, badanmu tetap bagus."



"Apa kau menyebutku tua barusan?" Stevan menyipratkan air padaku. Buru-buru aku menjauh dan dengan cepat dia menyiram tubuhnya yang penuh sabun lalu mendekatiku.

🐊


 "Pakailah handukmu. Lihatlah lantainya basah. Tidak lucu jika di usiamu yang tua itu kamu terpeleset lalu jatuh. Aku tak mau punya suami yang sakit encok!" Ia mengacuhkanku dan malah makin mendekat.



"Apa kau masih menganggapku tua sekarang?" Lelaki itu melingkarkan tangannya dipinggulku.



"Menjauhlah Steve ... aku tak mau bajuku basah." Kudorong dadanya tapi dia malah memelukku dan mengusapkan rambutnya yang ke wajahku.


"Apa kau mau tua di sampingku, Key?"



"Apa kau sedang merayuku sekarang?"



"Kebiasaan burukmu adalah menjawab pertanyaan dengan pertanyaan."



"Dan kebiasaan burukmu juga tak menjawab pertanyaanku."



"Apa kau mau tua di sampingku?" tanyanya sekali lagi. Penuh penekanan dan bisa kurasakan napasnya yang hangat menerpa wajahku.



"Tentu saja aku mau. Jika tidak denganmu, di sisi siapa lagi aku menghabiskan masa senjaku?"



Stevan memegang tanganku lalu mengecupnya dengan lembut dan mengarahkannya ke bagian tubuhnya yang paling sensitif. "Apa kau masih menganggapku tua, Key?"



Aku tersenyum dan memegangnya dengan lembut lalu menyentilnya perlahan. 



"Aw! Kau nakal sekali!" Stevan langsung mengangkat tubuhku dan kulingkarkan kaki di tubuhnya. 



"Bukankah tadi kau terburu-buru? Mau ke mana? Apa kau punya kencan buta dengan seorang gadis muda?"



"Apa kau pikir aku tertarik dengan wanita lain selain kau? Aku mau ke kantor polisi. Apa kau mau ikut?" tanyanya sambil berjalan ke arah wastafel dan dan mendudukkan tubuhku di atasnya. Secepat kilat, lelaki itu melepaskan celana dalam berenda milikku dan melempar ke sembarang arah. 


"Hei!" Aku berusaha protes meskipun itu sudah terlambat. Stevan telah menyatukan tubuh kami dengan cepat dan tergesa-gesa. Ia seperti tak ingin kehilangan kesempatan meski itu hanya sedetik saja.



"Mmmhhh. Aku ingin menjenguk Anna," kataku begitu selesai membasuh tubuhku di bawah pancuran air.



"Aku harus berangkat sekarang, Key," balasnya mendaratkan kecupan di pipi lalu  membalikkan tubuhnya dan mengeringkan tubuhnya dengan handuk.



"Jangan lupa pakai bajumu tuan Stevan A. Jangan sampai orang lain menganggapmu gila karena telanjang di jalanan!" teriakku ketika pria itu menghilang di balik pintu kamar mandi.



***



Ibunya Anna terlihat lebih baik meskipun masih terbaring. Sedangkan ayahnya sedang menunggui di samping putrinya. "Om, biar Key yang jaga Anna." Pria berusia enampuluhan itu pun tak menolak. Ia terlihat lelah dan penat. Ia keluar kamar dan mencari angin segar entah ke mana. Mata tua itu terlihat memerah, sendu, seperti seorang hamba setelah membuat pengakuan dosa.



"Anna ... lihatlah aku membawakan sesuatu untukmu." Kutaruh mainan yang bapak temukan di dekat jurang pada telapak tangannya. Bola salju. "Simpanlah baik-baik. Awan memberikannya untukmu."



Aku merapikan rambut Anna yang menutupi dahi lalu mengoleskan pelembab di wajahnya. Cepatlah bangun, Ann. Bukankah kau ingin bermain dengan Awan? Sampai kapan kau akan tertidur? Lihatlah, aku membawa buku diarymu. Aku tahu ini tak sopan mengambil barang orang lain. Tapi aku ingin mengenal serta memahamimu. Aku harap kau tak marah. Aku akan mulai membacanya lagi ... kau juga boleh mendengarnya jika ingin.



{Kamarku bersebrangan dengan kamar Keyla. Jendelanya menghadap ke jalan raya dan aku bisa melihat matahari terbit dari sana. Indah sekali. Matahari itu seperti Jack yang selalu memberikan sinarnya untuk menerangiku, sedangkan Ben adalah cahaya yang menghangatkanku. Dan ketika mereka pergi, gelaplah duniaku.



Kupejamkan mata. Perlahan dan kuharap aku bisa bertemu Jack di sana. Akan kusandarkan tubuhku padanya. Marah, kesal, kemudian menangis. Kini baru aku sadari tidak ada pria yang lebih baik dari Jack. Pria itu memberikan seluruh hidupnya untukku bahkan ketika hatiku mencintai orang lain.



Mana yang lebih menyakitkan? Ditinggal mati orang yang mencintai kita atau mencintai seseorang yang tak akan pernah kita miliki? Atau justru hal yang aku sebut cinta adalah obsesi? Entahlah. Aku hanya ingin tidur nyenyak tanpa gangguan. Aku ingin hidup sekali lagi. Hidup yang benar-benar hidup berhiaskan tawa, cinta, kesedihan dan kebahagiaan. Terlalu muluk-mulukkah keinginanku?



"Tenanglah Anna. Jika kau berteriak aku akan membunuhmu!" Tangan seorang pria membekap mulutku. Aku meronta berusaha melepaskan diri darinya tapi tak bisa. Tenaga itu terlalu besar untuk kulawan. "Aku Patek. Apa kau mengingatku?" Patek? Ya, aku ingat nama itu. Tapi bagaimana bisa dia ada di kamarku? Apakah aku sedang bermimpi? Tidak. Ini tidak mimpi. Ada rasa sakit diantara kedua pahaku. Sesuatu yang tumpul memaksa masuk tapi aku yakin itu bukan milik seorang laki-laki.



"Aku selalu memperhatikanmu?" bisik pria yang tak bisa kulihat wajahnya karena lampu kamar tidak menyala. Ia menyumpal mulutku. Diikatnya tanganku pada dua sisi tempat tidur. Sedangkan di sisi lain kakiku terikat di sana.



Tubuhku perih seperti disayat-sayat. Ia terus memasukkan sesuatu ke dalam diriku hingga akhirnya ia membuka sumpalan di mulutku. "Makanlah." Ia menyuapiku dengan sesuatu seperti daging. "Bukankah kau ingin makan daging kelinci? Nikmatilah," katanya sambil sesekali menjilati wajahku. Aku merasa risih, jijik dan mual. Tapi aku terpaksa mengunyah dan menghabiskan apapun yang ia masukkan ke dalam mulutku. Jika tidak, ia akan menambahkan sayatan pada setiap tubuhku.



"Mama." Ada suara anak laki-laki memanggilku. Mataku terbuka dan di luar sana matahari sudah bersinar terang. Aku mengerjapkan mata. Pandanganku kabur. Tapi aku bisa mengenali sosok Awan menaruh sesuatu di sampingku. Roti bakar. Aromanya tercium jelas.



Anak itu mengelus keningku dan mengecupnya kemudian berlalu begitu saja. Aku masih mengumpulkan tenaga, masih kesulitan membedakan antara mimpi dan nyata. Tubuhku perih dan terasa sakit. Dan tidak terasa air mata itu pun luruh.



Aku melangkah dari tempat tidur, tubuhku masih bergetar dan aku yakin ini bukan mimpi. Dan dari ambang pintu, bisa kudengar tawa Keyla dan dua orang pria yang sarapan bersamanya. Kebencian di hatiku semakin kuat dan sesegera mungkin aku ingin dia pergi dari sini. Bukankah dia wanita yang jahat? Bagaimana bisa dia tidak peduli padaku? Apakah dia tidak tahu bahwa semalam terjadi sebuah pemerkosaan di rumahnya? Egois! Itulah Keyla. Yang dipirkan hanya dirinya sendiri. Selalu menuntut perhatian dari suaminya tapi dia sendiri abai.



Ketika bulan madu dulu, kenapa dia malah memilih persama pria lain dibanding pulang dengan suaminya? Cih! Perampuan tak punya hati. Suaminya pontang panting mencari tapi ia justru asik bersama pria asing. Jika bukan perempuan sundal, apa lagi namanya? Apakah berat baginya untuk mengalah? Apakah sulit bagi keyla untuk mengerti situasi orang lain? Apakah menurutnya semua pertanyaan wajib dijawab dan harus sesuai keinginannya? Aku kasihan pada Steve. Apa yang dia lihat dari wanita itu?



Aku masuk kembali ke dalam kamarku. Duduk kursi, menulis diary dan memakan roti bakar yang telah mengeras. Awan ... aku mulai menyukainya. Anak itu seperti Ben. Lugu dan penuh kasih. Betapapun aku membenci ibunya, tapi anaknya tak bersalah. Ia bersih, murni, seperti malaikat.}



Kuhapus bulir-bulir tangis di mataku. Teringat sebuah buku yang pernah ditulis Stevan, Happy Ending. "Tersenyumlah, maka orang lain akan tersenyum bersamamu. Tapi kalau kau menangis, kau hanya akan menangis sendirian."



"Kenapa kau menangis, Key?" Suara itu. Anna? Ia membuka matanya? Aku memeluknya, dan menumpahkan segala yang aku rasakan. Rasa marah, sedih dan kekecewaan.



"Maafkan aku, Anna. Maafkan aku ... aku tidak tahu kalau kau begitu menderita selama ini. Maafkan aku Anna ...."



Air mataku mengalir begitu deras. Tak terbendung lagi. Selama ini aku merasa akulah yang paling menderita. Aku yang tersakiti. Tapi ternyata, ada wanita lain yang lebih sengsara daripada aku. Dan aku sama sekali tak peduli dengannya. Kuacuhkan dia dan menganggapnya hanyalah parasit yang mengganggu hubungan orang lain.



"Di mana Stevan, Key?" tanya Anna. Lirih. Barangkali ia sudah mengeluarkan seluruh tenaganya untuk bicara.



Aku mengusap pipiku yang basah," Apa kau mau bertemu dengannya? Tunggulah Ann. Dia sedang di kantor polisi. Aku akan segera menghubunginya."


*** Bersambung

Post a comment

0 Comments