Suamiku Dingin (Bab 33)

 

Suamiku dingin




Saat Stevan tiba di rumah sakit, aku meninggalkan mereka berdua. Aku tak ingin mengganggu kebersamaan kedua sahabat itu. Anna pasti merindukan dan ingin bercerita banyak hal pada Stevan. Aku berusaha menepis rasa cemburu. Dari jauh, wanita itu terlihat tersenyum dan wajahnya merona. Biarlah, mulai sekarang aku akan berbagi kebahagiaan dengannya dan lebih peduli pada Anna. Karena bagaimanapun juga kami sama-sama perempuan dan harus sama-sama saling memahami.



Aku pergi ke kamar mandi untuk membasuh muka. Wajahku terasa lengket dan pucat karena makeup yang kupakai luntur karena terlalu banyak menangis.



Setelai selesai dari kamar mandi aku pergi ke taman belakang rumah sakit dan ternyata ayah Anna ada di sana. "Om ...," sapaku ketika memutuskan duduk di sebelahnya.



"Anna sudah sadar. Om gak mau masuk?" tanyaku memulai pembicaran. Pria yang mengenakan kemeja kotak-kotak putih dan hitam itu menggeleng.



"Om malu sama Anna," balasnya lirih. Suaranya serak seperti orang yang tengah menahan air matanya. "Ketika Anna kecil hingga kuliah, om kira sudah memberikan yang terbaik. Ternyata salah. Om sudah menjadi orangtua yang gagal. Kami kira uang akan bisa membeli kebahagiaan, tapi ternyata sebaliknya. Om menghancurkan kehidupan Anna dan merampas kebahagiaannya." Tangis itu tak kuasa lagi ia tahan. Aku memeluknya. Hatinya pasti tak kalah hancur seperti Anna. Sebagai orangtua, bagaimana tidak sakit dan marah mengetahui anaknya diperkosa. Aku berpikir, apakah Stevan juga kecewa dan marah atas apa yang terjadi pada sahabatnya?



"Om, ayo masuk ke dalam. Di luar dingin nanti masuk angin." Kami pun berjalan beriringan. Kugandeng tubuh yang mulai renta itu.



Stevan masih duduk di sebelah Anna ketika kami datang. "Kau merasa lebih baik, Ann?" tanyaku pelan dan ia hanya tersenyum. Tapi bisa kulihat dari sorot matanya, Anna merasa aman sekarang. Barangkali, karena satu-satunya lelaki yang ia cintai mendampingi dirinya.



Stevan kemudian berdiri untuk memeluk dan meminta maaf kepada ayah Anna dan untuk pertama kalinya aku melihatnya menangis. Aku meninggalkan ruangan itu dan memilih duduk di luar. Aku tak ingin mengganggu momen kebersamaan mereka. Dan sebuah pertanyaan menyusup di hatiku. Cemburukah aku?


"Apa yang sedang kamu lakukan, Key?" tanya Stevan yang langsung duduk di sebelahku dengan matanya yang masih merah.



"Tidak ada. Apakah Anna lebih baik sekarang?"



"Iya. Dia lebih baik. Apa kau masih membenci Anna?"



"Tidak." Aku menggeleng. "That's my wife." Dan kami saling memeluk satu sama lain.



"James dibawa ke kantor polisi dan sekarang sudah ditahan. Apa kau bersedih?"



"Entahlah, Steve. Selama ini dia baik sekali padaku dan Awan. Apa aku boleh bertemu dengannya?"



"Lebih baik jangan, Key. Dia bukanlah orang yang selama ini kamu kenal. Dia memiliki sisi yang tak kau ketahui. Dan dialah yang memperkosa Anna. Dua adalah James Patek, Key."



 Aku melepaskan pelukan Stevan dan menjaga jarak. Setengah tak percaya mendengar apa yang barusan dia katakan. Bagaimana James bisa melakukan itu? Selama ini dia adalah pria yang penyabar dan penuh kasih. Dia sangat mencintai Awan. Tapi, bagaimana bisa James adalah Patek?



"Apa kau tak percaya, Key?" Aku hanya diam. Berharap apa yang aku dengar adalah sebuah kesalahan atau kupingku yang bermasalah.



"Aku tidak menyalahkanmu jika tidak percaya." Stevan memelukku dan sesuatu mendesak untuk jatuh dari dalam mata. Sandiwarakah selama ini? Apa yang dilakukan terhadapku, cintanya terhadap Awan, tanggung jawabnya, apakah hanya topeng belaka untuk menutupi kesalahannya? Aku harus menemui James dan bertanya langsung padanya.



***



"James, bagaimana keadaanmu?" Aku memulai pembicaraan setelah beberapa saat kami saling diam dan tenggelam dalam pikiran masing-masing. Pria di depanku itu terlihat lebih kurus dan lingkaran di matanya terlihat jelas.



"Aku baik, Key. Bagaimana denganmu? Apa Awan baik-baik saja?" Pria itu menjawab dan menggenggam tanganku. Sungguh bodohnya aku padahal sudah tahu dia tidak baik. Wajahnya terlihat babak belur. Meskipun begitu, aku tak bisa begitu saja mengabaikannya.



"Apa Stevan tahu kau ke sini, Key?" Aku menggeleng. Aku tahu Stevan melarangku, tapi aku tak bisa begitu saja mengabaikan James. Bagaimanapun juga aku banyak berhutang budi padanya. Terlebih, dia adalah papa Awan.



"James, apakah benar kau memperkosa Anna? Dan kenapa dengan wajahmu?" Pria itu hanya tersenyum.



"James, jawablah."



"Apa kau akan mempercayaiku, Key?" Pandangan lelaki itu tak seperti biasanya. James terlihat serius dan tak terlihat sedang bercanda.



"Jika kau jujur, aku pasti akan mempercayaimu."



"Menjauhlah dari Anna, Key. Kumohon. Pulanglah ke Jakarta."



"Kenapa, James. Kenapa? Jelaskanlah agar aku bisa mengerti. Lalu Patek, siapa dia James? Lihatlah, aku membawa buku harian Anna. Di sini tertulis Patek memperkosanya. Dan Antonius bilang kau adalah Patek. Aku tidak mengerti, James. Aku tidak mengerti!"



"Keyla ... Keyla ... tenangkan dirimu!"



"Bagaimana aku bisa tenang jika kau dipenjara? Aku harus menjawab apa kalau Awan menanyakanmu?! Apa kau tak tahu betapa hampir gilanya diriku dengan semua ini?!"



"Keyla, apa kau percaya padaku?" Aku diam. Aku tak tahu siapa yang harus kupercayai. Anna dan buku hariannya atau James? Tapi jelas-jelas polisi menemukan hasil tes James positif mengonsumsi obat terlarang. Anna ditemukan di jurang. Mana yang benar? Aku benar-benar tak bisa mengerti dan sedang tak ingin mempercayai siapapun.



Ehemmm! Tiba-tiba ada suara orang berdehem yang mendekat ke arah kami. Dua orang pria berbadan tinggi besar memakai setelan jas. Yang satu rambutnya klimis, dan satunya lagi seperti orang Indonesia timur dengan rambutnya yang khas. Keriting dan agak menempel di kepala.



"Pa." James berdiri dan mempersilakan orang itu duduk. Kursi di ruang tunggu hanya ada dua dengan satu meja. Aku juga berdiri mempersilakan lelaki satunya untuk duduk. Tapi ia menolak,"Tidak apa-apa, Bu. Saya berdiri saja." Meskipun badannya sangat besar, tidak kusangka suaranya begitu lembut dan berwibawa.



"Kenapa wajahmu babak belur begitu?" James menunduk ketika ayahnya mulai bicara.



 "Urusan lelaki, Pah."



"Urusan lelaki palamu benjol? Otot kau saja besar tapi kalah kalau bertarung. Lain kali pakailah rok!" Aku ikut-ikutan menunduk seperti James. Suara papanya sangat keras dan tegas. Berbeda dengan James yang cara bicaranya cenderung lembut.



"Tenanglah kau. Pengacara dan detektif sudah mengurusnya. Dasar polisi-polisi gak becus! Ngurus begini saja tidak bisa!" Pria itu bangkit lalu keluar dari ruang tunggu.



"James, apa itu papamu?" Dia hanya tersenyum.



"Apa kau takut?" James terkekeh.



"Bagaimana kau bisa tertawa dalam keadaan seperti ini?"



"Apa kau ingin aku menangis, Key? Aku akan malu jika Awan melihatnya. Pulanglah, Key. Jauhi Anna. Aku tak ingin sesuatu terjadi padamu."



"Tapi, James ...." Belum sempat melanjutkan kalimatku, pria itu sudah berbalik dan dikawal seorang polisi menuju selnya lagi. Aku keluar dari ruang tunggu dan ada seseorang yang menungguku di sana. Ayahnya, James.



***



"Apa kau percaya James memperkosa Anna?" tanya ayah James. Kami berada di sebuah restoran dekat dengan kantor polisi.



"Tidak usah dijawab. Kamu pasti ragu. Tidak apa-apa karena James memang sudah berandalan sejak kecil," lanjutnya lagi dengan suara yang halus khas seorang ayah jika berbicara dengan putri kesayangannya. Tak saperti tadi saat dia bicara dengan putranya.



"Dulu memang James akan melakukannya. Saat Anna dan James masih remaja. Itupun karena pengaruh obat. Berandal kecil itu tak tahu apa yang dia perbuat. Tahu-tahu sudah teler di rumah sakit dengan tangan diborgol. Ia menjalani rehabilitasi sampai benar-benar sembuh. Mamanya juga menyuruh om memasukkannya ke rumah sakit jiwa agar mendapatkan terapi. Om lah yang membuatnya jiwanya terkoyak. Ia melihat hal buruk yang om lakukan terhadap mamanya. Makanya dia jadi seperti itu. Setelah benar-benar sembuh, om mengirimnya ke mamanya ke Itali. Dan sekarang, dia terjebak lagi di jeruji besi." Pria itu bercerita sambil tertawa. Ternyata, ketampanan James diperoleh dari ayahnya. Wajahnya terlihat manis meskipun sudah berumur. Ia juga memiliki hati yang hangat seperti yang dimiliki papa.



"Apa om juga melakukan terapi?"



"Ya. Setelah bercerai dari mamanya James dan James semakin rusak, barulah om sadar bahwa om memiliki kelainan seksual. Mau tidak mau om harus berobat dan sembuh. Om juga ingin hidup normal seperti orang lain."



"Apa kau masih meragukan James? Coba pikirklah, jika dia memang seorang maniak yang punya kelainan seksual, kenapa dia tidak pernah menyentuhmu saat di Kanada? Padahal kalian satu rumah? Jika memang dia seorang pemakai, kenapa kau sampai tidak tahu? Bukankah kalian sangat dekat?! Pikirkanlah baik-baik. Tutup telingamu. Tutup matamu. Dan berpikirlah menggunakan akal lalu rasakanlah dengan hatimu. Karena kebenaran tidak akan pernah kamu temukan di dalam keramaian," ucapnya lagi sebelum ia pergi dan masuk ke dalam mobil mewah berwarna hitam. Aku menutup mataku, menarik napas perlahan dan mengeluarkannya. Kucoba merangkai puzzle yang ada di kepalaku. James, Anna, dan Stevan ... mereka seperti teka-teki yang minta untuk dipecahkan ....



*** Bersambung ....

0 Comments