Suamiku Dingin (Bab 34)

 

Novel suamiku dingin

"Pergilah ke luar negeri," ucap seorang pria paruh baya. Badannya tinggi tegap dan kulitnya sedikit legam. Ia sedang berdiri di dekat jendela. Memandang ke arah luar yang memperlihatkan gedung-gedung pencakar langit serta kendaraan yang berlalu lalang. Sementara itu seorang pemuda yang diajaknya bicara hanya diam. Dia duduk di sofa sambil memandang ke arah tembok, namun pikirannya melayang entah kemana.



"Papa akan masuk ke dunia politik. Kalau lawan-lawan Papa menemukan hal tentangmu, semuanya bisa kacau! Pergilah sejauh mungkin. Papa akan memberikan uang sebanyak apapun yang kau mau."



"Baiklah." Pemuda itu menjawab lalu masuk ke dalam kamarnya. Ia berpikir, apakah sebaiknya ia berada di dalam tempat rehabilitasi saja? Di sana ada teman-teman yang sepertinya dan saling mengerti satu sama lain. Mereka semua memiliki alasan kenapa menggunakan barang haram tersebut. Merasa depresi karena terkucilkan, tak percaya diri, atau karena background keluarga yang sama sekali tak peduli pada anak-anak mereka?



James jadi ingat gadis yang melaporkannya ke polisi. Padahal, gadis itu sudah dipacarinya selama tiga tahun. Mereka saling mengerti satu sama lain dan punya alasan yang sama kenapa bersama. Sama-sama kehilangan kasih sayang keluarga. James merasa dikhianati. Hatinya bergemuruh. Ia mengepalkan tangan dan mulai memukuli tembok kamarnya.



Pesawat yang ditumpangi James akhirnya mendarat di Fiumicino air port. Pemuda betubuh tinggi tegap itu berjalan menyusuri lorong pesawat sambil menggendong tas ransel menuju pemberhentian taksi.



"Via voce ferde," ucapnya pada sopir taksi yang baru ditumpanginya.



Drrrttt ... drrrttt ... telepon genggam yang ada di saku jaketnya bergetar. "Hai, Mam. Di dalam taksi. Baiklah ... hmmm ...." James menutup teleponnya dan memilih tidur selama perjalanan ke rumah mamanya.



"Quanto costa?" Setelah sopir taksi menyebutkan harga yang harus dibayar dan James memberikan sejumlah uang ia pun turun dari mobil itu. Mamanya sedang menunggu di depan rumah, terakhir mereka ketemu saat kelulusan SMP James.



"Come stai?" Pemuda itu memeluk mama yang kini tingginya hanya sedada James.



 "Baik, sayang ... baik. Masuklah." Wanita paruh baya itu menuntun anaknya masuk. Ia tinggal sendirian di rumah. Sejak bercerai dengan ayah James, Rossi memilih kembali ke tanah kelahirannya. Dia tak menikah lagi dan sering menghabiskan waktunya di dalam rumah sambil berjualan parfum buatannya secara secara online.



"Ini kamarmu, James." Ruangan itu tidak terlalu besar. Ukuran empat kali empat. Jendelanya langsung terhubung dengan halaman belakang dan ada kolam renang di sana.



"Apa kau mau makan?"



"Tidak, terima kasih."



Rossi menatap lekat-lekat putra satu-satunya. Ia kini sudah besar. Rambutnya kecoklatan dan agak keriting. Perpaduan antara dirinya dan ayah James.



"James ...." Wanita itu menggenggam telapak tangan anaknya. "Kamu berbeda dengan papamu. Kamu anak baik, James." Rossi tahu bagaimana anaknya sampai direhabilitasi. Ia mengkonsumsi sabu dan saat ia sedang sakau, James ingin memperkosa pacarnya dengan melakukan kekerasan. Ayah James memiliki itu. Penyimpangan seksual. Tapi tidak dengan James. Rossi yakin itu.



"Apa kau menyesali perbuatanmu?" James diam saja. Ia tak yakin dengan apa yang dia rasakan. Ia juga ingin hidup normal seperti orang lain. Yang memiliki keluarga dan dipenuhi dengan cinta. Keinginannya sesederhana itu. Sulitkah?



"Tinggallah di sini untuk beberapa saat," ucap Rossi sebelum memeluk James lalu meninggalkan dia sendirian di kamar.



Beberapa bulan tinggal di bersama ibunya, James mulai menyukai dunia fotografi. Ia berkeliling Itali dan mengambil foto-foto yang menarik baginya.



"Hari ini kau mau ke mana, James?" tanya Rossi saat mereka sedang sarapan.



"Pantai Rambla."



"Berhati-hatilah. Jika tidak pulang hubungi Mama." James mengangguk pelan dan menikmati kopi serta sandwich yang ada di depannya.


***


Pemuda itu tengah membidik seekor burung yang nangkring di pohon. Bermodalkan uang yang dikirim oleh ayahnya, James bisa membeli kamera profesional keluaran terbaru.



 "Apa kau tak ingin melanjutkan studimu, James?" tanya Rossi suatu ketika. James menggeleng. Saat ini hal yang paling nyaman buatnya adalah tak bertemu dengan banyak orang. Maksudnya, berbaur dan mengobrol. James ingin melakukan apa yang membuat hatinya tenang. Fotografi.



Selesai memotret di area pepohonan dekat Rambla, James menjemur tubuhnya di bawah matahari sambil menikmati angin yang merayu kulitnya karena lama tak disentuh wanita. Bukan karena tak ada yang mau dengannya, tapi ia sedang tak berhasrat pada perempuan. Setelah dikhianati Anna, James enggan berdekatan dengan perempuan. Meskipun ia tak ingat apa yang telah dilakukannya pada gadis itu, tak seharusnya Anna menghindar. Paling tidak, angkat telepon darinya. Atau menemuinya saat James menungguinya di depan rumah. Pernah sekali James membuntuti mobil Anna, ia ingin kejelasan dari gadis itu kenapa tiba-tiba menjauh. Tapi entah apa yang ada di pikiran Anna, ia melajukan mobilnya dengan cepat lalu menabrak seorang anak. Dan beberapa hari kemudian, polisi menemukan dirinya sedang tergeletak di kamarnya. Ia direhabilitasi karena masih di bawah umur serta James hanya pengguna. Bukan pengedar.



"Hai? Bolehkah aku duduk di sini?" Dua orang wanita berambut blonde mendekatinya. James menyunggingkan bibirnya dan mempersilakan kedua gadis itu duduk.



"Apa kau sedang menunggu pacarmu?" James menggeleng sambil menyeruput minuman kaleng. Tubuhnya yang berkeringat berkilauan ketika diterpa sinar matahari sore.



"Apa kau sudah punya tempat menginap malam ini? Jika belum, datanglah bersama kami."



"Apa kau tinggal sini?"



"Ahh ... akhirnya kau berbicara juga. Suaramu sebagus wajahmu," goda wanita yang menggunakan bikini warna putih. Ia tak tahan untuk tidak meraba dada James yang berotot dan sedikit berbulu. Kini dia sudah menjelma menjadi lelaki dewasa, tentu tubuhnya terbentuk sempurna.



"Baiklah. Mobilku ada di sana." James berjalan ke arah parkiran mobil. Ia seperti model majalah dewasa yang hanya mengenakan celana dalam super ketat. Otot punggungnya akan membuat wanita mana pun berdecak kagum dan ingin mengencaninya meskipun hanya satu malam.



"Naiklah." Dia mempersilakan kedua gadis itu masuk ke dalam mobilnya. James melajukan mobilnya menuju sebuah rumah yang tak jauh dari pantai.



"Rumahmu bagus," kata James mendudukkan pantatnya di sofa depan televisi. Ia masih mengenakan baju pantai. Begitu juga kedua gadis berkulit putih itu.



"Di mana aku harus tidur?"



"Kau ternyata tidak sabaran. Siapa namamu?" tanya gadis berbikini warna hitam.



"James. James Patek," ia mengulurkan tangan dan disambut girang oleh dua bule yang tak sabar ingin melahap makanan yang ada di depannya.



Dan akhirnya mereka bertiga bergumul di sana. Di depan televisi yang menyamarkan desahan dua gadis blonde itu.



Dua wanita itu masih terbaring di karpet sementara James sudah menyegarkan tubuhnya dan berganti pakaian. "Apa kalian punya makanan?" tanya James. Perutnya keroncongan.



"Apa kau kehabisan tenaga? Kami masih sanggup melawanmu." Kedua gadis itu meracau. Tubuhnya tidak tertutupi sehelai benang pun. James menuju ke dapur, membuka kulkas dan mencari makanan. Ia mengambil apel, beberapa keping roti lalu memakannya sambil menonton televisi. Tak digubrisnya kedua wanita di depannya. Dia hanya butuh tempat untuk tidur. Syukur-syukur dapat makanan gratis.



"Apa kalian punya komputer?"



"Carilah di kamar James."



James menuju ke kamar salah satu gadis itu. Ada komputer di atas meja dan ia pun langsung menggunakannya. Membuka website sebuah majalah satwa. Bulan lalu ia memasukkan beberapa foto untuk lomba. Dan hari ini adalah pengumumannya. Jika diterima ia bisa bekerja di majalah itu dan berkeliling dunia. Ia ingin mencari angin baru, yang tak hanya bisa menyejukkan tubuhnya saat kepanasan, tapi juga hatinya.


***


Sudah seminggu James berada di Singapore. Ia pergi ke Singapore zoo untuk memotret satwa-satwa yang ada di sana. Dia juga menyusuri setiap sudut negara yang dahulunya bagian dari Malaya tersebut. Ia tak pernah berpikir sebelumnya, jika di negara kecil seperti Singapura memiliki banyak satwa yang cantik.



James menjelajah pulau-pula demi mendapatkan foto yang bagus. Pulau Sudong, Semakau, Sister Island dan Subar Darat pun tak luput dari penjelajahannya. Ia menyukai pekerjaan yang saat ini ditekuni. Fotografer majalah satwa. Mendengar suara burung, tingkah laku hewan di alam bebas, membuat hati dan pikirannya tenang.



Di hari terakhirnya di Singapura James pergi memotret ke China Town. Di sana tak hanya menyajikan kota tua khas bangunan cina, tetapi juga street food dan juga oleh-oleh khas Singapura. Bagi pecinta Tin-tin, di deretan sebelah kiri dari pintu keluar mrt ada toko yang menjual pernak-perniknya.



James mengambil gambar apapun yang menurutnya menarik. Termasuk, seorang perempuan yang duduk sendiri sambil menikmati makan siangnya. Lama ia berdiri sambil mengambil fotonya dalam berbagai pose, satu kata yang keluar dari bibir James. Cantik. Untuk pertama kalinya dadanya berdesir dan merasa takut hanya untuk mengajaknya berkenalan. Tubuh James panas dingin ketika ia mulai mendekat dan mengajaknya bicara.



"Keyla." Ketiga gadis itu menyebutkan nama Pemuda itu tersipu malu tapi tak terlihat karena dia memiliki wajah yang sangar. Terlebih saat gadis itu menceritakan kisahnya. James merasa iba, padahal ketika menabrak seekor kucing ia tak merasa bersalah. Pun ketika dia sedang sakau, di hatinya tak merasakan apapun. Tetapi dengan Keyla, ia bahkan bisa memberikan hidupnya untuk wanita yang telah bersuami itu.



***



Musim dingin di Kanada begitu menyiksa. Terlebih untuk dua orang yang kesepian. Meskipun tinggal satu atap James dan Keyla tak pernah bersentuhan. Di mata James, gadis itu seperti berlian yang tak ingin disentuhnya sembarangan. Dan untuk pertama kalinya ada wanita yang menyayangi James dengan tulus selain ibunya sendiri.



"Apa kau menyukainya, James?" tanya ibunya melalui sambungan telepon saat James bilang ia menemukan Keyla di Singapura dan membawanya pulang ke Kanada.



"Aku hanya ingin melindunginya, Ma. Tidak lebih."



"Sungguh? Apa kau merindukannya saat berjauhan?"



"Ya. Aku memikirkannya. Karena aku jarang sekali ada di rumah."



"Apa kau mengkhawatirkannya?"



"Tentu saja. Dia wanita yang rapuh dan mudah menangis."



"Itu artinya kau mencintainya, sayang."



Cinta? James malu dibuatnya. Ibunya lebih menyadari perasaannya daripada dia sendiri.



"Apa Mama mau melihat fotonya?"



"Dengan senang hati, James." Suara Rossi terdengar bahagia mendapati anaknya jatuh cinta. Ia ingin James hidup normal seperti orang lain. Memiliki cinta dan juga keluarga.



"Dia cantik sekali, James," ucap Rossi ketika melihat gambar yang dikirimkan anaknya.



"Mama ingin sekali bertemu dengannya. Dia pasti gadis yang baik."



"Ya. Dan suaminya meninggalkan dia begitu saja."



"Oh! Apakah dia istri pria lain?"



"Ya."



"Lalu apa yang akan kau lakukan James?"



"Aku akan tetap bersamanya. Sampai dia siap pulang ke Indonesia dan meminta cerai dari suaminya."



"Bersabarlah James. Lindungi dia. Kasihi. Jika di hatimu ada ketulusan, Tuhan akan merestui cintamu. Percayalah."



James menutup sambungan telepon. Tuhan? Apakah dia benar-benar ada? Entahlah. Ada atau tidak, James ingin Keyla bahagia. Dengannya atau tanpanya.


***


Kelahiran Awan membawa lembaran baru bagi kehidupannya. "Laki-laki, Key," ucap James saat wanita itu telah siuman. Keyla menitikkan air mata ketika melihat bayi yang ada ditangannya.



"Terima kasih, James. Terima kasih. Tanpamu anak ini tidak akan lahir. Maukah kau memberikan nama untuknya?"



James diam sesaat. "Memberi nama? Apakah tidak apa-apa, Key?"



"Tentu saja. Selama ini kau yang merawat bayi ini ketika masih di dalam perutku. Aku tahu kau jarang di rumah, tapi kau sering meminta Erika untuk menjagaku. Kaulah yang berhak memberinya nama James."



Lelaki itu memalingkan wajahnya dari Keyla. Dihapusnya pipi yang basah oleh air mata keharuan. Entah kenapa ada kehangatan di hatinya. Meskipun anak itu bukan darah dagingnya sendiri, tetapi ia ingin melindungi dan merawatnya seperti yang selama ini ia lakukan pada Keyla.



"Awan. Awan, Key. Bagaimana menurutmu?"



"Hmmm. Awan? Nama yang bagus. Aku menyukainya, James. Awan ... mulai sekarang namamu adalah Awan. Lihatlah James, dia tersenyum. Awan menyukai namanya." Hati James dipenuhi kebahagiaan. Melihat Keyla dan Awan membuatnya merasa menjadi manusia paling sempurna.



"Owww ... cup ... cup ... sayang. Jangan menangis. Apa kau mau ikut Papamu? Iya? Baiklah ... biaklah ... berhentilah menangis. James, gendonglah. Sepertinya dia lebih menyukaimu." James mengambil Awan dari tangan Keyla. Dan Awan langsung berhenti menangis.



"Apa kau lebih menyukai Papamu? Aku yang melahirkanmu. Kau tahu itu kan?" Keyla menciumi putranya yang baru lahir. James yang duduk di sebelahnya hanya diam karena tak percaya dengan apa yang dia dengar. Papa? Apakah James telah menjadi seorang ayah sekarang? Bagaimana orang yang pernah direhabilitasi sepertinya bisa menjadi ayah? Apakah sebutan itu pantas untuknya? Kalimat-kalimat itu terus berseliweran di kepalanya. Ia takut tak bisa menjadi ayah yang baik bagi Awan. Namun ia juga gembira dengan status barunya. Papa.



***



Saat-saat yang James tunggu akhirnya tiba. Bertemu dengan suami Keyla.



"Apa kau dan Keyla sudah menikah?" tanya Stevan ketika mereka mengobrol di belakang rumah sambil menemani Awan yang sedang bermain kejar-kejaran bersama Bunny.



"Bagaimana bisa kami menikah jika Keyla masih memiliki suami?" James menjawab sinis.



"Hahaha. Aku lupa kalau kalian tinggal di luar negeri yang bisa tinggal serumah tanpa harus menikah. Kalian juga bisa memiliki anak sebanyak yang kalian mau." Stevan tertawa garing. Padahal di dalam hatinya ingin memukul wajah pria yang duduk di sampingnya.



"Hahaha. Aku juga lupa bahwa kau pria yang tidak bertanggung jawab dan meninggalkan istrimu begitu saja di jalanan dalam keadaan hamil. Itu sangat lucu sekali." James bertepuk tangan sambil tertawa. Jika tidak ada Keyla dan Awan di rumah ini, ia sudah melempar lelaki di sampingnya ke dasar jurang.



"Apakah Awan benar-benar anakku?"



"Kau boleh mengetesnya kalau tidak tidak percaya."



"Apakah itu artinya aku boleh membawanya pulang?"



"Tentu saja. Tapi bunuhlah aku terlebih dahulu. Kau tahu kan orangtua Keyla tak lagi menyukaimu? Kau menelantarkan Keyla begitu saja."



"Jika artinya aku harus membunuhmu, aku akan melakukannya."



"Dan itu artinya kau kehilangan Awan dan Keyla untuk selama-lamanya."



Stevan berpikir keras. Ia juga tak akan bisa memaksa Keyla untuk pulang ke Indonesia.



"Apa rencanamu?" tanya Steve.



"Aku akan membawa Keyla pulang ke Indonesia. Orangtuanya memintaku agar Keyla mau tinggal di sana."



"Lalu?"



"Kami akan tinggal di tempatmu selama seminggu. Biarkan Keyla memilih. Jika dia memilihku, kau harus menceraikannya. Jika dia memilihmu, aku akan melepaskannya."



"Baiklah. Aku setuju."



***



Ketika mendekati rumah Stevan James merasa tak asing dengan perempuan yang ada di sebelahnya. Anna? Semakin dekat James semakin yakin itu adalah Anna. Ia tak percaya selama ini yang dimaksud Keyla adalah Anna yang dulu pernah menjadi kekasihnya. Dunia ini memang sempit!



Ia menggandeng Keyla yang terlihat tak senang dengan keberadaan Anna. Pria itu tahu berapa banyak Anna telah menusukkan sebuah pisau yang tajam ke dalam dadanya. Lelaki itu tak yakin Anna mengenalinya atau tidak, yang pasti perasaan James mulai tak enak melihat sorot mata itu. Penuh kebencian dan seolah-olah ingin menghilangkan Keyla dari bumi ini.



"Apa kau gila Steve? Ada wanita lain di rumah ini tapi kau tidak memberitahu. Kau tahu kan Keyla tak menyukai wanita itu?" Dua orang pria tengah mengobrol di gazebo di hari yang larut. Sementara penghuni rumah lainnya sudah berada di alam mimpinya.



"Aku harus menjaganya, James. Aku tidak bisa mengabaikannya."



"Ya. Itulah dirimu. Selalu mencampur adukkan perasaanmu? Apa kau tidak mengerti juga sampai sekarang? Karena wanita itulah kau dan Keyla berpisah. Aku menyesal membawa Keyla kemari!" James mendengus kesal. Ia berusaha menahan amarahnya karena tak ingin ada yang mendengar. James tak mau Keyla khawatir. Sementara pria di sebelahnya hanya hanya terdiam tanpa mengatakan sepatah katapun.



"Kalau sesuatu sampai terjadi pada Keyla dan Awan aku tidak akan menagampunimu, Steve," kata James lalu ia berdiri meninggalkan patung bernyawa itu.



James berjalan menaiki tangga, membuka pintu kamar Keyla. Ia sudah tidur nyenyak begitu pun Awan. Karena belum bisa tidur, James berkeliling rumah. Ia membuka satu persatu pintu di lantai dua dan memeriksa apa isinya. Ia terkesan dengan Steve, seleranya tinggi dan kaya raya.



Ketika menemukan ruang gym, tanpa permisi James langsung melepaskan kaosnya dan melatih otot-ototnya. Di rumahnya tak ada yang seperti ini dan hanya sesekali pergi ke pusat kebugaran. Itupun jarang sekali karena tugasnya setelah pulang ke rumah adalah bermain dengan kapten kecilnya dan membersihkan rumah Bunny.



Sejak menjadi ayah, ia memang sangat sibuk. James menjadi lebih giat bekerja karena tidak lagi menerima sokongan dari ayahnya. Katanya, ia ingin mandiri dan menghidupi keluarganya dengan jerih payahnya sendiri. Meskipun begitu ia senang karena Keyla tak pernah menuntut. Apapun yang diberikan James, ia selalu menerimanya dengan gembira.



"Setelah kau marah padaku, kau juga menggunakan peralatan olahragaku? Cih," sindir Stevan ketika masuk ke ruang gym.



"Aku suka yang gratisan. Kau tahu kan aku tidak kaya sepertimu." James tak mau kalah dan masih lari diatas treadmil.



"Kulihat semua kamarmu kedap suara? Apa kau suka karaoke?" Giliran James menyindir pria yang sedang mengangkat burble di tangan kanannya.



"Apa kau mau mencuri sesuatu sampai membuka setiap ruangan di rumahku?"



"Ya. Siapa tahu ada bongkahan emas di dalamnya."



"Jika aku sekaya itu aku tak perlu bekerja."



"Bukankah kau pengangguran?!"



"Sialan!"



"Buat apa kau membangun rumah ini? Apa kau mau menampung setiap orang gila di rumahmu?"



"Keyla. Keyla bilang ingin sebuah kastil yang dikelilingi bunga mawar." James diam. Ia merasa kalah telak. Orang kaya sepertinya memang sulit dibantah.



"Apa kau sudah selesai?" tanya James ketika Stevan menyudahi olahraganya.



"Aku bosan berdua denganmu. Aku ingin mandi dan bekerja."



"Allright. Aku harap kau tidak diam-diam masuk ke kamar Keyla." Stevan hanya tersenyum lalu masuk ke ruang kerjanya. Sementara James masih sibuk mencoba satu persatu alat olahraga di ruangan itu. Dia tak ingin menyia-nyiakan kesempatan. Jarang-jarang dia berolahraga dengan tenang.



Pukul dua dini hari James baru selesai berolahraga. Ketika membuka pintu ia melihat sekelebat bayangan wanita memakai daster warna putih dari dapur. Dia terlihat memegang sebuah kotak berwarna merah lalu diletakkan di dalam lemari. Apakah ia sesosok hantu? Entahlah. Percuma badan James besar jika ternyata ia takut dengan yang namanya makhluk halus. Yang jelas ia penasaran apa yang dilakukannya. Ia bersembunyi dibalik tiang, menunggu wanita itu pergi. Dan setelah diamati bayangan itu naik ke atas tangga, menuju kamar paling ujung. Bersebrangan dengan kamar Keyla. Kamar Anna?



Setelah perempuan itu masuk, buru-buru James turun ke dapur. Ia memeriksa sesuatu yang tadi disentuh Anna. Kotak susu Awan? Cepat-cepet ia mengambil susu itu kemudian menyeduhnya dan menaruhnya di botol lalu keluar rumah mencari kucing. Biasanya di tempat seperti ini banyak kucing berkeliaran.



James menyusuri jalanan dengan pencahayaan remang-remang. Mencari kucing atau apapun yang bisa dijadikan kelinci percobaan.



Setelah berjalan cukup jauh akhirnya James menemukan seekor anak kucing. Tanpa tunggu lama lagi ia menangkap kucing itu dan meminumkan susu yang ia bawa. James lalu membawa kucing itu pulang dan saat diperjalanan kucing itu muntah-muntah. James kemudian lari secepatnya ke rumah dan memberikan air pada kucing itu lalu mencari pelayanan dokter hewan yang buka 24 jam.



"Sangat beruntung kucingnya cepat-cepat dibawa ke sini. Kalau tidak, bisa mati," kata dokter hewan yang kliniknya tak jauh dari rumah Stevan. "Kucing memang sering memakan jebakan racun tikus. Kalau sudah muntah dan dikasih air, biasanya bisa tertolong."



"Terima kasih, Dok. Bisakah aku titipkan kucing ini di sini? Kalau sudah sembuuh, tolong lepaskan." Setelah membayar tagihan, James naik taksi menuju ke rumah Stevan. Buru-buru ia mengambil kotak susu itu dan membuangnya ke tempat sampah. Karena geram, James naik ke kamar Anna.



Wanita itu meronta ketika James membekap mulutnya. "Anna, apa kau mengingatku? Patek!" Anna terus berusaha melepaskan diri. Tapi tenaga James bukanlah tandingannya. "Ingatlah ... aku selalu memperhatikanmu. Kalau sampai terjadi sesuatu pada anakku dan Keyla, kau akan membayarnya. Mengerti?" Pria itu lalu meninggalkan Anna di tempat tidur.



Keesokan harinya, Keyla terlihat bingung. Ia membuka seluruh lemari di dapur. "Sedang mencari apa, Darling?" tanya James yang baru saja sampai rumah. Tubuhnya yang berkeringat berkilauan oleh pantulan cahaya lampu. "Kotak susu Awan. Aku yakin kemarin menaruhnya di sini, James."



"Mungkin hanya perasaanmu, Key. Pasti sudah habis. Akhir-akhir ini kan kau pikun," balasnya sambil menenggak air dari dalam kulkas.



"Aku ingat sekali, James. Baiklah. Aku akan pergi ke minimarket sebelum Awan bangun." Keyla melangkahkan kaki dan menyahut dompetnya yang ada di laci.



"Apa kau minimarket menggunakan celemek?"



"Ya Tuhan!" Keyla buru-buru melepaskan celemek dan melipatnya. "Terima kasih, James." Keyla memberikan kecupan kecil di pipinya. Seandainya Keyla melakukan itu setiap pagi, James pasti senang bukan kepalang. Karena sampai detik ini, ia tahu kalau Keyla masih menyimpan cintanya hanya untuk Stevan. Meskipun begitu, dia sama sekali tidak keberatan. Yang terpenting adalah wanita yang dicintainya bahagia. Itu saja sudah cukup ....

Post a comment

0 Comments