Suamiku Dingin (Tamat)


Novel suamiku dingin


Setelah kematian Lunny, James makin cemas dan curiga dengan Anna. Karena khawatir dengan apa yang akan terjadi, ia memasang sebuah cctv di kamar Anna. Ia yakin hal ini akan berguna suatu saat nanti. Apalagi sudah jelas wanita sinting itu memasukkan obat tikus ke dalam susu Awan. James juga yakin Anna lah yang membunuh Lunny kemudian membuang kepalanya di kebun.



"James, terima kasih karena mau menjaga Awan malam ini," ucap Keyla dengan lembut.



"Tidak masalah, Darling. Selesaikanlah urusanmu dengannya." James menunjuk ke arah Stevan yang tersenyum seolah-olah ialah yang akan memenangkan Keyla.



Setelah mereka berdua naik ke kamar, Awan mengajak Papanya tidur. "Awan ngantuk," rengeknya sambil mengusap matanya.



"Baiklah, superman! Ayo kita naik!" James menggendong Awan dan pura-pura terbang layaknya superman.



Karena terlalu keras berolahraga, James langsung tertidur pulas hingga tak sadar jika Awan turun dari ranjang.


"Bunny, sejak kapan kau di sini? Sssttt ... Papa sedang tidur. Dia akan marah kalau kalau aku tidak segera tidur." Awan berjongkok dan terlihat berbisik-bisik.


"Apa kau mau bermain dengan Lunny? Baiklah. Aku akan mengajakmu ke sana." Awan pun berjalan keluar kamar. Perlahan bocah cilik itu menuruni tangga sambil berpegangan


"Bunny, tunggu. Jangan cepat-cepat," pintanya dengan suara lirih agar tak ada orang lain yang mendengar.



***


"Hey, apakah ini orangnya?" Bisik seorang pria pada temannya. Sementara James entah apa yang sedang diimpikannya. Wajahnya tersenyum kemudian tiba-tiba tertawa.



"Cepat beriak obat biusnya sebelum dia bangun," perintah pria yang memakai jaket kulit pada temannya yang lebih pendek. Mereka berjalan pelan mendekati James dan menutup mulutnya dengan kain yang telah diberi obat bius. James sempat bangun dan melawan sebelum tiba-tiba tubuhnya lemas dan tak sadarkan diri. "Dia sudah pingsan. Apalagi sekarang?"



"Pukul kepalanya! Pukul sekeras mungkin!" Si pria berbadan pendek itu pun memukul kepalanya hingga berdarah.



"Apalagi sekarang?"



"Suntikkan ini di lengannya! Lalu tinggalkan bungkusan ini di laci!"



Mereka telah selesai melakukan apa yang diperintahkan. Buru-buru kedua pria itu meninggalkan rumah Stevan.



Anna melihat James tergeletak di kamarnya. Ia tersenyum puas, kalau James mati, Anna akan dengan leluasa menyingkirkan Keyla dan anaknya. James Patek adalah halangan terbesar baginya, karena selalu menjaga Keyla. Sama seperti kejadian racun tikus dan kebocoran gas di dapur. James tak pernah meninggalkan Keyla meskipun tidak selalu di dekatnya. Berbeda dengan Stevan yang terlalu mempercayai Anna dan sibuk menulis di ruang kerjanya.



Anna pergi menuruni tangga, menyalakan semua lampu dan membiarkan pintu terbuka. Ia senang sekali James telah mati dan sebentar lagi, giliran Anna. Ia juga telah meninggalkan catatan yang telah selesai dituliskan. Anna menaruhnya di dalam laci.



***



"Papa!" Awan berlari dan menghampiri James. Pria itu membuka tangannya bersiap untuk memeluk. "Apa kau merindukan Papa?"



"Hmmmm." Awan mengangguk dan memeluk pria yang tengah menangis itu dan tidak terasa Keyla pun ikut menitikkan air mata.



 "Apa kau baik-baik saja, Key?" Ayah James menepuk-nepuk pundak menantunya.



"Iya, Pa. Keyla sangat bersyukur akhirnya kebenaran terungkap. Key, tidak yakin Papa Awan bisa melakukan hal buruk seperti itu. Lihatlah dia betapa sayangnya pada Awan. Ia seperti malaikat bagi kami."



"Bajingan kecil itu kini telah dewasa. Lihatlah betapa bahagianya dia." Pria di samping Keyla itu tak bisa menyembunyikan keharuan. Dan mereka berdua menangis bersamaan.



"Keyla!" James mendekati Keyla lalu memeluknya. "Jangan menangis," imbuhnya sambil mencium keningnya.


"James!" Keyla memeluk James dengan sangat erat. Ia tak mau melepaskan pria itu sampai kapanpun



"Terima kasih, Pa!" James berhambur ke ayahnya.



"Maafkan Papa, James. Mulai sekarang hiduplah dengan baik dengan anak dan istrimu."



Mereka berempat masuk ke dalam mobil dan meninggalkan tempat rehabilitasi. James sudah benar-benar dinyatakan bersih dari obat terlarang. James tersenyum dan bersyukur, kini impiannya memiliki keluarga dikabulkan oleh Tuhan. Kini ia percaya jika Tuhan memang ada. Dan benar kata Mama, Tuhan bersama dengan orang-orang yang memiliki ketulusan di hatinya.



***



Satu bulan yang lalu ....



"Maafkan aku, Key. Karena kebodohanku kau banyak menderita dan Awan hampir saja meninggal."



"Sudahlah, Steve. Semuanya sudah selesai dan kini kita tahu mana yang benar dan yang salah. Aku sendiri masih tak percaya Anna bisa melakukan hal itu. Terlebih menyakiti dirinya sendiri seperti yang terekam di cctv. Entah apa yang ada di pikirannya sampai-sampai melompat ke dalam jurang."



"Entahlah, Key. Semoga sekarang kesakitannya benar-benar berakhir."



"Sesekali aku akan menjenguknya, Steve."



"Terima kasih, Key."



Keyla dan Awan masuk ke dalam mobil ayah mertuanya yang berwarna hitam. Ia tak mau tinggal lagi di rumah itu. Ia juga meninggalkan Stevan terkubur bersama kenangannya di kastil impian. Kini, Keyla tak ingin lagi bermimpi. Ia ingin bangun dan merajut kembali kebahagiannya bersama Awan dan James.



Ia ingin menghabiskan sisa umurnya bersama pria yang mengasihi dan mempercayainya sampai akhir. Dan pria itu adalah James, bukan Stevan Antonius yang lebih percaya dan membela Anna.



Happy ending tak harus selalu dengan orang yang dicintai. Tetapi harus dengan orang yang mempercayai dan dapat dipercaya. -Keyla-



***



"James, lihatlah! Ada Stevan di televisi!"



"Papa!!!" Awan berteriak kegirangan melihat papanya.



James yang sedang makan pun berlari ke ruang tengah dan ikut nimbrung. "Waaa ... Apakah dia meluncurkan buku baru lagi, Key?"



"Ya. Judulnya Keyla The Lost Love."



James menyemburkan nasi yang ada di mulutnya. "Apakah Stevan seorang remaja? Kenapa membuat judul sekonyol itu?"



"Apa kamu cemburu karena dia lebih romantis darimu?"



"Hey ... hey ... ada apa ini pagi-pagi ribut?" sela Mama yang baru keluar dari kamarnya.



"Oma!" Awan berjingkat. Minta digendong.



 "Awwww ... cucu oma makin berat! Kalau Awan minta gendong terus oma bisa kena encok!"



"Kalau Mama kena encok, biar Papa yang gendong Mama," goda Papa yang baru saja keluar dari kamar mandi.



"Sepertinya cucu Mama akan nambah lagi, deh! Sial-siap obat encok," ucap Keyla malu-malu sambil mengelus perutnya.



Sejak Keyla kembali pulang, rumah itu jadi sangat ramai. James menepati janjinya pada Mama. Jika ia menikah dengan Keyla, ia akan tinggal di rumah orangtua Keyla.



***



Rumah sakit jiwa Dr. Sueharto Heerdjan.



Anna sedang berdiam diri di dekat jendela. Pandangan matanya kosong dan dokter bilang ia tak ingat apa-apa lagi. "Apa kau sering ke sini, Steve?" tanya Erika. Kedua sahabat itu berdiri di pintu ruangan tempat Anna dirawat.



"Ya. Aku merasa bersalah padanya."



"Aku tak menyangka kita akan berkumpul lagi dengan keadaan seperti ini. Aku merindukan Anna yang dulu. Tawanya, marahnya, dan juga manjanya. Dia adalah gadis yang baik. Kau tahu itu kan, Steve?"



"Tentu saja, Erika. Anna adalah sahabat terbaik kita. Dulu, sekarang, maupun esok."



Erika memeluk Stevan. Ia tak lagi bisa membendung kesedihannya. Tangisnya pecah dan dadanya terasa sesak.



"Sudahlah Erika. Jika kau terlalu banyak menangis, bayi di perutmu akan ikut bersedih."



"Apakah suamiku yang memberitahumu?"



"Siapa lagi? Lihatlah, Anna tersenyum."



"Apa dia tersenyum untuk kita, Steve?"



"Iya. Dan juga Jack. Akhirnya kita bisa bersama lagi setelah sekian lama."



"Steve? Apa kau tidak akan menyesal melepas Keyla?"



"Mungkin aku akan menyesal. Tapi aku berbahagia untuk pernikahannya bersama James."



"Oh ya, Steve. Bisakah kau bilang pada Keyla bahwa Bunny meninggal beberapa bulan lalu? Aku lupa memberitahuanya."



Steve hanya diam saja kemudian berkata dalam hati. "Terima kasih, Bunny karena telah menjadi sahabat terbaik Awan."


-Tamat-



Note Author. Terima kasih kepada semua pembaca terkhusu untuk yang memberikan review di kolom komentar. Kaka Faiz yang telah mendukungku selama ini sejak ada di NovelMe, Dayu Awahita, Cindy Candy, Fera Rahmawati, Devi April, Mami dan Yoen Astoen.


Terima kasih karena telah membaca karyaku sampai tamat. Aku tahu novel ini banyak memiliki kekurangan. Meskipun begitu, aku harap cerita ini memiliki hal positif yang bisa dipetik. I Love You all ....

0 Comments