Ex-Husband Please be Gentle (1)

 

Novel roman

"Darling? Apa kamu sudah selesai menata kamarmu?" teriak seorang wanita yang tengah memasak untuk makan malam keluarganya.


Meskipun hari ini dia baru saja pindah ke Paris, Keyla memutuskan untuk menyiapkan makanan sendiri daripada hasrus membeli. Selain itu, dua buah hatinya tidak terbiasa makan-makanan junk food. Bukan hanya tidak sehat karena terlalu mengandung banyak protein serta gula, tetapi sejak kecil Keyla memang membiasakan mereka memakan makanan rumahan yang diolah sendiri. Lebih sehat pikirnya. Kalau soal anak, Keyla tak mau serampangan. Buat anak kok main-main. Pokoknya, apapun yang masuk ke dalam mulut mereka harus yang terbaik!


"Sebentar lagi, Ma," jawab Awan dari dalam kamarnya sambil membereskan buku-buku di meja dan ditata sedemikian rupa agar sedap dipandang mata.


"Kalau sudah selesai, tolong bantu Mama mengangkat beberapa barang yang ada di luar pintu, ya. Gak berat, kok. Beberapa boneka milik adikmu," teriak Keyla lagi dengan semangat sambil mengaduk masakan yang ada di atas kompor.


"Oke." Awan menjawab singkat. Habisnya, mau apalagi? Anak lelaki yang mulai beranjak remaja itu memang itu tak banyak bicara. Cenderung pendiam malahan. Persis seperti Papanya.


Sementara Keyla sibuk memasak, ia lupa bahwa pintu apartemennya masih terbuka. Ia juga lupa bahwa Bintang adalah anak yang tidak bisa diam dan selalu ingin mencari tahu apa yang ada di sekitarnya. Bocah cilik itu seperti gasingan yang selalu berputar-putar.


Brukk!!


Bintang menabrak seseorang dan tidak sengaja menumpahkan es krim yang baru separuh ia makan di atas sepatunya yang berwarna biru tua.


"Hei, hati-hati, dong! Di mana sih orang tuamu?" kata gadis berambut pirang itu dengan bersungut-sungut. Ingin sekali dia menjewer kuping Bintang sampai merah. Biar kapok!


"Ma ... maaf, aku tidak sengaja." Bintang membungkuk dalam-dalam saat meminta maaf. Meskipun tak sengaja, gadis kecil itu tahu bahwa dialah yang bersalah.


"Enak saja minta maaf. Sepatu mahal tauk?!"


Melihat gadis cilik itu sedikit ketakutan, Darrel, lelaki yang berdiri di samping gadis itu pun ikut bicara. "Sudahlah, dia kan hanya anak-anak. Tidak perlu dibesar-besarkan."


"Hummmph! Kamu lebih membela anak itu daripada aku? Men jeng kel kan!" Fleur tak bisa menyembunyikan kekesalannya karena sepatu itu baru dibeli minggu lalu. Saking kesalnya, dan tak bisa membantah perkataan Darrel, gadis itu pun pergi lebih dulu dan cepat-cepat masuk ke dalam lift dengan wajah masam.


Darrel hanya bisa membuang napas perlahan. Gadis itu memang masih berusia dua puluhan. Jadi, wajar saja jika sifatnya kekanakan. Selain itu, Darrel sudah merasa terbiasa dengan sifat Fleur yang seperti itu.


"Maafkan aku." Sekali lagi Bintang meminta maaf padahal Fleur sudah tak ada lagi di koridor apartemen. Gadis itu menatap Darrel dengan berkaca-kaca. Matanya yang bulat dan sorot matanya yang lembut, membuat Darrel tersenyum.


"Tidak apa-apa. Siapa namamu?" Darrel berjongkok agar gadis itu tak perlu mendongak saat bicara.


"Namaku Bintang," jawabnya dengan ramah.


Bintang? Nama yang cantik. Pikir Darrel. Wajahnya pun sangat cantik dan matanya bersinar. Ia seperti pernah melihat wajah itu sebelumnya. Mata dan wajah yang tak akan pernah dia lupakan sampai kapanpun dan di manapun.


"Yang mana rumahmu? Biar Om antar."


"1001." Bintang menunjuk apartemen yang paling ujung. Berdekatan dengan lift.


"Ayo om antar." Darrel mengangkat tubuh Bintang dan gadis berusia empat tahun itu pun tak menolaknya. Dia tak merasa takut atau curiga. Padahal, Mamanya sering berpesan jangan pernah bicara dengan orang asing. Jangan mau diajak orang asing. Dan tolak jika diberi makanan atau mainan. Tapi, entah kenapa dia merasa berbeda dengan Darrel. Pesan Keyla seolah menguap begitu saja dan tak ada artinya.


Tok ... tok ... tok ...


Darrel mengetuk pintu apartemen Keyla yang terbuka. Mendengar ada tamu, Keyla mematikan kompor dan langsung berlari ke arah pintu. Ia penasaran siapa yang datang ke apartemennya. Teman? Tak mungkin. Dia baru saja pindah ke Paris dan belum sempat memperkenalkan diri ke tetangga.


Antonius? Batin Keyla ketika melihat pria yang berdiri di depan pintu dengan mulut ternganga. Wajahnya tegang dan kakinya seperti sedikit bergetar. Sekilas ia merasa telah melihat mayat hidup.


"Mama!" teriak Bintang dan Darrel pun menurunkan Bintang. Gadis itu berlari ke arah Keyla yang pikirannya melayang entah ke mana.


"Hei, sayang ... dari mana saja kamu?" tanya Keyla sedikit bingung. Ia masih belum bisa mencerna tentang apa yang terjadi di depannya.


"Jalan-jalan!" jawab Bintang lalu gadis itu berlari ke arah kamar Awan yang belum selesai membereskan ruang pribadinya. Ia masih menata baju-bajunya di dalam lemari dengan pelan dan teliti. Pokoknya, tak ada yang tak boleh tidak pada tempatnya. Keyla saja sampai heran karena Awan sama sekali tak menuruni sifatnya.


"Maaf mengganggu. Tadi pintunya terbuka. Mungkin itu sebabnya Bintang berjalan-jalan diluar." Suara Darrel membangunkan Keyla dari lamunan dan sekali lagi ia merasa telah menginjak bumi.


Ditatapnya pria yang ada di hadapannya. Keyla merasa suara itu, wajah itu, matanya, tubuhnya, ia persis seperti Stevan. Pria yang memiliki separuh hatinya sekaligus Papa dari anak sulungnya.


'Apakah aku telah bermimpi? Tapi, itu tidak mungkin Stevan Antonius. Dia telah meninggal.'


Keyla berusaha meyakinkan dirinya sendiri bahwa lelaki itu bukanlah Stevan mantan suaminya. Melainkan pria lain yang kebetulan mirip saja.


"Mmm ... terima kasih banyak karena telah mengantar Bintang. Aku sedang memasak untuk makan malam. Maukah kamu bergabung bersama kami?" sahut Keyla sedikit canggung karena ia merasa berhadapan dengan orang yang dicintainya sekaligus mantan suaminya.


"Tidak, terima kasih. Aku masih ada acara," balas Darrel lalu dalam sekejap mata ia pun menghilang dari pandangan perempuan berusia tiga puluh lima tahun itu.


"Siapa Ma yang datang?" Awan bertanya karena penasaran. Ia baru selesai menata lemari pakaiannya.


"Em? Hanya tetangga. Tadi adikmu jalan-jalan sendirian karena pintu terbuka."


"Apakah dia laki-laki?" tanya Awan menyelidik dengan wajah khawatir. Setelah Papanya meninggal, dialah satu-satunya lelaki di keluarganya. Meski baru sembilan tahun, Awan memiliki pola pikir yang lebih dawasa dari anak seumurannya.


"Huuum," jawab Keyla yang masih melihat ke arah pintu. Melihat Darrel, ada sekelumit rasa rindu yang menjalari dadanya.


Awan pun berjalan pelan lalu mengangkat mainan adiknya yang ada diluar apartemen. Setelah itu, dia menutup pintu tanpa harus menguncinya karena sudah terkunci secara otomatis. "Lain kali jangan biarkan pria asing masuk ke dalam rumah. Kita tidak tahu apakah dia memiliki niat buruk atau tidak. Ingatlah bahwa Mama adalah perempuan."


Keyla hanya mengiyakan saja. Dia tidak tahu persis sejak kapan anak lelakinya itu menjadi  sangat kritis. Ia ingat saat Awan masih seusia Bintang, dia sangat lucu, polos, dan tingkahnya selalu menggemaskan. Tapi, semakin hari anak itu semakin menyebalkan. Tak banyak bicara namun sekalinya bicara langsung bikin greget.


"Kalau yang datang pangeran William bagaima, Sayang?" goda Keyla berusaha menahan senyumnya. "Ya ... siapa tahu dia naksir Mama."


Awan yang sedang membereskan mainan adik perempuannya pun menyahut. "Mama tidak demam, kan?"


"Ckckck. Kamu kira Mama sakit dan mengigau?"


"Ya, siapa tahu?" Awan mengangkat kedua bahunya. 


"Kamu itu gak pengertian banget, deh! Gak bisa lihat Mamanya seneng!" sahut Keyla gemas dan kembali berjalan ke dapur.


"Soalnya Mama kalu seneng kadang seperti orang gak waras." 


Ya Tuhan! Anak itu! Pedas sekali mulutnya. Meskipun Keyla tak memungkiri, jika itu yang bicara adalah anak lelakinya, terdengar berbeda di telinganya. Kadang-kadang, kalau Keyla kalah bicara dengan Awan, dia ingin sekali memasukkan anaknya itu kembali ke dalam perutnya! 


🗼


"Setelah makan, kalian langsung telpon kakek, ya," perintah Keyla pada Awan dan Bintang yang sedang mengunyah buncis dan salmon di mulut mereka. Untunglah apartemaennya sangat dekat dengan supermarket, tinggal turun lalu menyeberang jalan sampai deh. 


"Kakek yang mana, Ma?" tanya Bintang dengan polosnya.


"Ketiga-tiganya, sayang. Mama sudah bilang kalau setelah makan malam kalian akan menghubungi mereka."


"Oke," jawab Bintang dan Awan secara bersamaan.


Sementara itu di tempat lain, Fleur sedang kesal menunggu Darrel yang tak kunjung datang.


"Pergi ke mana saja kamu? Kenapa lama sekali?" protes Fleur yang telah cukup lama menunggu Darrel di dalam mobil.


"Mengantar anak tadi pulang." Darrel masuk ke dalam mobil dan melajukannya menuju ke sebuah hotel tempat acara berlangsung.


"Tidak perlu berbaik hati pada anak kecil seperti itu. Lihatlah apa yang telah dilakukannya pada sepatuku!"


"Aku bisa membelikanmu seratus pasang lagi jika kau menginginkannya. Sekarang berhentilah bicara," tandas Darrel dengan pandangan mata lurus ke depan. Darrel terlihat dingin sekali. Tak seperti biasa yang selalu mengalah pada Fleur dan berbicara dengan nada rendah.


"Hmpphh!! Awas kau anak kecil. Kalau aku bertemu lagi akan kucubit pantatmu! Gara-gara kamu Darrel bersikap dingin padaku!" batin Fleur jengkel setengah mati. Pokoknya, dia akan membuat perhitungan kalau ketemu anak itu lagi!


Note Author: Ini ada novel sekuel pertama Suamiku Dingin yang awal mulanya berjudul Happy Ending. Selamat membaca, dan pastikan share ke teman² kalian ....

1 Comments

  1. GAME ONLINE TERBESAR DI INDONESIA HANYA DENGAN 1 USER ID SUDAH BISA BERMAIN SEMUA GAME.

    DAFTAR DISINI ---> https://http://pelangilive.org/B
    Untuk Info Dan Bonus Menariknya Bisa Hubungi Kami Di Bawah Ini :
    WA : +855 6945 4603

    DAFTAR DISINI :https://www.http://pelangilive.org/register

    Ayo buruann , mana tau kamu menjadi jutawan setelah bergabung dengan kami ..

    #PELANGI CASINO #CASINOONLINE #DEPOSITPULSA #SLOTS #COVID19

    ReplyDelete