Terseret ke Dunia Lain (2)

 

Novel horor

"Kinar, bagaimana menurutmu pemandangan di sini?" tanya Papa dari belakang kemudi. Wajahnya terlihat serius memerhatikan badan jalan.


"Kampungan! Kinar gak suka." Gue menjawab datar sambil mencari-cari sinyal yang muncul ilang muncul ilang seperti jaelangkung yang datang gak diundang tapi pulang minta diantar. Dia kira gue ojek kali, ya?


"Kenapa sih Pa kita mesti ke sini? Kinar lebih suka kita tinggal di Denpasar." Gue menggerutu. Sebal. Jengkel. Semua berkumpul jadi satu karena gak ada sinyal. 


"Lihatlah, Sayang ... di luar sana indah sekali. Pemandangan ini tidak ada di kota apalagi di Denpasar." 


"Mana indah? Gak ada mall, bangunan rumahnya jelek-jelek, cuma ada pohon di kanan di kiri, jalanannya juga naik turun. Udah gitu gak ada sinyal. Gimana Kinar bisa lihat pacarnya Kinar kalau begini?"


Mama dan Papa hanya geleng-geleng dan tersenyum. Mereka benar-benar orangtua yang tidak mengerti perasan anaknya. Entah apa salah gue di masa lalu kok sampai tersesat di desa Sambori, sebuah desa yang terletak di kecamatan Lambitu, kabupaten Bima, Nusa Tenggara Barat. 


"Papa di sini kerja apa sih, Pa? Sampai sekarang Kinar gak tahu kerjaan Papa apa karena Papa selalu bilang tugas negara."


"Tugas Papa adalah menemani Mamamu, Sayang. Kamu kan tahu Mama dokter yang cantik. Kalau Mama diculik bagaimana?"


"Gak ada orang yang mau menculik Mama. Orangnya cerewet. Galak pula! Selain itu dari mana cantiknya?"


"Eh! Kinar berani ya gosipin Mama. Kalau Mama gak cantik, berarti Kinar juga gak cantik."


" Ye ... siapa yang gosipin Mama? Iya kan, Pah? Gosip itu dibelakang Mama. Lah, ini Kinar kan ada di depan Mama. Mau Mama cantik atau gak, Kinar tetap cantik. Iya kan, Pah?" bantah gue gak mau kalah karena memang gue duduk di depan samping Papa dan Pama di belakang. 


"Iya, Sayang ... buat Kinar apa sih yang enggak?" 


Setelah hampir satu jam menyusuri jalan yang berkelok-kelok, naik turun dari kota Bima, akhirnya papa memberhentikan mobil di depan kerumunan orang yang terlihat sedang menari tapi pakaian yang mereka kenakan sangat aneh dan sama sekali tidak modis. Perempuan-perempuan yang menari itu menggunakan kain sarung sebagagai penutup kepala dan wajah sambil melempar sesuatu dari mangkok yang dipegangnya.


"Selamat datang Pak Ramlan, Ibu Kinar," sambut seorang laki-laki yang sudah tua dan rambutnya tak ada lagi yang hitam ketika kami bertiga turun dari mobil.


Orang-orang itu memberi salam pada Mama dan Papa dengan sangat hormat. Ada juga anak-anak kecil yang sedang menonton tarian aneh itu sambil berbisik dan melihat ke arah kami. Gue pelototin mereka satu-satu dan akhirnya kepala mereka tertunduk.


"Bolehkah saya mengambil foto mereka, Pak?" tanya Mama mengeluarkan ponselnya dari dalam kantong celananya.


"Tentu saja, Bu. Tentu saja. Ini adalah tarian adat kami untuk memberi penghormatan pada tamu yang datang. Namanya tari Wura Sabeti."


Mama mengangguk-angguk. Antara kagum atau pura-pura mengerti. Yang jelas gue tidak peduli karena dari tadi mau update status di Instagram susah sekali. 


Setelah beramah tamah selama beberapa menit, akhirnya kami dibawa ke sebuah rumah yang ... gue tidak tahu harus menyebutnya apa tapi ini sangat-sangat tidak layak dihuni manusia! Rumah itu seperti rumah panggung yang lantai dan dindingnya terbuat dari kayu, sementara atapnya terbuat dari seng. Gue yakin, pasti tidak ada air conditioner apalagi kamar mandi yang bisa memancarkan air hangat!


"Selamat beristirahat, Pak, Bu dan Adek. Kalau butuh apa-apa, panggil saya."


"Terima kasih, Pak," balas Mama dan Papa secara bersamaan sambil membungkukkan badan. Sementara gue masih melihat ke sekeliling rumah. Tidak ada apa-apa di dalamnya. Hanya tikar dan beberapa bantal. Gue berjalan ke belakang. Hanya ada dua kamar. Tidak ada kasur apalagi spring bed. Hanya ada kasur lantai tipis dan satu bantal. Kamar mandi? Di mana kamar mandi? Gue terus ke belakang dan ... tidak ada kamar mandi di sana. 


"Mamaaaaa!!!!"


"Ada apa Sayang kok teriak? Malu kalau ada yang dengar."


"Mama yakin kita tinggal di sini? Rumah yang tidak ada kamar mandinya?! Ya Tuhaaaaan. Mimpi buruk apa aku semalam?!"


***Bersambung



Post a comment

0 Comments