Terseret ke Dunia Lain (3)

 

Novel maitra tara

Hari pertama gue tinggal di Sambori ... satu kata. Yaitu, menyedihkan! Merdengar suara angin dari dalam rumah dan sesekali hawa dingin bisa gue rasakan.


Wuusshhh ... wushhh ... wushhh....


Suara jangkring, kodok, belalang, gue juga bisa mendengar jelas. Mereka seperti sedang berlomba paduan suara. Pokoknya, berisik!! Sudah gitu kalau mau ke kamar mandi, gue kudu keluar rumah dan bayangin aja sendiri seremnya gimana? Di luar gelap, pepohonan daunnya bergerak-gerak sendiri, dan kalau tiba-tiba ada yang lewat gimana? Maksud gue, yang lewat itu kuntilanak atau semacamnya. Kan mampus gue.


Selama ini Papa selalu bertugas di tengah kota. Fasilitas lengkap. Rumah bagus. Pemandangn kota dengan gedung-gedung yang menjulang tinggi serasa mencapai langit dan yang jelas, gak ada istilah krisis sinyal. Gak kayak di sini.


"Pagi, Kak!" teriak beberapa anak ketika melihat gue duduk di pintu sambil menjuntaikan kaki. Buru-buru gue masuk ke rumah. Gue paling alergi ketemu anak-anak SD macam mereka. Gue mengintip dari balik jendela dan anak-anak berseragam merah putih itu sudah menghilang di belokan jalan. 


"Sayang, ayo sarapan!" panggil Mama dari belakang yang dari tadi masak entah apa. Dapurnya berada di ruang terbuka, pakai kompor gas yang disiapkan oleh warga. Ya, untung saja ada kulkas kecil jadi makanan tidak cepat membusuk dan gue bisa beli es krim.


"Mama masak apa?" 


"Sayur. Kiriman tetangga yang rumahnya di bawah."


"Yang bapak tua kemarin itu?"


"Iya. Namanya pak Yusuf. Semacam ketua desa di sini."


"Oh. Mama langsung kerja hari ini?"


"Iya, dong! Kinar mau ikut?" Gue menggeleng. "Papa mana?"


"Papa sudah pergi kerja sebelum Kinar bangun. Ayo bantuin Mama bawa makanannya masuk."


Ada sepiring sawi putih dicampur dengan jagung muda dan juga telur dadar yang banyak sekali daun bawangnya. Tidak lupa nasi putih dan ... "Apa ini, Ma?" Gue menunjuk ke arah mangkok. "Itu sambal kahuntu kalo. Dari jantung pisang. Tetangga atas yang ngasih. Cobain, Sayang. Kamu belum pernah makan jantung pisang, kan?" 


"Ini terbuat dari jantung pisang? Memang pisang punya jantung?" Gue berpikir keras. Kalau pisang punya jantung, dia juga pasti punya kepala, hati, tangan, dan ... kaki?


Kami makan bersama sambil lesehan dan gue melahap apapun di depan gue karena sejak tadi gue kelaparan. Gue heran, kenapa setiap bangun tidur gue selalu kelaparan?


"Hari ini jadi kan pasang wifi?" tanya gue pada Mama yang sedang makan jantungnya si pisang.


"Jadi, dong. Kinar kan harus belajar." 


Huffft. Gue paling malas belajar secara online. Apalagi gurunya killer. Jarang tersenyum dan selalu menagih tugas sebelum waktunya. 


"Ma, Kinar boleh jalan-jalan?"


"Boleh. Tapi jangan jauh-jauh. Ok."


"Ok."


Setelah sarapan dan beberes, Mama langsung pergi ke Uma Lengge rumah traditional suku Donggo. Letaknya persis di depan rumah kepala desa. Kata Mama, Uma Lengge hanya tinggal satu saja di desa ini karena hilang digerus jaman. Warga setempat sekarang lebih memilih rumah beratapkan seng seperti yang kami tinggali. Katanya sih lebih simple gitu.


Ketika gue keluar rumah, Mama terlihat dikerumini banyak orang. Itukah Uma Lengge? Rumah panggung beratapkan jerami kering. Apakah kalau hujan gak bocor? Ah, entahlah. Gue mau jalan-jalan dulu. Gue naik menyusuri jalan yang gak tahu akan menuju ke mana. Udaranya dingin, banyak pohon di kanan dan kiri. 


Gue terus saja berjalan naik. Menyusuri jalan yang seakan-akan tidak ada ujungnya. "Hei! Mau ke mana? Sini! Sini!" gue mendengar ada yang memanggil. Suara seorang perempuan. Dan gue berjalan mendekat ke arah rumahnya. Dia sedang berdiri dibalik jendela.


"Ada apa?" tanya gue pada gadis yang terlihat lusuh itu. Rumahnya rumah biasa. Bukan rumah panggung. Lantainya pun masih tanah. Dia mengulurkan tangan dan gue mendekat begitu saja. Membalas uluran tangannya. Ketika kami bersalaman, gadis itu menarik tubuh gue secara tiba-tiba dan gue berteriak. "Ehhh! Lepasin gue!! Kita gak lagi main tarik-tarikan! Tolooooong!" Gadis itu tenaganya kuat sekali. Tertawanya juga mengerikan seperti nenek sihir. Tapi, gue gak akan kalah sama gadis kampung. Gue menarik tangan sekuat tenaga lalu gadis itu tiba-tiba melepaskan genggamannya.


Bruukk!! Tubuh gue terjatuh! Dan gadis itu terlihat senang sekali. Gadis kampung yang aneh! Rambutnya awut-awutan dan kulitnya yang kecoklatan terlihat kusam. Selain itu meskipun sedang tertawa, sorot matanya kosong dan bikin gue merinding! Amit-amit ....

Post a comment

0 Comments