Cerpen: Ibu dan Para Kucing

Lomba cerpen terbaru


Namaku Nara, seorang pegawai swasta dan juga seorang pecinta kucing. Aku dan komunitasku selalu rutin melaksanakan street feeding alias memberi makan kucing jalanan setiap minggunya. Sebenarnya setiap hari juga selalu menyempatkan diri melakukan street feeding kepada kucing-kucing liar di sekitar komplek perumahanku maupun di sekitar kantor tempatku bekerja. Selain street feeding, aku dan komunitasku juga rutin mengadakan TNR (Trap Neuteur Return) atau program steril guna menekan populasi kucing liar.


Kegiatan street feeding inilah yang mempertemukanku dengan suamiku, Mas Rangga. Dia begitu keheranan saat ada beberapa orang yang lumayan sibuk memberi makanan kering untuk para kucing di area perkantoran tersebut. Mas Rangga ini sekantor denganku tapi beda divisi. Aku sebagai staf keuangan dan Mas Rangga sebagai staf IT. Sepertinya dia sudah bekerja lebih lama dari aku di perusahaan ini karena setahuku Mas Rangga sudah ada sejak aku masih dalam tahap tes awal untuk masuk perusahaan ini.


Sore itu selepas jam kantor aku seperti biasa memberi makan kucing-kucing jalanan di sekitar halaman kantor, tiba-tiba Mas Rangga datang menghampiriku. 


“Hai, kamu Nara yang di divisi keuangan kan?” tanya Mas Rangga 


“Iya, Pak. Ada apa ya”. jawabku bingung.


“Panggil mas aja ya, ini kamu suka ngasih makan kucing-kucing di sekitar kantor kan ya? Kayaknya seru ya, saya boleh ikutan nggak? “ tanya Mas Rangga.


“Boleh mas, boleh banget. Wah, asyik nih ada anggota street feeding baru.” jawabku antusias.


“ Tapi saya takut kucing, gimana dong? Soalnya ada pengalaman buruk pernah dicakar sama kucing dan itu sakit banget sampai berdarah. Tapi saya nggak benci sih sama kucing.” jelas Mas Rangga.


“Oh, ternyata mas takut sama kucing toh. Sebenarnya kucing itu hewan yang bersahabat loh mas, kesayangan Nabi juga. Gimana kalau Mas Rangga lebih dekat lagi sama kucing salah satunya dengan memberi makan kucing-kucing ini.” jelasku.


“Ide bagus tuh, gimana caranya?” tanya Mas Rangga.


“Masnya sini, tuangin makanan keringnya di tanah aja biar saya yang panggil kucing-kucingnya.” jelasku.


Lalu akupun memanggil para kucing untuk mendekat. Kulihat Mas Rangga masih ada rasa takut tapi berusaha memberanikan diri. 


“Coba kepala kucingnya di elus-elus, mas. Biasanya mereka suka.”tuturku.


“Oke, aku coba ya. Wah bener kucingnya mau dan suka juga dielus sama saya.” ucap mas Rangga girang.


Hari demi hari bulan demi bulan pun berlalu dan Mas Rangga pun juga sudah suka dengan kucing dan rutin melakukan street feeding bahkan sekarang sudah mulai ikut pogram TNR dan menjadi donatur untuk program TNR yang aku dan komunitasku adakan. Mas Rangga memang tidak memelihara kucing di rumahnya dengan alasan takut tidak punya waktu. Tidak apa-apa, lebih baik tidak memelihara saja kalau begitu.


Tak terasa sudah setahun berlalu semenjak aku dan Mas Rangga kenal dan melakukan street feeding bersama. Pada hari itu dia mengungkapkan perasaannya kepadaku setelah memberi makan kucing-kucing penghuni halaman kantor.


“Nara, ada yang ingin aku sampaikan.” ucap Mas Rangga.


“Mau menyampaikan apa, Mas?” tanyaku.


“Aku suka sama kamu sejak pertama kali kita ketemu. Kamu mau nggak jadi istri aku?” jelas Mas Rangga.


“Kenapa mas mau nikah sama aku?” jawabku penasaran.


“Selain kamu cantik, cerdas, sopan, kamu juga berhati lembut dan penyayang, buktinya sama kucing saja kamu sayang, telaten, apalagi sama anak kita nanti, pasti sayang banget.” jelas Mas Rangga panjang lebar.


Aku tersipu mendengarkan penjelasan Mas Rangga, jujur aku juga suka dengan Mas Rangga karena dia adalah sosok yang menyenangkan, cerdas, hangat dan penuh kasih sayang. Aku pun setuju untuk menikah dengannya asalkan nanti kucing-kucingku boleh dibawa tingga bareng dan Mas Rangga pun tidak masalah dengan itu.


Beberapa bulan kemudian aku pun menikah dengan Mas Rangga dan tinggal di sebuah rumah yang tidak begitu sempit tapi juga tidak begitu luas. Aku senang dengan rumah itu karena Mas Rangga membeli untukku sebagai hadiah pernikahan. Aku bahagia sekali karena menikah dengan orang yang kucintai dan mau menerima kucing-kucingku.


Semenjak menikah aku sudah berhenti bekerja karena suamiku memberiku modal untuk membuka petshop online kecil-kecilan. Jadi kunikmati saja profesi baruku sebagai penjual online sambil mengurus rumah dan para kucing.


Hingga suatu hari ibu mertuaku berkunjung ke rumah.


“Tok tok tok! Assalamualaikum.” Terdengar suara pintu diketuk dan seseorang mengucapkan salam.


“Waalaikumsalam, iya, sebentar”. Aku bergegas membuka pintu dan bertanya dalam hati siapa yang datang.


Kubuka pintu dan ternyata ibu mertuaku yang datang. Beliau memang masih tinggal di kota yang sama denganku dan suamiku tinggal.


“Eh, ibu”. Sambil kucium tangan ibu mertuaku.


“Kamu nggak kerja, Nara?” tanya ibu mertuaku.


“Udah berhenti bu, Mas Rangga kasih aku modal buat jualan online, jadi ya lebih baik saya berhenti kerja saja dan mengurus rumah.” jelasku.


“Bagus deh kalau begitu, biar kalian bisa cepat punya anak, soalnya kalau dua-duanya sibuk suka susah kalau mau program hamil, salah satu harus ngalah, ya istri yang diam di rumah, ngurus rumah”. ucap mertuaku panjang lebar.


“Iya, bu”. aku mengangguk.


“Ibu agak kurang suka ya di rumah ini ada hewan peliharaan, rumah jadi kotor, udah gitu bau kotorannya pasti semerbak. Kamu pelihara kucing awas loh nanti susah punya anak”. tambah ibu mertuaku.


Sejenak aku menghela nafas.

“Aku pastikan kebersihan rumahku terjamin kok, bu. Kotoran kucing aku bersihkan tiap pagi dan sore, bulu-bulunya juga nggak rontok kok soalnya aku kasih makanan yang benar-benar cocok, terus aku sediakan ruangan khusus buat mereka di halaman belakang, jadi nggak bakal mengganggu kalau ada tamu, terus kucing-kucingku juga sudah steril jadi nggak bakal beranak pinak. Untuk masalah kucing bisa menyebabkan mandul, kayaknya itu Cuma mitos deh bu soalnya teman-teman aku juga ada yang memelihra banyak kucing tapi mereka bisa hamil ada yang sudah tiga malah”. Jelasku panjang lebar.


“Terserah kamu saja lah, mending sekarang kamu siapin ibu makan siang”. jawab ibu mertuaku.


Aku pun tanpa membantah menyiapkan makan siang untuk ibu mertuaku dan kami pun segera menyantap makan siang buatanku.


“Enak juga masakanmu.” kata ibu mertuaku.


Aku  hanya tersenyum dan tidak memasukkan kedalam hati kata-kata ibu mertuaku tadi.


Sore harinya ibu metuaku pamit untuk pulang dan diantarkan oleh suamiku karena sat itu kebetulan suamiku baru saja datang. Setibanya di rumah setelah mengantar ibunya, aku menceritakan kepada suamiku tentang omongan ibu mertuaku tadi siang. Suamiku hanya tersenyum menanggapinya.


“Jangan dipikirin, ya. Ibu memang suka blak-blakan”. jelas suamiku.


Aku pun mengangguk dan melupakan omongan ibu tadi siang.


Setahun kemudian, aku memang belum kunjung hamil dan suamiku pun tidak mempermasalahkannya. Dia selalu berkata sambil tersenyum, “belum rezekinya, Allah belum mempercayakannya sama kita, tapi aku percaya suatu hari nanti Allah bakal kasih kita keturunan, asal kita jangan putus berusaha dan putus berdoa.


Sebenarnya ada kekhawatiran kalau aku terkena toxoplasma, maka kuputuskan untuk tes torch sekedar memastikan dan hasilnya Alhamdulillah negatif. Berarti aku bebas dari penyakit, salah satunya  toxoplasma dan aku pasti bisa hamil.


Tapi, diluar dugaanku, ibu mertuaku sangat mempermasalahkan karena aku belum kunjung hamil. Hari itu dia datang berkunjung, dan kebetulan beliau berkunjung di akhir pekan dimana suamiku juga sedang libur.


Tanpa basa basi beliau langsung marah karena aku belum juga hamil.

“Apa ibu bilang, istrimu itu belum hamil-hamil karena pelihara kucing”. ujar ibu mertuaku dengan nada ketus.


“Bu, ini nggak ada hubungannya sama kucing, belum dikasih aja bu sama Allah. Lagian pernikahan kami juga baru setahun”. jelas suamiku.


“Buang aja lah kucing-kucingnya, kucing itu bisa bikin kita mandul”. ibu mertuaku tambah ketus.


“Maaf bu, saya tidak setuju kucing-kucingku harus dibuang, mereka sudah bersama saya sebelum saya menikah dengan Mas Rangga. Lagupula saya sudah tes torch kok dan hasilnya negatif. Itu artinya saya bebas dari penyakit salah satunya toxoplasma karena saya selalu pastikan kebersihan dan kesehatan kucing saya terjamin. Bisa jadi ada faktor lain selain kucing kenapa kita belum juga di kasih anak. Jelasku panjang lebar.


“Terserah kalian saja, ibu mau pulang saja”. bentak ibu mertuaku.


“Bu, tunggu, bu!” ucap suamiku sambil mengejar ibunya, namun ibu mertuaku tetap saja melengos pergi.


Aku menangis sesenggukan, rasanya sakit hatiku saat ibu mertuaku menyuruhku membuang kucing-kucingku. Jujur aku tidak suka kalau ada orang yang selalu mengkambinghitamkan kucing seolah-olah kucing itu biang kerok dan mengakibatkan seorang perempuan susah hamil. Padahal kan banyak faktor yang menyebabkan sepasang suami istri belum juga diberikan keturunan. Itu artinya suami istri tersebut harus dicek kesuburannya biar semuanya jelas.


Keesokan harinya saat sarapan, Mas Rangga menyemangatiku agar tidak bersedih atas kata-kata ibunya dan mengajakku untuk cek kesuburan ke dokter kandungan. Aku pun mengangguk setuju.


Tiba-tiba seorang perempuan datang mengunjungi rumah ibu mertuaku saat aku dan suamiku sedang berada disana.


“Assalamualaikum”. terdengar suara diseberang pintu.


“Siapa sih yang bertamu? Iya Waalaikumsalam”. jawab ibuku sambil sedikit bergegas membuka pintu.


“Hai, tante. Apa kabar?” ucap perempuan itu setelah pintu dibuka.


“Astrid! Ya ampun sudah lama tidak bertemu. Tante baik kok, kamu gimana kabarnya?” jawab ibu mertuaku antusias.


“Aku baik kok tante, oh iya ini aku bawain tante oleh-oleh”. ucap Astrid.


“Wah makasih ya, ayo kita masuk dulu ada Rangga sama istrinya”. tambah ibu mertuaku.


“Rangga, Nara ada Astrid nih”. ucap ibu mertuaku.


Astrid adalah sepupu Mas Rangga,  aku memang tidak begitu mengenal Astrid karena kami  memang jarang sekali bertemu.  Dia tinggal di Australia ikut suaminya sedangkan aku dan Mas Rangga tinggal di Bandung. 


Tiba-tiba ibu mertuaku berkata yang menyakitkan hatiku. “Tapi sayangnya Nara belum juga hamil karena sibuk banget ngurusin kucing”. ketus ibu mertuaku.


Aku hanya bisa diam menahan tangis dan juga malu, kenapa ibu selalu memojokkanku dan kucing-kucingku. Kenapa ibu seolah-olah berpikir kalau masalah anak itu kami yang atur, padalah hanya Allah yang berhak memutuskan kapan aku dan suamiku bakalan memiliki anak.


“Belum waktunya aja,  tante.  Lagian nikah juga baru setahun,  belum bertahun-tahun. “ ucap Astrid memecah keheningan. 


Hari demi hari ibu mertuaku semakin memojokkanku, ditambah dengan selalu membangga-banggakan Astrid yang ternyata audah mempunyai anak usia satu tahun. 


“Gimana sih kamu ini kok belum juga hamil? Lihat tuh Astrid anaknya sudah satu tahun,  dia cuma kosong beberapa bulan terus hamil loh.” kesal ibu mertuaku. 


“Nggak bisa disamain gitu dong,  bu.  Semua ada waktunya.” jawabku sesopan mungkin. 


“Ya makanya jangan pelihara kucing.  Bisa jadi Rangga ninggalin kamu karena kamu nggak hamil-hamil juga, laki-laki ya pasti bakal mencari wanita yang subur lah biar dapat anak karena pernikahan tanpa anak itu ya tidak bakal bahagia.” tambah ibu mertuaku dengan nada datar seolah ucapannya tidak akan menyakitkanku.


“Enggak, bu. Mas Rangga sudah janji tidak akan meninggalkanku dalam keadaan apapun”. tambahku.


“Ibu sih bakalan dukung kalau Rangga nikah lagi supaya bisa ngasih ibu cucu”. tambah ibu mertuaku dengan nada yang lebih menyebalkan.


“Mas kamu gak bakalan nikah lagi supaya dapat keturunan,  kan?” tanyaku .


“Kamu ini ngomong apa sih? jawab Mas Rangga. 


“Soalnya kemarin ibu bilang akan setuju kalau kamu nikah lagi biar ibu bisa cepat-cepat dapat cucu. “ jawabku. 


“Ya ampun,  ibu kok sampai segitunya sih. “ kesal Mas Rangga. 


Suatu hari Astrid dan ibu mertuaku berkunjung  ke rumahku dan kebetulan Mas Rangga sedang di rumah karena ini akhir pekan. 


“Kenapa sih kamu masih saja sama Nara, kenapa kalian gak cerai saja sih? Istri nggak bisa ngasih keturunan juga masih saja dipertahankan!” ucap Astrid.


Seketika aku terkejut dengan perkataan Astrid barusan.  Tidak disangka ternyata dia sama julidnya dengan ibu mertuaku dan kulihat muka Mas Rangga mulai merah padam,  bisa kutebak pasti sebentar lagi akan meledak. 


“Kamu jangan sembarangan ngomong ya, istri saya bukannya tidak bisa ngasih keturunan, tapi memang belum waktunya saja. Dan kenapa saya nggak ceraikan Nara? Karena Nara itu sudah pilihan saya, saya sudah menerima kekurangan dan kelebihan dia jadi saya tidak akan meninggalkan Nara untuk alasan apapun kecuali maut yang memisahkan kita. Untuk masalah anak, kami akan cek ke dokter”. jawab suamiku berapi-api.


Astrid pun diam dan tertunduk karena malu tapi tidak dengan ibu mertuaku.  Dia tidak merasa bersalah sama sekali, bahkan tidak membela aku dan Mas Rangga. Tidak lama ibu dan Astrid pun pulang dan Mas Rangga sedang berusaha menenangkan diri. 


Besoknya, aku dan suamiku pergi ke dkter kandungan untuk cek kesuburan. 


“Hasil untuk Bu Nara  dan Pak Rangga bagus, tidak ada kendala. ujar dokter.


“Tapi kenapa kita belum juga diberi keturunan ya, dok?” tanya Mas Rangga.


“Mungkin ada faktor lain seperti stress, kalau mau program hamil kita tidak boleh stress. Sebaiknya kelola stress dengan baik, bisa juga karena kesibukan bapak dan ibu maka harus meluangkan waktu. Konsumsi makanan yang bergizi, istirahat yang cukup dan yang terpenting memang harus sabar, jangan berhenti berusaha dan berdoa”.jelas dokter.


Setibanya di rumah, Mas Rangga meminta maaf kepadaku karena akhir-akhir ini dia stress dengan sikap ibunya dan Astrid. Aku berusaha menenangkan Mas Rangga dengan mengajaknya bermain dengan kucing-kucing. Sudah lama Mas Rangga tidak bermain dengan kucing-kucing karena selama ini dia Cuma sempat memberi makan saja, selebihnya aku yang selalu mengajak para kucing bermain.


“Untung kita pelihara kucing ya, bisa untuk penghilang stress. Sebenarnya kita juga sudah jadi orangtua tapi buat anak berbulu dan berkaki empat”. tutur Mas Rangga cekikikan.


Senangnya melihat Mas Rangga bisa tersenyum kembali.


Suatu pagi setelah Mas Rangga berangkat ke kantor, aku merasa tidak enak badan dan mual-mual. Aku coba untuk berbaring dan tiba-tiba aku ingat kalau aku sudah telat datang bulan. “Apa aku hamil, ya? Soalnya sudah telat juga. Aku periksa aja deh”. Gumamku dalam hati.


Aku pun hendak pergi ke dokter, tapi saat akan membuka gerbang tiba-tiba pandanganku kabur, semunya gelap, dan seketika aku tidak inat apa-apa.


Ibu-ibu yang sedang belanja di pedagang sayur keliling berteriak histeris.


“Bu Nara pingsan!” seru salah seorang dari mereka. Kemudian mereka bergegas membawa Nara ke sebuah klinik di dekat komplek perumahan.

 

Kemudian perlahan kubuka mata dan masih sedikit pusing. “Dimana aku?” gumamku.


“Alhamdulillah ibu sudah sadar, tadi pas depan gerbang ibu pingsan, kita semua panik takut terjadi apa-apa, ya sudah kita bawa kesini. Sekarang ibu di klinik”. jawab seorang ibu-ibu.


“Makasih ya sudah membawa saya kesini”. Jawabku .


Kemudian dokter datang dan tersenyum kepadaku. “Selamat ya, saat ini ibu sedang mengandung”. ujar dokter tersebut.


“Benarkah, dok?” ucapku tidak percaya.


Dokter pun mengangguk dan itu artinya bukan mimpi. Sekarang aku sudah hamil, aku hars segera memberitahukan kabar gembira ini kepada suamiku. Lalu aku pun sudah sampai di rumah dengan diantar para ibu tadi. Rasanya tidak sabar menunggu suamiku pulang. Aku ingin memberitahunya langsung, tidak ingin lewat telepon.


Ditempat yang berbeda, ibu mertua bertemu dengan keponakannya yang lain, Nadia. Mereka pun kemudian mengobrol di suatu kafe. 


“Apa kabar kamu Nadia? Jarang ketemu ya setelah kamu jadi dokter hewan, pasti sibuk banget di tempat praktek”. tanya ibu mertua.


“Baik, tante Alhamdulillah. Dibilang sibuk juga nggak sibuk sibuk banget kok, hehehe”. kekeh Nadia.


“Oh iya, gimana kabar Mas Rangga sama Mbak Nadia? Mereka masih tinggal sama kucing-kucingnya kan?” tanya Nadia.


“Masih lah, makanya si Nara gak hamil-hamil. Kucing kan bikin mandul. Tante jadi kesel deh sama mereka”’. jawab ibu mertua ketus.


“Tunggu, tante dapat teori itu dari mana? Jangan sembarangan ngomong loh tante, memang toxoplasma gondii ini dapat hidup pada kucing. Infeksi ini dapat menular kepada manusia melalui kontak dengan tinja kucing yang terinfeksi, bersentuhan dengan tanah yang terkontaminasi tinja kucing, mengonsumsi daging mentah, buah dan sayur yang tidak dicuci bersih, menggunakan peralatan masak yang digunakan untuk mengolah daging mentah tanpa dicuci, dan mengonsumsi air yang terkontaminasi”. jelas Nadia.


“Cara pencegahannya ya harus sering cuci tangan, mencuci bahan makanan dan peralatan masak, jangan mengonsumsi makanan mentah. Kebersihan kucing juga harus terjaga seperti harus rajin membersihkan kotoran kucing setiap harinya, beri makanan kucing dalam kemasan jangan beri kucing makanan mentah, jauhkan kucing dari makanan dan peralatan makan manusia, dan jangan menyentuh kucing liar”. jelas Nadia lagi.


Ibu mertua pun memperhatikan dengan seksama. Beliau seperti sudah mendapatkan sedikit pencerahan.


“Aku sih percaya kok Mbak Nara ngurus kucing-kucingnya dengan benar, orang dia suka bawa kucing-kucingnya ke klinik aku bahkan aku sudah kenal lama sama Mbak Nara, jauh sebelum menikah dengan Mas Rangga. Lagipula, Mas Rangga memilih Mbak Nara untuk jadi istrinya karena Mbak Nara telaten ngurus kucing-kucingnya. Coba deh tante bayangkan, sama kucing aja sayang banget apalagi nanti sama anaknya. Masalah belum juga hamil, ya mungkin belum waktunya aja, tan, kan yang ngatur Allah, bukan kita, iya kan?”  tambah Nadia.


“Benar juga sih, saya sudah keterlaluan sama Nara. Saya juga baru tahu kamu sudah kenal lama sama Nara”. tutur ibu mertua.


Akhirya, sore hari pun tiba. Tak sabar aku ingin segera menyampaikan kabar gembira ini kepada Mas Rangga. Kemudian terdengar suara Mas Rangga mengetuk pintu”.


“Assalamualaikum”. ucap Mas Rangga.


“Waalaikumsalam, akhirnya mas pulang, aku ada kabar gembira”. ucapku sumringah.


“Kabar gembira apa?” tanya Mas Rangga.


Kemudian aku memperlihatkan sebuah amplop dan menyuruh Mas Rangga untuk membuka dan membacanya. Kemudian sebuah senyum tersimpul dan berkata, “Alhamdulillah, akhirnya doa kita terkabul, usaha kita membuahkan hasil”. ucap Mas Rangga sambil memelukku.


“Ada apa ini?” tiba-tiba ibu mertuaku datang.

“Nara hamil, bu. Ini coba ibu baca”. tutur Mas Rangga sambil memberikan surat tersebut.


“Alhamdulillah, akhirnya ibu punya cucu juga”. ucap ibu mertuaku sambil memelukku.


“Sekarang terbukti kan, bu, walaupun aku pelihara kucing tapi aku bisa hamil. Jadi, tidak ada alasan untuk menyalahkan kucing sebagai biang kerok”. jelasku.


“Iya, ibu minta maaf ya Nara, Rangga, sudah keterlaluan sama kalian. Dipikir-pikir ibu ini kayak yang tidak beriman saja. Masalah jodoh, rezeki, maut, sampai masalah hamil pun Allah yang atur kan, tugas kita hanya berusaha dan berdoa”. tutur ibu mertuaku.


Esoknya ibu mertuaku berkunjung ke rumahku, saat akan tiba di gerbang rumahku, ibu mertuaku melihat dua orang anak yang sedang bermain dengan seekor anak kucing.


Anak-anak, kucingnya disayang ya, jangan disakiti, dia juga makhluk hidup sama seperti kita”. ucap ibu mertuaku.


“Iya, nek. Ini kami mau bawa anak kucingnya ke rumah, ibu juga setuju kok kami memelihara kucing, asal serius mau merawatnya”. tutur anak-anak itu.


Sesampainya ibu mertua di rumahku.

“Nara, kamu jangan sampai kelelahan ya, usia kandungan kamu masih rentan, loh. Gimana kalau untuk sementara ibu saja yang urus kucing-kucing kamu? Biar kerjaan kamu nggak banyak”. tutur ibu mertuaku.


“Ibu yakin mau urus kucing-kucing aku?” tanyaku.


“Iya, kamu gak percaya sama ibu? Iya sih ibu belum pengalaman ngurus kucing, nanti ibu tanya-tanya kamu sama Nadia kok”. jelas ibu mertuaku.


“Aku percaya kok, bu. Gimana kalau ibu tinggal disini aja, kalau di rumah ibu kan sendiri, nanti malah ibu yang repot”. jawab sambil tersenyum.


“Oke deh kalau begitu”. ucap ibuku sambil menggendong salah satu kucingku dan berkata,  “lama nggak ketemu,  kamu makin gemoy aja sih, oyen. “ 


Akhirnya, masalah rumah tangga kami bisa teratasi, aku sudah akur dengan ibu mertuaku dan ibu mertuaku juga sudah akur dengan kucing-kucingku. Aku sudah membuktikan kepada ibu mertuaku bahwa kucing bukan penyebab seorang wanita menjadi susah hamil.  



-Tamat-


Namaku Nisya Aprilia,  sejak SD suka banget menulis cerita hasil imajinasiku di buku binder,  kadang juga menulis tentang petualangan apa saja yang telah aku lalui selama seharian.  Sempat tidak pede dengan tulisan sendiri,  tapi akhirnya nekat juga mengirim tulisan-tulisanku ke media maupun ikut lomba-lomba kepenulisan.  Selain suka menulis aku juga suka kucing,  karena bagiku kucing itu sudah seperti saudara.  Aku bisa dihubingi di nomor ini 081214398191 atau di Instagram @choco_lyna atau juga di Facebook /nisya.nyssa siapa tahu ada yang mau collab tulisan atau sharing tentang perkucingan.  





0 Comments