Cerpen: Gincu Merah

Lomba cerpen penerbit morfeus


“Jangan pakai gincu warna pucat seperti itu, Gloria! Kamu jadi kayak mayat hidup! Ganti warna merah, cepat!”

“Tapi, Ma. Sammy nggak suka kalau aku berdandan menor. Dia lebih suka kalau aku pakai warna nude.”

“Jadi wanita karier itu harus fresh. Memangnya kamu kerja sama Sammy? Nggak, kan?”

Gloria merengut. Tak ingin membalas perkataan mama mertuanya lagi. Jika ia melakukannya, maka akan berbuntut panjang. Yang ada justru ia akan terlambat berangkat ke kantor. Hari ini ia tidak diantar oleh Sammy karena sedang dinas ke luar kota. Maksud hati ingin datang lebih awal, ia malah kena ceramah pagi oleh mama mertuanya gara-gara gincu. Ia segera menuju ke kamarnya lagi untuk mengganti gincunya. Sebelum kedua tanduk muncul di atas kepala mertuanya itu. Ia bergidik ngeri.

Setelah selesai mengganti gincu, Gloria pamit pada ibu mertuanya. Mama mertua tampak puas menatap menantunya. Seperti ada kelegaan tersendiri. Gloria pura-pura memasang senyum, supaya mama mertua tetap merasa dihargai. Dalam perjalanan menuju ke kantor, ia berulang kali menghela napas. Mama mertua sudah terlalu ikut campur soal seleranya. Ia tidak bisa membiarkan ini terus-terusan. Hari ini soal gincu, besok apa lagi?

Setibanya di kantor, beberapa karyawan memandang aneh pada Gloria. Hal itu membuatnya harus berjalan dengan kepala tertunduk. Aku pasti terlihat sangat norak, batin Gloria. Ia buru-buru ke toilet untuk mengganti gincu. Namun, ia lupa membawa gincu nude kesukaannya.

“Duh, ini semua gara-gara mama mertua! Sebal aku!”

“Kamu kenapa, Gloria?”

Teman perempuan yang satu ruangan dengan Gloria tiba-tiba datang. Matanya langsung tertuju pada bibir merah Gloria.

“Buahahahaha ... itu bibir kelamaan direbus? Sampai merah begitu?”

“Nggak lucu, Grace!”

“Dih, aku kan tanya!” Grace masih tertawa memamerkan sederet gigi mentimunnya.

“Aku disuruh sama mama mertua. Katanya aku kayak mayat hidup kalau pakai gincu warna nude!”

“Kamu nggak modern banget sih, Glo! Gincu, gincu. Lipstik?”

“Iya, iya. Lipstik. Aku tuh kebiasaan bilang gincu. Habis kalau di rumah aku keracunan kata-kata dari mama mertuaku.”

“Nih, bawa aja lipstik nude-ku. Buat kamu. Beres, kan?”

“Wah, thanks, Grace!”

Grace berlalu meninggalkan Gloria. Gloria segera mengelap bibirnya dan memoleskan gincu nude milik Grace. Senyumnya terkembang. Ia kembali bersemangat menjalani hari. Beberapa laporan dari big boss yang sempat tertunda mulai digarapnya. Hingga tak terasa matahari sudah hampir sepenuhnya tergelincir. Saatnya berkemas-kemas dan pulang ke rumah.

Gloria sangat kelelahan dan lupa mengganti gincu nude dengan gincu merahnya. Ia langsung melesatkan mobil dan membelah jalan. Ia ingin segera sampai di rumah dan merebahkan diri.

Gloria sama sekali tak menyangka saat baru  saja membuka pintu rumah. Mama mertuanya tengah duduk di kursi ruang tamu sambil menyeruput teh. Mama mertua pun langsung menanyainya.

“Kenapa bibirmu berubah, Gloria?” tanya mama mertua tanpa memandang Gloria.

Gloria sedikit kikuk dan mencoba menangkap maksud perkataan dari mama mertua.

“Aduh, mampus, nih! Aku lupa ganti gincu!” lirih Gloria mengumpat dirinya sendiri.

“Pokoknya mama nggak mau tahu. Besok pas ke kantor kamu harus pakai gincu merah. Titik.”

Mama mertua beringsut meninggalkan Gloria yang masih melongo. Ia tak habis pikir dengan perubahan sikap mama mertua akhir-akhir ini. Padahal, dulu, sewaktu awal-awal menikah dengan Sammy, mama mertua tak pernah mengkritik penampilannya. Bahkan, mama mertua justru menganggapnya perempuan yang sederhana dan tidak neko neko. Tapi kenapa sekarang mama mertua seperti ini? Pikirnya.

Gloria berkali-kali membasuh wajahnya dengan air. Sebenarnya ingin mandi. Tapi ia urung melakukannya. Ia lebih memilih tidur supaya tubuhnya fresh. Apalagi besok ia harus berangkat lebih awal dikarenakan ada meeting dengan big boss. Tak butuh waktu lama, matanya langsung terpejam.

***

Pagi, sekitar pukul empat, Gloria sudah bangun. Setelah mencuci muka, ia sempat membuka pintu kamar mama mertua dan mendapati masih tertidur pulas. Baguslah, aku akan mencuci baju dengan cepat, lalu mandi dan berangkat ke kantor, pikir Gloria dengan wajah ceria. Saat semuanya telah beres, bahkan sarapan untuk mama mertua sudah tertata di meja makan, langkahnya tiba-tiba terhenti.

“Kenapa buru-buru berangkat, Gloria? Sini, temani mama sarapan!”

Deg!

Gloria melirik jam tangannya. Masih pukul enam, tumben sekali mama sudah bangun? Pikirnya.

“I-iya, Ma.” Gloria terpaksa berbalik badan dan duduk di depan mama mertua.

Gloria mencentong nasi secukupnya untuk mama mertua. Mama mertua tak sabar menuangkan sayur gambas yang dilengkapi bihun dan udang kesukaannya itu. Gloria menatap mama mertua yang dengan lahap memakan masakannya.

“Sammy tadi menelepon, katanya mau pulang hari ini.”

“Iya, Ma. Tadi juga kita whatsapp-an.”

“Bagus dong. Ingat, jangan pakai gincu pucat itu lagi kalau suamimu datang.”

Gloria memutar bola matanya. Soal gincu lagi? Tak ada bosan-bosannya mama mengingatkan itu! Pekiknya dalam hati.

“Apa kamu pernah lihat mama pakai gincu norak seperti punyamu?” Mama mertua berkata lagi.

Apa? Mama bilang lipstik nude norak? Bukannya kebalik, ya? Batin Gloria. Ia lagi-lagi tak berselera membantah perkataan mama mertua. Baginya hanya membuang-buang waktu saja. Gloria segera mencari akal supaya terbebas dari mama mertua. Ia menandaskan sarapan mengatakan pada mama mertua kalau ada meeting dengan big boss. Namun, sebelum ia benar-benar pergi, mama mertua menegurnya.

“Gincumu terlalu tipis, Gloria. Tambahi kalau sudah sampai di kantor.”

Gloria hanya mengangguk pasrah.

***

Beberapa hari setelah kepulangan Sammy, bibir Gloria masih selalu bergincu merah. Bahkan, ia sudah mulai terbiasa memakainya. Namun, hal itu sempat memicu pertengkaran antara keduanya.

“Di mana lipstikmu yang biasanya?”

“Maksudmu yang warna nude?”

“Iya.”

“Sudah tidak kupakai.”

“Kenapa?”

“Mamamu bilang aku kelihatan kayak mayat hidup!”

“Ah, kamu lebih cantik kalau pakai warna nude. Cepat ganti!”

Perdebatan Gloria dan Sammy semakin meruncing. Mereka tak ada yang mau mengalah. Hingga tiba-tiba terdengar bunyi gelas terjatuh dari arah dapur. Keduanya saling pandang dan spontan berlari menuju dapur. Gloria menjerit histeris karena mama mertua sudah tergeletak lemas di atas lantai dapur. Mama mertua pingsan. Gloria dan Sammy melarikannya ke rumah sakit.

Di rumah sakit, dokter mengatakan kalau mama mertua terkena anemia. Hanya saja mungkin tidak dirasa. Dokter menyarankan agar mama mertua harus opname selama beberapa hari untuk memulihkan kondisi.

“Kenapa mama tidak bilang kalau sakit?” tanya Gloria setelah masuk ke dalam kamar.

“Mama nggak mau kamu dan Sammy kepikiran. Makanya mama selalu pakai gincu merah, supaya kalian nggak tahu kalau mama sakit.”

Gloria sedikit kaget. Tiba-tiba matanya terasa mengembun. Ia sudah salah menilai. Bahkan, ini bukan hanya soal supaya terlihat fresh di mata semua orang. Tapi mama mertua telah memberinya suatu pelajaran. Yaitu tentang bagaimana menutupi sebuah rasa sakit.


Semarang,  April 2021


Reni Asih Widiyastuti kelahiran Semarang, 17 Oktober 1990. Karya-karya alumnus SMK Muhammadiyah 1 Semarang ini telah dimuat di berbagai media, seperti: Kompas Klasika, Padang Ekspres, Solopos, Minggu Pagi, Kedaulatan Rakyat, Harian Merapi, Kabar Madura, Harian Singgalang, Medan Pos, Bali Post, Radar Cirebon, Radar Mojokerto, Radar Bromo, BMR FOX, Tanjungpinang Pos, Pontianak Pos, Magrib.id, cerano.id dan ceritanet.com. Salah satu buku tunggalnya telah terbit, yaitu Pagi untuk Sam (Stiletto Indie Book, Juni 2019). Penulis dapat dihubungi melalui email; reniasih17@gmail.com

0 Comments