Cerpen: Pamit

 

Lomba cerpen penerbit morfeus

“MAMA memanggilmu,” Emil, suamiku berdiri di ambang pintu kamar. Tubuhku yang awalnya telentang, berubah membelakangi. Lalu, tanganku memeluk Raja yang tengah terlelap.

“Kau tak dengar apa yang kukatakan barusan, Mama memanggilmu,” ucap Emil lagi. Aku masih tak menghiraukannya. Mata kupejamkan. Lalu, pura-pura hendak menjemput kantuk. Padahal rasa mengantuk sama sekali tak juga menghampiri. Masih pukul dua puluh. Aku pun tak terbiasa tidur terburu-buru kendati Raja sudah lelap. Biasanya, aku menonton sinetron di layar kaca. Namun kedatangan suami ke kamar lalu mengingatkan bila Mama memanggilku, membuatku  ingin cepat memburu kantuk. Aku malas berbincang dengan Mama.

“Febi!” suara Emil meninggi. Dadaku sedikit tersentak. Aku tahu betul di balik sikap tenang suamiku, ia terkadang cepat emosi. Kuhela napas. Kubalikkan tubuh dan menatapnya. Lalu perlahan tubuhku beranjak.

“Kalau Mama memanggilku untuk bicara soal rumah, aku tak mau!” ucapku tegas.

“Aku heran denganmu, Mama berniat baik mengikuti keinginanmu, tapi kau menolak bicara dengannya.”

“Sebelumnya, aku tak pernah menolak, tapi semenjak Mama berbohong padaku, wajar kalau aku mulai meragukan ucapannya,” aku bersikukuh.

“Kenapa kau jadi meragukannya?” Emil menatapku tajam. “Kau sudah tak percaya lagi pada Mama?”

Kuangkat dua telapak tanganku sembari mengangkat bahu.  “Haruskah aku percaya bila Mama terus membohongiku?”

“Mama tak bermaksud membohongimu, Febi! Justru Mama berusaha menunaikan keinginanmu!”

“Keinginanku katamu? Memiliki rumah idaman, apa itu keinginanku sepihak? Apa kau tak ingin punya rumah sendiri, dimana yang tinggal hanya kau, aku, dan anak kita? Kau tak ingin, Emil? Apa kau akan terus tinggal di sini? Kau betah di sini? Apa kau tak bosan semenjak lahir tinggal di rumah ini? Atau kau memang benar-benar berat meninggalkan rumah ini karena kau tak ingin jauh dari Mama, begitukah?” aku bicara panjang lebar dengan wajah serius. Dadaku bergemuruh.

Emil geleng-geleng kepala. “Kalau kau sudah ngawur bicara, aku jadi malas menanggapinya. Dan sebaiknya, kamu pun tak usah bicara sama Mama malam ini. Aku khawatir kau akan membuat Mama tak nyaman dengan ucapan-ucapanmu yang acap ironis,” ucap Emil. Lalu, dia membalikkan tubuh tegapnya, keluar dari kamar dan kupastikan menuruni tangga lalu menuju ruang keluarga. Menemani Mama di sana. 

Kuhela napas panjang. Aku pun kembali ke atas pembaringan. Memeluk anakku yang barus berusia satu tahun. Entah apa yang tengah dibicarakan Emil dan Mama. Namun, aku tak peduli. Lebih satu tahun aku tinggal di rumah ini. Rumah yang tak begitu besar. Rumah ini ditempati Mama, Papa, dan Nayla, adik bungsu Emil. Ditambah, aku, anakku dan tentunya Emil. Tinggal bersama mertua, tentu saja bukan keinginanku. Lebih pada suatu keterpaksaan karena keadaan. Baru menikah sebulan, aku dan Emil membangun rumah yang teramat mungil di atas tanah milik ibuku. Kala aku mengandung empat bulan, suamiku terbujuk ayahku untuk menetap di Banjarnegara. Kami meninggalkan Bandung, kota kelahiranku. Berharap mencari peruntungan yang terlampau tinggi, kami harus kecewa lantaran ayahku—laki-laki yang sudah sangat lama bercerai dari ibuku, mengecewakan kami. Lantaran hal itu, kami yang merasa malu untuk kembali ke rumah mungil  dekat rumah ibuku, kami pun sepakat tinggal untuk sementara di rumah  mertuaku, ibunya Emil yang berada di kota lain. Sembari menanti kelahiran bayi pertamaku.

Suamiku tak juga mendapat pekerjaan. Namun, orang tuanya yang kupanggil Papa dan Mama selalu menyabarkannya. Mereka pun sangat sayang dan peduli padaku. Sekali pun, mereka tak pernah mengucap kata-kata yang membuat hatiku tak nyaman. Apalagi yang menusuk hati. Seharusnya, aku betah tinggal di sini. Acap aku mendengar cerita teman-teman sekolahku dulu, yang ketika sudah menikah tinggal bersama mertua. Dan kebanyakan, sikap mertua mereka terutama mertua perempuan, aneh-aneh. Cerewet, judes, pelit, galak, dan sederetan  predikat buruk lainnya. Jika kubandingkan dengan Mama, tentu saja jauh berbeda. Mama mertua yang tiada duanya di dunia. Nyaris sempurna. 

Kala usia Raja baru beberapa bulan, aku bertahan tinggal seatap. Sebenarnya, hanya satu atap. Aku, suami, dan anakku menempati ruangan atas. Ada dua kamar yang cukup besar, satu ruangan yang luas, satu ruangan sedang, satu dapur dan kamar mandi. Lengkap dengan perabotan. Mama dan Papa jika ingin bertemu denganku, biasanya mereka memanggilku. Mereka jarang sekali menghampiriku ke ruangan atas. Mereka sangat menjaga perasaan dan tampak takut menggangguku. Seharusnya aku merasa bebas. Semua ruangan atas seolah milikku. Berandanya juga luas, bukan hanya bisa berjemur, tapi tempat aku dan anakku bersantai tanpa gangguan siapa pun. Tangga menuju ruang bawah pun ada dua, yang satu berada di dalam yang bisa langsung menuju ruangan bawah. Tangga satunya berada di luar hingga jika aku hendak keluar rumah, Mama dan Papa terkadang tak tahu.

“Kamu sangat beruntung punya mertua seperti itu,” begitu komentar teman-teman, saudara, dan Mami di Bandung. Tersebab, katanya jarang tipikal mertua seperti Mama. Hatiku tak memungkirinya. Bukan ihwal hidup kami yang dijamin. Bukan karena Mama yang kerap memberiku uang. Namun, lebih pada sikap Mama yang memperlakukanku dengan sangat baik. Bahkan, sekali pun, tak pernah Mama melontarkan ucapan yang menyakitkan hatiku. Bahkan, ia seperti lebih hati-hati bila bicara denganku. Kendati aku perhatikan, bila bicara dengan orang selain aku, tampaknya Mama biasa saja, Tak pernah hingga mengistimewakan seperti padaku. Begitu hormatnya Mama padaku.

Seharusnya aku senang. Namun, entahlah, semakin ke sini, hatiku keruh. Terlebih jika melihat suami tampak selalu bangga dengan Mama. Di samping itu, ihwal rumah yang membuat hatiku jadi terkontaminasi. Mama pernah berjanji akan membelikan kami rumah di sekitar sini Kebetulan ada rumah yang tak begitu besar tapi indah, hendak dijual dengan harga yang menurut Mama terjangkau. Sebenarnya suami tak begitu menggebu-gebu ingin memiliki rumah lagi. Toh, rumah di Bandung pun masih ada kendati kini ditempati salah satu saudaraku. Awalnya, aku sangat menanggapi niat baik Mama. Namun, ketika Mama mulai menunda-nunda pembelian rumah, dari sana, mulai hilang rasa simpatiku pada ibu suamiku itu. 

“Kenapa kau selalu berpikiran negatif pada Mama?” Emil pernah bertanya itu. Namun, aku tak mau menanggapi. Biar saja suamiku memahami apa yang membuat istrinya berubah. 

Suara pintu didorong, membuatku melirik. Emil lalu duduk di tepi pembaringan. “Mama barusan menandaskan, apa alasannya Mama menunda-nunda pembelian rumah itu lantaran uangnya terpakai keperluan Mbak Yumi ke rumah sakit. 

Dadaku bergolak. “Jadi karena Mbak Yumi.”

“Benar, Feb.”

“Rupanya Mama lebih berpihak pada Mbak Yumi ketimbang sama kau, anak laki-laki satu-satunya. Tak berpihak padaku mansih mending, aku hanya menantu.”

“Mama sayang padamu sama dengan padaku dan Mbak Yumi.”

“Tidak. Buktinya pada Mbak Yumi berlebihan.”

“Tidak begitu juga ko, Feb. Kondisi Mbak Yumi sekarang kan tengah sakit dan membutuhkan biaya yang tak sedikit.”

“Apa suami Mbak Yumi tak mau menanggungnya?” tanyaku sinis.

Emil menggeleng. “Aku tak tahu, Feb. Sudahlah, yang penting sekarang kau percaya kalau Mama tak berniat membohongimu. Mama tetap akan membelikan rumah buatmu, buat kita. Tapi hanya soal waktu.”

“Kita-kira kapan?” desakku tak sabar.

“Mungkin, jika Mbak Yumi sudah benar-benar sembuh dan dia bisa mengembalikan uang pada Mama untuk beli rumah. Rumah untuk kita,” jelas Emil dan penjelasannya itu tak cukup memuaskanku. Alhasil, kami pun tidur saling membelakangi hingga pagi.

***

Sudah seminggu, aku yang sebelumnya tak pernah diminta memasak untuk semua orang di dalam rumah ini, mau tidak mau, sekarang terpaksa kulakukan. Mama menemani Mbak Yumi yang pindah dirawat di rumah sakit  besar lantaran rumah sakit daerah sudah tak sanggup menangani. 

“Kenapa sih harus Mama yang menemani Mbak Yumi di sana?” aku benar-benar kesal. Selain memasak, aku pun harus mencuci pakaian, piring-piring kotor, dan membereskan rumah. Sungguh sebuah penyiksaan. Sementara suami di rumah Mbak Yumi, menjaga rumah itu sekaligus mengurus kedua keponakannya yang masih duduk di sekolah dasar. Dan masih harus dilayani. Tentu saja hal itu membuatku jengkel. Aku merasa dinomorduakan. Rasa iri dengan cepat menjalari hatiku. Tak heran, jika kami akhirnya acap berselisih hingga bertengkar hebat. Mertua laki-lakiku hanya geleng-geleng kepala menyaksikan kami.

“Harusnya kau paham dengan kondisi keluarga ini, Febi! Kau jangan egois!”

“Siapa yang egois? Kau tak melihatku  kewalahan di rumah ini?” suaraku meninggi. 

“Aku tak mau terus seperti ini! Aku bukan babu kalian!” sambungku dan teriakanku terdengar oleh tetangga dekatku.

“Jadi maumu apa?” sorot mata Emil sangat tajam hingga menembus jantungku. Aku pun sempat bergidik. Jika suamiku sudah merasa tersinggung, maka ia cepat terpancing emosi. Dan, aku jarang bisa mengendalikannya. Kala ia pergi ke rumah Mbak Yumi, kubereskan beberapa pakaianku dan pakaian Raja. Aku memesan grab. Tiga jam kemudian, kami tiba depan rumah Mami. Perempuan yang pernah mengandungku selama sembilan bulan itu hanya menghela napas mendengar penuturanku yang entahlah ; apa Mami merasakan kekesalanku atau menyalahkanku. Aku atak peduli. Yang penting, kini aku bisa keluar dari rumah mertua. Kepercayaan pada Mama yang tetap akan membelikan rumah di sana pun, kian luruh. Terlebih seorang tetangga yang hobi bergunjing meneleponku dan mengabarkan jika biaya Mbak Yumi di rumah sakit besar, ditanggung seratus persen oleh Mama. Kemarahanku berkobar. Sudah kuputuskan, aku tak akan kembali ke rumah Mama. Lalu memupus harapan untuk punya rumah di sana. Apalagi, Emil tak berusaha menjemputku. Sepertinya, perceraian tak akan lama lagi terjadi dalam rumah tangga kami. Biar saja, aku sudah menerima jika ini takdir. Ketimbang makan hati memilik suami yang lebih mencintai ibunya. Ini semua gegara tinggal seatap dengan mertua.

Dua minggu kemudian, Emil menyusulku. Ia membujukku untuk kembali ke sana, tapi aku bertahan menolaknya. Ia pun mengabarkan jika penyakit Mbak Yumi tambah parah. Kakaknya harus segera dioperasi. Emil lalu menceritakan  sempat berkunjung ke rumah sakit itu. Emil bersua Mama. Tubuh Mama tak segemuk sebelumnya. Mungkin capek, terkadang yang bertugas menjaga orang sakit, yang menjaganya itu yang akhirnya sakit. Begitu ucap Emil. 

“Tak adakah keinginanmu untuk menengok Mbak Yumi sekaligus bersua Mama? Rumah sakit itu ada di kota ini, kan? Hanya butuh dua jam untuk sampai di sana. Lain halnya dari kotaku, makan waktu empat jam,” Emil terus membujukku tapi lagi-lagi tak berhasil tersebab aku tetap mengatakan tidak.

Tampak raut mukanya menyimpan kesedihan yang dalam. Mungkin kecewa denganku. “Febi, waktu aku bicara sama Mama di rumah sakit, dia bilang ingin ketemu kau dan Raja. Mama juga bilang, rumah  Mama yang selama ini kita tempati itu, akan diberikan sama aku, sama kita, buat Raja.”

“Emang kalau kita menempati rumah itu, Mama, Papa dan Nayla, mau tinggal di mana?” terbayang rumah Mama yang cukup besar dengan perabotan yang banyak. Mama memang punya rumah lain. Namun, lokasinya agak menjorok. Ketika ditawarkan padaku untuk ditempati, aku menolak karena tak tertarik. Namun, jika kemudian Mama berubah pikiran dan menawarkan yang menurutku lebih menggiurkan, kenapa tidak? Ada secercah harapan dalam hati.

“Mungkin… ke rumah yang satunya.”

“Mama bilang begitu?”

“Tidak. Cuma aku menyimpulkan.”

Aku terdiam.

“Kalau kau tak mau ke rumah sakit untuk menengok Mbak Yumi dan bersua Mama, tapi besok kau mau kan pulang? Ke rumah Mama yang akan menjadi rumah kita,” Emil menatapku penuh harap.

“Aku belum bisa menjawab. Mungkin ya,  mungkin juga tidak. Namun jikapun aku mau, aku tak mau serumah dengan Mama, Papa, dan Nayla. Itu pun jika kau masih mau tetap menjadi suamiku,” tubuhku beranjak. 

Esok pagi, tepat pukul delapan, Emil menerima telepon. “Sekarang juga, aku harus pulang ke rumah. Barusan Papa yang menelepon. Kau dan Raja tidak boleh tidak, harus ikut. Penting. Penting apanya, Papa tak mau menjelaskan. Serupa perintah, Papa mengingatkan agar kita jangan sampai tak datang dan sebaiknya jangan mampir dulu ke rumah sakit!”

“Kenapa tak boleh mampir?”

Emil tak menjawab. Aku disergap rasa penasaran yang tinggi. Mungkinkah Mbak Yumi meningga dunia mengingat kondisi kesehatannya yang kian memburuk? Tetiba,  rasa sesal menyelusup ke dasar hati. Merasa bersalah lantaran tak mau menengoknya padahal rumah sakitnya ada di kota ini. Maafkan aku, Mbka Yumi, bisikku pelan tanpa didengar suami.

Tanpa banyak komentar lagi, aku memboyong Raja. Emil melajukan mobil dengan pelan. Tampak berhati-hati. Namun raut mukanya murung. Mendung bergelayut dalam matanya. Mulutnya pun bungkam. Hanya sesekali menanggapi ucapanku. Hingga akhirnya, aku pun tak berani berucap meski sepatah kata pun. Keheningan mewarnai kami. 

Mobil menepi depan rumah Mama. Di luar, sudah banyak pelayat. Sepertinya benar dugaanku, Mbak Yumi meninggal dunia. Mungkin dari rumah sakit langsung dibawa ke sini. Dan tak berani mengabari langsung pada suami lantaran dikhawatirkan didera kesedihan di perjalanan. Apalagi mengemudikan mobil. Tak terasa, air mataku menetes. Sejuta sesal merayapi hati. Seorang tetangga yang simpati, mengambil Raja dari pangkuanku. Langkahku mengikuti Emil masuk ke dalam rumah. Menghampiri jasad yang terbujur kaku. Kusingkap kain yang menutupi. Dadaku tersentak. Kedua kakiku terasa tak menapak. Wajah Mama dengan mata terpejam. Seulas senyum, menghiasi bibirnya. Seolah ingin mengatakan padaku, Mama pamit, Febi!***


 Bandung Barat, 20 April 2021


Komala Sutha yang lahir di Bandung, 12 Juli 1974, menulis dalam bahasa Sunda, Jawa dan Indonesia. Tulisannya dimuat dalam  koran dan majalah  di antaranya Pikiran Rakyat, Tribun Jabar, Jawa Pos, Kompas.id, Republika, Kedaulatan Rakyat, Solopos, MingguPagi, Harian Rakyat Sultra, Harian Fajar, Merapi, Denpasar Post, Lampung Post, Padang Ekspres, Harian Fajar, Malang Post, Bangka Post, Analisa, Medan Post, Kabar Cirebon, Tanjungpinang Post, Radar Bromo, Diksi Jombang, Radar Jombang, Karebaindonesia, Ayobandung. Com, Veasna, Tribun Kaltim, Radar Tasik, Kabar Priangan, Galura, Target, Femina, Hadila, Potret, Veasna, majalahAnak Cerdas, Mayara, SundaUrang, WartaSunda, Beat Chord Music, ManglĂ©, SundaMidang, Djaka Lodang,  Mutiara Banten, Kandaga, Cakra Bangsa, Metrans, Buletin Selasa, Redaksi Jabar Publisher, Utusan Borneo dan New Sabah Times. Buku tunggalnya, novel “Separuh Sukmaku Tertinggal di Halmahera” (MujahidPress, 2018) dan kumpulan cerpen “Cinta yang Terbelah” (Mecca Publishing, 2018). 

Akun fb. Sariak Layung (Komala Sutha)

IG. komala_sutha

1 Comments