Cerpen: Penyesalan di Ujung Senja

Lomba Cerpen Penerbit Morfeus


"Din, setelah menikah kamu mau 'kan ikut tinggal di rumah ibu aku? Nemenin ibu dan dua adik-adikku? Aku janji setelah aku sukses, kita bisa punya rumah sendiri." Inu mengenggam kedua telapak tamgan kekasihnya, menatap mata indahnya penuh harap.


"Tentu saja, Mas. Orang tuamu dan adik-adikmu 'kan, nanti jadi orang tua dan adik-adikku juga. Jadi, kenapa aku harus tidak mau," jawab Dinda seraya memberi senyum lembutnya.


"Terima kasih yah, Sayang." Inu memeluk kekasih sekaligus calon istrinya.

***

Hari pernikahan pun tiba, Dinda Aulia gadis cantik dengan mata teduh menyejukan hati jika dipandang, senyum yang manis dan sikap lemah lembutnya yang membuat siapa pun akan merasa jatuh cinta.


Namun, hanya Inu Darmawan laki-laki beruntung yang mampu membuat hati seorang Dinda terpaut begitu dalam terhadap Inu.


Hingga kini keduanya sampai pada tahap yang lebih jauh, yaitu acara sakral yang disebut pernikahan.


"Saya terima nikah dan kawinnya Dinda Aulia binti Hermanto dengan mas kawin tersebut, tunai!"


"Sah!"

"Sah!"


"Alhamdulillah ...."


Inu Darmawan berhasil mengucap ijab qabul dengan lancar hanya satu tarikan napas. Kedua saksi mengucap kata 'Sah' dan terdengar ucap syukur dari semua para undangan yang hadir.


"Silahkan pakaikan cincin perkawinan kalian, Nak Inu lebih dulu, kemudian, Nak Dinda." Penghulu memberi pengarahan bagi kedua mempelai.


Inu mengangguk dan mengambil cincin emas bermatakan berlian putih dan memakaikannya pada istrinya. Begitu pun Dinda yang mengambil cincin emas polos dan memakaikannya ke jari manis suaminya.


Dinda mencium punggung tangan suaminya, begitu pun Inu yang mencium kening istrinya. Setiap adegan diabadikan, setiap momen diperhatikan.


Pernikahan memanglah hal istimewa yang menjadi harapannya adalah sekali dalam seumur hidup maka setiap pasangan pasti menginginkan hal yang sempurna untuk acara sakral mereka.

***

Inu memang bukanlah orang kaya raya yang hartanya melimpah ruah yang tujuk turunan, tujuh tanjakan, tujuh tikungan tidak bakal habis.


Keluarganya hanya memiliki usaha kantor percetakan kecil-kecilan yang Inu dapat dari warisan sang Ayah yang kini ia kelola sendiri. Pendapatanya hanya bisa untuk memenuhi kebutuhan satu keluarga saja.


Meski begitu rumah warisan dari ayahnya ini cukuplah besar, dengan empat kamar tidur di lantai atas dan masing-masing kamar kecil, ruang tamu, ruang keluarga, dan dapur plus meja makan panjang.


Kita tidak akan menceritakan bagaimana denah rumah atau pun besarnya rumah. Tapi, kita akan menceritakan bagaimana kehidupan orang-orang di dalam rumah tersebut.


Kini Dinda adalah seorang penghuni baru di rumah itu, dia yang dulu disayang dimanja serta diperlakukan dengan baik oleh kedua orang tua dan keluarganya di rumahmya, apakah ia juga akan mendapatkannya di rumah mertuanya?


"Ini adalah kamarku, yang sekarang menjadi kamar kita berdua, Din." Inu menggenggam telapak tangan istrinya erat menatapnya penuh dengan cinta dan kekaguman.


Dinda hari ini sangat cantik dengan baju kebaya dan riasan pengantin, duduk di tepi ranjang sementara kedua netranya fokus pada dekorasi kamar yang sengaja memang dikhususkan untuk kamar pengantin.


Inu hanya tersenyum mendapati istrinya tidak memperhatikan dirinya yang sejak tadi duduk di samping Dinda, karena wanita itu masih terfokus pada indahnya suasana kamar yang sengaja Inu buat romantis.


"Mas, ini sangat romantis!" seru Dinda penuh dengan kekaguman dan kebahagiaan.


"Ini akan terasa romantis kalau kamu berhenti memperhatikan suasana kamar ini, dan beralihlah memeperhatikan aku."


Dinda pun menoleh ke arah Inu, suaminya. Wanita itu tersenyum sangat manis membuat jantung Inu benar-benar berdebar kencang.


"Kamu cantik," puji Inu seraya mencolek hidung mancung Dinda.


Dinda pun tertawa dan berdiri. "Aku ganti baju dulu, Mas."


"Ganti baju di mana? Di sini saja biar aku bantu." Inu tersenyum seraya mengedipkan satu matanya.


Dinda tertawa geli dengan sikap suaminya yang ia akui Inu memang sangatlah tampan.


Diraihnya pergelangan tangan istrinya dan menariknya hingga terjatuh ke dalam pelukannya. Mereka bertumpuk di atas ranjang yang bertaburan kelopak mawar merah.


Bergulung dan saling mendekap di balik hangatnya selimut, menghabiskan malam pertama yang seperti pasangan pengantin baru dambakan.

***

Malam penuh kesan telah berlalu, Dinda masih ada di dalam pelukan Inu, sang suami. Padahal matahari sudah hampir di atas kepala.


Katanya sih wajar, namanya juga pengantin baru. Tapi, sampai kapan hidup mereka bisa sesantai itu?


Dinda bukanlah orang yang pemalas, baru kali ini ia bangun kesiangan seperti ini. Apalagi ini adalah rumah mertuanya, apa yang mertuanya pikirkan jika jam segini dirinya baru bangun.


Maka dari itu, Dinda terbangun dan terkejut saat melirik jam. "Astagfirullah, sudah hampir jam 11 siang! Ya ampun."


Dinda beringsut turun dari ranjang, tapi Inu lagi-lagi memeluk pinggangnya. "Mau ke mana sih, hmm?" tanya Inu dengan mata yang masih tertutup.


"Mas, kita harus cepat bangun, ini sudah siang," sahut Dinda sedikit panik.


"Biarin sudah siang juga, memangnya kenapa?" tanya Inu, kini kedua matanya terbuka sayu dengan senyuman yang menggoda iman.


"A-a-aku tidak enak Mas sama ibu dan adik-adik kamu, masa jam segini kita belum ke luar kamar juga." Dinda mengerucutkan bibirnya, membuat Inu sangat gemas melihatnya.


"Jangan khawatir, mereka juga akan mengerti. Lebih baik kita ...."


Dinda terpekik saat kedua tangan kekar Inu kembali menekan tubuhnya di atas ranjang, seakan belum puas dengan permainan semalam dan pagi tadi hingga siang bolong begini juga ia mau nambah lagi.


Dinda tidak berdaya untuk menolaknya, pesona dan permainan Inu sangat luar biasa, membuat Dinda yang baru merasakan nikmatnya syurga dunia ini pun tak kuasa untuk tidak menikmati.


Mereka kembali terkulai dan memutuskan kembali tertidur, saling berdekapan di bawah hangatnya selimut yang kini sudah basah oleh keringat.


Jam sudah menunjukkan pukul 12:10 siang, Dinda kembali bangun dengan keadaan yang sangat kacau, seluruh tubuhnya seakan terasa remuk redam dan sangat lemah.


Jelas saja ia dari kemarin memang belum makan secara benar. Bunyi perut Dinda membangunkan Inu yang langsung terduduk di atas ranjang.


"Sayang kamu lapar?" tanyanya, dan Dinda mengangguk dengan polosnya.


Inu tertawa dengan kepolosan istrinya ini, yang membuatnya semakin gemas dan ingin terus memakannya.


"Kenapa tidak bilang kamu lapar, jangan ditahan, nanti kamu sakit, Sayang."


Dinda mengerucutkan bibirnya membuat Inu mengulum senyum melihatnya.


"Kan dari tadi aku mau turun, tapi kamunya tidak mau lepasin aku, terus aku harus gimana?" tanya Dinda kesal.


Inu tertawa membuat Dinda memukul dada bidang suaminya dengan sangat kesal.

***

Setelah mandi bersama dan tak luput dari tangan jahil Inu yang terus saja bergeriliya di tubuh istrinya, membuat waktu mandi yang seharusnya cepat kini jadi lama lagi.


Mereka keluar dari kamar dan menuruni tangga, berjalan menuju dapur untuk makan siang.


"Duh, pengantin baru jam segini baru bangun."


Kedatangan keduanya langsung disambut dengan sindiran halus dari adiknya, Bianca. Bianca adalah adik pertama dari Inu, dia sudah menikah hanya saja suaminya sedang bekerja di luar kota dan 3 bulan sekali pulangnya kadang setahun sekali.


"Kamu bisa saja, Bianca," jawab Inu seraya tersenyum ke arah Dinda yang terlihat sangat malu dan canggung.


"Sudah, sudah, cepat kalian duduk dan makan makan siangnya," ucap Ratna, ibu dari Inu.


Inu dan Dinda duduk, Dinda menyiapkan makanan untuk suaminya dan menyodorkannya pada Inu. "Terima kasih, Sayang," ucap Inu dan Dinda hanya membalasnya dengan senyuman.


"Cantika belum pulang sekolah, Bu?" tanya Inu.


"Belum, mungkin sebentar lagi juga sampai anak itu," jawab Ratna.


Semuanya sudah mulai makan, dan Dinda pun sudah akan menyuapkan makanannya ke mulutnya. "Dinda, bagaimana tidurnya nyenyak?" tanya Ratna, sehingga Dinda yang akan makan pun menaruh kembali sendoknya.


"Alhamdulillah, nyenyak, Bu," jawab Dinda lembut.


Dinda menunduk malu dengan wajah yang memerah, Inu tersenyum melihat istrinya yang bersikap malu-malu seperti itu. Inu dan Dinda tentu merasa pertanyaan yang terdengar biasa malah diartikan seperti sindiran, karena mereka bangun terlalu siang. 


"Maaf yah, Bu. Dinda bangun terlalu siang, besok Dinda janji akan bangun lebih pagi lagi dan membantu Ibu," ucap Dinda.


Dinda yang merasa tidak enakkan langsung mengatakan itu, ia merasa sangat bersalah karena di hari pertama tinggal di rumah mertua malah menyusahkannya.


Inu yang melihat raut sedih dari istrinya pun segera menggenggam tangan istrinya yang ada di atas meja. "Sayang, kenapa sedih seperti itu? Tidak apa-apa, Ibu tidak marah 'kan, Bu?" tanya Inu pada Ratna.


"Ibu tidak marah, wajar saja 'kan namanya juga kalian kemarin sudah lelah habis resepsi," jawab Ratna.


Dinda sedikit lega dengan jawaban Ratna yang memakluminya, meski pun ia merasa Bianca tampak tidak suka padanya, tapi Dinda bersyukur yang penting Ibu mertuanya tidak begitu.


"Iya, Bu. Kami sangat lelah jadi kami bangun kesiangan," sahut Inu lagi, membantu istrinya yang tampak gugup untuk berbicara.


Ratna mengangguk dan Bianca tampak memutar matanya malas, mereka mulai makan siang dan tak lama suara langkah kaki mendekati ke ruang makan.


"Wah, lagi pada makan siang, nih." Cantika langsung duduk di samping Dinda juga Bianca.


"Cantika, ganti dulu baju kamu baru makan!" perintah Ratna.


"Nanti saja, Bu. Cantika sudah lapar," bantah Cantika.


"Nanti bajumu kotor, ibu lelah membersihkannya, Cantika!"


Cantika tidak menggubris omelan ibunya ia tetap mengambil piring dan menyendok nasi, kemudian menaruh ayam kecap pada piringnya dan mulai makan dengan lahap, dan saat semua orang sudah selesai makan Cantika malah nambah lagi dan menuangkan bumbu ayam kecap ke piringnya.


"Aduh, roknya!" pekik Cantika.


Ratna melotot dan terlihat sangat marah. "Tuh, 'kan. Lihat apa yang kamu buat, Cantika! Kata ibu 'kan tadi ganti baju dulu. Sekarang kamu cuci sendiri sana, ibu malas membersihkannya."


"Tapi, Bu. Cantika hari ini ada tugas kelompok sebentar lagi, membersihkan noda minyak dan kecap ini pasti lama," ucap Cantika merajuk.


"Cantika, makanya kalau dinasehati itu  harus nurut." Inu ikut membuka suara membuat Cantika semakin cemberut.


Melihat ketegangan yang terjadi, Dinda memiliki inisiatif untuk membantu Cantika, dia tidak mau Ibu mertuanya marah-marah lagi.


"Kalau kamu mau tugas kelompok, pergi saja. Biar roknya kakak yang bersihkan," ucap Dinda membuat mata Cantika berbinar.


"Beneran Kakak mau nolong aku?" tanyanya, dan Dinda mengangguk. "Wah, makasih yah, Kak!" serunya.


"Din, tidak usah melakukan itu, nanti dia keenakan," sela Inu.


"Tidak apa-apa, Mas. Dia 'kan tadi bilang mau tugas kelompok, dan seragamnya harus dipakai besok lagi 'kan, jadi harus segera dicuci," sahut Dinda.


"Iya, Inu. Biarkan Dinda bantu adik kamu, ibu lagi capek dari pagi beres-beres rumah dan memasak untuk kalian semua," ucap Ratna yang terdengar seperti tengah menyindir lagi untuk Dinda.


Entah mengapa setiap ucapan dari Ibu mertuanya ini terdengar lembut tapi seperti memiliki makna lain, dan ini entah perasaan Dinda atau memang Ratna bicara tanpa maksud.


Tapi, Dinda tidak mau menyimpulkan hal buruk akan Ibu dan Adik-adik suaminya, dia berjanji akan mengurus keluarga suaminya dengan baik. Karena keluarga suami adalah keluarganya juga.


Terdengar sangat na'if, tapi itu yang Dinda pikirlan.

***

Selesai makan siang, Cantika naik ke atas kamarnya, dan yang lain tengah berkumpul di ruang tivi sementara Dinda sedang membereskan meja makan.


"Bi, harusnya kamu bantu kakak iparmu cuci piring, Bi." Inu menegur adiknya yang sedang asik chattingan dengan suaminya.


"Ih, Kakak apaan sih, ganggu orang saja," sahut Bianca dengan nada kesal.


Inu juga kesal dengan sikap adiknya yang sudah besar juga sudah menikah pun masih saja manja dan pemalas. Laki-laki itu kemudian berdiri.


"Mau ke mana, Inu?" tanya Ratna.


"Mau ke dapur, Bu. Bantu Dinda," sahut Inu seraya melangkah pergi.


"Kakak alasan terus, huu!" Cantika berseru mengejek.


"Diam, kamu!" timpal Inu dari kejauhan, Cantika memanyunkan bibirnya dan kembali menjatuhkan punggungnya pada sandaran sofa dan kembali cengar-cengir tidak jelas dengan hp-nya sementara Ratna melanjutkan nonton sinetron kesayangannya.


Inu datang ke dapur, melihat istrinya tengah sibuk mencuci piring memunggunginya, Inu tersenyum dan mendekatinya kemudian memeluk istrinya dari belakang.


PRANk!


"Astahfirullahaladzim! Mas Inu, kenapa kamu ngagetin aku, lihat piringnya pecah." Dinda akan mengambil pecahan piring itu dari bak pencucian piring, tapi Inu mencegah.


"Jangan disentuh, nanti tangan kamu terluka, biar aku yang bereskan." Inu mencegah tangan Dinda yang penuh sabun untuk jangan menyentuh pecahan piring itu.


Dinda mengangguk dan mundur, Inu mulai membersihkan pecahan piring dan mengumpulkannya di wadah.


"Ada apa ini, apa yang pecah?" tanya Ratna yang datang ke dapur.


Dinda tampak gugup dan takut, karena Inu tadi tiba-tiba memeluknya dari belakang, dia pun terkejut dan piring yang penuh sabun itu akhirnya terlepas dari tangannya.


"Maaf, Bu. Dinda sudah memecahkan piringnya, Dinda tidak sengaja," jawab Dinda gugup.


"Apa?" Ratna tampak kesal tapi ia berusaha menahan diri.


"Aku yang salah, Bu. Aku yang mengagetkan Dinda tadi." Inu membela istrinya yang memang tidak bersalah, dirinyalah yang salah.


Mendengar pembelaan anaknya untuk istrinya, Ratna pun tidak mau berdebat ia kemudian pergi tanpa bicara apa-apa.


Inu segera mencuci tangannya dan mengelapnya hingga kering, segera ia mendekap kepala istrinya dan menenangkan Dinda yang tampak bersedih.


Dinda mau mengatakan 'sepertinya ibumu marah, Mas.' tapi, Dinda tidak mau mengeluh apa-apa pada suaminya.


"Aku tidak apa-apa, Mas." Dinda melepas pelukan suaminya, dan tersenyum.


"Syukurlah," jawab Inu seraya mencium kening istrinya.


"Aku lanjut cuci piring dulu, dan kamu. Duduk saja jangan ganggu aku!" Dinda menunjuk hidung Inu.


Inu tersenyum dan mengenggam jari telunjuk yang menunjuk wajahnya, menariknya hingga si pemiliknya menubrukkan tubuhnya padanya.


Inu memeluk dan akan menautkan bibirnya, hanya satu centi lagi. "Kak Dinda, ini ro--" Cantika memotong ucapannya dan berbalik badan saat matanya melihat sesuatu yang tidak seharusnya ia lihat.


Dinda mendorong dada suaminya. "Mas!" lirihnya.


Inu segera melepaskan istrinya, dan keduanya merapikan diri. Inu berdehem sekali dan berkata. "Cantika!" ucapnya pelan.


Cantika berbalik badan dan nyengir kuda, menggaruk kepalanya melihat dua orang yang tadi beradegan tak patut di dapur membuat matanya terasa sakit dan malu.


"Hmm, kamu mau ngasih rok yang mau dibersihkan, Can?" tanya Dinda, akhirnya. Berusaha menekan rasa malu di hatinya.


"Eh iya, Kak. Ini roknya," jawab Cantika.


"Ya sudah, coba sini."


Cantika mendekat dan memberikan rok abu-abunya. "Nih, tolong yah, Kak. Aku pergi dulu, bye ...." Cantika lari keluar dari dapur.


"Cantika, kamu--!"


"Mas, sudah tidak apa-apa, aku akan bersihkan sebentar, kamu istirahat saja sana, nanti aku nyusul." Dinda mendorong punggung suaminya agar mau keluar dari dapur.


Inu berbalik badan dan menautkan bibirnya tanpa aba-aba lebih dulu. "Makasih, kamu sudah mau mengurus keluargaku, Din." Dielusnya bibir tipis nan basah itu dengan ibu jarinya.


Wajah Dinda bagai terbakar panas, suaminya benar-benar pandai membuat orang jadi malu dan sport jantung.


"Ih, dasar! Udah sana, pergi, pergi!" usir Dinda seraya memukul-mukul dada suaminya pelan, wajah Dinda memerah karena malu, wanita itu sangat kesal pada suaminya yang suka jahil.


Inu menangkap kedua tangan kecil Dinda, dan menatap kedua mata besar dengan bulu mata lentiknya, wajah cantiknya memerah membuat Inu jadi gemas dan mengulum senyum.


"Imut banget sih, merah-merah begini, hehe!" Inu mengelus-elus pipi merah istrinya seraya terkekeh.


"Mas, udah deh, aku ngambek, nih!" Dinda kesal mengatupkan bibirnya dan bersidekap.


Inu tidak mengatakan apa-apa, dia hanya tersenyum-senyum melihat istrinya yang merajuk, merasa dilihatin terus menerus Dinda akhirnya lelah dan berhenti berpura-pura ngambek.


"Mas, sudah sana, Mas ke kamar saja, atau ke mana ke, terserah. Yang penting jangan dekat-dekat aku!" 


Inu berhenti tersenyum dan mengerutkan keningnya. "Loh, kenapa?" tanyanya heran.


"Ya, ya nggak apa-apa," jawab Dinda gugup.


"Aku tahu, ka--"


"Sshht! Sudah, sana, ah!"


Dinda mendorong tubuh suaminya hingga keluar dari dapur dan menutup pintunya, Inu tertawa melihat tingkah istrinya yang malu-malu. Sudah menikah Dinda masih saja begitu, tapi Inu suka dan senang menggodanya.


Dinda menghembuskan napas lega, dengan ada Inu di dekatnya membuat konsentrasi Dinda terganggu, suaminya terlalu jahil dan suka sekali membuatnya kesal dan malu, jadi lebih baik laki-laki itu harus menjauh lebih dulu dalam beberapa waktu.


Dinda membawa rok Cantika ke kamar mandi merendamnya lebi1h dulu dengan detergent dan meninggalkannya untuk melanjutkan mencuci piringnya, membereskan dapur hingga terlihat rapi dan bersih. 


Baru kemudian ia kembali ke kamar mandi dan mulai membersihkan noda kecap dan minyak di rok Adik iparnya, setelah bersih ia mengeringkannya dan segera menjemurnya di terik matahari agar cepat kering.


Dinda merasa pekerjaannya sudah selesai, dirinya ingin menyusul suaminya ke kamar karena ternyata Dinda sangat merindukannya.


Baru juga satu jam tidak bersama, Dinda sudah rindu. Apa dia bercanda?


Dinda akan naik ke lantai atas, tapi urung ketika panggilan Ibu mertuanya terdengar. "Iya, Bu ada apa?" tanyanya.


"Kamu mau ke mana lagi, Din?" tanya Ratna, kedua tangannya bersidekap.


"Dinda mau ke kamar, Bu," jawab Dinda pelan.


"Oh, tapi ibu mau minta tolong dulu, bisa, 'kan?" tanya Ratna.


Dinda turun dari tangga, dan mendekat. "Ibu mau minta tolong apa? Kalau bisa, Dinda pasti bantu." Dinda tersenyum sangat ramah, tapi Ibu mertuanya seperti sedang memikirkan hal lain.


"Ini ibu mau belanja kebutuhan rumah, tapi pinggang ibu tiba-tiba sakit, mau nyuruh Bianca, tahu sendiri anak itu kerjaannya malas-malasan, jadi kamu mau 'kan tolong ibu, Din?" 


Dinda tersenyum. "Oh, kalau hanya itu Dinda bisa bantu, ibu bisa kasihkan daftarnya, nanti Dinda minta uangnya ke mas Inu lebih dulu," ucap Dinda.


Dia tahu, suaminyalah tulang punggung keluarganya, jadi pasti setiap pengeluaran suaminyalah yang akan membiyayai, dan Dinda harus sadar itu, dia tidak bisa bersifat iri atau pelit. Semua yang ada di rumah ini adalah keluarga suaminya dan keluarganya juga.


Sebagai orang yang diajarkan ilmu Agama ia tahu akan hak dan kewajiban di dalam Agama Islam, suaminya memiliki kewajiban memenuhi kebutuhan Ibu dan Adik-adiknya yang masih memiliki tanggungan.


Apalagi Ratna seorang janda ditinggal mati dan Cantika masih bersekolah dan belum menikah. Ini jelas Inu sebagai anak laki-laki tertua memiliki tanggung jawab besar mengurus dan memenuhi segala kebutuhan mereka.


Dan itu tidak menjadi masalah bagi Dinda, yang penting ada. Begitu pikirnya.


"Tidak perlu, Din. Ini uangnya sudah ada di ibu, kamu juga tidak usah ganggu Inu, dia mungkin lelah. jadi, kamu bisa 'kan pergi ke pasar sendiri?" tanya Ratna.


Sejenak Dinda terdiam, sedikit berpikir dan menghempas pikiran buruk yang akan datang mengotori otaknya. Jadi, dia segera mengangguk dan berkata.


"Ya sudah, Dinda bisa kok pergi sendiri, Bu. Tapi, Dinda mau ganti baju dulu, Bu."  Dinda berencana akan mengganti bajunya lebih dulu, dan bersiap-siap. Dia juga harus pamitan dulu 'kan pada suaminya.


Tapi, Ratna mencekal tangannya. "Tidak usah ganti baju, Din. Pakai ini saja udah bagus, kok. Udah cepat sana kamu pergi, ini daftar dan uangnya." Ratna memberi selembar kertas dan dua lembar uang ratusan ribu.


Dinda tidak punya pilihan lain, wanita itu pun akhirnya mengangguk. "Baiklah, Bu. Tapi, tolong kasih tahu Mas Inu, yah. Kalau Dinda ke pasar."


"Iya, iya, sudah sana, nanti kalau Inu bertanya, akan ibu kasih tahu," jawab Ratna.


Dinda perlahan mengangguk ragu, tapi tetap ia akhirnya melangkah keluar dari rumah tanpa berpamitan dengan suaminya. Padahal dia sudah berjanji akan menyusul Inu ke kamar, tapi kini ia pergi keluar dari rumah tanpa izin suaminya.

***

Lama menunggu akhirnya Inu menjadi lelah. "Ini Dinda ke mana, masa sudah 2 jam nggak balik-balik."


Inu menurunkan kakinya dari ranjang, ia segera berjalan keluar dan turun ke bawah, melihat-lihat di lantai bawah tidak ada siapa pun, di dapur tidak ada Dinda, di ruang tamu juga tidak ada.


"Di mana, Dinda?" gumamnya.


Ia kemudian berjalan ke halaman samping, tempat ibunya biasa menghabiskan waktu sore di kursi taman dengan segelas teh hangat.


Benar ternyata Ratna ada di sana, Inu pun berjalan untuk menanyakan keberadaan istrinya, kali saja ibunya tahu.


"Bu, tahu Dinda ke mana nggak, Bu?" tanyanya buru-buru.


"Ck, Inu! Kamu ini bikin kaget ibu saja, istrimu pergi ke pasar, kenapa?" tanya Ratna.


"Ke pasar? Kok, nggak bilang aku dulu, sih!" gumam Inu, tapi masih bisa didengar Ratna.


"Ya, mana ibu tahu, mungkin dia tidak mau ganggu kamu istirahat, Inu. Sudahlah jangan dibesar-besarkan, sebentar lagi juga dia sampai," sahut Ratna, kembali ia menyesap teh hangatnya dan bersantai.


Inu kembali ke dalam rumah dan mengambil kunci mobil yang tergeletak di atas meja, laki-laki itu berniat akan menyusul istrinya ke pasar.


Ceklek!


"Assallamuallaikum, Mas!" 


Inu sedikit terkejut saat ia membuka pintu ternyata istrinya sudah ada di depan pintu.


"Kamu ke pasar kenapa tidak minta antar aku?" tanya Inu sampai lupa menjawab salam istrinya.


"Jawab salamku dulu, Mas."


"Waallaikumsalam. Kenapa?" tanyanya lagi.


Dinda mencium punggung tangan suaminya. "Kata I--"


"Din, sudah pulang, Nak? Langsung masukkan ke dalam kulkas saja bahan-bahannya, yah. Makasih sudah menolong ibu, Din. Inu istri baru datang bukannya disuruh masuk, malah diintrogasi kaya penjahat saja."


Ratna yang datang dari halaman samping pun langsung memotong ucapan Dinda, Dinda yang polos hanya tersenyum seraya mengangguk.


"Kalau gitu aku ke dapur dulu yah, Mas."


Dinda berjalan melewati suaminya, dan pergi menuju dapur dan membereskan bahan-bahan yang baru dia beli barusan ke dalam kulkas.


Inu datang menyusul dan mendekati Dinda. "Sayang, kamu pasti lelah pergi ke pasar sendiri, harusnya kamu minta antar aku biar aku bisa bantuin kamu."


Dinda berbalik badan dan menghadap Inu, dia tersenyum manis dan memegang kedua telapak tangan suaminya.


"Aku tidak apa, Mas. Oke, kamu tidak usah cemberut begitu, nanti hilang gantenya." Dinda mencubit hidung suaminya dan kembali melakukan kegiatannya.


"Kamu itu, yah!" Inu tidak tahan dengan sikap istrinya yang entah mengapa selalu bisa merubah kekesalannya jadi rasa gemas.


Ratna yang mengintip pun menghela napas lega seraya mengelus dadanya, ia pun pergi tanpa suara.


"Sebentar lagi Ashar, kamu mending mandi nanti kita shalat berjamaah," ucap Dinda, tangannya lincah memindahkan sayur, buah, dan daging ke dalam kulkas.


"Gimana kalau mandi bareng." Inu tersenyum seraya menaik turunkan alisnya, ngarep banget kayanya.


"Gak bisa," jawab Dinda seraya mengulum senyum tanpa memperlihatkan wajahnya pada suaminya.


"Harus bisa, sini aku bantu, biar cepat selesai." Inu segera mengambil alih pekerjaan istrinya, dan membuat Dinda tersenyum-senyum saja melihat sikap Inu yang suka maksa.


Perlahan Dinda mundur dan melangkah pelan meninggalkan Inu di dapur. 


"Nah, sudah selesai, ayo kita mandi!" Inu menepuk kedua telapak tangannya saat sudah selesai membereskan semuanya, menoleh ke samping dan ke belakang, tapi tak ada Dinda.


Seketika Inu langsung tersenyum devil, segera ia melangkah keluar dapur dan naik ke atas kamarnya. "Dasar Curang, cepet banget sih mandinya, masa udah selesai."


Inu cemberut, saat melihat istrinya sudah memakai handuk dan rambutnya sudah basah.


Dinda tersenyum melihat suaminya yang merajuk, ia pun mendekat dan merangkul leher suaminya dan mencium  bibir Inu dengan bibinya yang basah.


"Makasih sudah bantuin aku, Mas. Jangan ngambek, aku sayang kamu." 


Inu langsung meraih pinggang dan tengkuk istrinya kembali ditautkannya bibir keduanya, sedikit lama dan ditekan.


Dinda melepas tautan mereka, dan berbicara. "Cepatlah mandi, aku tunggu." 


Inu mencium kening istrinya, kemudian pergi ke dalam kamar mandi.

***

Hari-hari sepasang pengantin baru, tidak jauh dari romantisme yang terbangun di antara keduanya, hingga tanpa terasa 1 minggu telah berlalu.


Inu pagi ini akan kembali masuk kerja, sebagai pemilik kantor percetakan kecil dengan hanya memiliki beberapa karyawan saja, Inu tidak bisa terlalu lama berlibur meski ia inginkan itu.


Sebagai pemilik merangkap sebagai marketing dan design setter bahkan dia juga tidak jarang menjadi customer service. Karena percetakannya masih kecil Inu belum mampu menggaji posisi-posisi tersebut.


Maka untuk meminimalisir keuangan, dialah yang harus menghandle semuanya, mulai dari mencari peluang, melobby pelanggan, mendesign pesanan, bahkan menerima komplain, meski itu jarang sekali terjadi.


Karena hasil design dan hasil cetaknya selalu saja memuaskan pelangggan, Inu harus bekerja keras untuk membuat kantor percetakannya menjadi besar dan dikenal banyak orang.


Terlebih ia harus melobby pelanggan-pelanggan dari perusahaan-perusahaan besar seperti industri-industri bahan pangan, kosmetik dan lain-lain untuk orderan pembuatan label atau stiker produk mereka agar tidak lepas dari tangannya.


"Aku berangkat dulu, Sayang." Dinda mencium punggung tangan suaminya.


"Hati-hati di jalan yah, suamiku. Semangat kerjanya," ucapnya seraya memberi semangat.


"Iya, kamu doakan saja, yah. Semoga kantor percetakan kita bisa maju dan sukses, Sayang." Inu mengelus puncak kepala istrinya.


"Amiin, semoga kita juga bisa memiliki tempat tinggal sendiri ya, Mas. Tempat kita dan untuk anak-anak kita nanti," jawab Dinda.


"Amiin ... ya sudah, Mas pergi dulu. Assallamuallaikum." Inu mengelus sisi wajah istrinya kemudian melangkah menuju mobilnga.


"Waallaikumsalam." Dinda melambaikan tangannya saat mobil Inu mulai bergerak meninggalkan halaman rumah.


Dinda kembali masuk ke dalam saat tadi sudah mengantar suaminya sampai di teras rumah, ia menutup pintu dan berbalik badan.


Dinda terkejut saat melihat Ibu mertuanya ada di belakangnya, menatapnya dengan sorot mata yang tidak suka. Tiba-tiba Dinda menelan salivanya susah payah.


"I-ibu, ada apa? Ada yang bisa Dinda bantu?" 


Dinda memang sudah merasa Ibu Mertua dan Adik-adik iparnya tidak menyukainya bahkan seakan hanya memanfaatkan tenaganya saja.


Tapi, Dinda tidak mau menceritakan dan mengadukan semua yang ia dapatkan pada suaminya. Dia takut Inu menjadi pusing dan sedih.


Padahal laki-laki itu sedang berupaya untuk membesarkan usahanya agar menjadi berkembang dan maju pesat.


"Apa kamu berniat memisahkan aku dengan anaku, Dinda?" tanya Ratna dengan nada dingin.


Dinda gugup, bukan itu maksud dari perkataannya barusan. Dia hanya ingin hidup bahagia bersama dengan suami dan anak-anaknya di rumahnya sendiri, apa itu salah?


"A-apa maksud Ibu? A-aku tidak--" 


"Halah, sudahlah, aku tahu apa yang ada di dalam pikiranmu itu, Dinda." Ratna menunjuk Dinda. "Kamu memaksa Inu membeli rumah untuk kalian sendiri, 'kan? Terus kamu bisa menguasai anakku sepenuhnya. Jangan mimpi, Dinda!"


"Ibu, tapi aku tidak berpikir seperti itu."


"Sudahlah, berhenti omong kosong denganku!" hardik Ratna, wanita paruh baya itu pergi meninggalkan dinda yang tampak shock dengan ucapan sang Mertua.


Dinda berlari menuju kamarnya, menutup pintu, seketika tubuhnya merosot di lantai, menangis sendiri tanpa seorang pun yang tahu.

***

Hari tanpa terasa telah senja, mobil Inu  melaju dan berhenti di halaman depan rumahnya. Ia tak sabar menemui istrinya, aroma pengantin baru masih terasa padanya hingga bekerja pun masih saja teringat seseorang yang di rumah.


Inu masuk ke dalam rumah, tidak ada yang menyambutnya, maka Inu akan langsung naik ke atas kamarnya.


"Inu, kamu sudah pulang, Nak?" tanya Ratna dari arah ruang makan.


Inu mengurungkan langkahnya, dan menghampiri ibunya dan Adik-adiknya di meja makan, tapi tidak ada Dinda istrinya.


Inu mencium punggung tangan ibunya dan bertanya. "Dinda mana, Bu?" 


"Kamu ini datang kerja bukannya datang sama ibu, cium tangan ibu, ini malah mau langsung naik nyari Dinda. Dinda ada di kamarnya," jawab Ratna sedikit ketus.


Inu tersenyum. "Ibu apa, sih. Iya, maaf aku salah. Ya sudah, aku ke kamar dulu, yah."


Belum juga Ratna menjawab, Inu sudah pergi naik ke kamarnya untuk mencari Dinda, istrinya. Itu membuat kebencian dan rasa iri bersarang di hatinya untuk Dinda, menantunya sendiri.


Rasa takut kehilangan perhatian dan kedekatan anaknya begitu besar, hingga Ratna menjadi mertua yang tidak punya hati, bahkan hari ini pun ia sama sekali tidak menawari menantunya itu untuk makan siang dan makan sore.


"Bu, kakak sekarang berubah, yah. Biasanya kalau datang dari mana-mana pertama kali yang kakak cari itu Ibu, tapi sekarang malah nyari istrinya, si Dinda itu."


Bianca mulai menyiram bensin pada kayu yang sudah terpercik api, hingga kini berkobar sudah dan siap menghabiskan semuanya.


Ratna meremas sendok di tangannya sangat kuat hingga buku-buku jarinya menjadi memutih. 


Aku tidak akan membiarkan Inu anakku jadi berubah tidak sayang lagi padaku, aku akan buat Dinda menderita dan akhirnya meminta cerai dari Inu!


Sementara Inu membuka pintu kamarnya, tampak kamar begitu gelap. Inu mengerutkan keningnya dan segera menekan tombol saklar lampu.


"Dinda!" Inu menghampiri Dinda istrinya yang meringkuk di atas ranjang.


Perlahan Dinda terbangun saat mendengar suara suaminya. "Iya, Mas, ada apa?" tanyanya pelan, Dinda sedikit merapikan penampilannya.


Inu tampak memperhatikan penampilan istrinya. "Din, kamu kenapa belum mandi, baju kamu masih sama seperti tadi pagi. Dan ini, ini kenapa mata kamu sembab begini?" tanya Inu panik, seraya memegang pipi istrinya.


Dinda segera merubah ekspresi wajahnya, dia tersenyum. "Maaf ya, Mas. Aku tadi habis nonton drakor, ceritanya sedih banget, Mas. Tokoh utamanya dimusushi orang tua si suami, istrinya dituduh mau memisahkan anak dari ibunya. Aku jadi nangis, Mas. Ceritanya sedih, terus ketiduran sampai lupa mandi, maaf ya, Mas." 


Dinda berusaha tersenyum manis, menunjukkan gigi putihnya yang rapi. Inu menggeleng. "Ya ampun, Dinda. Nonton drakor sampai segitunya, sampai lupa mandi, sudah jam berapa ini, hmm?" ucap Inu seraya menunjukkan jam di tangannya.


"Maaf, suamiku ...." Dinda mengatupkan kedua telapak tangannya seraya mengedip-ngedipkan kelopak matanya, sehingga bulu mata lentiknya tampak bergerak sangat lucu.


"Iih, kamu tuh gemesin banget sih, Sayang." Dicubitnya pipi Dinda membuat Dinda menjerit.


Tampak sepasang mata tengah memperhatikan adegan absurd mereka berdua di atas ranjang. Ratna tampak mencebikkan bibir, merasa sangat tidak senang akan kebahagiaan Dinda yang tertawa lepas.


Sementara dirinya sangat tidak bahagia karena hatinya sudah penuh dengan kebencian pada menantunya sendiri.


Tampak Inu menggendong istrinya dan masuk ke dalam mandi dengan bahagianya, Ratna pun mengepalkan kedua telapak tangannya dan menutup pintu kamar itu lalu pergi.


"Haha, Mas, ih nyebelin!" Dinda tertawa saat Inu terus saja berbuat nakal.


Keduanya saling pandang dengan penuh rasa cinta yang dalam, tiba-tiba Dinda ingin sekali menangis di dalam dekapan suaminya.


"Mas, aku mau peluk kamu boleh, 'kan?" tanyanya lirih dan senyum yang sangat indah.


Inu tersenyum dan segera membuka tangannya lebar dan menyambut pelukan istrinya. Dinda menangis di dalam dekapan suaminya di bawah guyuran air shower hingga Inu tidak akan tahu air matanya yang mengalir.


Ada rasa takut di dalam hatinya, dia takut mertuanya akan membuat rumah tangganya dan Inu akan menjadi rumit.


Mas Inu, aku berjanji apa pun yang terjadi, aku tidak akan menyerah, Mas.

***

"Dandan yang cantik, kita turun, kamu belum makan, 'kan?" tanya Inu, seraya menggosokkan handuk kecil ke rambutnya yang basah.


"Kita mau makan di luar, Mas?" tanya Dinda seraya mengulaskan bedak di wajahnya.


"Iya, kamu mau, 'kan?" tanya Inu seraya memeluk Dinda dari belakang, menatap mereka berdua dari pantulan cermin.


Cantik dan tampan, sangat serasi, sangat cocok, sangat romantis, dan manis. Senyum mereka merekah, meski Inu tidak tahu ada luka di balik senyuman Dinda.


Wanita memang begitu, pandai sekali bersandiwara dan menutupi segalanya. Mereka memang sangat kuat, bukan kuat fisiknya. Tapi kuat hati dan jiwanya, yah. Mereka sangat luar biasa.


"Kamu sangat cantik, aku cinta kamu, Din," ucap Inu seraya menangkup wajah istrinya.


"Hmm, jadi kamu cinta aku karena aku cantik?" Dinda tersenyum.


"Nggak, bukan gitu." Inu menggeleng.


Dinda mengangguk. "Iya, aku tahu, Mas. Ya sudah, ayo kita pergi, aku sudah lapar." Dinda mengelus perutnya yang rata.


Inu tersenyum dan mengangguk, Dinda langsung menggandeng suaminya dan melangkah bersama.


Di bawah Ratna dan kedua putrinya tengah duduk berkumpul di ruang tamu, mata ketiganya menatap sepasang suami istri itu menuruni tangga.


Terlihat sangat bahagia, dan tanpa beban. Ratih dan Bianca tidak suka melihatnya, sementara Cantika yang tidak seperti Ibu dan kakaknya pun bersikap biasa saja.


Gadis itu memang tidak membenci Dinda, tapi gadis itu juga licik, ia hanya memanfaatkan Dinda supaya bisa disuruh-suruh olehnya, sikap manja, dan sok imutnya sebenarnya demi mendapat keuntungan semata.


"Kak Inu sama Kak Dinda mau ke mana?" tanya Cantika dengan nada manja.


"Kami akan makan di luar, Can. Apa kamu ingin dibawakan sesuatu?" tanya Dinda dengan senyum ramah.


"Boleh, Kak. Bawakan aku--"


"Hmm, ya, ya, kakak tahu apa yang kamu mau, nanti kakak bawakan," sela Inu. "Apa Ibu dan Bianca juga mau dibawakan sesuatu?" tanya Inu lagi.


"Tidak usah, Inu."

Inu mengangguk mendengar jawaban ibunya. "Baiklah, kalau begitu kami pamit dulu, assallamuallaikum."


"Waallaikumsalam," jawab semuanya.


Dinda sangat tahu mengapa tadi Ratna menjawab pertanyaan putranya dengan sedikit ketus, tapi ternyata Inu tidak menyadarinya sama sekali.


Laki-laki itu terlalu bahagia memiliki Dinda di hidupnya hingga ia menutup mata akan keburukan di sekelilingnya.


"Enak banget tuh si Dinda, dimanja-manja terus sama kak Inu," ucap Bianca saat sepasang suami istri itu sudah pergi.


Cantika menunjuk Kakak keduanya itu dengan tatapan mengejek. "Hmm, aku tahu. Kak Cantika sirik 'kan sama Dinda, karena kak Inu sangat mencintai dia. Sedangkan mas Roy, haha boro-boro."


"Diam kamu, Cantika! Kamu tidak pantas mengejek Kakak kamu sendiri, kamu itu bukannya bela saudara sendiri malah belain Dinda terus," sergah Ratna yang mulai kesal pada anak bungsunya.


"Aku tuh yang penting di rumah ada yang layanin, Bu. Dengan adanya Dinda di sini, aku tuh enak, nggak harus capek-capek membereskan kamar, nggak harus nyuci baju, dan lain-lain. Semuanya dia yang kerjain, jadi aku harus baik-baik di depan dia. Kapan lagi punya pembantu gratis, 'kan?" 


Ratna dan Bianca membuka sedikit bibirnya, merasa tidak menyangka ternyata bocah kecil si Cantika ini lebih pandai, intinya Cantika pun sebelas dua belas dengan Ratna dan Bianca, tapi Cantika lebih tidak peduli dengan kehidupan rumah tangga kakaknya, yang dia pikirkan hanyalah bagaimana caranya agar Dinda mau melakukan segalanya untuk dia.


"Ck, ck, ck, ternyata kamu sama saja kaya aku dan Ibu. Sama-sama tidak suka dengan Dinda," ucap Bianca seraya mencebikkan bibir.


"Hmm, kata siapa aku nggak suka Dinda, aku suka dia. Suka banget malah, suka nyuruh-nyuruh dia tapi, hahaha!" Cantika tertawa begitu pun kedua orang lainnya.


Ratna kini jadi berpikir, benar kata Cantika, dirinya tidak boleh terlalu menunjukkan ketidaksukaannya pada Dinda karena itu berbahaya jika Inu menyadarinya, dia sekarang harus bermain cantik agar menantunya merasa tidak betah dan akhirnya meminta cerai.

***

"Din, aku tahu kamu lagi mikirin sikap ibu dan Bianca, 'kan? Aku tahu kamu sedih, aku harap kamu jangan tersingung dengan sikap mereka," ucap Inu, menoleh pada Dinda sekilas dan kembali fokus pada setirnya.


"Kenapa, Mas bisa berpikir begitu? Aku tidak merasa begitu," sahut Dinda, sama sekali tidak ingin jujur.


Inu tersenyum. "Jangan berbohong padaku, aku juga sadar dengan sikap ibu yang berubah, Din. Maafin ibu, yah."


Dinda menggeleng. "Tidak, Mas, jangan minta maaf, aku benar-benar tidak apa-apa, ibumu segitu masih mending dibanding dengan ibu mertua yang ada di drakor," ucap Dinda lagi-lagi ia ingin mengalihkan topik pembicraan yang Inu buka.


Inu lagi-lagi tersenyum, istrinya ini sangat lucu dan polos. Dia malah membanding-bandingkan mertuanya dengan tokoh mertua di drakor yang pastinya Inu tidak tahu jika itu memang ibunya sendiri.


Mobil Inu sampai di sebuah restoran yang biasa mereka datangi saat mereka masih berpacaran dulu, keduanya masuk dan mengambil tempat duduk kemudian memesan makanan.


"Mbak pesan nasi goreng seafood sama es jeruknya dua," ucap Dinda, itu adalah menu yang sering mereka pesan jika datang ke restoran itu.


"Yang, maaf yah, aku belum bisa ajak kamu tinggal di rumah kita sendiri, kamu pasti kurang nyaman tinggal bersama ibu dan adik-adikku?" tanya Inu, ia merasa sedih karena merasa tidak bisa memberikan tempat yang nyaman untuk istrinya sendiri.


"Kamu ngomong apa sih, Mas. Aku akan sabar menunggu kok, sampai kamu mampu. Aku yakin suatu saat nanti kamu pasti bisa, dan aku doakan semoga usaha kamu semakin sukses," sahut Dinda, seperti biasa dengan senyum manisnya.


Inu bersyukur memiliki istri seperti Dinda, kata-kata dan sikapnya selalu bisa menenangkan hatinya. Tak lama pesanan datang, memotong percakapan mereka yang kini berlanjut dengan acara makan dan menceritakan masa lalu.


Bernostalgia, hubungan berpacaran mereka sangat manis dan romantis, sehat dan tidak aneh-aneh. Kenangan yang seperti itu sulit sekali untuk dilupakan.


"Aku terkejut saat kamu tiba-tiba nembak aku, Mas. Aku nggak tahu kalau kamu diam-diam punya perasaan padaku, hehe." Dinda tertawa saat mengenangnya sungguh semua kenangan bersama Inu adalah hal terbaik di dalam hidupnya.

***

Acara makan malam pun selesai keduanya pulang dengan membawa pesanan Cantika, gadis itu masih menunggu di ruang tamu sementara Ibu dan kakaknya sudah masuk ke dalam kamar mereka masing-masing.


Inu dan Dinda masuk yang langsung disambut oleh Cantika yang sangat senang mendapatkan apa yang dia mau.


"Makasih, Kak Inu, Kak Din," ucapnya sambil berlari ke dapur.


Sementara Inu dan Dinda hanya saling melempar senyum melihat tingkah adik bungsu Inu itu.


"Kita istirahat saja, Din," ajaknya dan wanita itu pun mengangguk.


Keduanya naik ke lantai dua dan akan masuk ke dalam kamar, tiba-tiba suara Ratna mengurungkan niat mereka.


"Din, bisa bantu ibu, Nak?" tanya Ratna yang berdiri di ambang pintu kamarnya.


Inu mengerutkan keningnya ibunya mau apa malam-malam begini?


"Ibu mau apa sih, Bu. Ini sudah malam, loh?" tampak Inu tidak suka, dan Ratna langsung memasang mimik sedih.


Dinda menyenggol lengan suaminya dan mengangguk, wanita itu berjalan mendekati Ibu mertuanya. "Ibu mau minta tolong apa, Bu?" tanya Dinda sopan.


"Bisa kamu masuk ke dalam, Nak?" tanya Ratna.


Dinda menoleh pada suaminya, dan Inu tampak bingung, Inu sendiri bukannya tidak mengerti dengan sikap ibunya yang jelas tidak suka pada Dinda, dan sekarang? Kenapa? Ada apa? Begitu yang ada di benaknya.


"Mas duluan saja ke kamar, aku akan ikut Ibu dulu ke kamar Ibu, yah," ucap Dinda.


Inu mengangguk, menatap keduanya kemudian masuk ke dalam kamarnya. Melihat anaknya masuk ke kamar, Ratna segera menarik menantunya masuk ke dalam kamarnya.


"Ibu ada apa, Bu?" tanya Dinda sedikit takut.


"Duduk dulu, Dinda," sahut Ratna dengan nada lembut.


Dinda menurut ia duduk di sofa kecil yang ada di dalam kamar Ibu mertuanya, duduk bersisian.


Ratna mengenggam telapak tangan Dinda yang ada di pangkuannya, Dinda pun terkejut. "Din, maafkan kata-kata ibu tadi pagi, yah. Ibu hanya takut kehilangan Inu, Inu adalah anak laki-laki ibu satu-satunya. Sejak ayahnya Inu meninggal, Inulah yang menjadi tulang punggung kami, dialah pelindung kami, dan ibu tidak mau kehilangan Inu."


Dinda terdiam mendengar penuturan Ibu mertuanya, sejenak Dinda menatap wajah Ratna yang tampak sedih. "Ibu, mana mungkin Dinda merebut mas Inu dari Ibu. Aku, Ibu dan adik-adik mas Inu pasti penting di hati Mas Inu, Bu. Cuma saja cara mencurahkan kasih sayangnya yang berbeda."


"Ibu tahu, Din. Ibu sadar ibu yang salah, maafkan ibu, yah." 


Dinda dengan naifnya percaya dengan ucapan Ratna yang sudah memiliki rencana lain di hatinya. Dinda tersenyum dan merasa bersyukur dengan perubahan sikap mertunya.


"Tidak masalah, Bu. Kalau begitu aku pamit ke kamar dulu ya, Bu."


"Ya sudah, sana istirahatlah," titah Ratna.


Dinda mengangguk dan berdiri, melangkah pergi dari kamar Ratih dan ia tidak tahu senyum licik terbit di bibir wanita paruh baya itu.


Dinda masuk ke dalam kamarnya dan melihat suaminya masih menunggunya, Dinda pun tersenyum melihatnya dan pergi menuju lemari baju, mengambil satu set baju tidur dan membawanya ke kamar mandi.


Dinda keluar dan berjalan menuju ranjangnya, menaikkan kakinya dan datang menuju pelukan suaminya.


"Apa yang kalian bicarakan?" tanyanya, seraya mencium puncak kepala istrinya.


"Bukan apa-apa, hanya pembicaraan sesama perempuan," sahut Dinda seraya mengelus dada suaminya.


Inu menangkap telapak tangan istrinya. "Aku serius, Din. Apa yang ibu katakan padamu, hmm?" tanya Inu benar-benar serius, laki-laki itu takut jika ibunya berbicara tidak baik pada istrinya.


Dinda pun menjauhkan kepalanya dari dada Inu, dia tersenyum menatapnya. "Aku juga serius, Mas. Ibu tidak mengatakan apa-apa yang membuat aku sedih, dia hanya minta maaf kalau selama ini bersikap kurang baik padaku. Dan aku bilang, tidak masalah."


"Benarkah, ibu bilang begitu?" Inu tidak yakin, tapi Dinda meyakinkan dengan anggukkannya. "Syulurlah," lanjutnya.


Inu kembali meraih tubuh istrinya agar kembali menempel padanya, hingga keduanya tengelam di dalam malam yang indah itu.

***

Hari-hari berganti bulan, kini usia pernikahan Inu dan Dinda sudah memasuki bulan ke tiga. Hubungan mereka masih sama, harmonis dan romantis seperti biasanya.


Sikap Ibu dan juga Adik-adiknya baik, meski Dinda harus lelah sendiri dalam mengurus rumah sendirian. Nyapu, ngepel, masak, dan lain-lain semuanya  dia yang kerjakan.


Dinda tidak masalah akan hal itu, yang penting sikap mereka semuanya baik padanya, maka Dinda pun akan melakukan apa pun dengan ikhlas.


Dasar Dinda orang yang naif.


Seperti biasa sehabis Subuh dia sudah mulai berkutat di dapur membuat sarapan untuk seluruh anggota keluarga. Setelah Inu pergi ke kantor, Dinda kembali melanjutkan pekerjaanya mencuci piring, mencuci baju mereka semua, nyapu, ngepel dan lanjut lagi masak untuk makan siang.


Setelah makan siang pun dia kembali mencuci piring, baru setelah itu ia bisa beristirahat. Dinda baru saja duduk di sofa dan akan menyandarkan punggungnya ke sandaran sofa.


Hari ini punggung dan pinggangnya terasa pegal ditambah perutnya juga terasa sakit. Ini biasanya akan datang bulan, Dinda mendesah jika ini memang benar akan datang bulan, wanita itu kecewa karena tidak kunjung positif juga.


Tiga bulan sudah ia menikah dengan Inu, tapi ia belum juga diberi kepercayaan. Padahal Dinda saat ini sangat berharap bisa segera dapat momongan sebagai pelengkap keluarga.


Belum lagi Ratna yang seperti terus mendesak dan menyudutkannya, meski nada bicaranya lembut, tapi kalimatnya terkadang membuatnya sakit hati.


Kini Dinda merasakan ada sesuatu yang keluar dari miliknya, ia pun tahu dan segera bangkit dari duduknya. Dinda berjalan akan menaiki tangga.


"Din, hari ini belanja ke pasar, ini daftar dan uangnya!" seruan Ibu mertua yang baru datang dari taman samping pun membuat Dinda berbalik badan.


"Dinda harus ke kamar dulu, Bu," sahutnya.


"Ngapain, sudah nggak usah ganti baju  pakai saja baju itu," ucap Ratna.


"Tapi, Dinda mau pakai pembalut dulu, Bu." Dinda menunduk.


"Kamu datang bulan? Hmm, sudah nikah tiga bulan kok kamu belum positif juga, Din," ucapnya lemah lembut, tapi tetap menusuk hati Dinda.


"Iya, Bu. Dinda juga tidak tahu kenapa, mungkin Allah belum kasih kepercayaam sama aku dan mas Inu, Bu," jawab Dinda pelan.


"Hmm, ya sudah sana cepat ke kamarmu, terus pergi ke pasar, yah."


Dinda mengangguk dan segera naik ke kamarnya. Setelah selesai dengan urusannya, Dinda pun kembali dan menerima kertas daftar belanja serta uang dari ibu mertuanya.


Dinda pergi dengan menggunakan angkutan umum, ada rasa sedih di dalam batin terdalamnya. Selain karena ia kini harus datang bulan lagi, karena satu hal ini juga.


Gaji suaminya selalu dipegang oleh Ibu mertuanya, dengan alasan yang menurut Dinda tidak masuk di akal. Ratna mengatakan kalau dia lebih tahu cara mengurus rumah tangga, dia sudah lebih tua dibanding yang lainnya. Jadi, dengan kata-kata membujuk dan merayu akhirnya Dinda mengizinkan suaminya menyerahkan seluruh uangnya pada ibunya.


Dinda memang bodoh, mau-maunya dia dijadikan babu oleh keluarga suaminya, bahkan memegang uang suaminya pun dia tidak berhak. Istri macam apa yang begitu, dan bodohnya lagi Dinda hanya menerima dan diam.


Meski sedih hatinya selalu berkata 'Dia adalah Ibu mertuamu, Ibu dari suamimu, dia sudah bersikap baik padamu, maka kamu harus menghormatinya'.


Selesai berbelanja, Dinda segera kembali dan menahan rasa sakit karena datang bulannya. Sudah jadi kebiasaannya jika datang tamu, kesehatan Dinda akan menurun.


Dinda membaringkan tubuhnya di atas ranjangnya, tidur meringkuk memeluk perutnya yang sakit, setiap hari ia habiskan dengan pekerjaan rumah yang seakan tiada hentinya.


Tanpa terasa hari pun telah sore, Inu seperti biasa pulang dan segera menemui istrinya, dan kini terlihat Dinda tengah tidur meringkuk di atas ranjang.


"Sayang, kamu kenapa?" tanya Inu seraya menyentuh pundak istrinya.


Dinda perlahan berbalik badan dan melihat Inu. Diciumnya punggung tangan suaminya. "Aku sakit datang bulan, Mas," jawabnya.


Wajahnya sangat pucat dan terlihat sangat sakit. "Sudah diminum obatnya?" tanya Inu.


Dinda menggeleng. "Obatnya habis, Mas. Aku lupa beli," ucapnya lemah.


"Ya sudah, nanti mas belikan ke apotek, yah."


Dinda mengangguk dan Inu kembali pergi untuk membeli obat pereda rasa nyeri saat datang bulan.


"Inu, kamu mau ke mana lagi, Nak? Dinda mana? Kok belum masak untuk makan malam?" tanya Ratna saat melihat anaknya turun dari kamarnya dengan terburu-buru, padahal ia baru saja pulang dari kantor bahkan belum sempat berganti pakaian.


"Masaknya Ibu saja atau Bianca, Dinda lagi sakit nggak bisa masak, ini Inu mau beli obat dulu ke apotek."


Setelah berkata-kata Inu segera pergi tanpa ia tahu ekspresi wajah marah ibunya, dan Bianca mencebikkan bibirnya saat disuruh memasak oleh kakaknya.


"Datang bulan saja menyusahkan suami, dan sekarang ibu lagi yang harus masak, dasar wanita tidak tahu diri!" kesal Ratna.


"Jangan-jangan Dinda itu mandul, Bu," ucap Bianca seraya membelalakkan kedua matanya.


"Biar saja kalau dia mandul, biar ibu punya alasan suruh Inu ceraikan dia."


Kedua wanita itu tersenyum jahat memikirkan rencana busuk mereka jika benar kalau Dinda dinyatakan mandul.

***

"Din, aku bawakan makanan, kamu makan yah, terus minum obat." Inu dengan telaten mengurus istrinya yang tengah sakit-sakitan karena datang bulan.


Dinda pun segera berbalik badan dan berangsur membangunkan tubuhnya dengan dibantu oleh suaminya. Inu dengan sabar menyuapinya, tiba-tiba Dinda ingin menangis.


"Mas, maafkan aku, yah."


"Maaf untuk apa, Din?" tanya Inu.


"Maaf karena aku selalu saja menyusahkan kamu, Mas. Dan aku belum juga kasih kamu anak, aku tidak hamil-hamil, Mas." Dinda menunduk dan pundaknya bergetar karena tangisnya.


Inu segera menaruh piring ke atas nakas dan segera memeluk istrinya, memberinya kekuatan dan pengertian bahwa dirinya tidak ada masalah.


"Sudahlah, kamu tidak usah memikirkan semua itu, kita menikah baru tiga bulan, kenapa harua buru-buru mau punya anak sih, mungkin Allah mau kita puas-puasin masa berdua dulu, baru setelah itu punya anak."


Inu mengelus kepala dan juga punggung istrinya, membuat Dinda semakin merasa baik. Dinda menjauhkan kepalanya dari dada sumainya, dan senyum manis kembali terpancar.


"Terima kasih ya, Mas." Dan mereka pun kembali berpelukan.

***

Cinta adalah sumber kekuatan, karena cinta orang sanggup melakukan segalanya bahkan di batas kemampuannya sendiri. Orang bisa menderita berkali-kali asalkan dia bisa bersama dengan cintanya.


1 Tahun sudah usia pernikahan mereka, tapi Dinda belum juga dinyatakan positif hamil, hari ini juga dia tengah sakit karena datang bulan, tapi kali ini tidak ada Inu di sisinya.


Satu bulan ini suaminya sangat sibuk di kantor, usaha percetakan Inu sudah mulai berkembang dan sedang banyak orderan design dan cetakan. Inu harus lembur untuk mendesign pesanan-pesanan customer agar bisa segera dicetak dan selesai sesuai waktunya.


"Din, Dinda!" panggilan Ratna perlahan membuat Dinda beringsut dari ranjangnya dan berjalan menuju pintu kamar.


"Iya, Bu?" ucap Dinda dengan nada lemah.


"Din, kamu masak, gih! Ibu sedang capek dari pagi beres-beres, kamu tahu ibu ini sudah tua!"


"Tapi, Bu. Perutku sedang sakit, biasanya 'kan aku yang masak jika tidak sedang sakit, Bu. Untuk sekarang apakah Bianca atau Cantika tidak bisa menggantikan aku dulu, Bu?"


Wajah Ratna sudah hampir memerah dan akan meledak, menantunya akhir-akhir ini sudah pandai menjawab dan membantah.


Ratna tahu selama ini Dindalah yang melakukan segalanya, sementara anak-anaknya dibiarkan saja begitu hingga menjadi orang-orang yang manja dan tidak becus apa-apa.


Ratna sangat terlihat marah, maka Dinda pun memutuskan untuk mengalah. "Baiklah, aku akan memasak sekarang. Tapi, masakan yang gampang dan cepat saja ya, Bu. Karena aku tidak bisa lama-lama berdiri."


"Terserah saja, cepatlah, ibu sudah lapar!" Ratna tidak bisa menutupi rasa kesalnya hingga ia lupa untuk berpura-pura.


Dinda mengerutkan kening dan memutuskan turun ke dapur untuk memasak meski sambil menahan nyeri di perutnya.


Nasi, sayur sop, dan tempe goreng sudah siap di atas meja, Ratna datang dan kedua putri manjanya juga. Ketiganya duduk sementara Dinda masih membereskan bekas masaknya.


Rasa sakitnya masih sangat terasa hingga ia harus segera pergi ke kamarnya. "Bu, aku izin ke kamar dulu," pamitnya dengan wajah memucat.


"Ya, sudah sana, kamu istirahat, Din," sahut Ratna dengan nada lembut, tapi bagai tiada perhatian.


Dengan langkah lemah Dinda menyeret kakinya agar bisa segera sampai di kamarnya, mencari obat pereda rasa nyeri dan meminumnya.


Dinda segera menjatuhkan tubuhnya di kasur, meringkuk dengan lelehan air mata yang tidak bisa terbendung. Biasanya Inu akan mengelus perutnya dan akan menjaganya dengan baik, tidak mengizinkannya untuk melakukan hal apa pun jika dalam keadaan seperti ini.


Tapi, ketika tidak ada dia. Dinda begitu tersiksa, tidak ada yang peduli padanya dan memperhatikannya. Tutur bahasa mereka memang baik, tapi akhir-akhir ini Dinda merasa telah dibodohi oleh orang-orang itu.


Tidak ada kasih sayang mereka untuknya, meski ia mencoba mencurahkan kasih sayang dan perhatiannya pada mereka sama seperti kepada keluarga sendiri.


Dinda sadar, tanpa Inu di sini, Dinda tidak memiliki siapa pun, dia bagai orang asing di rumah ini dan keinginan ingin pergi pun kembali hadir.


Tapi, Inu sedang berusaha keras, makanya akhir-akhir ini dia selalu lembur dan pergi pagi, tidak ada waktu untuk memperhatikan Dinda yang semakin hari semakin berbeda.

***

Hari-hari terus saja berlalu begitu saja, pagi ini Dinda tengah membantu suaminya mengenakan pakaian kerjanya, ia ingin mengatakan sesuatu, tapi ia ragu jika akan membebani dirinya.


"Ada apa, hmm? Kamu sedang memikirkan apa?" tanya Inu dengan lembut.


Dinda menggeleng, seraya tersenyum. "Aku tidak apa-apa, kamu kerja yang semangat, yah. Biar kita bisa beli rumah sendiri, jangan salah paham, Mas."


Segera Dinda akan mengklarifikasi ucapannya tadi. "Bukankah lebih baik jika seseorang yang sudah menikah bisa tinggal terpisah dari orang tua, supaya kita bisa mandiri?" ucapnya meluruskan maksud.


Yang Inu tahu ibunya yang kini terlihat begitu baik pada Dinda, di saat Dinda sakit ibunyalah yang memasak sarapan dan beres rumah. Dan hanya itu saja yang ia tahu, bahkan ia pun menyesali tidak bisa menyewa pembantu rumah tangga untuk memgurus rumahnya hingga ibunya yang harus repot mengurus segalanya.


Ya, itu yang Inu tahu. Maka Inu merasa bersalah karena itu, maka sekali pun ia memberikan seluruh gaji hasil kerjanya pada ibunya pun, itu tidak akan pernah cukup untuk mengganti jasa-jasanya.


"Mas sudah mulai menabung, usaha kantor percetakanku sudah mulai maju dan banyak orderan cetak dan design, alhamdulillah. Makanya mas akhir-akhir ini selalu lembur, itu semua agar kita bisa menabung dan tetap bisa memberi uang belanja kepada ibu," ucap Inu.


"Iya, Mas, aku mengerti, maafkan aku yah, karena terus saja membahas hal ini."


"Tidak apa, mas juga minta maaf, karena mas ke depannya juga akan selalu sibuk, Sayang. Bahkan di hari libur, kamu suport mas yah, supaya tabungan kita bisa terus bertambah." Inu mengelus pipi Dinda.


Dinda tersenyum. "Iya, Mas, ya sudah ayo kita sarapan, ibu sudah capek masak untuk kita."


"Iya sudah, ayo!"


Keduanya menuruni anak tangga dengan senyum menghiasi keduanya, Dinda akan bisa tersenyum jika hanya ada Inu di rumah, maka setelahnya senyum itu akan sirna seketika.


"Inu, Dinda, ayo duduk, ibu sudah buatkan sarapan, ayo makan." Ratna mempersilahkan anak menantunya agar duduk dengan tutur kata yang baik dan lembut.


Tentu Inu yang tidak tahu apa yang terjadi setelah ia pergi akan bagaimana, laki-laki itu pun tersenyum dan dengan patuh duduk di kursinya.


Sarapan pun tampak lengang, hanya suara sendok yang berbenturan dengan piring yang terdengar, tiba-tiba Ratna mulai membahas hal yang tidak penting, membuat suasana antara Dinda dan Inu menjadi tidak enak.


"Apa kalian tidak mau punya momongan?" pertanyaan itu menghentikan gerakan tangan sepasang suami istri itu.


Dinda tampak menaruh sendok dan mengambil gelas minumnya, meneguknya sedikit untuk mendorong makanan yang tiba-tiba nyangkut di tenggorokan.


Melihat sikap cangung istrinya Inu pun menjawab. "Tentu saja mau, Bu. Siapa sih yang tidak mau punya momongan, setiap pasangan yang sudah menikah pasti mau punya anak, tapi tetap saja 'kan. Bukan kita yang menentukan."


"Kalian coba periksa ke dokter, siapa tahu Dinda punya masalah kesehatan sehingga dia susah hamil." Ratna melirik pada menantunya yang tampak hanya menundukkan pandangannya, seakan nasi yang ada di atas piringnya menertawakannya.


Dinda sedih, sangat sedih!


Inu menoleh ke arah Dinda, tampak air mata hampir jatuh dari pelupuk matanya. "Bu, sudahlah, itu tidak per--"


"Aku permisi!" Dinda berdiri dan pergi menuju kamarnya.


"Din, tunggu!" Inu berdiri dan akan mengejar istrinya.


"Inu, sudahlah, kamu makan saja dulu. Memangnya apa yang salah dengan perkataan ibu. Ibu 'kan hanya nyuruh kalian periksa, siapa tahu ada penyakit 'kan bisa cepat ditangani."


"Ibu benar, Kak Inu. Nggak ada yang salah kok sama ucapan Ibu," timpal Bianca.


Inu kembali duduk dan menoleh ke arah tangga, istrinya sudah masuk ke dalam kamarnya.


"Sudah cepat habiskan makanmu, kamu sangat sibuk 'kan, Inu," ucap Ratna dan Inu pun mengangguk.


Ibunya benar, dia sangat sibuk, tidak ada waktu lagi untuk membujuk istrinya. Dia dikejar deadline design yang belum selesai, jadi dia harus cepat makan dan berangkat.


Inu sebenarnya ingin mengejar dan berusaha menghibur istrinya, tapi waktunya sangat tidak memungkinkan. Dia berharap Dinda bisa mengerti.


"Inu, berangkat dulu, Bu." Inu berdiri dan menghampiri ibunya, mencium punggung tangannya dan pergi dari meja makan.


"Aku numpang sampai sekolah, Kak." Cantika juga berdiri dan mencium punggung tangan ibunya dan menyusul kakaknya.


Inu pun sempat melirik ke arah tangga, melihat pintu kamarnya yang tertutup. "Ayo, Kak!" 


Inu melanjutkan langkahnya keluar dari rumah tanpa diantar oleh istrinya. Dia akan memberi waktu sebentar untuk Dinda menenangkan dirinya.


Dinda menatap mobil Inu pergi meninggalkan rumah, ada rasa nyeri di dalam hatinya. Mengapa suaminya tidak datang untuk sekedar berpamitan.

***

Pagi berlalu, Dinda hanya menghabiskan waktu di kamar. Tadi pagi dia tidak sarapan dengan benar, Inu juga tahu. Tapi, mengapa laki-laki itu tidak sama sekali menelefon atau mengirim pesan singkat untuk sekedar menanyakan kabarnya, sudah makan atau belum.


Mungkin Inu sedang sangat sibuk, Dinda tidak boleh terlalu manja lagi pada suaminya. Inu juga sedang bekerja keras demi masa depan mereka, Dinda tidak boleh banyak mengeluh dan membebani pikirannya.


Perutnya lapar, wanita itu akhirnya turun dan menuju dapur. Terkejut, ternyata bekas makan tadi pagi belum ada yang membereskan, diliriknya adik ipar Bianca yang sedang cengar-cengir dengan hp-nya kaya orang gila.


Sementara ibu mertuanya entah ada di mana. Terpaksa Dinda harus membersihkan semuanya lebih dulu, mencuci piring kotor dan menyapu lantainya juga.


Selesai di dapur ia merasa kantung kemihnya terasa penuh, ia pun segera masuk ke dalam kamar mandi dan terkejut di depan kamar mandi itu menumpuk pakaian kotor.


Dinda hanya menghela napas lelah, setelah buang air kecil ia pun segera merendam semua pakaian dengan detergen. Meninggalkannya sebentar dan mulai memasak.


Makanan sudah siap di atas meja, ia pun berpikir memanggil Bianca dan mertuanya untuk makan siang.


"Bi, makan siang sudah siap, tolong panggil ibu," ucapnya lembut.


"Ibu ada di kamarnya, kamu panggil saja!" Bianca malah balik memerintah.


Dinda pun mengehla napas berat kemudian pergi, sementara Bianca memutar matanya malas melihat Dinda yang penampilannya semakin hari semakin tak terurus.


Dinda berdiri di depan pintu kamar Ibu mertuanya, perlahan mengetuk pintu. "Bu, makan siang dulu, aku sudah masak!" serunya seraya mengetuk pintu.


Tak lama pintu terbuka dan terlihat sosok Ratna yang seperti baru bagun tidur. "Kamu sudah bereskan meja makan, Din? Tadi pagi ibu capek jadi mau istirahat saja di kamar," ucapnya tanpa ada nada ketus di setiap intonasinya.


Karena Ratna tahu bagaimana membuat citranya tetap bagus di mata sang anak dan menantunya, diam-diam Ratna meniru sifat anaknya, Cantika.


"Sudah, Bu. Sekarang waktunya makan siang, kita bisa ke meja makan sekarang," jawab Dinda.


"Ya sudah, ayo!" Ratna berjalan di depan dan Dinda di belakangnya. "Apa baju sudah dicuci, Din?" tanyanya.


Dinda terdiam, tapi akhirnya menjawab. "Masih direndam, Bu. Aku akan mencucinya setelah makan nanti.


"Ini sudah lewat tengah hari, Din. Takutnya nggak pada kering, tapi kalau kamu lapar nggak apa-apa makan dulu saja," jawab Ratna melanjutkan langakah menuju meja makan.


Ratna dan Dinda sudah sampai di meja makan, Ratna langsung duduk begitu pun dengan Dinda. "Cantika kamu sudah pulang," sapa Ratna.


Cantika mengangguk dan melirik ke arah Dinda. "Kakak, dress aku yang warna navy itu sudah kering belum? Soalnya abis Magrib mau dipake ke acara teman," ucapnya.


Ratna pun menoleh ke arah Dinda yang tampak bergeming dan menoleh kembali ke arah Cantika. "Kakak iparmu belum nyuci, pakai baju lain saja, Can."


"Nggak bisa gitu, Bu. Aku nggak ada dress lain yang warna navy, cuma itu satu-satunya," Cantika merajuk dengan mata yang hampir menetesakan air mata.


"Ya sudah, jangan cemas, kakak akan mencuci sekarang, pasti sore juga kering." Dinda berdiri, tapi Ratna pura-pura mencegah.


"Makan dulu, Din."


"Tidak usah, Bu. Aku sudah tidak lapar, Dinda permisi dulu." Dinda pergi dan ketiga manusia itu tertawa tanpa suara, makan dan tidak peduli dengan Dinda yang kini tengah menyeka keringatnya lelah mengucek-ngucek cucian.

***

Lelah dan letih sehabis mencuci, Dinda kembali ke dapur dan melihat sisa-sisa makanan di atas meja. Ada rasa teriris di dalam hatinya, mengapa hidupnya sepahit ini.


Dinda makan dengan sisa makanan yang ada di atas meja, ini sangat keterlaluan tapi Dinda tetap bertahan. Tidak tahu dia ini bodoh atau apa, yang pasti dia tidak bisa menceritakan segalanya pada suaminya.


Selesai makan dia kembali membereskan segalanya, dan pergi ke kamarnya untuk membersihkan diri.


Dinda bersimpuh di atas sajadahnya, memohon apa itu yang namanya kebahagiaan agar segera datang padanya. Bukan, bukan dia tidak bahagia menikah dengan Inu Darmawan, tapi ....

***

Sehabis shalat Ashar Dinda ketiduran di atas sajadahnya, suara ketukan pintu membangunkan dirinya. Dinda bangkit dan berjalan menuju pintu.


"Cantika, ada apa?" tanyanya dengan suara khas bangun tidur.


"Kak bisa minta tolong setrikain baju aku, nggak? Sebentar lagi aku mau pergi dan sekarang aku harus mandi, tolong yah Kak, please ...." 


"Ya sudah, biar kakak setrikakan, Cantika. Taruh saja di bawah nanti kakak ke sana," titahnya.


"Oke, sip!" serunya dan segera berlalu.


Dinda kembali masuk ke kamarnya, lelah. Dinda sangat lelah dengan hidupnya, tapi demi suaminya ia tetap diam dan menerima.

***

"Terima kasih, Kakak Ipar!" serunya seraya mengambil dress navy yang baru Dinda setrikakan. Cantika kemudian pergi tanpa melihat kondisi Dinda yang tampak tidak sehat.


"Sshh! Perutku ...." Dinda meremas perut bagian bawahnya yang sangat terasa nyeri.


"Kenapa sakit lagi? Ini bukan waktunya datang bulan 'kan. Ssh, aw!" Dinda segera berjalan meski terseok-seok, menaiki anak tangga satu per satu dengan mencengkram kuat besi pembatas karena takut terjatuh.


Dinda segera menjatuhkan tubuhnya ke atas ranjang, tidur meringkuk menahan rasa sakit di perutnya, air mata tanpa terasa mengalir deras tanpa ia sadari.


Bukan hanya sakit di fisiknya yang ia rasakan, tapi rasa sakit di hatinya pun lebih menyakitkan. Di kondisi seperti ini tidak ada satu pun orang yang tahu, tidak suaminya tidak juga yang lainnya.


Padahal dia sudah lakukan segalanya demi keluarga ini, mencoba menjadi orang yang pengertian, penyabar dan menerima segalanya. Tapi, balasan mereka hanya bisa memanfaatkannya.


"Aaah!" Dinda hingga tak sadarkan diri menahan rasa sakit yang menderanya.

***

Malam telah larut, Inu masuk ke dalam kamar dengan keadaan yang sangat lelah, ia melihat istrinya yang terpejam, Inu kira Dinda tertidur, jadi dia pun tidak mau menganggunya.


Laki-laki itu langsung tertidur di samping istrinya karena terlalu lelah. Hingga pada saatnya Dinda pun terbangun sendiri dari pingsannya.


Dia sudah mendapati suaminya telah tertidur pulas di sampingnya, rasa sakitnya telah berkurang dan Dinda melirik ke arah jam dinding ternyata sudah pukul 5 pagi.


Dinda menoleh ke arah suaminya lagi, mengulurkan tangan dengan ragu saat ingin menyentuh wajahnya. Suaminya tampak lelah, membuat Dinda tidak tega membangunkannya.


Dinda beringsut turun dan masuk ke dalam kamar mandi, membersihkan diri dan mensucikan diri. Lagi dia melihat ke arah suaminya yang masih terlelap.


Perlahan ia melangkah ke samping suaminya, menyentuh wajahnya yang tampan. Tampak terlihat lelah dan lesu, tapi shalat adalah kewajiban, ia sebagai istri harus mengingatkan.


"Mas, bangun." Dibelainya wajah suaminya dengan lembut.


Inu tersenyum dan membuka kedua matanya. "Bangun, Mas, shalat," ucapnya lemah lembut.


"Hmm, iya, Sayang. Iya, aku juga harus berangkat pagi hari ini." Inu bangun dan mencium kening istrinya.


Laki-laki itu segera turun dan menuju kamar mandi, bahkan dia tidak menyadari perubahan sikap Dinda akhir-akhir ini. Dinda yang dulu ceria dan manja, selalu menebar senyum.


Kini tidak lagi, dia lebih banyak diam dan terlihat lemah dan pucat. Tubuhnya yang dulu langsing berisi kini ia terlihat begitu kurus, lalu bagaimana Inu tidak menyadari perubahannya.


Inu terlalu fokus pada pekerjaannya yang kini tengah maju-majunya hingga ia sangat sibuk dan tidak memeperhatikan pendamping hidupnya.


Setelah shalat Dinda masuk ke dalam dapur, memasak masakan kesukaan suaminya, mengantar suaminya pergi ke kantor, dan membereskan rumah seperti biasa.


Entah mengapa hari ini Dinda begitu sangat bersemangat dan melakukan semuanya dengan rasa bahagia. Begitu pun dengan Inu di kantornya, laki-laki itu tengah senang karena omset usaha percetakannya bulan ini meroket.


Tidak sia-sia usahanya selama ini, lembur, berangkat pagi pulang malam karena pada akhirnya membuahkan hasil.


Disentuhnya gambar seorang wanita yang di dalam bingkai itu. "Din, mas akan kabulkan permintaanmu, Sayang. Mas sekarang sudah mampu membeli rumah untuk kita berdua. Ini semua berkat doamu, Din. Maaf karena akhir-akhir ini aku tidak terlalu memperhatikanmu. Aku akan berikan kejutan ini untukmu, aku sudah tidak sabar bertemu denganmu."

***

"Dasar menantu bodoh, mau saja dia kita jadikan pembantu," ucap Ratna dengan nada sinis.


"Haha, Ibu benar, itu orang bener-bene baik apa terlampau bodoh, yah. Sampai-sampai kita kerjain setiap hari dia tidak sadar," timpal Bianca.


"Ibu dan Kakak 'kan awalnya bersikap blak-blakan, pada akhirnya ngikutin cara aku juga 'kan. Ternyata pura-pura baik di depan Dinda itu lebih menguntungkan dari pada benci terang-terangan, itu lebih riskan. Kalau kak Inu tahu bisa berbahaya, 'kan?" sambung Cantika.


Dinda menutup mulutnya, tanpa terasa air matanya berderai sangat deras, mendengar percakapan ketiga orang itu membuat perasaannya sangat sakit.


Iya, dia memang bodoh, Dinda memang na'if, dia mau melakukan apa pun demi mereka itu semua karena rasa cintanya pada suaminya.


Tapi, ia tidak menyangka, balasan mereka begitu kejam. Tanpa pikir panjang Dinda mundur dari tempatnya tadi saat tidak sengaja mendengarkan percakapan mereka.


Wanita itu keluar dari rumah kemudian lari, lari sejauh mungkin yang ia bisa. Biarkan kakinya melangkah membawa tubuhnya pergi dari rumah yang penghuninya tidak memiliki hati.


Siang itu langit begitu gelap, hitam pekat bagai hati seorang Dinda saat ini. Tak lama air langit mengguyur dengan derasnya, sederas air mata seorang menantu yang teraniyaya.


Dinda terus berjalan di dalam derasnya hujan, tidak terasa kini kakinya menapaki sebuah halaman sebuah kantor percetakan.


Iya, Dinda beberapa kali pernah datang ke tempat ini, tapi tidak menyangka di dalam ketidaksadarannya ternyata kaki membawa dirinya pada tempat ini.


Hujan masih deras, Dinda melangkah masuk ke lobby kantor dengan keadaan basah kusup. "Ibu, kemari?" tanya seorang satpam yang bekerja di kantor suaminya.


"Bapak ada, Pak Satpam?" tanya Dinda dengan bibir yang bergetar dan kedua tangan mendekap tubuhnya sendiri.


"Bapak sedang ke luar, Bu," jawab Satpam.


"Baiklah, apakah boleh saya menunggu bapak di dalam ruanganya, Pak?" tanya Dinda lagi.


"Boleh, Bu, silahkan." Satpam mempersilahkan istri dari bosnya itu memasuki kantor kecil itu.


Dinda masuk ke dalam ruangan di mana suaminya bekerja, dia kemudian duduk di kursi kebesaran suaminnya ini, menatap dua komputer alat bekerjanya dan satu bingkai foto bergambarkan dirinya dengan Inu.


Dinda tersenyum meski wajah dan bibirnya memucat, Inu sangat mencintainya dan Dinda sangat berayukur.


Wanita itu melirik jam ternyata sudah pukul 2 siang, Dinda menunggu suaminya hingga ia merasa lelah dan menyandarkan tubuh bagian depannya ke meja kerja suaminya dan menutup matanya perlahan.

***

Pukul 5 sore Inu kembali ke kantornya, ia tadi pergi menemui perusahan property untuk mengambil satu unit rumah untuk dijadikan hadiah pada istrinya. Inu sangat bersemangat dan sangat bahagia, tidak sabar membawa istrinya besok ke rumah baru mereka.


"Pak, tadi ibu datang," ucap Satpam yang memang belum pulang.


"Apa? Sekarang di mana dia?" tanya Inu sangat cemas.


"Ada di ruangan Bapak, pukul 2 tadi Ibu datang jalan kaki, Pak," lapor Satpam lagi, menambah kecemasan di hati Inu.


Pukul 2 dan sekarang sudah pukul 5 sore, 3 jam istrinya menunggu dan tadi dia datang dengan berjalan kaki, sementara ia tahu hujan tadi sangat lebat.


Pasti ada yang tidak beres!


Inu tidak bisa menekan rasa khawatirnya, segera ia berlari ke ruangannya dan mendapati istrinya tertidur di atas kursi dengan posisi kepala dan tangan di meja kerjanya.


Inu segera mendekat, melihat wajah istrinya yang pucat, tapi tersenyum damai. Pakaiannya masih sama seperti tadi pagi, dan kini sudah sedikit mengering.


Inu tiba-tiba merasa iba melihatnya, 3 jam istrinya menunggu dengan keadaan pakaian basah hingga kini telah mengering dengan sendirinya.


Dia pasti demam. Disentuhnya tangan istrinya yang putih, dingin. Tubuh istrinya dingin sedingin es. Inu panik, mana mungkin tubuh istrinya bisa sedingin ini?


Segera ia mengangkat kepala istrinya dan membawanya ke dalam pelukannya, di periksanya lagi suhu tubuh istrinya, dingin. Inu semakin cemas dan dengan ragu dan takut Inu memeriksa nafas dan denyut nadinya.


Inu terbelalak, tubuh laki-laki itu jatuh dengan tubuh Dinda yang ada di pelulakannya. 


"Tidak mungkin! Dinda tidak mungkin meninggal, tidak mungkin istriku pergi meninggalkan aku. Din, Dinda! Bangun, Din!" 


Inu tanpa sadar berteriak dan menangis membuat satpam yang masih berjaga di lobby pun segera masuk ke dalam ruangan bosnya.


Satpam terkejut saat mellihat bosnya duduk di lantai dengan istrinya yang ia peluk erat, menangis meraung memanggil namanya, di saat itulah Satpam pun mengerti apa yang sudah terjadi, ia menunduk dan berbela sungkawa.


===============================


"Tanpa terasa 1 Tahun kita bersama, suka dan duka kita lalui berdua. Meski kini aku tahu kamu lebih banyak merasakan duka saat menikah denganku. Maaf, maafkan aku, Din. Harusnya aku mendengarkanmu saat kamu ingin tinggal di rumah sendiri waktu itu, harusnya aku bisa berusaha lebih cepat untuk mewujudkan keinginanmu, Din. Tapi, bukankah aku sudah berusaha, hingga aku lupa memperhatikanmu. Aku tidak sadar banyak yang berubah dari sikap dan fisikmu akhir ini. Kamu mengidap kanker rahim, dan aku tidak tahu. Maafkan aku. Lalu untuk apa semua ini aku miliki kalau kamu sudah pergi lebih dulu ke rumah yang lebih baik dari apa yang aku beri untukmu?"


THE END


Penulis: NityShu


4 Comments