Suamiku Perkasa. Bab 86-87



 Bab 86


Roy terlelap di samping Gera dengan posisi duduk. Kepalanya ia posisikan sejajar dengan tangan Gera agar bisa menciuminya kapan saja. Roy menghela napas panjang yang terdengar lelah, istrinya masih tertidur pulas. "Tidak bisakah kau bangun lalu berkata, 'Aku sudah memaafkanmu, Roy.' Dengan begitu hidupku akan sedikit lebih tenang, sayang. Kau sangat suka membuatku cemas dan panik seperti ini." 

"Tenanglah, Gera pasti memaafkanmu, sayang." Hibur Rita sambil menghapus jejak-jejak air mata di pipi cucunya. 

"Kau bisa meyakinkan istrimu. Nenek yakin seribu persen. Lakukanlah dengan perlahan, Roy." Ia sendiri tahu kalau cucunya salah. Tapi dia juga tidak akan mau jika ada perpisahan karena hal sesepele ini antara Gera dan Roy. Dalam hati Rita, dua insan ini harus tetap bersama.

Luisa bisa melihat kesungguhan Roy dalam diri pria itu saat ini. Ia menangis terisak sambil memegang erat tangan istrinya bahkan berkali-kali menghujaninya dengan ciuman yang begitu dalam. Kondisi Gera sebenarnya hanya berfokus pada kakinya yang retak. Hanya saja, karena pikiran Gera yang kacau dan membuatnya tertekan, dokter memberikan sedikit obat tidur untuk menenangkan wanita malang itu.

"Luisa, sebaiknya kau kembali. Anak-anak pasti mencarimu. Biar aku saja yang merawat Gera di sini. Aku ingin meminta maaf padanya." Suruh Roy masih dengan sisa isak tangisnya. 

"Triplets lebih membutuhkan kau dan Gera! Setiap hari mereka bertanya kapan kalian akan pulang, apa Mama dan Papa tidak merindukan kami?" Luisa menggambarkan bagaimana anak-anaknya berbicara. 


"Lagipula, Roy. Minta maaf saja tidak akan merubah apapun. Yang perlu kau lakukan adalah merubah sifat dan sikapmu pada Gera. Jangan sampai dia berpikir buruk tentangmu karena hal itu bisa berakibat fatal. Terutama untuk kau!" Tekan Luisa. 

"Sudah. Nenek dengar, pengobatan di rumah sakit ini sangat bagus. Jadi kalian tidak usah khawatir. Gera pasti akan secepatnya membaik. Doakan yang terbaik untuknya." Sela Rita menghentikan debat mereka. 

Beberapa menit hanya suara angin yang mengisi ruangan ini. Semuanya tidak ada yang bersuara, sibuk dengan pikiran masing-masing. 

"Eeuunngg...." Roy tersentak saat mendengar Gera yang melenguh pelan. Ia angkat kepalanya dan mendapati tangan Gera yang mulai bergerak. Ia heboh dan memanggil Luisa juga Rita. 

"Nek, Gera akan sadar! Pekik Roy tak mampu menyembunyikan wajah bahagianya. Rita menghampiri cucunya dengan perasaan tak kalah semangat. 

Perlahan mata Gera mulai terbuka, ia mengerjap beberapa kali untuk menyesuaikan penglihatannya dengan cahaya yang ada di ruangan ini. Gera melihat Roy, betapa senangnya pria itu menyambut istrinya dengan senyum hangat. Tapi satu detik, dua detik, Gera memalingkan wajahnya dan tersenyum kaku melihat Luisa dan juga Rita. 

"Ge, ma... Maafkan aku." Lirih Roy. 

"Nanti dulu, sayang. Akan ada waktu yang tepat. Tunggu Gera pulih dan hatinya membaik dulu." Bisik Rita mengingatkan Roy. Pria itu mengangguk pasrah. 

Gera melepas tangannya yang digenggam Roy dan memegang tangan Luisa. "Bagaimana kau bisa di sini? Anak-anak?" Tanya Gera lirih. Suaranya masih serak efek terlalu lama tertidur. 


"Itu tidak penting. Anak-anak oke, mereka bersama Pak David. Kau tenanglah dulu." 

"Ini minumlah dulu agar suaramu tidak serak. Tenggorokanmu pasti terasa kering." Ujar Roy menyodorkan botol air mineral lengkap dengan sedotannya. 

Betapa senang hati Roy saat Gera mau minum air darinya walaupun tidak mau melihat dirinya. Tak apa, ini saja sudah sangat membuatnya bahagia. "Kenapa kau di sini?" Celetuk Gera datar. Roy yang merasa ditanya menoleh dengan senyum tipisnya. "Tentu saja untuk merawatmu, sayang." Jawab Roy. 

"Tak perlu. Aku tidak sakit. Luisa tolong beli tiket untuk kita pulang. Aku tak sabar ingin menemui triplets." Bantah Gera lagi. Tatapan kecewa dari Roy sangat jelas di wajahnya. 

"Ge, kau akan pulang bersamaku setelah kau pulih nanti." Ujar Roy lagi. Ia masih mempertahankan sikap sabarnya. "Kubilang tidak ya tidak! Urus saja Liramu itu! Aku tidak penting untukmu." Bentak Gera marah. Air matanya tak bisa ditahan lagi. 

"Ge, dia hanya temanku. Maaf atas sikapku yang membuatmu marah dan kecewa. Aku salah. Maafkan aku, sayang." Kata Roy lembut. 

"Pergi, Roy!" Gera menggeram. Luisa memberi isyarat agar Roy segera pergi dari sini sebelum membuat kondisi Gera semakin parah.

"Pergi!" Pekik Gera lagi. Roy menunduk dan berlalu pergi dari ruangan Gera. Ia sangat terpukul dengan penolakan dari Gera. Iya, ini memang salahnya. Tidak adil jika Roy terlalu menuntut Gera. 

Rita menyusul Roy di luar. Menepuk pundaknya lembut. "Nenek percaya, kau pasti bisa. Kuatkan keyakinanmu, sayang. Percaya pada Nenek." 

"Gera sangat marah pada Roy, Nek. Dia sangat benci melihat Roy di dekatnya." Lirih Roy. 

"Aduh... Cucu Nenek yang tegas itu kemana ya? Kenapa jadi loyo gitu? Bangkit dong! Usaha!" Tegas Rita memancing emosi Roy. 

***

"Ge, tenanglah. Kau bisa melewati semuanya seperti sebelum-sebelumnya. Ingat, kau adalah wanita tangguh!" Bisik Luisa sambil memeluk Gera. 

"Kau sudah tahu?" Gera mendongak untuk bertanya pada Luisa. "Kau kira untuk apa Nenek menyuruhku kemari tanpa memberitahuku akar permasalahannya? Jelaslah aku sudah tahu." 

"Roy sangat jahat, Lui. Dia sangat menyakitiku." Kata Gera terisak lagi. 

"Wait! Aku sudah tahu dia memang sangat jahat, Ge. Tapi yang harus kau tahu adalah, ketika kau belum sadarkan diri selama hampir sehari, Roy sedetikpun tidak beralih dari sampingmu. Dia terus saja memegang tanganmu dan menangis tersedu-sedu." Terang Luisa. Walaupun dia sangat marah pada Roy, tapi salah jika dia tidak membantu hubungan mereka membaik demi triplets. 

"Kau bohong!" Tuding Gera. 

"No. Tanyakan Nenek jika kau tak percaya." Suruh Luisa. Gera tertawa mendengarnya. Ia tak menyangka jika Roy sampai seperti itu. 

Hari demi hari, Roy yang merawat Gera walaupun Gera sendiri tidak terlalu mau memperhatikan Roy. Kaki Gera perlahan mulai membaik, sedang Luisa sudah kembali untuk menjelaskan pada triplets bahwa Mama dan Papa mereka belum bisa kembali. 

"Terima kasih." Ujar Gera datar saat Roy sudah selesai menyuapinya makanan. 

"Apapun untukmu, sayang." Roy mengecup singkat pipi Gera. Yang membuat Roy senang, akhirnya Gera tidak menolak ciumannya. Biasanya dia akan mendorong Roy kasar. Ini berarti akan ada perubahan besar di depan, pikir Roy. 

Gera tersenyum-senyum sendiri mengingat bagaimana dirinya dirawat oleh Roy. Dia yang mengelap badan Gera, menyuapinya makan, hingga menemaninya sampai kantuk menghampirinya. Roy dengan sabar menahan matanya agar tidak tertidur mendahului Gera. Mengingat itu, Gera merasa salah jika harus menghakimi Roy seperti ini. 

"Roy, kemarilah." Panggil Gera tanpa melihat. Pria itu sangat menuruti Gera, ia berjalan mendekat dan duduk di bawah ranjang Gera. Roy takut Gera akan marah jika ia duduk di depannya. 

"Kenapa di situ? Di sini." Tunjuk Gera menepuk tempat kosong di sampingnya. 

Dengan ragu Roy duduk di sana. Tapi apa maksudnya? Apa Gera sudah tidak marah lagi padanya? Semoga saja. 


"Maafkan aku." Roy terkejut saat Gera menghambur ke dalam pelukan Roy dan meminta maaf. "Eits, aku yang salah lalu kenapa kau yang minta maaf?" Tanya Roy lembut. 

Gera menggeleng. "Tidak Roy. Aku salah karena terus saja menghindarimu." 

"Baiklah. Sudah kumaafkan. Lalu apa lagi yang kau mau?" Bisik Roy saat membalas pelukan Gera. 

Beberapa detik Gera terdiam membuat Roy menunggu dengan kesabaran ekstra. "Aku ingin ini." Cicit Gera menunjuk ke selangkangan Roy. Ia menunduk malu dan tak berani memperlihatkan wajahnya pada Roy. 

"Aku sudah lama merindukan juniormu." Tambah Gera. Tawa Roy hampir pecah melihat apa yang dikatakan oleh Gera. Namun ia menahannya agar Gera tidak kecewa dan semakin malu. 


"Memangnya kau saja yang ingin, aku juga sangat merindukan rumahku." Timpal Roy mulai menyesap perlahan ceruk leher Gera. 

Lenguhan Gera memancing gairah Roy semakin berkobar. Celananya bahkan sudah terasa sangat sesak sekarang. "Kau membuatku tak sabar." Ujar Roy segera menidurkan Gera dengan hati-hati. Ia membuka semua kain yang menutupi setiap inci tubuh yang ia rindukan itu. 

"Apa kau yakin kakimu sudah tidak terasa sakit?" Tanya Roy memastikan. Gera mengangguk yakin. 

Tatapan lapar Gera tak teralihkan dari apa yang ada di antara selangkangan Roy. Benda itu seakan menodong dirinya, namun membuatnya semakin tertantang. Tangannya entah kapan sudah bermain pada benda panjang dan tumpul yang sangat lembut namun sekeras besi itu. "ini favoritku."

"Pilihan yang sempurna, sayang. Kukira kau lebih suka yang ini."

Gera mengangguk. "Tentu saja sangat suka. Itu adalah bagian ternikmat, Roy." Timpalnya tanpa malu. 

"Istriku sudah semakin pintar sekarang." Sanjung Roy. Gera tersenyum bangga. "Aku selalu belajar agar bisa membuatmu puas, babe!" Balas Gera. 

***

"Mama, Papa!" Pekik Rio saat melihat Roy menggendong Gera datang dari pintu utama. 

"Hi, kids! Mama sangat merindukan kalian!" Seru Gera melambaikan tangan bahagia. 

Triplets menghampiri Gera dan Roy hingga membuat langkah Roy terhenti. "Kenapa Papa menggendong Mama? Apa yang terjadi?" Tanya Ray. 

"Lihat! Kaki Mama terbungkus!" Seru Rico heboh sendiri. 

"Mama tidak apa-apa. Hanya terkilir sedikit." Sergah Gera tak mau membuat anak-anaknya cemas. "Ayo kita papah Mama ke kamar!" Ajak Ray diangguki adik-adiknya. 

"No. Mama berat. Biar Papa saja yang menggendong Mama. Kalian bisa memberitahu Kakek kalau kami sudah pulang." Suruh Roy. Triplets berlari ke arah kamar kerja David sedangkan Roy membawa Gera masuk ke kamar untuk istirahat. 

Beberapa saat mereka merebahkan diri, David datang tapi tidak bersama anak-anak. "Roy, ikut Papa sebentar. Ada yang ingin Papa katakan padamu." Ajak David datar. Gera menatap bingung Papanya. Apa yang terjadi? Roy sedikit gugup entah karena apa. Apa mungkin David akan menanyakan masalah mereka selama di Rio?



Bab 87


"Pa, ada yang perlu Papa bicarakan?" Tanya Roy agak canggung. David tidak menjawab, ia hanya memberi isyarat agar Roy duduk di sofa di depannya. 

"Maaf Papa sudah menganggu istirahatmu, Roy. Kau pasti sangat kelelahan." Roy mengangguk mengerti akan apa yang Papa mertuanya ini katakan. 

David menghela napas pelan. "Apa yang terjadi antara kalian di Rio? Luisa tidak mau memberitahu Papa, tapi malam itu Papa tidak sengaja mendengar Luisa yang terisak dan berbicara pada seseorang. Dia menyebut nama Gera dan mengumpat sembari menyebut namamu. Sebenarnya apa yang terjadi, Roy? Papa sangat cemas. Maaf, bukan maksud Papa untuk ikut campur dalam rumah tangga kalian. Papa hanya ingin tahu." 

"Maafkan Roy, Pa. Ini semua salah Roy. Ada kesalah pahaman diantara kami, yang membuat Gera dan Roy bertengkar." Terang Roy jujur. 

Papa mertuanya hanya mengangguk dan menghela napas berat. "Satu hal  yang Papa minta dari kamu, Roy. Jaga Gera sebaik mungkin. Papa salah besar tidak pernah bisa membuat Gera bahagia sejak dulu. Dia yang selalu hidup mandiri dan tidak mau bergantung. Kamu adalah harapan terakhir Papa untuk membuat Gera selalu bahagia." Ujar David sambil menepuk pundak Roy. 

"Akan Roy usahakan, Pa." 

 Sebenarnya ada sebersit kekesalan dalam hati David karena kelakuan Roy. Rita yang memberitahunya, tapi ia sengaja pura-pura tidak tahu apapun. Anak semata wayangnya sudah cukup menderita selama ini. Jadi dia sendiri tidak mau jika Gera terkena masalah dengan siapapun. Termasuk Roy juga dirinya. 

"Tapi ingat pesan Papa, Roy! Jaga Gera dan jangan lukai dia sedikitpun. Jika kau berani membuatnya sedih, Papa yang akan bertindak. Papa mengingatkanmu karena Papa tidak mau melihat Gera yang sudah sangat sering tersakiti merasakan hal itu lagi. Camkan itu baik-baik!" Tegas David tanpa ekspresi. 

Roy terngiang-ngiang akan apa yang David katakan tadi. Dia merasa dirinya adalah pengecut. Roy tidak memiliki keberanian untuk mengatakan yang sebenarnya pada David. Ia takut David akan marah padanya dan tidak mengizinkannya bertemu lagi dengan Gera, walaupun secara teknis Gera sekarang adalah milik Roy seutuhnya. 

"Kenapa, sayang?" Tanya Gera sembari mengelus lembut pundak suaminya. Roy menggeleng tanpa menjawab pertanyaan Gera. "Ayo kita tidur." Ajak Roy untuk mengalihkan pembicaraan. 


***

Prang!

"Tante, Geri menjatuhkan piring itu hingga pecah. Kau harus dihukum, Geri!" Pekik Alea dengan wajah takutnya. 

Leva datang terburu-buru dan segera membersihkan serpihan-serpihan piring yang bisa membahayakan anak-anak di sini. "Ger, lain kali berhati-hatilah. Kau bisa terluka jika seperti ini." Tegas Leva dengan nada sedikit malas. Ia kelelahan, namun pekerjaannya ini memang menuntut Leva untuk terus terjaga. 

"Bukan aku yang melakukannya, Tante." Geri mengelak dengan mata berkaca-kaca. "Lea! Kau jangan menuduhku seperti itu! Dengan sangat jelas aku melihatmu membanting piring itu dengan sengaja. Kau jahat!" Teriak Geri marah sambil menuding Alea. 


"Bukan aku yang melakukannya, Tante. Geri yang salah." Cicit Alea sambil menunduk. 

"Jangan tertipu, Tante! Dia memang pintar berakting. Kau licik, Lea!" Pekik Geri geram. 

Leva pusing dengan keadaan di sini. Ia begitu pengap melihat anak-anak yang terus saja bertengkar. "Sudah... Sudah... Jangan bertengkar lagi. Geri, kembali ke ruanganmu. Alea, kau juga!" Suruh Gera. 

Huaaa!

Mendengar suara tangis, Leva berbalik. "Geri, kau kenapa?! Apa yang terjadi?" Pekik Leva terkejut. Ia segera menghampiri Geri yang terduduk sambil memegang bagian perutnya.

"Apa perutmu sakit?" Tanya Leva cemas.  Geri mengangguk lemah. "Lea yang menonjok perutku, Tante. Dia marah padaku karena aku melaporkannya padamu." 


Segera Leva membawa Geri menuju ruangannya dan memeriksa bagian perut Geri. Bagaimanapun, dia juga titipan di sini. Geri sendiri bisa berada di sini karena masalah broken home. Keluarganya terpecah dan membuat dirinya seringkali tidak bisa mengendalikan emosi. Bahkan ia juga sering memukul kepalanya sendiri. 

Leva mengingat semua kejadian yang pernah terjadi pada Alea. Baginya itu termasuk masalah berat. "Maafkan aku,Ge. Untuk sementara ini Alea aku tempatkan di ruang isolasi." 

"Kenapa bisa begitu?!" Tanya Gera kaget. Leva hanya mengangguk dan menundukkan kepalanya. 

"Ge, dia terkena kondisi yang dinamakan Conduct Disorder. Bagiku sendiri ini adalah masalah yang sedikit berat. Alea beberapa kali memecahkan vas, atau bahkan piring makan. Setelah dia melakukan itu, dia akan menuduh temannya. Dan jika temannya memberontak, dia akan memukulnya. Kemarin baru terjadi, Ge. Dia memukul perut temannya hingga menangis." Terang Leva. Sementara Gera hanya terdiam mendengarkan penuturan Leva. 

Dia tidak tahu harus berkata apa. Pasalnya dia memang tidak memahami gadis kecil itu karena dirinya pun baru mengenal Alea. Yang sangat ia sayangkan adalah Dewi yang merupakan dalang di balik semua gangguan mental Alea.

"Aku sangat menyayangkan kondisi gadis kecil itu. Tapi aku sama sekali tidak tahu apa yang harus aku lakukan untuknya karena aku pun baru mengenalnya." Gumam Gera frustasi. Ia menjambak pelan rambutnya, menekan kepalanya yang terasa sedikit berdenyut. 

"Tenanglah, Ge. Aku akan berusaha semaksimal mungkin untuk membantu Alea sembuh." Leva berusaha meyakinkan Gera. 

Karena dirinya dan juga Roy sudah setuju untuk merawat Alea, jadi dia harus meneruskan semua perjuangan ini demi gadis kecil tak berdosa itu. 

"Tante!" Seorang anak memekik membuat Leva dan Gera sedikit tersentak kaget. Mereka mengedarkan pandangan, mencari suara yang memanggil. Hingga datang seorang anak  laki-laki dengan wajah yang sudah basah karena air mata. 

"Ada apa, kau kenapa?" Tanya Leva lembut sambil berjongkok di depan anak itu. 

"Lea menyentuhku. Dan itu sedikit menyakitkan. Dia hampir menggenggamnya keras, hingga aku mendorongnya dan dia terjatuh. Maafkan aku." Anak itu menunjuk bagian selangkangannya yang tertutup tangannya sendiri. 

"Sudah, tak apa. Kembalilah ke kamarmu. Tante akan menghukum Lea sekarang. Oke?" Anak itu mengangguk dan segera berlari dengan wajah takutnya. 

Leva menghela napas berat dan kembali duduk dengan perasaan bercampur aduk. "Kau bisa melihatnya, Ge." Lirih Leva. 

Gera mengikuti Leva menuju ruangan Alea. "Alea, Tante ingin menanyakan sesuatu." Gadis kecil itu tersenyum manis saat melihat Gera juga ada di sana bersama Leva. 

"Kau juga ikut? Dimana Roy?" Tanyanya tak sopan. Gera hanya menjawab dengan senyuman, dan mengatakan bahwa Roy ada rapat penting. 

"Sayang sekali, padahal aku ingin sekali menyentuhnya. Tubuhnya sangat dingin. Aku suka itu." Mendengar itu hati Gera meradang. 

"Lea! Kau tidak boleh seperti itu. Mereka orang tua angkatmu. Jangan bersikap tidak sopan!" Suara Leva meninggi. "Kau juga mencoba menyentuh kemaluan temanmu. Tolong berhentilah bersikap seperti itu. Kau harus mengikuti peraturan agar kau cepat sembuh." Tambah Leva. 


"Maaf, aku hanya ingin merasakan itu lagi. Aku berjanji tidak akan melakukannya lagi. Lagipula rasanya tidak enak. Miliknya kecil, tidak seperti milik om-om teman Mommy." 

Gera memilih untuk keluar. Ia tidak sanggup mendengar apa yang anak itu katakan. Setelah Leva keluar, Gera pamit pulang tanpa menemui Alea terlebih dulu. 

Sesampainya di rumah, kepalanya begitu pening dan memaksa Gera untuk duduk sebentar di sofa ruang tamu. Ia memijit kepalanya yang terasa sangat berat. "Sudah Papa bilang, jangan mengambil alih anak itu!" Celetuk David dari arah belakang. 

"Pa, jangan lagi." Lirih Gera. Ia sangat lelah, baik pikiran juga badan. 

"Kamu keras kepala, Gera! Papa sudah ingatkan kamu dan juga Roy. Tapi kalian terlalu egois hingga tidak mau mendengar masukan dari siapapun. Kebiasaan mengambil keputusan tanpa berpikir panjang." Omel David. Terus terang saja ia sangat kesal melihat Alea, apalagi setelah tahu bahwa Alea itu adalah anaknya Dewi. 

"Dia memang sengaja membuat hidupmu dan Roy susah." 

Gera mengangkat wajah dan menatap Papanya dengan tatapan lelah. "Gera sudah bilang hentikan, Pa! Ini keputusan Gera dan Roy. Papa jangan terlalu ikut campur jika tidak suka!" David tersentak saat Gera mulai meninggikan suaranya. 

"Tapi anak-anakmu kesepian! Mereka merasa kau dan Roy lebih memperhatikan gadis sialan itu daripada cucu-cucuku. Kau egois, Gera!"  Seru David tak kalah kerasnya. 

Tak mau diam lagi, Gera akhirnya berdiri dan mendekati Papanya. "Pa, Gera tidak pernah membeda-bedakan siapapun di sini. Gera tulus ingin membantu anak malang itu. Pa, ingatlah! Anak ini hampir saja menjadi anak Papa juga dulu." 

Deg! 

David teringat akan kisah percintaannya dengan Dewi. Bukan percintaan sebenarnya, mereka hanya saling memuaskan nafsu saja. Benar apa yang Gera katakan. Jika dia tidak menyadarinya dari awal, maka Alea akan menjadi anaknya sekarang. 

"Sudahlah, Pa. Kelanjutannya akan Gera rundingkan dengan Roy. Kasihan Alea jika otaknya rusak saat usianya sekecil itu." Lirih Gera. Ia beranjak meninggalkan Papanya yang masih terpaku di tempat. 

***

"Roy, aku lelah. Alea semakin bertingkah. Papa juga bilang, anak-anak mulai merasa kalau mereka dikesampingkan semenjak kita memutuskan untuk merawat Alea." Keluh Gera dengan helaan napas panjangnya. 

Pria itu memeluk istrinya erat. "Aku juga berpikir begitu, sayang. Kita sebaiknya menitipkan Alea di panti asuhan. Tentu setelah dia sembuh dari penyakitnya." 

"Tapi itu akan terdengar sangat tega Roy. Aku sedih jika hal itu terjadi." Erang Gera sambil menyeka air matanya. 

"Stt... Sayang, kita tidak boleh egois. Anak-anak masih membutuhkan kita. Aku juga tidak mau mereka sedih hanya karena kita mengadopsi Alea. Aku janji, kita akan lebih sering menemuinya." Ujar Roy diangguki Gera. 

Bugg! 

Gera seperti mendengar suara barang yang terlempar di dinding balkon kamarnya. Segera ia membangunkan Roy dan menyuruhnya untuk memeriksa balkon. "Tidak ada apa-apa, sayang." Ujar Roy dengan suara seraknya. Tapi Gera sangat yakin kalau dia mendengar seperti sesuatu yang sengaja dilemparkan ke atas balkon. 

Karena tak percaya, Gera segera beranjak menghampiri Roy menuju balkon. "Roy, aku sudah berjanji tidak akan pernah membohongimu. Dan kali ini memang tidak bohong. Aku tidak mengada-ada. Aku mendengarnya dengan jelas!" Bantah Gera keras kepala. 

"Ayo tidur lagi, aku sangat mengantuk. Kau membuat tidurku terganggu, sayang. Jika aku tidak bisa tidur, akan kuhabisi kau malam ini." Bisik Roy sambil mengecup singkat leher jenjang istrinya. 

Roy kembali tidur dan diekori Gera. Ia masih sangat yakin kalau tadi mendengar suara sesuatu. Roy sudah terlelap, tapi Gera belum juga bisa tidur. 

Bugg! 


"Roy! Ada lagi!" Pekiknya, namun Roy tak juga mau terbangun. Gera ingin memeriksa balkon, tapi rasa takut menguasainya. 

Hingga pagi Gera terjaga karena suara aneh itu. Bukan hanya sekali atau dua kali, suara itu terdengar berkali-kali hingga pagi menjelang. Ia menahan diri dan menunggu Roy bangun agar bisa mengajaknya mengecek balkon. 

"Sayang, kau bangun cepat sekali!" Kata Roy dengan suara serak khas suara orang baru bangun tidur. "Bukannya bangun pagi, aku memang tidak bisa tidur!" Erang Gera malas. 

"What?!" Seru Roy tak percaya. "Kenapa bisa?" 

"Roy, suara itu membuatku terganggu dan juga penasaran pada waktu yang bersamaan. Terhitung puluhan kali hingga pagi datang. Kepalaku terasa akan pecah sebentar lagi." 

"Coba aku periksa. Kau tidurlah. Istirahatlah, sayang." Suruh Roy. "Tidak. Aku akan ikut memeriksa. Aku sudah sangat penasaran bagaimana wujud benda yang dilemparkan itu." Tolak Gera. 

Roy menggandeng lengan Gera menuju balkon. Dan betapa terkejutnya Roy dan Gera saat melihat banyak sekali kertas berisi batu di balkon mereka. "Roy, apa maksudnya ini?" Lirih Gera bingung. Roy mencoba membuka kertas-kertas itu perlahan. 

"F*CK!" Gumam Roy saat melihat isi kertas-kertas itu. Gera juga sangat terkejut membaca tulisan-tulisannya. 

'Dimana anakku, Alea?" 

'Kembalikan dia! Jika tidak kalian akan mati!'

'Kalian pikir anakku gila?!' 

'Bajingan!'

'Jemput Alea! Dia tidak gila! Jika kalian tidak melakukannya, anak-anak kalian yang akan menjadi korban.' 

Gera sangat syok melihat semua ini. Ia sangat takut sekarang. Triplets menjadi incaran entah siapa orang ini. Ia bingung dan dilema. Jika mereka menjemput Alea, kasihan dia karena  masih membutuhkan rehabilitasi. Yang membuat Roy bingung, siapa yang melempar batu dengan kertas ini ke atas balkon kamar mereka? Apakah ini Dewi? Rasanya tidak mungkin. Karena Dewi memang sedang berada di dalam penjara. Lalu, siapa yang melakukan semua ini?

0 Comments