Dipaksa Menikahi CEO. Bab 2

 

Lima orang pria berpakaian serba hitam mendatangi Monika di minimarket tempatnya bekerja. Mereka mengatakan bahwa ayah Monika, Jonathan Wu, tengah bermasalah dengan perusahaan dan meminta gadis blasteran Indonesia-Inggris ini untuk ikut bersama mereka.

"Sayang sekali, saya sedang bekerja sekarang. Saya tidak bisa ikut dengan Anda." Monika menjawab dengan lugas.

"Nona, mohon kerjasamanya!" 

Jantung Monika seolah berhenti satu detakan. Dia bisa memperkirakan apa yang akan terjadi. Dari isyarat tangan yang pria itu berikan pada teman-temannya, pastilah mereka siap meringkusnya jika tidak menurut.

'Tidak! Situasi ini tidak akan menguntungkanku.' Tatapan Monika menilai keadaan sekitar. Gang sempit di samping minimarket ini terbilang sepi, tidak ada satu orangpun yang lewat. Dan pantauan kamera pengawas minimarket tidak menjangkau tempat ini. Tidak ada cara lain.

Detik berikutnya, Monika berbalik badan dan lari sebisanya. Dia harus menyelamatkan diri. Dia harus pergi ke tempat yang ramai agar orang-orang ini tidak bisa menangkapnya dengan mudah. Entah apa yang akan terjadi padanya jika dia tertangkap nanti.

"Tangkap Nona Monika! Jangan biarkan dia lolos. Tuan muda akan murka!" Suara pria itu menggelegar, membuat Monika semakin gugup. Kakinya gemetar, terasa berat untuk diajak berlari. Sial!

Dengan napas yang semakin tersengal, Monika berhasil memaksakan kakinya untuk tetap bergerak, menjauh dari para pengejarnya. Hanya lima meter lagi, dia akan sampai di jalan raya yang menjadi penghubung gang sempit ini dengan minimarket. Dia bisa berteriak meminta tolong nantinya. Ya, cara itu pasti efektif.

Sebuah tangan kekar berhasil mencengkeram pundak gadis cantik ini, membuat pergerakannya terhenti. Percobaannya untuk kabur gagal. Dia kalah cepat dari pria yang mengejarnya. Monika tertangkap.

"Lepas!!" Monika meronta, berharap tenaganya cukup untuk memberikan perlawanan berarti.

"Amankan dia!" Teriak pria yang tampaknya adalah pemimpin orang-orang ini.

Tanpa menunggu waktu lama, pria yang berhasil menahan Monika kini mengangkat tubuh ramping itu di atas pundak seperti sekarung beras. Rontaan, teriakan, dan pukulan yang coba Monika lakukan, tak ada gunanya sama sekali. Tubuh pria ini begitu kokok, lebih keras dibandingkan samsak tinju. Perlawanan Monika tak membuatnya gentar sama sekali, langkahnya mantap menuju mobil yang terparkir di tepi jalan.

Tubuh ramping Monika terhempas di kursi belakang mobil edisi terbatas ini, terlihat dari desainnya yang mewah dan elegan ini.

Pintu tertutup sempurna, membuat Monika tertahan di sana.

"Buka pintunya!" titah gadis 26 tahun ini tak dihiraukan oleh pria yang ada di balik kemudi. Sepersekian detik berikutnya, pria itu justru menginjak pedal gas di bawah kakinya dalam-dalam, membuat tubuh Monika terpelanting ke belakang.

"Argghh." Monika memegangi kepalanya yang terbentur cukup keras.

"Duduk diam di tempat Anda, Nona! Jika tidak, ucapkan selamat tinggal pada dunia ini!" Suara dingin itu berhasil membuat Monika terhenyak. Dia takut dengan ancaman itu. Kehidupannya terlalu berharga untuk ditinggalkan. Masih ada banyak mimpi yang harus dia perjuangkan, termasuk kisah cintanya bersama Sang Kekasih, Devan. Mereka akan menikah akhir tahun ini. Itu rencananya.

Monika duduk diam di tempatnya, mengamati jalanan di luar sana yang tampak asing baginya.

"Kita kemana?" tanya gadis bersurai kuning kecoklatan ini pada pria yang fokus dengan jalanan di depannya.

"Perusahaan."

Monika merutuk pria ini dalam hati. Dia tahu mereka akan pergi ke perusahaan tempat ayah kandungnya membuat masalah. Yang ingin dia ketahui, siapa yang akan dia temui untuk mengurus masalah itu.

"Nona akan mengetahui semuanya nanti."

Dan sisa perjalanan mereka berakhir dalam diam. Monika enggan bertanya karena pria ini pasti tidak akan menjawabnya.

Beberapa menit kemudian, mobil mewah berwarna hitam itu terhenti di pelataran parkir sebuah gedung pencakar langit. Monika segera digiring menuju lift khusus yang akan membawanya ke lantai paling atas gedung ini.

"Untuk apa kalian mengawalku? Aku tidak akan lari," ketus Monika karena kelima pria ini berdiri mengelilinginya, seolah dia ini batu berharga yang akan dicuri orang.

Tidak ada satu pun dari mereka yang menjawab. Tubuh tegapnya bagaikan manekin, tak bergerak satu centimeter pun sejak mereka sampai di ruangan tak berpenghuni ini.

"Selamat datang, Nona Monika Alexandra." Sebuah suara terdengar menggema di ruangan ini, bersamaan dengan pengawalan kelima orang ini yang otomatis memudar. Mereka undur diri, menjauh dari Monika dalam keterkejutannya.

Netra sipit itu membola kala melhat pemandangan luar biasa di depan sana. Tubuhnya bergetar hebat saat itu juga. Hatinya mencelos, melihat pria yang sangat ia benci kini tergeletak di lantai dengan berbagai luka di tubuhnya.

"PAPA..." teriak Monika, berlari menghampiri Jonathan Wu yang tengah sekarat. Bulir-bulir air mata itu tak terbendung lagi. Sebesar apapun kebenciannya pada pria ini, tak bisa memusnahkan cinta kasih yang terhubung karena pertalian darah. Jauh di dalam lubuk hatinya, Monika menyayangi ayahnya.

"Mon, maafkan Papa," bisik pria itu. Suaranya lemah, hampir tak terdengar. "Maaf."

Detik berikutnya, mata itu terpejam. Nyawa Jonathan Wu telah meninggalkan raganya yang babak belur. Episode hidupnya telah berakhir hari ini, menyisakan luka dan lara di dalam hati Monika.

"Papaa..." Monika berteriak histeris. Dia tidak bisa menerima fakta bahwa pria ini telah meninggalkannya, menyusul ibunya ke alam baka.

Tak ada yang bisa Monika lakukan. Dia memeluk tubuh ayahnya yang mulai terasa dingin ini dan berharap semua hanya mimpi.

"Hapus air matamu! Aku tidak ingin cairan itu mengotori lantai."

Suara dingin itu kembali Monika dengar, membuatnya menoleh ke belakang. Tatap mata tajam penuh kebencian ia tujukan pada pria berpakaian rapi yang berdiri menjulang, beberapa langkah dari tempatnya berada.

'Siapa pria berengsek ini? Bajingan mana yang yang tidak iba saat melihat seseorang meregang nyawa di depannya?' batin Monika mengumpat. Dia bersumpah akan menampol mulut kurang ajar itu nanti!

0 Comments