Dipaksa Menikahi CEO. Bab 3

 

Monika dibawa paksa oleh orang-orang berpakaian hitam itu menuju salah satu gedung pencakar langit di pusat kota. Disana, dia mendapati ayahnya tengah meregang nyawa dengan keadaan mengenaskan. Tak ada yang menolongnya, membiarkan tubuh lemah itu tergeletak di lantai yang dingin. Bahkan hingga ujung nyawa, tidak ada yang berniat menolongnya sama sekali.

Monika berteriak histeris, menyadari pria yang pernah mengusirnya dari rumah itu telah pergi untuk selama-lamanya. Sekejam apapun pria ini, nyatanya Monika masih menghargainya.

"Hapus air matamu! Aku tidak ingin cairan itu mengotori lantai." Suara yang tajam dan menukik menyapa indera pendengaran gadis ini. Ingin sekali melempar sepatu kets yang dipakainya tepat di mulut pria itu.

"Leo, siapkan kontraknya!"

Belum sempat Monika menghapus air matanya, pria berpakaian hitam yang tadi membawanya kemari muncul di balik pintu. Di tangannya terdapat satu stopmap warna merah menyala.

"Bangun!" Suara dingin itu kembali menggema, menyuruh Monika untuk berdiri dari tempatnya memeluk mayat yang semakin memucat.

"Nona Monika, silakan," ucap pria yang diketahui bernama Leo tadi. Dengan isyarat tangannya, dia meminta Monika duduk di salah satu kursi yang ada di ruangan ini.

Monika masih terpaku di lantai, enggan meninggalkan ayahnya di sana. Tidak. Dia tidak ingin pergi barang sejengkal pun.

"Nona..." Leo tampak gusar. Entah kenapa wajahnya tampak khawatir, seolah berada dalam pilihan antara hidup dan mati. Dia mendekat dan berjongkok di depan Monika.

"Nona Monika Alexandra, silakan menghadap Tuan Muda. Jangan sampai membuatnya murka atau nyawa Anda taruhannya!"

Monika menelan salivanya dengan paksa. Nada bicara Leo sama seperti saat di mobil tadi, penuh penekanan, membuatnya ketakutan.

"Tapi..." Monika menatap wajah keturunan chinese yang ada di pangkuannya. Dia tidak tega membiarkan tubuh ayahnya tergeletak di sana.

"Mari," bujuk Leo dengan nada merendah.

Dengan berat hati, Monika ikut bersama pria bertubuh kekar ini, mendekat ke arah pria yang sedari tadi mengamatinya.

Sekali lagi, Monika menatap ke belakang. Tidak sampai hati meninggalkan Sang Ayah.

"Anak yang sangat berbakti," cibir pria yang duduk terhalang meja dari Monika dan Leo.

Monika tak menggubris ucapan pria ini. Dia tidak peduli dengan omongan orang lain. Entah apa komentar mereka, Monika berhak untuk menutup mata dan telinga.

"Berikan kontraknya!" titah pria ini sambil memerhatikan penampilan Monika dari ujung kaki ke ujung kepala. "Tidak buruk."

"Silakan duduk, Nona." Lagi-lagi Leo yang menjadi penghubung pria arogan ini dengan Monika.

Monika menurut. Dia duduk di salah satu kursi kosong di hadapan pria angkuh tadi. Papan nama di atas meja bertuliskan Rio Dirgantara.

"Nona Monika, silakan baca kontrak kerjasama ini. Setelahnya silakan bubuhkan tanda tangan atau cap jempol Anda di sana. Tuan Rio menjabat sebagai CEO di sini. Dia menginginkan kasus ini diselesaikan dengan damai."

Monika menatap dua pria di depannya secara bergantian sebelum membaca rentetan huruf di atas kertas. Di kontrak itu disebutkan bahwa Monika harus menikah dengan Rio atau mengganti uang dua miliar rupiah. Jika tidak, masalah ini akan dilimpahkan pada pihak berwajib.

"Kenapa saya harus menandatangani dokumen ini? Semua urusan keuangan ayah saya dipegang oleh ibu tiri saya, istri sahnya yang sekarang." Monika mengumpulkan keberaniannya. "Jika Anda ingin meminta ganti rugi atau semacamnya, temui saja dia. Saya tidak akan menandatanganinya."

Pria bernama Rio itu tersenyum pongah, salut akan keberanian wanita cantik di depannya. Jujur saja, hatinya bergetar saat melihat wajah ayu perpaduan Indonesia-Inggris ini. Sebagai laki-laki normal, hasrat liarnya bahkan mulai aktif, membayangkan bisa mencicipi bibir ranum berwarna peach milik Monika.

"Tuan," panggil Leo, mengerutkan kening saat melihat tuannya diam saja sambil tersenyum tanpa sebab.

'Shit!' Rio mengumpat dalam hatinya. Entah kenapa dia tiba-tiba ingin memiliki wanita ini lebih dari apapun. Kecantikannya yang tiada tara, tidak pantas bersanding dengan pakaian kasir minimarket yang menempel di tubuhnya.

"Siapkan gaun sabrina dengan belahan dada rendah!" titah Rio tanpa sadar.

Dalam bayangan Rio, tubuh molek gadis ini lebih pantas saat memakai gaun sabrina dengan belahan dada rendah seperti yang dia ucapkan barusan. Pakaian itu akan membuat seluruh bahu Monika terekspose. Leher jenjangnya nan putih dan mulus terlihat sempurna, sangat pas untuk mendapat kecupan hangat dari bibirnya. Membayangkannya saja sudah membuat libido pria ini melonjak seketika.

"Maaf?" Leo tidak yakin dengan apa yang tuannya katakan. Mereka tengah membujuk Monika untuk menandatangani pertanggungjawaban uang yang Jonathan hilangkan, bukan membahas fashion atau semacamnya.

Pikiran liar Rio semakin menggila. Dia menelan salivanya dengan paksa, membayangkan Monika berjalan menuju ke arahnya dengan gaun warna merah yang seksi. Lekuk tubuhnya terlihat pas dengan gaun itu, membuat pria mana saja ingin langsung menerkamnya.

"Kemarilah sayang, duduk di pangkuanku." Lagi-lagi Rio bermonolog, belum tersadar dari imajinasinya sendiri.

"Pria gila!" ketus Monika. Dia berdiri detik ketika Rio menjilat bibirnya sendiri. "Mesum!"

"Tuan?!" Leo menggoyangkan lengan tuannya, membuat lamunan pria itu terhenti seketika.

"Apa?" tanya Rio tanpa sadar Monika tak ada lagi di hadapannya.

Leo menunjuk surat perjanjian yang masih utuh di atas meja, belum ada tanda persetujuan dari Monika sama sekali. Bahkan wanita itu berjongkok di depan mayat ayahnya, berusaha memangku ayahnya seperti semula.

Hal itu membuat Rio marah. Matanya berkilat tajam penuh dendam.

"Monika Alexandra!" teriak Rio.

Monika menolehkan kepalanya sekilas, sebelum kembali sibuk membersihkan darah yang mulai mengering di wajah ayahnya. Ini adalah hal terakhir yang bisa dia lakukan untuk ayahnya. Persetan dengan pria itu yang kini tampak murka.

Tanpa Monika sadari, Rio kini ada di sebelahnya, menarik tangannya dengan paksa untuk berdiri.

"Jalang tidak tahu diri!"

Sebuah tamparan keras mendarat di pipi kiri CEO Dirgantara Artha Graha ini.

"Jaga mulut Anda!" Monika menatap wajah Rio dengan penuh emosi. "Dasar CEO mesum!!"

Kemarahan Rio semakin menjadi-jadi, terlihat dari kilatan matanya yang semakin tajam. 

"Mesum katamu?" Rio mendekatkan tubuh kekarnya ke arah Monika, menghimpitnya ke dinding. Hal itu membuat mata sipit Monika membola. Apa yang akan pria ini lakukan padanya?

0 Comments