Terpaksa Menikahi CEO. Bab 7

 

Rio tengah melakukan pemotretan bersama Monika. Dia menempelkan keningnya pada wanita yang kini berstatus sebagai istrinya ini. Namun, siapa sangka arah pandang matanya justru terkunci pada satu titik, yakni aset paling berharga yang tak dimiliki oleh pria.

'Shit! Dada indah itu!' geram Rio dalam hati.

Cengkeraman tangannya di pinggang Monika semakin erat. Dadanya bergemuruh, ada gejolak yang tak bisa dia kendalikan. Semacam rasa ingin meraup, mencecap, dan menikmati kehangatan di dalam sana.

Rio menarik pinggang Monika, membuat tubuh keduanya saling menempel. Napas pria itu semakin memburu, bersamaan dengan dadanya yang naik turun tanpa bisa dia cegah.

"Rio," panggil Monika dengan suara yang lembut, membuat pikiran liar pria ini semakin menggila. Matanya terpaku pada bibir seksi istrinya.

Lengang. Tak ada suara apapun yang tertangkap oleh indera pendengarannya kecuali panggilan Monika tadi.

"Aku tidak bisa menahannya lagi," geram pria 31 tahun ini dalam hati.

Tanpa aba-aba, Rio mendekatkan kepalanya pada Monika dan siap mencicipi bibir ranum warna merah di hadapannya. Dengan gairah yang semakin bertambah, membuat pria ini tak peduli lagi pada hasil foto pernikahan ini nantinya. Satu yang dia inginkan : menikmati anugerah sempurna ciptaan Tuhan.

Ribuan kupu-kupu seolah beterbangan di sekitar mereka saat Monika lebih dulu menyambar bibir Rio. Gadis ini dengan berani mengalungkan kedua tangannya di leher Sang Suami, bahkan kakinya sampai berjinjit untuk mendapat kenikmatan surga yang selalu Rio imajinasikan.

Tak ingin kalah, Rio balik menyerang Monika dengan meraba punggung wanita cantik ini. Dia ingin membangkitkan gairah liar yang dimiliki wanita. Rio yakin, Monika memiliki hasrat yang sama dengannya, ingin saling menikmati.

"Rio..." Monika kembali berucap, kali ini terdengar lebih seksi dari sebelumnya. Tautan bibir mereka terlepas, namun tidak dengan pelukan pria ini yang justru semakin erat.

"Monikaaa... hmmp." Rio menenggelamkan wajah di ceruk leher istrinya, menyesap parfum yang melekat di sana. Bibirnya mulai bergerak aktif, mencium, menjilat, dan sesekali menggigit kulit putih mulus itu. Wanita ini telah menjadi candu untuknya. Dia mabuk tanpa harus meminum alkohol setetes pun.

"Ahh, Ri... Rio...."

Desahan Monika membuat libido pria ini semakin meningkat. Tangannya tak tinggal diam, mulai bergerilya kesana kemari, termasuk menjelajah aset milik Monika yang menjadi perhatiannya pertama kali.

Rio semakin kehilangan kewarasannya saat merasakan benda kenyal itu dalam genggaman. Meski terhalang gaun pengantin, gumpalan daging tak bertulang itu terasa lembut. Entah apa ukurannya, Rio tidak terlalu tahu akan hal itu. Lagipula, dia juga tidak peduli ukuran, yang penting dia menikmatinya. Ini pertama kalinya dia melakukannya. Selama ini, hanya bisa berimajinasi saja.

"Sayang," ucap Monika, menatap pria yang kini semakin menggila. Tangan dan bibirnya bekerjasama, menjajah seluruh tubuh wanita yang dia nikahi beberapa jam yang lalu.

Rio semakin bersemangat. Tangannya berpindah ke belakang, menurunkan zipper shanghai di bagian punggung pengantinnya. Punggung mulus itu terekspose, membuat jemari Rio bisa merabanya tanpa terhalang apapun.

"Aku mencintaimu," bisik Rio di telinga Monika sebelum mencium daun telinga yang terlihat memerah itu.

Napas Monika terdengar putus-putus, menandakan bahwa dia mulai menikmati perlakuan dari Rio yang notabene-nya hanya suami di atas kertas. Monika tidak pernah mencintai suaminya, tapi toh tak bisa menahan serangan pria kaya raya ini.

Dengan gerakan singkat, Rio membalik tubuh Monika yang tengah memejamkan mata, menikmati jamahan tangannya. Punggung mulus itu kini terpampang jelas, tertangkap oleh netra elang CEO mesum ini.

"Rioo... hmm." Lagi-lagi Monika memanggil namanya, membuat pria ini semakin bersemangat. Dia menyusupkan tangannya ke dalam gaun putih tulang yang Monika kenakan dan kembali mengaktifkan kesepuluh jarinya.

Gaun indah itu sedikit melorot, membuat belahan dadanya terlihat. Rio yang memeluk Monika dari belakang, tak ingin tinggal diam. Dia semakin memacu tangannya untuk bergerak, menantikan desahan manja dari bibir Monika.

'Shit!' Rio semakin bernafsu. Organ intinya di bawah sana ikut terangsang, sesak dan minta di lepaskan. Itu membuatnya tersiksa.

Rio kembali mengikis jarak dengan wanitanya, membuat tubuh mereka kembali berhimpitan. Dia menciumi leher belakang istrinya, menyisakan tanda kemerahan bekas cinta yang dia tinggalkan.

"Monika, aku menginginkanmu," ucap Rio dengan napas memburu. Dia tidak bisa mengendalikan gairahnya lagi. Pria ini sudah berada di ujung tanduk, ingin segera mendapat pelepasan.

"Heih?" Rio bertatapan dengan Monika yang kini menghadapnya. Sebuah tamparan yang cukup keras mendarat di pipi. Rasa panas dan perih seketika terasa di wajah tampan kebanggaannya.

Rio mengerutkan kening, heran dengan apa yang terjadi. Bukankah Monika menikmati cumbuannya? Dia bahkan mendesah dan memanggil namanya beberapa kali. Lalu kenapa sekarang menamparnya dengan sekuat tenaga?

Monika mendorong dada bidang Rio dengan keras, sebelum mundur beberapa langkah ke belakang. Gadis itu berbalik, meninggalkan ruangan pemotretan ini dengan langkah pasti, tanpa keraguan sedikit pun. Gaun panjangnya ia angkat tinggi-tinggi, membuat kakinya tak akan tersandung seperti sebelumnya.

'Apa yang terjadi?' batin Rio bertanya-tanya. 'Bukankah aku membuka retsleting gaunnya sampai ke bawah? Kapan dia membenahinya?'

Punggung kasir minimarket itu tak lagi terlihat, terhalang tembok yang menjadi penyekat tempat ini dengan ruangan lainnya.

Rio mengelus pipinya. Dua tamparan sudah dia rasakan hari ini. Pertama, saat dia mengatai wanita itu dengan sebutan 'j*lang'. Tapi tamparan kedua ini membuat Rio bingung. Dia terhenyak di tempatnya berdiri. Linglung. Apa yang sebenarnya terjadi?

"Tuan," panggil Leo, mendekat sambil menyerahkan kompres dingin untuk tuannya.

Rio mengerutkan kening, menatap asisten pribadinya, menuntut penjelasan tentang apa yang sebenarnya terjadi. Dia sungguh tidak mengerti kenapa Monika menamparnya dan pergi begitu saja.

"Dia gadis polos. Apa yang kamu pikirkan tentangnya?" Pria dengan rambut mulai memutih itu sedikit berteriak, seolah tahu bahwa Rio baru saja membayangkan hal yang tidak-tidak.

"Aku akan mengirimkan fotonya besok. Terima kasih telah memanggilku." Pria fotografer itu pergi sebelum Rio sempat menilik hasil jepretannya. Dia adalah salah satu mitra bisnis Rio, bertugas mengabadikan momen perusahaan saat ada event tertentu.

Hening. Tak ada suara apapun. Hanya deru pendingin ruangan yang mendominasi ruangan ini. Rio mengambil kompres dingin yang Leo berikan dan mulai menempelkannya di pipi, meredam panas dan perih yang semakin terasa.

"Apa yang terjadi?" Rio tak bisa menyembunyikan keheranannya lagi. Dia sungguh tidak memahami situasinya. Kakinya melangkah menuju salah satu kursi di ruangan ini, mulai meredakan panas yang menjalar di pipi dengan bantuan batu es di dalam kantung kompres.

"Sepertinya otak mesum Anda mulai bekerja melihat tubuh nona Monika."

"HAH? APA??" Rio membelalakkan matanya. Dia tidak bisa menangkap jawaban yang Leo ucapkan. Otak mesumnya mulai bekerja?

"Anda diam mematung lebih dari lima menit sambil menghadap ke bawah, ke arah... ekhmm... maaf, buah dada nona Monika." Leo sendiri tersipu. Dia malu mengatakan aset berharga yang hanya dimiliki oleh kaum hawa.

"Bahkan arahan dan teriakan fotografer itu Anda abaikan."

Rio menelan ludahnya dengan paksa. Dia tidak menyangka adegan plus-plus antara dia dengan Monika hanyalah imajinasinya saja. Pikiran liarnya begitu luar biasa, mengalahkan logika dan menonaktifkan fungsi kelima panca inderanya.

"Nona Monika mencoba melepaskan tangan Anda dari pinggangnya, tapi Anda justru semakin erat memeluknya." Leo masih menjelaskan, membuat wajah Rio memerah sempurna, persis seperti kepiting rebus.

"Saya tidak mendengar apa yang Anda ucapkan pada Nona, tapi sepertinya itu membuat dia marah dan menampar Anda," pungkas Leo, mengakhiri penjelasannya.

'Astaga!!' batin Rio. Dia menutup kedua matanya dengan tangan, merasa malu atas pikiran liarnya tentang Monika.

"Jadi, aku tidak melakukan apapun padanya?" Rio menatap Leo dengan pandangan yang sulit untuk diartikan, antara kecewa dan penuh tanda tanya.

Leo menggeleng. "Anda sebatas menempelkan kening dan memeluk pinggang nona Monika."

"Menciumnya juga tidak?" kejar Rio.

Lagi-lagi Leo menggeleng.

"Apa dia memanggil namaku?"

Gelengan kepala Leo terlihat untuk ketiga kalinya. Semua yang terjadi hanya fiktif belaka, imajinasi Rio saja. Jangankan berinisiatif menciumnya lebih dulu, memanggil namanya saja tidak Monika lakukan.

'Astaga!' Rio benar-benar malu sekarang. Bagaimana bisa dia berpikiran begitu jauh tentang wanita yang baru ditemuinya hari ini? Apa memang dia begitu merindukan kasih sayang wanita sampai membuat pikirannya begitu liar?

"Antarkan dia pulang. Aku tidak ingin melihatnya!" Rio 'mengusir' Monika, demi menjaga kewarasannya yang sedikit tersisa.

"Baik, Tuan." Leo pergi, meninggalkan tuannya seorang diri.

Rio merutuki kebodohannya sendiri. Dia menatap pantulan wajahnya di depan cermin. Memalukan!!

"Apa yang harus aku lakukan saat bertemu lagi dengannya nanti?"

0 Comments