Dipaksa Menikahi CEO. Bab 8

 

Monika keluar dari dalam ruang ganti dan mendapati Leo berdiri membelakanginya. Tampaknya pria ini sengaja menunggunya di sana.

"Ini ponsel dan tas Anda." Pria berpakaian serba hitam itu memberikan benda yang Monika tinggalkan di minimarket pagi ini begitu keduanya berhadapan.

"Terima kasih," ucap Monika lirih. Dia memakai tas selempangnya dan kemudian duduk di bangku yang kebetulan ada di belakang tubuhnya. Hatinya hampa, mengingat ia baru saja kehilangan sosok yang begitu dia hargai.

"Tuan menyuruh saya mengantarkan Anda untuk pulang. Mari."

Monika tak merespon. Dia sibuk dengan pemikirannya sendiri. Sampai beberapa detik berlalu,  wanita ini tak jua beranjak dari tempatnya. Tatap matanya kosong. Wajah cantiknya tampak sedikit pucat, membuat Leo khawatir.

"Nona, apa Anda baik-baik saja?"

Lagi-lagi Monika tak menjawab. Dia melirik Leo sekilas sebelum menangkup wajah dengan kedua tangannya.

Leo salah tingkah. Dia tidak nyaman berdua saja di ruangan ini tanpa ada percakapan sama sekali. Monika tampak seperti ada di dunia yang berbeda dengannya.

"Ada yang bisa saya bantu?"

Leo kembali harus menelan ludahnya dengan paksa. Dengan predikatnya sebagai asisten pribadi sekaligus tangan kanan Rio Dirgantara, dia bisa melakukan apapun dengan kuasanya. Tapi, urusan membujuk wanita adalah hal yang berbeda. Leo tidak tahu apa yang harus dia lakukan.

"Saya akan menunggu Anda di luar." Leo beranjak pergi.

"Dimana makam papa?" Suara itu membuat langkah kaki pria 28 tahun ini terhenti. Hatinya tergeragap, mendengar nada bicara yang begitu menyayat hati. Meski dia terkenal sebagai tukang pukul yang kejam, nyatanya di dalam lubuk hatinya ada belas kasih yang bisa merasakan kesedihan Monika.

"Maaf?" Leo pura-pura tidak mendengar pertanyaan Monika. Sebenarnya, dia tengah memikirkan hal lain, menimbang-nimbang keputusannya. Haruskah dia memberitahu Monika, sementara Rio tidak memberikan larangan ataupun perintah tentang hal itu?

Tapi, wajah sendu itu terlihat menyedihkan. Leo juga pernah merasakan bagaimana hancur hatinya saat kehilangan sosok ayah.

"Dimana..." Bulir tanpa warna itu luruh begitu saja, membuat kata-kata yang siap diucapkannya menjadi tertahan di tenggorokan. Monika menggigit bibirnya kuat-kuat, menahan tangis sebisa mungkin.

Hati Leo mencelos. Dia tidak tega melihat wanita cantik ini menangis.

Monika berjongkok, memeluk lututnya sendiri. Dia tidak bisa untuk tidak menangis. Tidak ada lagi yang menjadi alasannya untuk hidup di dunia ini setelah kedua orangtuanya tiada. Meski hubungannya dengan Sang Ayah tidak bisa dikatakan dekat, nyatanya tetap ada ikatan batin yang kuat diantara mereka.

"Nona," panggil Leo sedikit panik. Dia tidak tahu bagaimana cara menenangkan wanita yang tengah mengalami patah hati paling dalam ini. Punggungnya sampai berguncang, bersamaan dengan isak tangis yang menggerus hati.

"Papa... " Monika menggenggam kalung liontin yang dipakainya. Perhiasan berkilauan ini adalah pemberian terakhir Jonathan padanya, tiga bulan yang lalu. Itu adalah hadiah ulang tahun Monika yang 26.

Leo menengadahkan kepalanya ke atas, mencegah air mata agar tidak ikut turun. Terlalu memalukan jika tukang pukul sepertinya sampai menangis.

"Nona," panggil Leo. Dia mendekat dan menepuk punggung Monika, berharap bisa meredakan kesedihan wanita ini dan membuat perasaaannya sedikit lebih baik.

"Beliau sudah dimakamkan dengan layak. Kita bisa melihatnya sekarang." Leo berucap saat isak tangis Monika sedikit mereda.

Leo membuat keputusan tersendiri, mengantarkan Monika menuju tempat peristirahatan terakhir Jonatahan Wu, tanpa meminta izin dari Rio. Toh sudah menjadi kewajibannya untuk membantu nonanya.

"Mari."

* * *

Rio melepas dasi yang melingkari lehernya dengan gerakan cepat. Dia segera pergi dari butik tempat pemotretan itu sebelum bertemu dengan Monika. Entah apa yang harus dia lakukan saat itu terjadi. Imajinasi liarnya tentang Monika sungguh di luar kendalinya. Memalukan!

Drrtt drrtt

Kening Rio bertaut saat melihat nama di ponselnya. Tampak Clara Arabella, wanita yang selama ini selalu menempel pada ibunya. Kemungkinan besar, dialah yang ibu pilih sebagai menantu nantinya.

"Ada apa?" ketus Rio setelah panggilan telepon mereka terhubung.

"Sayang, akhirnya kamu menjawab panggilanku." Suara itu terdengar manja, bahkan seperti sengaja menggodanya. Rio paham betul tujuan wanita ini, meminta perhatian darinya.

"Aku sibuk. Ada apa?" Pertanyaan yang sama kembali pria ini lontarkan. Enggan beinteraksi lebih lama dengan Clara.

"Apa kamu tidak merindukanku? Sudah lama kita tidak bertemu. Aku merindukanmuh," cetus wanita ini, sengaja mendesah di ujung kalimatnya. Menjijikkan!

"Jika tidak ada hal lain, aku akan matikan teleponnya." Rio menggelengkan kepala, heran dengan sifat teman masa kecilnya itu yang terdengar seperti seorang jalang.

"Tungguh. Aku ada pemotretan di Indonesia pekan depan. Ibu akan datang bersamaku."

Rio mendengus, kesal dengan senjata pamungkas wanita ini, membawa ibu dalam obsesinya.

"Kamu akan menjemput kami di bandara 'kan?"

Rio melemparkan tubuhnya ke atas ranjang. Dia pulang lebih awal, ingin menenangkan iblis yang sempat muncul saat pemotretan tadi.

"Yo... Rio. Kamu masih ada di sana?" Clara mencari tahu.

"Kirimkan jadwal penerbanganmu."

"Kamu akan menjemputku? Ah, maksudku menjemput kami?"

"Hmm," gumam Rio. Dia tidak bisa mengabaikan ibunya.

"Aku akan... "

Rio menekan ikon merah di layar ponselnya dan membuang benda pipih itu ke sembarang arah. Perhatiannya belum teralihkan dari bayang-bayang Monika. Entah kenapa gadis itu membuatnya terpukau tanpa sebab. Rio memejamkan matanya, berharap bisa segera melupakan istri kontraknya.

Di saat yang sama, sebuah Audi 8 warna silver seharga 1,4 miliar terhenti di depan area pemakaman. Leo segera keluar dari balik kemudi dan membukakan pintu untuk wanita yang ada di bangku belakang.

"Silakan Nona."

Monika menurut, mengikuti arah langkah yang Leo tunjukkan. Tanah merah bertabur bunga tertangkap oleh netra wanita ini.

"Saya akan menunggu Anda di mobil." Leo berpamitan.

"Tidak perlu. Pergilah. Aku bisa pulang sendiri."

"Tapi, Nona..." Mulut Leo terkatup rapat saat melihat senyum simpul yang coba Monika tunjukkan. "Pergilah. Tolong sampaikan terima kasihku karena dia sudah memberikan makam yang layak untuk papa."

Leo tak bisa lagi membantah. Wanita ini mengusirnya dengan halus.

"Ini kartu nama saya. Anda bisa menghubungi saya kapan pun jika memerlukan bantuan."

Monika menerima kertas mungil yang Leo berikan dan menyimpannya dalam saku.

"Saya permisi." Punggung Leo menghilang bersama mobil mewah yang dikendarainya.

Monika kini bersimpuh di depan pusara ayah dan ibunya. Ada perasaan haru di dalam hatinya. Dia tidak menyangka mereka akan dimakamkan bersebelahan. Darimana orang-orang itu tahu tentang makam ibunya?

Hingga petang menjelang, Monika masih disana. Tak ada sepatah kata pun yang dia ucapkan, hanya tetes air mata yang mewakili kesedihan hatinya. Dia tidak akan berjumpa dengan orangtuanya lagi di dunia ini, untuk selamanya.

"Sayang, apa yang kamu lakukan di sini?" Sebuah suara berhasil membuat perhatian Monika tersita. Dia menoleh ke belakang dan mendapati sosok Devan beberapa langkah di belakang sana.

"Ayo pulang," ajak pria itu, mengulurkan tangan pada kekasihnya.

Seketika ada perasaan bersalah yang menyergap Monika. Dia sudah menikah dengan Rio siang tadi, itu artinya dia mengkhianati perasaan Devan padanya. Apa yang harus dia lakukan? Haruskah dia jujur tentang kontrak itu? Mungkinkah Devan akan tetap mempertahankan hubungan mereka? Dia belum sanggup jika harus berpisah dengan pria penyayang ini.

"Sayang?!" Panggilan Devan membuat air mata Monika kembali menetes. Lidahnya terlalu kelu untuk menjelaskan semuanya. Ini terjadi begitu cepat, tanpa bisa dia cegah. Bahkan dia tidak bisa lari dari takdir yang menjeratnya.

Devan mendekat, memakaikan jaket miliknya pada Monika. "Ayo pulang."

Monika mengangguk. Dia tak bisa menolak perlakuan hangat pria ini.

Keduanya sampai di kamar kos yang ditempati Monika sejak beberapa tahun terakhir. Tak ada kemewahan yang terlihat, hanya satu petak ruangan 6 x 6 meter yang dipisahkan dengan sekat rotan sebagai penghalang antara ranjang dan meja tamu. Tak banyak perabot di sini, hanya sebuah meja berkaki pendek dengan alas karpet seadanya.

Devan menyeduh teh susu kesukaan Monika dan memberikannya dengan senyum terkembang.

"Minumlah. Ini akan membuatmu merasa sedikit lebih hangat."

Lagi-lagi gadis ini bungkam. Dia tidak mengatakan apapun.

"Ada masalah apa? Katakan padaku, mungkin aku bisa membantumu." Devan menatap manik mata kekasihnya dalam-dalam, berharap bisa mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada gadisnya. 

Bukannya menjawab, justru air mata Monika yang kembali menetes.

"Hey, ada apa? Kamu sakit, hmm?" Devan menghapus air mata itu sebelum menganak sungai di wajah cantik Monika.

"Sayang, katakan padaku. Ada apa?" Devan menempelkan keningnya pada Monika.

Sekelebat bayang-bayang wajah Rio terlintas di kepala gadis 26 tahun ini, membuatnya segera melepaskan diri.

"Monika, ada apa?" Devan tampak kebingungan saat melihat respon gadis ini, seperti menyembunyikan sesuatu darinya.

Monika berdiri, menjauh beberapa langkah dari kekasihnya. Dia merasa ini tidak benar. Bagaimanapun juga, dia wanita yang sudah menikah.

"Mon?" Devan semakin heran. Ini pertama kalinya dia melihat Monika seperti ini.

Tanpa aba-aba, Monika membuka pintu kamar kosnya, meminta Devan pergi.

"Moonn..." Panggil pria yang berprofesi sebagai fotomodel itu. Dia tidak tahu kenapa Monika memintanya untuk pergi. Sifatnya yang pendiam sudah biasa bagi Devan, tapi hari ini terasa lain.

Monika menggelengkan kepalanya dua kali, membuat Devan tahu diri. Wanita ini belum ingin berbicara dengannya.

"Baiklah." Devan mengalah. Dia melangkah keluar dari pintu. "Aku pergi. Jaga dirimu baik-baik."

Sebuah kecupan mendarat di kening Monika, membuat gadis itu memejamkan mata. Ada rasa tenang yang dia rasakan. Pria ini selalu berhasil memosisikan dirinya, tak pernah memaksa kehendaknya sekalipun.

Tanpa mereka ketahui, sepasang mata elang melihat interaksi dua sejoli itu. Tangannya mengepal erat di atas kemudi. Dia tidak terima miliknya disentuh oleh orang lain. Sifat posesifnya sudah mendarah daging, melindungi sesuatu yang dia klaim sebagai miliknya dengan segala upaya.

"Monika Alexandra, kamu hanya milikku!!" Rio menggeram. Gemeletuk giginya terdengar, menandakan bahwa emosinya mulai memuncak.

"Aku akan membuatmu tahu bahwa kamu milikku. Hanya milikku!!"


0 Comments