Terpaksa Menikahi CEO. Bab 5

 

"Ambil kontraknya! Jika dia menolak, buang mayat busuk ini ke hutan. Harimau dan serigala liar akan menerimanya dengan senang hati!" titah Rio pada asisten pribadinya, membuat Monika menggelengkan kepala. Dia tidak ingin tubuh ayahnya menjadi santapan hewan buas. 

"Jangan!" Monika coba melindungi ayahnya. Dia semakin mengeratkan pelukan pada tubuh pria yang semakin terasa dingin ini.

"Nona Monika, tolong kerjasamanya." Leo berjongkok di sisi badan Monika sembari menyodorkan stopmap merah yang ia bawa. "Silakan."

Dengan tangan gemetar, Monika terpaksa mengambil pena yang Leo berikan. Dia menandatangani perjanjian itu dengan air mata berlinang. Hatinya sakit, perih, seperti tertusuk ribuan sembilu. 

Cita-citanya untuk menikah dengan Devan pupus sudah. Dia justru akan menjadi istri kontrak CEO gila yang mesum ini.

"Urus sisanya! Aku tidak mau tahu."

Rio pergi, membanting pintu di belakangnya tepat setelah perjanjian itu ditandatangani oleh Monika. Tubuh tegapnya tak lagi terlihat, menghilang  begitu saja.

"Nona, mari ikut saya. Kita urus dokumen pernikahan Anda dengan Tuan Muda." Leo mengulurkan tangannya, berniat membantu Monika untuk berdiri.

"Tolong urus pemakaman papa dengan layak," pinta wanita bersurai panjang ini dengan air mata yang tak henti membasahi wajahnya.

"Nona tenang saja. Akan ada orang yang mengurusnya nanti. Mari," bujuk pria ini. Meski wajahnya datar tanpa ekspresi, tapi suaranya terdengar lembut, bisa menenangkan hati Monika yang bergemuruh menahan tangis dan marah di saat yang bersamaan.

"Tidak!" Monika menggeleng. Dia cukup keras kepala. "Urus papa dulu, baru aku akan mengikutimu."

Leo mengembuskan napasnya. Dia harus menambah stok kesabaran untuk mengurus wanita ini. Jika dia menggunakan paksaan seperti sebelumnya, mungkin Monika akan kabur lagi. Tentu saja itu akan menjadi masalah baru untuknya.

"Kalian masuk! Urus mayat tuan Jonathan dengan layak," ucap Leo,  berbicara sambil menekan tombol mungil yang melekat pada earpiece di telinganya.

Earpiece sendiri adalah alat komunikasi khusus yang  sering digunakan oleh para pengawal khusus sepertinya. Benda itu tak pernah lepas dari telinganya barang sedetik pun.

Tak lama kemudian, beberapa orang masuk ke dalam ruangan. Mereka mengamankan tubuh Jonathan Wu yang semakin pucat. Mayat itu segera dibawa pergi, menghilang tertelan pintu.

"Bisa kita berangkat sekarang, Nona?"

Monika menganggukkan kepalanya. Dengan berat hati, dia harus mengikuti aturan pria ini.

* * *

Matahari mulai kembali ke peraduannya saat Monika keluar dari balik tirai. Gaun putih melekat di tubuh rampingnya, lengkap dengan mahkota di atas kepala. Wajahnya yang tadinya sembap, kini telah dirias sedemikian rupa, membuatnya begitu mempesona.

"Tu... Tuan..." Leo sedikit tergagap, terpesona akan keindahan wanita yang tertangkap netranya.

Rio mengerutkan kening, menatap asisten pribadinya dengan tatapan heran. Ini pertama kalinya Leo tergagap. Apa yang membuatnya sampai seperti itu?

Detik berikutnya, Rio menolehkan wajah, mengabaikan majalah otomotif yang sedari tadi menjadi perhatiannya. Tatap matanya mengikuti arah pandang Leo.

Sepersekian detik, jantung Rio berhenti berdetak. Matanya terpaku pada ciptaan Tuhan di depan sana yang terlihat begitu sempurna. Wajahnya yang cantik, selaras dengan gaun pengantin yang dipenuhi intan berlian nan menawan. Kasir minimarket yang Rio lihat sebelumnya, kini berubah menjadi bidadari surga yang membelalakkan mata. Sempurna. Sungguh kecantikan yang tiada tara.

"Mari silakan, Nona." Seorang wanita yang tampaknya pemilik butik ini, meminta Monika untuk melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti. Dia tak segan meraih jemari lentik calon pengantin ini dan mengajaknya mendekat ke arah dua pria di depan sana. Kecantikan Monika berhasil menyihir dua pria itu, membuat mereka mematung dan melupakan napasnya.

"Tuan Dirgantara, ini calon istri Anda." Wanita itu mengulurkan tangan Monika, berharap Rio menyambutnya.

Rio masih terpukau akan keindahan yang tak pernah ia duga. Dia kehilangan kendali atas tubuhnya, terlena di dalam pesona Monika.

"Tuan?" Wanita pemilik butik ini kembali memanggil untuk kedua kalinya.

"Cantik," puji Rio tanpa sadar.

Wanita paruh baya itu beradu pandang dengan gadis cantik di sebelahnya, kemudian tersenyum. Monika menundukkan wajah, malu melihat calon suaminya yang diam di tempatnya dengan mulut menganga.

"Tuan, air liur Anda menetes," canda wanita perias itu sambil menutup mulutnya, menyembunyikan tawa agar tidak menyinggung perasaan tamu terhormatnya ini.

Rio tergagap. Dia segera menutup mulutnya, bahkan mengusap ujung bibirnya. Tak ada liur atau apapun di sana, membuat wajah tampan itu merah merona.

Di saat yang sama, Leo juga mendapatkan kembali akal sehatnya. Dia segera menundukkan kepala, merasa bersalah telah jatuh dalam pesona Monika.

"Ini pengantin Anda." Wanita itu kembali mengingatkan.

"Ekhmm, bawa dia ke ruangan sebelah!" Rio berdeham, menetralkan perasaannya. Jujur saja, dia gugup sekarang. Ini pertama kalinya seorang wanita membuatnya kehilangan fokus. Berbahaya!!


0 Comments