Terpaksa Menikahi CEO. Bab 6

 

Rio dan asisten pribadinya terpesona akan penampilan Monika dalam balutan gaun pengantin. Keduanya seolah baru pertama kalinya melihat wanita secantik itu.

"Tuan Dirgantara, ini pengantin Anda." Wanita yang bertugas menyihir Monika menjadi bidadari ini kembali mengingatkan tamunya.

"Ekhmm, bawa dia ke ruangan sebelah!" Rio berdeham, menetralkan perasaannya.

Pria itu kembali memasang wajah angkuh, kemudian berbalik menuju pintu yang menghubungkannya dengan ruangan pemotretan. Tangan pria ini mengepal erat, berusaha menenangkan jantungnya yang seolah ingin melompat keluar dari tempatnya.

"Silakan, Nona." Leo mempersilakan gadis ini untuk menyusul Rio. Dia meraih tangan Monika dan membimbingnya berjalan agar tidak terjatuh.

Di belakang mereka, dua orang pegawai butik membantu mengangkat pakaian pengantin yang terhampar di lantai.

"Nyonya, ponsel Anda terus berdering." Seorang pegawai butik mendekat, menyerahkan benda pipih di tangannya pada wanita yang tengah membantu Monika berjalan di atas karpet merah.

"Ah, maaf aku permisi."

Monika terhenyak saat wanita itu pergi begitu saja, membuatnya hampir terjerembab ke lantai. Dia tidak terbiasa memakai sepatu hak tinggi, langkahnya oleng saat kehilangan pegangan.

"Hati-hati, Nona." Leo dengan sigap menangkap tubuh ramping Monika, mendekapnya dengan erat. Dada mereka bersentuhan, menimbulkan getaran luar biasa di dalam diri pria berwajah datar ini, seolah listrik ribuan volt menyambarnya. Tatap matanya tertuju pada wajah ayu Monika, kemudian turun memerhatikan bibir tipisnya yang merah merona.

'Maniss,' bisikan itu tersimpan rapat-rapat di dalam hati Leo, pria dewasa yang hingga kini masih sendiri.

"Ma... maaf." Leo melepaskan diri, menarik tangannya dari pinggang ramping Monika. Dia segera menjauh begitu Monika bisa berdiri stabil di tempatnya. Pria ini berusaha menguasai diri, menekan iblis yang hampir saja menggodanya.

"Tolong ambilkan sepatu yang lain. Nona tidak nyaman." Leo memalingkan wajah, menyembunyikan rona kemerahan yang tampak di pipinya. Dia malu karena hampir berpikiran yang tidak-tidak pada istri tuannya.

Ya, sejak siang ini, Monika Alexandra telah resmi menjadi nyonya Dirgantara. Petugas pencatatan sipil bekerja dengan cepat, seolah dunia mereka akan tamat jika tidak menuruti kemauan crazy rich man ini.

Tak lama kemudian, Monika sampai di ruang pemotretan. Di sana tampak Rio berdiri menghadap dinding kaca yang menjadi penyekat ruangan ini dengan ruang hampa di luar sana. Tubuh tegapnya terlihat bersinar, terkena bias cahaya matahari yang berwarna kekuningan.

"Tuan, kita bisa memulai pemotretannya sekarang." Leo mendekat ke arah tuannya dan melapor situasi terkini.

"Umm. Lakukan dengan baik. Jika hasilnya buruk, ini adalah hari terakhirmu bekerja untukku!"

"Saya mengerti, Tuan." Leo menundukkan kepala. Dia tahu konsekuensi pekerjaannya ini. Gajinya yang lima kali lipat dibandingkan rekan-rekan yang lain, tentu saja memiliki resiko yang setimpal. Salah sedikit saja, nyawanya bisa melayang.

Monika dan Leo berdiri di tempat yang sudah di sediakan. Dekorasi bunga-bunga kering mendominasi, menampilkan sisi estetik yang mengagumkan.

"Lebih dekat lagi." Fotografer itu mengarahkan Rio dan Monika, meminta pasangan pengantin baru ini agar tak menyisakan jarak satu sama lain.

"Tuan, buang kekhawatiran Anda. Rileks saja," ucap pria yang terus mengambil gambar tanpa henti.

Mendengar arahan itu, membuat Monika menoleh. Dia penasaran seperti apa ekspresi wajah yang ditunjukkan oleh suami kontraknya.

"Ap... Apa yang kamu lihat?" Rio tergagap saat netranya beradu pandang dengan Monika. Dia memalingkan wajah dengan sengaja.

"Bagus sekali. Candid."

Lensa kamera terus bekerja, membidik manekin hidup yang berdiri di depan sana. Puluhan foto berhasil pria ini abadikan.

"Tuan, lebih intim lagi. Peluk atau cium istri Anda."

Baik wajah Rio maupun Monika, seketika memerah. Keduanya tidak menyangka fotografer profesional itu akan mengucapkan kata-kata yang cukup vulgar.

"Cium keningnya!"

Rio menuruti arahan pria itu, mencium kening Monika dengan canggung.

"Nona, balas pelukan suami Anda. Tempelkan kening satu sama lain!"

Monika sempat membeku. Memang sedari tadi tangannya terus diam di samping badan, tidak melakukan apapun.

"Nona, tolong kerjasamanya!" Leo ikut bersuara karena beberapa saat berlalu tapi Monika tak bergerak sedikut pun.

"Haish, kenapa kalian kaku sekali?" Fotografer dengan rambut yang mulai memutih itu kini tampak tidak sabaran. Dia mendekat dan segera mengalungkan kedua tangan Monika ke belakang leher Rio.

"Tempelkan kening kalian. Seperti ini!" Mata Rio terbelalak saat kepalanya diarahkan oleh pria ini, dipaksa menempel dengan kening Monika. Tidak ada satu orang pun yang pernah memegang kepalanya. Tapi pria ini?!

"Ah, benar begitu!"

Pria itu kembali ke posisinya, mulai membidikkan kameranya ke arah Rio dan Monika.

Rio semakin erat memeluk pinggang Monika. Dia tersinggung atas perlakuan fotografer tadi yang menarik kepalanya tanpa aba-aba.

Kemarahan itu sirna seketika saat netra tajamnya mengarah pada satu titik di bawah sana. Tenggorokannya mengering, membuat Rio harus meneguk ludah berkali-kali. Gaun pengantin dengan dada terbuka itu tengah menggodanya, membuat berbagai pikiran liar segera menguasai otaknya.

‘Shit! Dada indah itu!’ geram Rio dalam hati.

0 Comments