Dipaksa Menikahi CEO. Bab 11-12

 


BAB 11


Monika mengerjapkan matanya beberapa kali. Sinar hangat mentari menelisik ruangannya, melewati jendela kaca yang telah terbuka. Samar-samar aroma pengharum ruangan menyapa indera penciumannya.

"Anda sudah bangun, Nona?" Suara seorang wanita tertangkap telinga Monika, membuatnya terkesiap.

'Siapa?' batin Monika berkata.

Gadis bersurai panjang ini membuka mata dengan paksa, mengabaikan kepalanya yang terasa berat. Perlahan retina matanya befungsi normal setelah mengedip beberapa kali.

Monika menatap dua wanita berpakaian serba hitam yang berjarak beberapa langkah darinya. Keningnya berkerut, merasa tidak pernah bertemu dengan mereka sebelumnya. Gadis itu duduk dan menatap jam digital di atas nakas, pukul enam pagi.

"Ini bisa meredakan sakit kepala yang Anda alami. Silakan, Nona." Lagi-lagi wanita yang tidak Monika ketahui identitasnya ini tersenyum ramah. Tangannya terulur,  menyerahkan teh susu favoritnya.

Monika yang memang pendiam itu tak banyak bertanya. Dia menerima pemberian itu sambil mencerna tentang apa yang sebenarnya terjadi.

'Bukankah aku hanya tinggal sendiri selama ini? Siapa dua orang ini? Kenapa mereka ada di sini?' Monika mengurut pelipisnya, mencoba mengumpulkan memori di dalam kepalanya.

'Mereka seperti pelayan para bangsawan atau orang-orang dengan strata ekonomi tinggi. Apa yang terjadi?' batin Monika. Berbagai pertanyaan lainnya terus bermunculan di kepala. Situasi ini terasa aneh.

Jantung Monika seolah ingin melompat dari tempatnya saat mengingat semua kejadian kemarin, mulai dari lima orang yang menculiknya, bertemu petinggi perusahaan mendiang papa, dan berlanjut dengan pernikahan kontrak itu.

Monika mengamati dua orang yang berdiri di hadapannya. Matanya terbelalak, menyadari siapa orang-orang ini.

Monika beranjak dari ranjangnya dan mundur beberapa langkah, menjauh dari dua pengawal pribadi ini. Cangkir berisi minuman panas itu mendarat di lantai, pecah berkeping-keping. Isinya tumpah ruah, tak lagi bisa dinikmati.

"Nona?" panggil salah satu dari mereka.

Monika menggeleng. Dia mengingat kejadian kemarin, saat lima orang pria membawanya dengan paksa. Pastilah lima orang ini juga satu komplotan dengan mereka.

"Nona Monika.... Anda bisa mendengar saya?"

Gadis itu menatap sekeliling kamarnya yang telah rapi seperti sebelumnya. Hal itu membuat Monika bergidik ngeri. Bukankah semalam dia melemparkan berbagai benda ke arah bajingan b*rengsek itu?

Monika menelan ludahnya dengan paksa saat mendapati dapurnya bersih total. Tak ada pisau, garpu, gunting, maupun benda tajam lain yang mungkin dia gunakan untuk bunuh diri seperti semalam.

Apa-apaan ini? Batinnya memberontak.

Lagi-lagi Monika menggeleng. Dia tidak ingin terlibat lebih jauh dengan CEO Mesum yang kini berstatus sebagai suaminya. Dan keberadaan dua wanita ini, pasti karena perintah dari pria pemaksa yang bernama Rio Dirgantara itu.

"Nona?"

Sekelebat bayangan Rio yang tengah mencumbunya semalam kembali berkelebat, membuat Monika bergidik ngeri. Dia menundukkan kepala, memeriksa pakaian yang melekat di tubuhnya. Ada sedikit kelegaan saat dia mendapati piyama tidurnya masih utuh, tidak koyak ataupun terlepas dari badannya.

Tapi, rasa tenang itu seketika sirna saat matanya menangkap bekas tanda cinta di leher. Monika melihat itu melalui pantulan cermin di depan sana. Seketika angin dingin menerpa tengkuknya.

"Arrghhh!!!" pekik gadis itu, berjongkok dan menutup kedua telinganya dengan mata terpejam. Dia merasa frustrasi mengingat dirinya kemungkinan tak suci lagi. Dia tidak mengingat apapun selain cumbuan Rio di bagian atas tubuhnya. Entah apa yang pria itu lakukan sampai membuatnya tidak mengingat akan apa yang terjadi. Mungkin dia sudah kehilangan keperawanannya.

"Nona," panggil wanita berpakaian serba hitam itu untuk ke sekian kali. Dia mencoba mendekat ke arah Monika yang jongkok sambil memeluk lututnya.

"Pergi!" usir gadis ini, melampiaskan amarah di dalam hatinya. Hidupnya kacau hanya karena selembar surat kontrak yang tidak bisa dia tolak.

Dua wanita dengan pakaian hitam itu saling pandang kemudian mengangguk. Mereka sepakat dalam satu hal, membiarkan Monika menenangkan diri.

"Kami akan menunggu di luar. Jika Nona membutuhkan... "

"PERGI!!" bentak Monika dengan air mata yang mulai mengalir di pipi. Dia memotong ucapan pengawal khusus yang menyertainya. Semua yang terjadi tidak pernah dia bayangkan sebelumnya. Semua terjadi dengan cepat. Hanya sekedip mata, statusnya berubah, menjadi seorang istri CEO yang arogan, pemarah, mesum, dan pemaksa.

Monika mulai terisak, menjambak rambutnya hingga terasa pedas. Tangisnya tak terbendung lagi. Dia merasa kesal atas apa yang terjadi, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan. Dua miliar bukan uang yang sedikit. Darimana dia bisa mendapatkan uang sebanyak itu untuk mengganti uang perusahaan?

Dengan perasaan kacau, gadis itu masuk ke kamar mandi dan mulai membasuh tubuhnya, menghapus parfum pria yang menempel di beberapa bagian tubuhnya. Dia tidak bisa menyerah begitu saja. Meski badai menerjang, dia tetap harus berjuang. Itu yang dia yakini selama ini.

Monika keluar dari dalam kamar kosnya dan berhadapan dengan wanita berpakaian hitam yang dia temui pagi ini.

"Selamat pagi, Nona. Anda terlihat lebih baik dari sebelumnya." Satu wanita -yang tampaknya leader dari kelima orang ini- menyapa Monika.

"Tuan Muda berpesan bahwa... " Kata-kata wanita itu tertahan di tenggorokan saat melihat Monika mengangkat tangannya.

"Aku tidak peduli siapa dan apa tujuan kalian. Katakan pada tuanmu, aku akan mengembalikan uangnya secepat mungkin." Monika mengatakan itu dengan serius, wajahnya tak menampilkan ekspresi apapun. Menyeramkan.

"Dan satu hal lagi." Monika mengambil napas dalam-dalam, menatap lima wanita di hadapannya satu per satu. "Berhenti mengganggu hidupku. Urus urusan kalian masing-masing. Aku muak melihat kalian semua!"

Monika melenggang pergi setelah mengungkapkan kata hatinya itu. Dia akan mencari jalan lain untuk membayar hutang mendiang ayahnya, tapi bukan dengan menjual tubuh dan kebebasannya pada CEO itu. Menjijikkan. Itu hal yang paling Monika benci, menikah karena uang.

"Nona, tunggu!"

Monika tetap pergi. Dia tidak ingin berurusan dengan para tukang pukul wanita itu. Kakinya terus berjalan, menuju minimarket tempatnya bekerja.

Di saat yang sama, Rio masuk ke ruang kerja bersama asistennya. Dia baru saja melihat gudang senjata yang terbakar. Hampir 95% asetnya tak bisa diselamatkan. Semua terlalap habis oleh Si Jago Merah. Kerugiannya ditaksir mencapai sepuluh miliar rupiah.

"Bagaimana? Kamu sudah mendapatkan hasilnya?" tanya Rio sambil mengendurkan dasi yang melingkari lehernya.

"Sudah, Tuan." Leo mendekat, menyerahkan satu bendel laporan yang diminta oleh atasannya.

"Katakan saja. Aku tidak ingin membacanya!" Rio memijat kepalanya yang berdenyut hebat. Masalah ini tak bisa dianggap remeh atau ayah dan ibunya akan datang untuk mengambil alih perusahaan. Dan itu adalah hal yang paling Rio hindari.

Leo menundukkan kepalanya. Dia ragu, harus mengungkapkan fakta yang sebenarnya atau tidak. Logikanya mengiyakan, tapi hati kecilnya memberontak. Dia tidak ingin Monika menjadi sasaran kemarahan tuannya lagi.

"Kenapa diam?! Cepat katakan apa yang terjadi!!"

Leo masih bungkam. Dia tidak bisa melingungi Monika, tapi juga tidak ingin gadis itu terluka. Entah kenapa hatinya tergerak, tidak ingin wanita itu menderita.

"Tinggalkan ruanganku dan kemasi barang-barangmu! Aku tidak butuh orang-orang yang lemah hatinya!"

Leo menelan ludahnya dengan paksa. Ladang uangnya terancam. Dia harus memikirkan masa depannya sendiri sebelum menyelamatkan orang lain.

"Maafkan saya. Saya takut hal ini akan membuat Anda... "

"Katakan siapa yang berusaha melawanku!" teriakan Rio menggema di ruangan kerja bertema minimalis ini. Tak ada hiasan apapun, hanya sepasang kursi tamu dan meja kerja Rio. Pria ini tidak suka melihat ruangannya 'kotor'.

"Itu... " Leo membulatkan tekad. "Yang menyebabkan kekacauan ini adalah orang-orang yang memihak pada manajer Jonathan. Mereka sengaja membakar gudang senjata sebagai balas dendam atas kematiannya. Mereka tidak terima Anda menyiksa pria itu, bahkan sampai membuatnya meregang nyawa."

"AARGGHH!!!" 

Komputer yang ada di atas meja Rio kini tergeletak di lantai. Beberapa kepingannya berserak, terlempar ke berbagai arah. Tak hanya itu, gelas kaca berisi air putih juga tak lepas dari kemarahannya. Pria ini benar-benar murka, menghancurkan apa saja yang ada di hadapannya.

"BEDEBAH BRENGSEK!!" Rio berdiri, wajahnya merah padam dengan tangan mengepal erat. Kemarahannya tersulut setelah mendengar orang-orang itu sengaja mengusik kedamaiannya. Dan ternyata, semua ini masih ada hubungannya dengan Jonathan Wu, manajer keuangan kepercayaannya selama lima tahun terakhir.

"Bawa para bajingan itu ke ruang penyiksaan! Aku ingin melihat kesaksian mereka dengan mata kepalaku sendiri!"


BAB 12


"Bawa para bajingan itu ke ruang penyiksaan! Aku ingin melihat kesaksian mereka dengan mata kepalaku sendiri!" Suara Rio menggema, menunjukkan bahwa pria itu marah dan tidak bisa mengendalikan emosinya lagi.

"Baik." Leo berbalik badan, siap melangkah pergi dari ruangan ini.

"Tunggu!" titah Rio membuat langkah pria berpakaian serba hitam itu terhenti.

"Ya, Tuan?" Leo berbalik, kembali menghadap tuannya yang kini duduk di kursi kebesarannya yang empuk.

"Dimana dia sekarang? Apa yang sedang dia lakukan?"

Leo terdiam sepersekian detik. Otaknya berusaha mencerna siapa 'dia' yang tuannya bicarakan. Pria ini tidak pernah mempedulikan orang lain sebelumnya.

"Nona Monika pergi ke tempatnya bekerja. Dia meminta kelima pengawal kita untuk pergi dan menyampaikan sebuah pesan untuk Anda."

"Pesan? Untukku?" Ada seulas senyum tipis yang tampak di bibir pria arogan ini. Dia membayangkan bahwa pesan yang akan Monika sampaikan adalah ucapan terima kasih atau semacamnya. Itu membuat harga dirinya kian tersanjung, jiwa superioritasnya semakin menggebu.

"Nona mengatakan bahwa dia akan mengembalikan uang Anda secepat mungkin. Dia... "

Rio menendang kursi yang dia duduki, membuat benda itu terpental ke belakang.

"Bawa dia ke hadapanku. Aku ingin melihat seberapa tinggi harga dirinya sampai berani menentangku!" Rio berjalan menuju pintu keluar.

"Tapi, Tuan... "

"Kamu juga ingin membantahku?" Rio menampar wajah asisten pribadinya dengan begitu keras, membuat pria itu terhuyung, mundur satu langkah ke belakang.

"Saya akan segera menjemputnya." Leo menundukkan kepala sebelum berjan dengan langkah cepat, hampir seperti berlari. Dia tidak ingin menjadi sasaran kemarahan tuannya lagi.

Rio melangkah keluar dari ruangannya, menuju lift khusus yang langsung membawanya ke lantai bawah tanah. Di sana ada beberapa ruangan kedap suara, tempat pria ini menyiksa bawahannya yang tidak patuh.

"Dimana mereka?" Rio bertanya pada salah satu pengawal yang berjaga di depan pintu.

"Mereka sudah dipindahkan ke ruang penyiksaan seperti permintaan Anda."

Sebuah senyum terukir di wajah tampan nan menyeramkan ini. Menyiksa orang menjadi salah satu agenda favoritnya. Dia tidak peduli pandangan orang tentang kebiasaan buruknya ini. Bagi Rio, bawahan yang memberontak dan tidak patuh, wajib dihukum. Hanya kekerasan yang bisa mendisiplinkan seseorang.

Derit pintu yang terbuat dari besi terdengar memekakkan telinga. Seorang pria dengan tampilan modis segera masuk ke dalam ruangan serba hitam ini. Dia menyapu pandang pada setiap sudut ruangan. Ada lima orang yang terikat di kursi masing-masing dengan mulut tersumpal lakban. Mereka tidak bisa berbicara atau sekadar berteriak meminta tolong.

Detik berikutnya, tendangan dan hantaman dari Rio mendarat di tubuh kelima orang itu. Dua dari mereka bahkan sampai muntah darah setelah perutnya menjadi sasaran tinju pria ini.

"Amm... ampun, Tuan. Kam... kami menyerah. Tolong... maaf... kan kami." Salah satu dari mereka bersuara saat penutup mulut itu dilepaskan. Wajahnya yang babak belur, menunjukkan bahwa dia sudah mendapat penyiksaan sebelum Rio datang.

Lutut Rio mengarah pada dada pria paruh baya ini, membuatnya terjungkal dari kursi.

"Maaf?" Aura iblis seketika menyelimuti pria 31 tahun ini. "Jika penjahat seperti kalian dimaafkan, lalu untuk siapa hukum itu diciptakan?"

Kalimat sarkasme dari Rio membuat para penjahat yang telah membakar gudang senjata ini menelan ludah. Mereka tidak menyangka akan tertangkap dengan cepat.

"Jonathan Wu, dia menemui ajalnya lebih cepat karena uang dua miliar. Bagaimana dengan kalian? Bagaimana kalian menebus 30 miliar kerugianku, huh?"

Tak ada yang menjawab pertanyaan yang Rio lontarkan. Jangankan dua puluh miliar, satu juta rupiah saja pasti membuat mereka merasa keberatan.

"Dasar bedebah tidak tahu diri!!" Rio melampiaskan kemarahannya dengan menyiksa orang-orang tak berdaya itu. Mereka tak bisa melakukan apapun kecuali menerima sakit yang luar biasa ini. Ambisi mereka untuk menghancurkan Rio, justru berbalik mengenai diri mereka sendiri. Entah bagaimana keadaan mereka nantinya.

"Tuan, Nona Monika sudah ada di ruangan Anda." Seorang pria melapor pada Rio yang tengah kesetanan itu. Dia tidak merasa puas meski lawannya sudah terlihat tidak berdaya di bawah sana.

"Cih!" Pria arogan itu berdecih, membuang ludahnya ke sembarang arah.

"Jangan biarkan mereka mati dengan mudah. Aku masih ingin bermain-main bersama para binatang ini."

Rio melangkahkan kakinya keluar dari ruang penyiksaan. Dia memasuki kotak besi yang akan membawanya ke lantai teratas gedung pencakar langit ini.

Denting lift menandakan bahwa pria ini sudah semakin dekat ke tempat tujuan. Langkahnya terasa ringan, bersiap melakukan penyiksaan berikutnya.

"Keluar!" titah Rio begitu melangkahkan kakinya melewati pintu, membuat Monika dan Leo menoleh ke belakang. Segera, Leo meninggalkan ruangan ini.

Angin dingin seketika menghampiri tengkuk Monika, membuat bulu romanya meregang. Bayang-bayang cumbuan pria ini kembali berkelebat. Dia tidak bisa melupakannya.

"Kita bertemu lagi, Sayang." Rio langsung mendekat ke arah Monika bersiap memeluknya.

"Berhenti di sana!" tegas gadis dengan pakaian pegawai minimarket itu. Tenggorokannya terasa kering, namun masih mencoba menjaga jarak dari Sang Suami.

"Kenapa aku harus menurut padamu? Siapa yang lebih berkuasa di sini, huh?" Rio tak ingin mengalah. Dia terus merangsek maju, membuat Monika terdesak.

Pria itu berhasil menahan lengan istri kontraknya dan langsung mengarahkan bibir buasnya di sekitar leher yang terekspose bebas tanpa halangan.

"Aku menginginkanmu," bisik Rio tepat di telinga Monika, membuat netra gadis itu membola.

"Ummh, Pak. Hen... hentikan!" Monika menahan dada bidang Rio, berharap agar bibir buas pria ini berhenti menjelajah leher sensitifnya.

"Kenapa? Kamu sudah ingin langsung ke intinya, heh?"

Monika menggelang cepat. Bukan itu yang dia inginkan. Ini ada di kantor, bagaimana kalau ada orang yang memergoki mereka? Itu yang gadis ini pikirkan.

"Dua miliar!" Rio menatap manik coklat milik Monika dalam-dalam. "Aku akan berhenti jika kamu bisa mengembalikan uang dua miliar yang ayahmu hilangkan!"

Monika menelan ludahnya dengan paksa. Mana mungkin dia bisa melakukan hal itu? Uang dua miliar bukan jumlah sedikit.

"Kenapa diam? Tidak punya uang, heh?" Rio mengangkat sudut bibirnya, meremehkan wanita yang kini ada di bawah kungkungannya.

Monika bungkam. Percuma. Dia tidak memiliki kuasa apapun. Pekerjaannya sebagai kasir minimarket tak mungkin menghasilkan uang sebanyak itu untuk melunasi uang yang ayahnya bawa pergi.

Sebulir air tanpa warna luruh begitu saja, membasahi pipi tirus nan cantik itu.

Dengan gerakan seduktif, Rio mencium kelopak mata gadis ini. Dia bahkan menyesap air mata yang bersiap keluar detik berikutnya.

"Sweety, jangan melawan. Aku bisa bersikap lembut padamu jika kamu menurut padaku. Jika kamu memberontak, jangan salahkan aku jika besok kamu tidak bisa bangun dari tempat tidurmu!"

Monika tetap bungkam. Dia pasrah pada keadaan yang ada. Kemarin, tiba-tiba saja lima orang pria berpakaian serba hitam datang ke minimarket dan membawanya dengan paksa. Dia harus menikah dengan Rio untuk menyelamatkan ayahnya. Dan hari ini orang-orang itu datang lagi, menjemputnya untuk dibawa ke perusahaan tempat Rio bekerja.

"Apa kamu siap?" Rio kembali memamerkan smirk andalannya. Gadis kecil ini tak akan melawan, dia yakin itu.

Monika menolehkan kepalanya ke samping, enggan menatap pria yang kini berstatus sebagai suaminya. Ya, suami atas dasar selembar surat kontrak.

"Diammu aku artikan sebagai persetujuanmu," bisik Rio tepat di telinga Monika. Pria ini bahkan sengaja mengembuskan napasnya, membuat perasaan aneh seketika menyerang gadis pendiam ini. 

Rio mulai menikmati santap siang spesial yang ada di hadapannya. Tangan dan bibirnya bekerjasama, menjelajah setiap jengkal tubuh wanita ini.

"Kamu wangi. Aku suka." Rio memuji, sejenak melepaskan bibirnya dari leher Monika. Ini pertama kalinya dia tertarik pada wanita, bahkan langsung ingin menguasainya. Sebelumnya, jangankan mencium dan mencumbunya, menatap mereka saja membuatnya mual.

Rio kehilangan akal sehatnya. Monika telah menjadi candu untuknya sejak dia mencicipi bibir ranum milik gadis ini semalam. Ada perasaan tak wajar yang dia rasakan, seperti ingin mendapatkan lebih dan lebih lagi.

"Sayang, apa kamu siap?"


0 Comments